Mengapa Menikah?

Mengapa Menikah?
MM 48. Waspada


__ADS_3

Operasi pengangkatan miom berjalan dengan lancar. Kini Naisha sudah berada di ruang perawatan. Silvya pun sedari tadi ikut menunggui Naisha bersama dengan Gendis. 


Mengetahui sang putra tengah pergi bersama Rey, Silvya ingin mengabari putranya tentang kondisi Naisha. Namun oleh Naisha dicegah. Ia tidak ingin baik Rey ataupun Nataya khawatir. Kedua bocah itu sedikit memiliki kemiripan.


" Jangan ma, nanti anak itu lari turun gunung dengan tergesa. Lagian pasti nggak ada sinyal juga di gunung."


Silvya setuju dengan ucapan Naisha. Bocah itu pasti akan panik jika tahu apa yang terjadi pada Naisha. Ia sungguh tahu bahwa putranya dalam mode bucin taraf dewa.


" Mbak, sebaiknya mbak pulang. Kata Nai ada putri mbak yang masih SMA. Khawatir nyariin," ucap Gendis sopan.


" Oh iya, astagfirullah. Lupa. Ya sudah aku pamit ya. Segera pulih ya sayang."


Silvya kemudian melenggang keluar. Ia benar benar lupa harus menjemput Dita. Bersyukur orang orangnya selalu ready setiap saat jadi Dita sudah sampai rumah dengan selamat.


Kini di ruangan tersebut tinggal Gendis dan Naisha. Awalnya Gendis sedikit heran saat dikabari Mbok Yem kalau Naisha dibawa ke rumah sakit oleh Silvya. Bagaimana bisa CEO LT itu bersama dengan Naisha. Ya, Gendis adalah satu satunya orang yang belum mengerti mengenai hubungan putrinya dengan putra sulung dari Silvya tersebut. Sampai saat berjalan ke rumah sakit semuanya dijelaskan oleh sang suami.


Awalnya Gendis khawatir, tapi melihat suaminya yang sepertinya iya iya saja dengan kedekatan Naisha dan dokter muda itu membuat Gendis pun tenang. Dan entah mengapa kali ini Gendis merasa lebih ikhlas Naisha berhubungan dengan Nataya ketimbang saat dengan Adnan dulu. Aaah, mengingat Adnan membuat Gendis merasa geram. Terlebih tadi Mbok Yem juga bercerita bahwa Adnan kembali mengunjungi Naisha.


Bersama sang suami, tadi Gendis sempat menggerutu, mengapa dulu Adnan menyia nyiakan Naisha. Dan sekarang mengapa pria itu kembali mendekati Naisha, sungguh Gendis tidak habis pikir. 


" Jadi, apa benar kalian berhubungan?"


" Bund."


" Ya baiklah, yang penting kamu memang merasa nyaman dengan dokter muda itu."


" Entahlah bund, tapi yang jelas Naisha merasa aman, nyaman, dan terlindungi saat bersama Nataya."


Naisha tersenyum ke arah bunda nya, begitu juga dengan Gendis. Naisha sungguh merasa tenang saat semua orang tahu hubungannya dengan Nataya dan mereka tampak tidak mempermasalahkannya. Jika dilihat dari reaksi Mama Silvya, Naisha bisa menilai bahwa bocah itu pasti sudah bercerita banyak mengenai hubungan mereka.


🍀🍀🍀

__ADS_1


Dua hari berlalu, Nai berangsur pulih. Ia pun ingin segera pulang namun oleh dokter dia belum boleh. Paling tidak Nai baru boleh kembali ke rumah lusa nanti.


Nataya dan Rey yang baru turun gunung langsung bergegas untuk segera pulang. Mereka berdua sampai BC sekitar pukul 11 siang. Durasi saat naik mendaki dan turun memang lebih cepat turun. Senin besok mereka harus memulai aktivitas rutinnya kembali. Rey harus kembali ke Star Building dengan review produk produk NO. Sedangkan Nataya harus kembali ke kampus.


" Mau langsung turun apa istirahat bentar?" tawar Nataya.


" Istirahat bentar deh, habis dzuhur lah ya balik nya," jawab Rey.


