Mengapa Menikah?

Mengapa Menikah?
MM 32. Obrolan Hangat


__ADS_3

" Tck ... tck … tck, baguuus. Teruskanlah teruskanlah."


Suara Rey membuat momen manis yang berusaha Nataya pertahankan selama mungkin langsung kandas begitu saja. Mana Rey mengucapkannya layaknya Agnes Monicaa yang sedang melakukan konser menyanyikan lagu miliknya.


" Kampret!"


Nataya berteriak kesal, dan Rey hanya menanggapi dengan kekehan keras.


" Belum halal, jangan pegang pegang. Masih masa idah juga jangan aneh aneh."


" Apaan sih Rey. Ngaco."


Naisha berlalu memasuki rumah. Sungguh ia sangat malu ketahuan oleh adiknya itu. Rey berjalan mendekat lalu duduk di samping Nataya. Ia kembali terkekeh saat melihat wajah sahabatnya yang tampak kesal.


" Haish, muka muka ngambek. Cup cup cup, tayangna atu dangan ngambek ya," bujuk Rey sambil memanis maniskan wajahnya dihadapan Nataya.


" Awas sono, iih geli lihat wajah lo begitu. Ampun deh," tukas Nataya.


Keduanya lalu terlibat obrolan panjang hingga Rey menanyakan mengenai sebab pisahnya sang kakak. Ya, ayah dan bunda nya tidak memberitahu secara detail mengenai alasan Naisha menggugat cerai Adnan. Nataya pun mulai menjelaskan satu persatu hal yang diketahui dengan pasti. Bahkan saat Naisha hendak dilecehkan oleh Adnan.


Rey tampak murka, ia sedikit merasa bersalah karena tidak bisa melindungi sang kakak.


" Thank you ya bro, lo udah ngelindungi Mbak Nai gue."


" No problemo. Gue bakalan ngelindungi noona hingga ujung waktu gue."


" E e e. Lo yakin Mbak Nai bakalan terima lo?"


" Yakin gue, gue bakalan bikin noona bucin  ke gue."


Rey memutar bola matanya dengan malas. Sahabatnya itu udah di taraf bucin akut terhadap sang kakak. Namu  Rey senang, ia cukup tahu selama ini Nataya tidak pernah berhubungan dengan seorang wanita pun. Jadi bisa dikatakan Naisha adalah wanita pertama yang sahabatnya itu sukai. Terlebih Rey tahu betul sifat dan karakter Nataya, ia percaya bahwa kakaknya itu akan bisa bahagia bila bersama dengan sang sahabat.


" Oh iya pret, bukannya ini rumah lo ya?"

__ADS_1


Nataya menjawab pertanyaan Rey dengan anggukan kepala. Rey tentu tahu kalau Nataya membeli rumah itu 2 tahun yang lalu. Tapi yang jadi pertanyaan mengapa sang kakak memilih tinggal di sini ketimbang pulang ke rumah. Rey pun menatap curiga kepada Nataya. Nataya yang paham arti tatapan Rey pun seketika menggelengkan kepalanya.


" Gue nggak macem macemin mbak lo. Gue nggak pernah nginep di rumah ini semenjak noona tinggal di sini. Suer!" ucap Nataya sembari mengangkat tangannya dan menampilkan bentuk V pada Rey.


" Kok mbak Nai nggak milih pulang aja ya."


" Kalau itu lo bisa tanya sendiri sama noona. Ya wes aku balik dulu ya. Ntar nyokap nyariin."


" Oke, salam buat nyokap sama adik gue yak."


Nataya menaiki motornya dan mengangkat jempolnya tinggi tinggi. Ia pun segera melajukan motornya meninggalkan rumah miliknya tersebut.


Nataya pergi, Rey pun masuk ke dalam rumah. Ia memutuskan untuk menginap di rumah milik sahabatnya. Lagian tadi dia kesini naik ojek online. Malas lagi kalau mau jalan buat pulang.


Tampak Naisha tengah duduk di ruang makan sambil mengerjakan sesuatu di laptopnya. Wanita itu terlihat begitu serius mengerjakan sesuatu di laptop miliknya. Rey mendudukkan diri di depan sang kakak.


" Mbak?"


" Hmmm?"


