Mengapa Menikah?

Mengapa Menikah?
MM 46. Stop!! Jangan Dekati Calon Menantuku


__ADS_3

Nataya membayar hutangnya kepada sang sahabat yakni dengan memenuhi keinginan Rey untuk mendaki gunung. Niat hati juga ingin mengajak Naisha tapi noona tercinta nya itu sedang mengalami halangan hari pertama yang membuatnya enggan melakukan aktivitas. Terlebih Naisha juga mengalami nyeri yang lumayan membuatnya harus istirahat. Jika tidak kepalang janji dengan Rey, tentu saja ia akan lebih memilih menemani noona nya.


Bahkan sebelum pergi Nataya menyempatkan mampir untuk memeriksa kondisi Naisha. Pria itu memberikan obat pereda nyeri untuk sang kekasih.


" Haish, aku jadi nggak tega ninggalin noona."


" Sudah sana jalan, ntar keburu bocah itu ngamuk."


Nataya mengangguk, ia kemudian mencium kening Naisha sekilas dan berpamitan. Naisha sungguh meleleh menerima perhatian dan sikap lembut dari Nataya tersebut.


" Gimana, semua sudah ready?"


" Udah Nat, jangan kelebihan deh bawelnya. Heran gue udah kayak nenek nenek aje lo."


" Bukan gitu kampret, kan lo sendiri yang minta buat gue ikutan test drive buat alat alat NO."


" Eh iya ya."


Rey seketika nyengir memperlihatkan deretan gigi giginya. Pendakiannya kali ini memang dalam rangka menguji kemampuan alat alat outdoor milik perusahaannya. 


Perjalanan dari kota J ke kota Cianjur yakni tepatnya di BC Putri gunung Gede Pangrango, Cipanas sekitar  2- 3 jam. Ini kali pertama setelah mereka selama 3 tahun tidak lagi mendaki karena kesibukan masing masing.


Mereka memilih jalur Putri karena merupakan rute pendakian tercepat ketimbang jalur pendakian lainnya. Jika jalur Cibodas membutuhkan waktu sekitar 10 jam pendakian, jalur Putri bila lebih cepat 2-3 jam. Namun jalur Putri terkenal dengan medannya yang cukup berat karena terjal dan didominasi Tanjakan.


" Serius mau lewat putri?"


" Yoi, nggak masalah kan?"


" Nggak sih."


Keduanya mantap melewati jalur tersebut. Rencananya saat sampai nanti mereka akan langsung mendaki agar bisa mendirikan tenda di alun alun surya kencana dan tidak kemalaman. Mereka berangkat pukul 06.00 pagi, estimasi nya mereka akan sampai di BC Putri sekitar pukul 09.00.


Jika mereka berangkat dari basecamp pukul 10.00 maka sekitar pukul 16.00 mereka akan sampai di alun alun surya kencana. Beberapa peralatan dan logistik ( dalam hal ini makanan) sudah mereka persiapkan. Sebagian besar alat yang dibawa dari merek Naure Outdoor. Mulai dari tenda, trekking pole, sleeping bag, bahkan sepatu dan jaket juga.


" Lalu apa gue harus memberi review di media sosial?"


" Jika lo nggak keberatan. The power of followers. Gue lihat follower lo lumayan banyak. Lumayan bisa bikin NO semakin terkenal di kalangan anak muda."


Nataya mengangguk mengerti, ia kemudian kembali menyandarkan punggungnya di kursi penumpang. Ya, Nataya lah yang meminta Rey untuk mengemudi. Semalam dia harus ke rumah sakit karena banyak pasien yang datang ke IGD. Tak berselang lama pemuda itu tertidur. Rey hanya menggeleng pelan. Ia pun mengecilkan volume musik yang tadi ia putar. Rey juga mengatur kursi milik Nataya agar sahabatnya itu bisa tidur lebih nyaman.


" Mbak, aku berani jamin kamu akan bahagia bila bersama dengan bocah kampret ini."

__ADS_1


Rey tersenyum melihat Nataya. Tampak sekali gurat lelah di wajah temannya itu. Namun sungguh Rey salut, meskipun tengah lelah Nataya tetap memenuhi janjinya kepada Rey untuk mendaki gunung Gede Pangrango.


*


*


*


Di tempat lain Naisha masih merasakan nyeri di perut akibat tamu bulanannya. Saat ini dia tengah merebahkan diri di sofa ruang tamu. Naisha sedikit terkejut mendengar pintu rumah diketuk.