Nataya mengangguk. Memang nanggung jika harus pulang sekarang karena sebentar lagi dzuhur. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk istirahat sejenak, mencari warung makan untuk mengisi perut yang sudah keroncongan.


" Rey, I have the feeling we're being watched." ( aku merasa kita tengah diawasi)


" Are you serious Nat?"


...Nataya mengangguk, ia meminta Rey untuk melihat ke arah jam 2 di depan mereka. Rey mengangkat ponselnya, ia melihat melalui ponsel miliknya agar tidak ketahuan....


" Lo benar Nat. Kayaknya kita harus hati hati pas pulang nanti. Gue inget, itu orang sebelum kita naik dia juga ada."


" Nah makanya itu. Kemarin gue pikir cuma sama sama pendaki. Tapi kayaknya bukan. Entah lo atau gue yang jadi target tuh orang tapi yang jelas kita harus hati hati."


Sekitar pukul 13.00, mereka memasukkan semua barang barang yang mereka bawa ke dalam mobil. Rey dan Nataya pun mengecek keadaan mobil mereka. Rey sedikit merasa parno, mengingat beberapa film dan sinetron yang ditonton mengenai sabotase kendaraan.


" Kok kita jadi halu gini ya bro,"


" Maksud lo Rey?"


" Iya, kita kek halu berada di sebuah film atau sinetron yang mobilnya diputus rem gitu."


Plak, Nataya menepuk keningnya sendiri mendengar ucapan sang sahabat. Bisa bisanya saat situasi yang tidak tentu gini sahabatnya itu berseloroh.


" Rey, ini tuh buat jaga jaga kampret. Kita nggak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya."

__ADS_1


" Iya bawel, lama lama lo kayak Mbak Nai."


Nataya memberengut mendengar ucapan Rey. Tapi ia tahu anak itu hanya bercanda. Memang begitulah Rey, dia selalu menghadapi sesuatu dengan santai.


" Siapa nih yang nyetir Nat?"


" Gue aja bro."


Rey mengangguk. Sebenarnya ada maksud lain mengapa Nataya menyetir kali ini. Selain memang kemarin saat berangkat Rey yang memegang kemudi, sekarang ia bisa bebas membawa mobil tersebut jika memang ada orang yang mengikuti mereka.


Bekal keahlian mengemudi dari sang mama membuatnya tak kalah jika harus kebut kebutan untuk melarikan diri dari musuh. Sayangnya Nataya tidak membawa senjata. Meskipun dia memiliki izin kepemilikan senjata api, namun Nataya tidak sembarangan membawa dan memakainya.


Di sisi lain seseorang yang tengah mengawasi kedua pemuda itu mengambil ponselnya dan melapor kepada seseorang. Ia tampak mengangguk mengerti. Tak lama beberapa orang pun datang, ada sekitar 5 orang. Totalnya ada 6 orang di sana.


" Apa yang harus kita lakukan?" tanya seorang dari mereka.


" Tunggu perintah bos, tapi tadi gue udah bilang ke bos kalau kedua bocah itu kayaknya udah sadar kalau diawasi," jawab yang lain.


Semuanya mengangguk, mereka menunggu perintah untuk apa yang akan dilakukan selanjutnya kepada Rey dan Nataya. Bagi mereka ini merupakan kesempatan emas. Hal tersebut dikarenakan tidak ada orang yang terlihat mengawal keduanya.


Kriiing


Suara ponsel berdering, pria yang tadi mengawasi Rey dan Nataya mengangkat panggilan tersebut.


" Hallo bos."


" Ikuti mereka, eksekusi di tempat yang sekiranya sepi. Jika kesulitan hancurkan saja sekalian dengan mobilnya."


" Baik bos, laksanakan."


Diseberang sana seseorang tertawa begitu puas di ruang kerjanya. Ia membolak balikkan ponselnya. Rencana yang sudah ia susun rupanya dimudahkan. Ia merasa apa yang akan ia lakukan seperti dipermudah. 

__ADS_1


" Sekali tepuk, dua lalat mati. Haish, tidak perlu kerja ekstra untuk mendapatkan anak anak itu. It's showtime!"


TBC


__ADS_2