
Se buket bunga mawar putih Adnan bawa untuk pujaan hatinya. Saat menuju ke Star Building, Adnan menyempatkan diri untuk menuju ke toko bunga yang lumayan terkenal di daerah itu. Jasmine Florist nama toko bunga tersebut.
Senyum Adnan begitu merekah saat memarkirkan mobilnya di halaman Star Building. Ia sungguh tidak sabar untuk menemui Naisha. Ia mengambil buket bunga itu di kursi samping kemudi lalu menciumnya sekilas.
" Huummm, aku harap kau menyukainya. Ini bunga kesukaanmu sayang."
Adnan bermonolong, ia pun segera keluar dari mobilnya dan melenggang masuk ke dalam gedung. Tawanya masih begitu merekah hingga ia melihat sesuatu yang membuat tawanya itu sirna.
Tampak Naisha tengah tertawa bersama dengan seorang pria. Pria tersebut adalah pria yang waktu itu menghajar nya saat di rumah. Tangan Adnan terkepal marah. Bahkan tangkai buket mawar itu sudah tidak lagi indah.
Naisha tidak pernah tertawa lepas seperti saat bersamanya. Sedangkan Nataya yang memang posisinya berhadapan dengan Naisha bisa melihat jelas ekspresi Adnan yang terlihat marah. Tentu saja dia tidak peduli karena status Naisha yang sekarang adalah tidak dalam hubungan apapun dengan siapapun.
Nataya pun tersenyum smirk, dia kemudian dengan sengaja menyingkirkan surai rambut milik Naisha yang menghalangi wajah cantik wanita itu. Terang saja Adnan semakin marah, namun Adnan mencoba menahan amarahnya. Ia pun segera keluar dari gedung Star Building dengan perasaan yang carut marut. Nataya tertawa puas karena provokasinya berhasil.
Naisha sedikit heran, ia pun menoleh ke belakang namun tidak melihat apapun di sana.
" Ngetawain apa Nat?"
" Eh, nggak ada apa apa noona. Tadi tiba tiba inget video buaya buntung yang nggak punya gigi."
Naisha mengerutkan alisnya heran, ia tetap tidak mengerti apa yang dibicarakan Nataya.
" Sudah sudah, ayo pulang. Makan siang di rumah."
" Pulang? Kemana? Makan siang?"
Naisha sungguh tidak mengerti maksud bocah di depannya itu. Namun dia pasrah saja saat Nataya menuntun Naisha dengan cara mendorong punggung agar berjalan menuju ke mobil. Semua mata menatap interaksi dua orang tersebut.
Mereka baru kali ini melihat Nataya. Wajah tampannya tentu saja menarik perhatian setiap mata karyawan Star Building. Namun mereka memilih diam dan tidak membicarakannya sama sekali. Terlebih mereka juga baru kali ini melihat CEO mereka bisa tertawa lepas.
Setelah beberapa saat mobil yang Nataya kemudikan sampai juga di rumahnya. Nataya berlari keluar terlebih dulu untuk bisa membukakan pintu untuk Naisha.
" Hais, aku bisa buka pintu sendiri. Lagian tadi ada pak Jo. Kenapa kamu yang nyetir."
Nataya tidak menggubris ucapan Naisha. Ia malah menarik tangan wanita itu masuk ke dalam rumah. Di sana terlihat Mbok Yem yang tengah menata sendok dan piring. Wanita paruh baya itu tersenyum menyambut kedatangan nona nya.
Nataya menuntun Naisha menuju wastafel untuk memintanya mencuci tangan. Keduanya pun langsung duduk setelah memastikan tangan mereka bersih.
__ADS_1
" Makanlah noona, jangan lupa berdoa."
Naisha mulai makan, makanan yang masuk ke mulutnya membuatnya berbinar. Enak, satu kata itu yang menggambarkan rasa dari makanan tersebut. Nataya tersenyum puas melihat ekspresi Naisha yang menikmati suap demi suap makanan yang masuk ke mulutnya.
" Mbok, kok ini enak banget makanannya. Mbok beli."
" Den dokter yang masak non."
Naisha begitu terkejut mendengar jawaban Mbok Yem, ia pun melirik Nataya sekilas. Pria itu hanya tersenyum simpul sambil menaik turunkan alisnya.