Naisha menghentikan jarinya. Namun sebelumnya ia menyimpan terlebih dahulu pekerjaannya dan menutup laptopnya.  Ia menatap sang adik dengan lekat. Wajah Rey yang begitu tampan membuat Naisha kadang kesal namun ia sungguh menyayangi sang adik. Sebenarnya ia sendiri juga bingung mengapa ia memilih tinggal di rumah Nataya , pria yang notabene nya belum lama ia kenal. Tapi hatinya jelas merasa aman dan nyaman berada di rumah itu. 


" Satu hal Rey yang membuat mbak belum pulang. Mbak masih cukup merasa bersalah sama ayah dan bunda soal kegagalan rumah tangga mbak. Dan mbak ingin sendirian untuk beberapa waktu."


" Dengan berada di rumah Nataya?"


" Tidak juga, mbak akan pindah ke tempat lain tidak lama ini."


Rey mengerutkan alisnya, ia sungguh tidak tahu Naisha memiliki rencana pindah rumah.


" Apakah Nataya tahu?"


Naisha menggeleng cepat. Ia belum memberitahukan rencana kepindahannya kepada Nataya. Wanita itu akan memberitahu Nataya nanti pas hari H dia pindah.

__ADS_1


"Wohooo tuh bocah pasti akan belingsatan," gumam Rey pelan.


" Apa yang kamu katakan Rey?"


" Eh tidak tidak mbak. Tidak apa apa. Ya sudah aku tidur dulu ya. Aku mau nginep di sini. Kau tidur di kamar Nataya aja."


Rey melenggang menuju kamar si pemilik rumahnya sebenarnya ia sendiri tidak sengaja tadi datang kemari. Niatnya ingin  pergi keluar cari jajanan eh tanpa sengaja ia melihat motor Nataya. Berulang kali dipanggil Nataya tidak menoleh akhirnya Rey memutuskan mengikuti Nataya. Bahkan Rey melihat semua yang Nataya lakukan termasuk saat sahabatnya itu mencium tangan kakak perempuannya.


Di sisi lain Nataya yang baru pulang mendapat tatapan tajam dari sang mama. Pasalnya seharusnya ia pulang lebih awal. Namun Nataya pulang lebih dari jam 10, dan itu tanpa memberi kabar kepada mama nya.


" Kak, kakak kan bisa ngabari mama."


" Maaf ma, tadi ketemu  Rey terus ngobrol deh. Rey titip salam sama mama."


Silvya membuang nafasnya kasar. Sungguh bukannya ia menganggap Nataya anak sd yang selalu ditanya kapan pulang saat tengah pergi bermain. Semua itu ia lakukan karena kewaspadaannya. 


Silvya yang mantan mafia tetap merasa banyak bahaya yang mengincar keluarganya. Meskipun ia sudah membekali putra putrinya kemampuan beladiri yang lumayan mumpuni namun tetap sebagai seorang ibu ia merasa khawatir. Padahal Silvya juga mengajarkan keahlian dalam menggunakan senjata api kepada Nataya dan Nadita.


Tanpa orang tahu, Nadita yang terlihat seperti gadis remaja cantik dan imut itu sungguh menakutkan saat bertarung melawan musuh. Hal tersebut pernah terjadi ketika ada seorang pria yang ingin melecehkannya di jalan. Pria itu dihajar habis habisan oleh Dita.


Bahkan gadis remaja itu menarik sendiri pria mesum tersebut ke kantor polisi. Kejadian tersebut sedikit membuat Dika khawatir begitu juga dengan Silvya.


Sungguh kemampuan berkelahi Silvya menurun ke semua anak anaknya. Terkadang sang suami heran mengapa kedua anaknya bisa sangat mumpuni di bidang beladiri. Entah karena memang bakat atau karena keturunan. Pasalnya kakek Silvya yang berarti kakek buyut kedua anaknya juga adalah mafia. Uncle mereka juga adalah mafia.


" Ya sudah kak, sekarang kakak beberes dulu. Lalu makan malam. Belum makan kan?"


Nataya nyengir, ia pun berlalu sambil mencium pipi sang mama.


" Mama terbaik."


Silvya mendesaahkan nafasnya dengan berat. Putranya sudah besar  sudah bisa ngelirik cewek dan menyukainya. Ia tahu beberapa waktu ini Nataya sedang gencar mendekati Naisha. Sebenarnya Silvya tidak melarang, ia hanya khawatir sang putra ditolak dan patah hati terhadap putri dari Arjuna Dewantara tersebut. 


" Haish, apa aku harus membantunya."

__ADS_1


TBC


__ADS_2