Tok tok tok


" Ya bentar." 


Naisha berusaha bangkit tapi sungguh ia tidak kuasa. Akhirnya ia memanggil mbok Yem untuk meminta tolong dibukakan pintu.


" Non, pindah kamar aja ya."


" Iya mbok, tapi nanti. Itu ada tamu soalnya."


Mbok Yem langsung bergegas menuju pintu dan membukanya. Wanita berusia hampir 60 tahun itu sedikit terkejut melihat siapa yang berdiri di balik pintu.


" Naisha ada mbok?"


" Siapa mbok?" ucap Naisha.


" Nai, ini aku. Sayang kamu kenapa?"


Naisha begitu terkejut melihat Adnan yang langsung masuk melewati Mbok Yem. Bukannya senang ada yang datang, Naisha malah semakin sakit perutnya. Adnan mencoba mendekat dan menyentuh Naisha namun dengan sigap Naisha berdiri menghindari sentuhan Adnan.


" Nai, aku cuma mau membantu mu itu saja."


" Shhh, tidak perlu. Aku bisa sendiri. Jika kau benar mau membantuku maka segera pergi dari rumah ini."


Naisha berdiri sambil memegangi perutnya yang masih nyeri. Obat pemberian Nataya tadi rupanya hanya sebentar meredakan sakitnya.


" Nai, kamu kesakitan. Biar aku membantumu."


" Stop. Berdiri di sana. Jangan berani mencoba mendekati calon menantuku."


Adnan terkejut, bukan hanya Adnan tapi Naisha dan Mbok Yem juga.

__ADS_1


" Tante Silvya."


" Sayang, kamu tidak apa apa."


Silvya mengangguk tapi Silvya merasa Naisha sedang tidak baik baik saja.


" Ayo ikut tante. Tante antar ke rumah sakit."


Naisha hendak menolak namun ia sungguh tidak berdaya. Naisha pun menurut dengan ibu dari Nataya tersebut. Sedangkan Adnan, tentu saja pria itu cengo. Ia sungguh dibuat bingung dengan apa yang ia lihat itu.


" Mbok, tolong hubungi ibu nya Naisha. Bilang saja Naisha dibawa Silvya istri dari dr. Dika ke rumah sakit."


" Ba-baik bu."


Naisha benar benar merasa kesakitan. Beruntung Nataya tadi berpesan kepada sang mama bahwa Naisha tengah sakit haid tapi ada yang sedikit berbeda dengan sakit haid yang biasanya.


Setelah mengantar Dita ke sekolah, Silvya pun segera melaju ke rumah putranya yang ditempati oleh Naisha tersebut. Sungguh tepat waktu, karena hampir saja mantan suami Naisha yang durjana itu hendak menyentuh Naisha.


" Apakah sangat sakit hmmm?"


" Iya tante, padahal biasanya nggak begini."


" Panggil mama saja. Apa biasanya juga sakit."


" Iya ma. Shhhh tapi ini sangat sakit. Tadi Nataya sudah memberi obat pereda nyeri tapi efeknya cuma sementara."


Silvya sedikit cemas pasalnya keringat dingin keluar dari tubuh Naisha. Dengan sedikit lebih cepat, Silvya menekan pedal gasnya agar segera sampai ke rumah sakit.


Ckiiit


Mobil Silvya menepi tepat di depan pintu IGD. Silvya langsung memanggil tenaga medis untuk membantu Naisha. Mereka kemudian membawa Naisha ke ruang tindakan. Tak berselang lama, Gendis dan Juna datang. Tampak wajah panik pada pasangan suami istri tersebut.


" Mbak, terima kasih," ucap Gendis.


" Sama sama, Naisha sedang diperiksa. Apakah biasanya Naisha sering sakit saat datang bulan?"


" Iya  mbak, tapi sangat jarang. Hanya sekitar beberapa bulan ini."


" Semoga tidak ada hal yang serius."


Ketiganya duduk di kursi tunggu sambil menunggu hasil pemeriksaan Naisha. Tak lama Dika pun datang menghampiri sang istri sambil berlari kecil. Ia kemudian menyapa Juna dan Gendis lalu menanyakan keberadaan Naisha. Dika pun akhirnya masuk ke ruang IGD untuk melihat kondisi Naisha.

__ADS_1


TBC


__ADS_2