Mengapa Menikah?

Mengapa Menikah?
MM 26. Kelegaan Naisha


__ADS_3

Gendis tergugu saat mendengarkan kata demi kata sang putri. Ia sungguh tidak menyangka putrinya merasakan kepahitan itu. Sungguh tidak pernah terbayangkan dalam kepalanya itu akan terjadi pada putrinya.


" Maafkan Nai bunda. Seharusnya Nai mendengarkan kata kata bunda. Jika saja waktu itu Nai menyelidiki kembali mengenai Adnan mungkin semua ini tidak akan terjadi."


Gendis memeluk tubuh sang putri. Ia mengusap kepala putrinya dengan lembut.


Ya Allaah, bagaimana bisa putriku menjadi janda secepat ini. Apa kesalahan yang kami perbuat hingga putri kami harus menerima cobaan yang begitu berat.


Juna menghembuskan nafasnya perlahan. Ia yang sudah tahu akhirnya bisa bernafas lega karena sang putri mau berkata jujur. Hal ini tentu akan lebih mudah, karena Juna benar benar bisa bergerak cepat dan tepat.


" Baiklah kalau begitu, kapan Nai akan membuat gugatan ke pengadilan."


" Secepatnya yah."


" Bagus."


Naisha dan Gendis sedikit heran. Bagaimana bisa pria itu terlihat tidak terkejut sama sekali. Bahkan ia begitu santai dalam menanggapi kemelut rumah tangga sang putri.


" Yah, kok ayah nggak kaget gitu?"


" Ayah sudah tahu. Ayah hanya menunggumu untuk berbicara jujur saja."


Gendis dan Naisha membulatkan matanya. Mereka sungguh tidak menyangka akan hal itu.


" Sejak kapan mas tahu? Mengapa nggak ngasih tahu bunda?"


" Biar putrimu sendiri yang menyampaikan. Dia juga harus bisa menyelesaikan permasalahannya sendiri."


Gendis mengangguk mengerti. Sedangkan Naisha ia kini bangkit dan memeluk sang ayah.


" Terimakasih yah."


" Sama sama sayang."


Rey yang dari tadi hanya menguping dari jarak yang cukup jauh merasa begitu marah dengan perlakuan Adnan kepada kakaknya.


" Dasar pria brengsek. Bisa bisanya dia memperlakukan Mbak Nai begitu."


" Sabar bro."


" Hei kampret apakah sebenarnya lo udah tahu?"


Nataya nyengir lalu mengangguk. Kalau dia belum tahu mana berani dia mengatakan suka kepada kakak sahabatnya itu.


" Dasar kampret, tapi lo beneran suka sama mbak Naisha?"

__ADS_1


" Iyalah 1000% bener."


" Mbakku janda lho!"


" Janda rasa perawan mah siapa yang nolak hahha."


" Kampret."


Rey hanya menggelengkan kepalanya perlahan. Ia sungguh tidak tahu apa yang ada dipikiran bocah di sebelahnya itu. Bisa biasanya Nataya terang terangan mengatakan bahwa ia menyukai kakaknya yang notabene nya lebih tua dari nya.


" Bro, seandainya noona beneran janda pun aku tetep bakalan ngejar dia sampai dapet. Aku nggak peduli statusnya. Aku benar benar menyukai bahkan mungkin aku mencintai noona."


" Sungguh aku enggan memanggilmu mas, abang, kakak ipar atau sebagainya. Hais, males banget nggak sih gue harus manggil lo begitu."


Nataya tertawa terbahak bahak. Dalam hatinya terselip rasa lega karena Rey tidak mempermasalahkan dirinya yang menyukai Naisha. Ini merupakan sebuah jalan untuk Nataya semakin dekat mengambil hati Naisha.


Baiklah tinggal tunggu ketok palu. Lalu aku benar benar akan mendapatkan hatimu noona.


🍀🍀🍀


Star Building sedikit kacau karena CEO mereka sudah beberapa hari ini tidak datang. Airin berusaha terus menghubungi Nai tapi tidak juga diangkat oleh Nai. Sedangkan Teo yang baru diberitahu bahwa Nai sedikit memiliki urusan pribadi akhirnya bisa mengerti dan paham.


" Pa, gimana nih  kak Nai belum juga balas chat atau angkat telponku."


" Biarkan dulu, kata big bos Nai sedang ada urusan pribadi."


" Sayang, tidak semua urusan kakak Nai harus Airin tahu. Ada beberapa hal yang hanya Kak Nai yang tahu. Dan, alangkah baiknya jika kita bersikap biasa saja dan jangan kepo. Oke!"


Airin mengangguk ia mengerti sepenuhnya maksud sang papa. Airin pun bertanya mengenai NO yang akan launching produk baru. Mereka juga harus datang langsung ke JD Advertising untuk melihat proses pembuatan iklannya.


" Jadi siapa yang berangkat? Airin atau papa?"


" Airin aja ya, papa handle urusna sini aja."