" Apakah benar?"
" Apakah noona menyukainya? Tenang, noona akan bisa selalu memakan masakanku nanti. Atau mulia besok aku akan membuatkan bekal untuk noona bagaimana?"
Naisha membulatkan matanya, ia sungguh tidak percaya dengan omongan pemuda di depannya itu.
" Astaga bocah apa yang kau katakan."
" He noona aku bocah yang sudah bisa bikin bocah lho. Apa noona mau coba?"
Seketika sebuah centong nasi mendarat di tangan Nataya membuat pemuda itu meringis. Namun sedetik kemudian ia tertawa melihat wajah marah Naisha yang membuatnya sangat gemas.
Ya ampun noona bagaimana kamu bisa begitu menggemaskan. Haih pengen ku gigit itu pipimu.
Nataya bermonolog dalam hati sambil terus memperhatikan wajah ayu wanita di depannya itu.
Pengen ku kantongi,biar nggak ada yang lihat wajah noona yang menggemaskan itu.
🍀🍀🍀
Adnan kembali ke rumah dengan begitu marah. Ia sungguh amat kesal dengan apa yang ia lihat tadi.
" Brengsek, bocah itu sepertinya sengaja memprovokasi ku. Damnnn."
" Kenapa sayang, apa yang kau katakan hmm?"
Seorang wanita yang Adnan tahu persis bahwa itu adalah Bellia keluar dari dapur membawa sebuah cangkir lalu menyerahkan kepada Adnan. Bellia tampak seksi dengan lingerie warna merah menyala. Entah dari mana wanita itu mendapatkan kunci rumah milik Adnan.
__ADS_1
" Bagaimana kamu bisa masuk?"
" Aku? Banyak jalan menuju roma sayang."
Adnan mengambil cangkir yang rupanya berisi kopi tersebut. Bellia tentu saja tersenyum lebar namun seketika senyumnya menguap saat Adnan menuang kopi buatannya itu di wastafel.
Rahang Bellia mengeras karena menahan amarahnya. Ingin sekali ia mengumpat kasar, tapi wanita itu harus menahannya. Ia harus bisa menahan emosinya untuk mendapatkan tujuannya.
" Sayang, apa kau tidak menyukai kopi itu? Aku akan membuatkan yang lain."
Bellia membalikkan tubuhnya dan hendak berjalan ke dapur nama panggilan Adnan menghentikannya.
" Bel!"
" Ya?"
" Pulanglah, tinggalkan rumahku. Tinggalkan aku sendiri dan jangan datang kalau aku tidak memintamu untuk datang. Kau tahu kan pintu keluarnya, segeralah pergi."
Setelah mengatakan hal tersebut Adnan langsung menuju ke kamarnya.
Brak
Suara pintu ditutup lebih tepatnya dibanting begitu keras terdengar. Dari dalam kamar, pria itu langsung menguncinya. Ia tidak ingin memberi celah sedikitpun kepada wanita itu untuk mendekatinya.
Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Panggilan dari sang papa ia acuhkan. Sungguh saat ini ia tidak ingin berjumpa siapapun kecuali Naisha. Wajah Naisha yang begitu lembut selalu membayangi pikiran nya.
" Nai, beri aku satu kesempatan lagi. Ku mohon. Aku berjanji tidak akan menyakitimu. Aku tidak akan mengecewakanmu Nai. Please."
Adnan kembali terisak sungguh ia benar benar berada dalam fase penyesalan yang begitu dalam.
Di luar kamar Bellia yang mendengar setiap apa yang keluar dari mulut Adnan semakin marah. Ia mengepalkan tangannya erat hingga buku buku jarinya memutih.
" Sialan, wanita itu benar benar merusak rencanaku. Kini Adnan benar benar menginginkan wanita itu kembali. Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku harus menyingkirkan wanita itu. Ya, aku harus membersihkan jalanku agar aku bisa sampai ditempat tujuan dengan selamat."
Bellia tersenyum penuh arti sambil melenggang pergi meninggalkan rumah Adnan. Kali ini ia membiarkan Adnan mengusirnya namun ia tidak akan melepaskan jika ada kesempatan lain.
TBC
__ADS_1