" Rebes pa."


Airin tersenyum senang. Mereka pun segera melakukan tugas masing masing. Bagi Teo mengisi kekosongan kepemimpinan Star Building bukanlah hal yang sulit. Sudah puluhan tahun ia bekerja bersama dengan Juna jadi ia sungguh paham mengenai segala hal Star Building. Baginya Star Building bukan hanya sekedar pekerjaan, Star Building adalah rumahnya. 


Pernah suatu ketika Teo akan diberikan sebuah perusahaan sendiri oleh Juna namun Teo menolak. Ia benar benar tidak bisa meninggalkan orang yang sudah berjasa bagi hidupnya itu. Siapa Teo tanpa Juna. Teo tanpa Juna pasti hanya akan berakhir di penjara, atau mungkin akan jadi residivis dan penjahat.


Teo sendiri menganggap Juna adalah kakak nya. Sebenarnya bukan hanya Juna tapi Rama, Charles, dan Sukhdev juga. Empat sekawan itu lah yang membuat Teo menjadi orang yang lebih baik hingga ia bisa sampai saat ini. Namun karena semua mulai sibuk dengan kehidupan pribadi, sungguh amat sangat jarang mereka bisa bertemu.


Airin yang hendak menuju ke JD Advertising sungguh merasa sangat senang. Pasalnya ia akan bertemu dengan temannya di sana. Terlebih karena kesibukannya membuat Airin jarang bertemu dengan sang teman.


Sepanjang perjalanan ia mengemudikan mobilnya dengan bersenandung riang. Entah mengapa ia bisa sesenang ini hanya akan bertemu dengan temannya itu.

__ADS_1


Selang 1 jam berlalu Arumi pun memarkirkan mobilnya tepat di halaman kantor JD Advertising. Sebuah kantor advertising yang begitu megah dan ternama di kota itu. Kualitasnya tidak tanggung tanggung. Pemilihan model dan konsep nya pun selalu ciamik.


Aririn berjalan memasuki lobby gedung dan langsung menuju studio pemotretan. Tampaknya hari ini jadwal shooting iklan diganti dengan pemotretan. Tadi Airin sudah mendengar dari manajer NO di Star Building.


Airin tersenyum saat melihat sang teman tengah sibuk mengatur para model di sana. Ia bak setrika pelicin baju yang berjalan kesana kemari hingga tidak sadar bahwa ada orang yang tersenyum melihat tingkahnya.


" Hei, gue datang dicuekin sih."


" Ya Allaah Airin. Kamu kapan datang? Kok nggak langsung nyamperin aku sih."


" Bu manajer lapangan lagi sibuk. Mana berani ganggu."


" Itu kan juga produk milik kalian."


Airin pun diajak keruangan oleh temannya tersebut agar mereka bisa berbicara lebih leluasa.


" Gimana Rin, apa suka konsepnya."


" Aman kok Rum tenang saja. Lo ya belum lulus udah sibuk gini."


" Bantu bokap kasian beliau."


" Emang bokap nggak parno kamu nanti didekati model model cowok ganteng."


Teman Airin yang bernama Arumi itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gadis cantik berhijab berusia 20 tahun itu hanya menatap sang teman dengan wajah iba.


" Hahah gue tahu pasti bokap lo aneh aneh kan ya."


" Udah nggak usah dibahas deh soal itu. Aku udah paham banget kok bokap kek gimana. Oh iya kamu nggak mungkin sibuk sibuk kesini cuma buat mau lihat pemotretan kan?


Airin hanya nyengir kuda mendengar pertanyaan Arumi. Temannya itu sepertinya benar benar pintar menebak.


" Haish kamu mah. Emang nggak ada cowok lain apa selain ngejar kak Akhza yang super duper dingin itu."


" Elaah Rum, oppa mah nggak dingin kali  dia cuma cool. Lagian sama kamu dia bisa  bersikap hangat gitu. Kan aku jadi kepo."


Arumi menggelengkan kepalanya pelan. Gadis di depannya itu benar benar mengidolakan kakak sepupunya. Bahkan dari masa kuliah Airin sudah menaruh hati pada Akhza 


" Oppa dari mana, orang tampang bule gitu kamu sebut oppa. Kenapa nggak milih mas Abra aja. Mukanya sama gitu, jadi sama aja kan?"


" Mana bisa gitu, meskipun kembar tapi hatiku sudah dikuasai oleh Oppa Akhza. Lagian beda tahu Kak Akhza sama Kak Abra."


" Terserah lah kau Rin. Jangan salahin aku kalau kamu suatu hari nanti sakit hati."


Airin hanya tersenyum simpul. Memendam rasa kepada Akhza sekian tahun itu membuatnya enggan untuk bisa menerima pria lain. Padahal tak sedikit yang mendekatinya, namun Airin cuek. Ia masih berharap bahwa rasa miliknya bisa tersampaikan kepada sang pujaan hati.

__ADS_1


TBC


__ADS_2