
Pagi hari kediaman Dika dan Silvya, semua anggota keluarga tengah sarapan bersama. Mereka makan dengan hikmat, tanpa suara sedikitpun hingga semuanya selesai memakan sarapan mereka.
" Ma, pa, Nataya sudah memutuskan buat ambil spesialis."
Dika dan Silvya saling pandang, lalu keduanya pun tersenyum. Sungguh Dika senang akhirnya sang putra mau mengambil spesialis.
" Alhamdulillaah, papa lega akhirnya kamu mau juga."
" Jadi kapan mau daftarnya?"
" Semalam udah ma via online, tinggal registrasi ke kampus aja?"
" Kak, ke kampusnya punya eyang?"
" Iya, mau kemana lagi. Kampus eyang emang bagus. Males kalau ke LN, nanti nggak ketemu noona lagi."
Kalimat terakhir yang diucapkan Nataya tentu sangat lirih. Ia khawatir kedua orang tuanya mendengarnya, walaupun saat ini sah sah saja dia mau mengejar Naisha tapi dia masih harus menyimpannya hingga Naisha benar benar mau menerimanya.
" Oh iya pa, bukannya Paman Radi ya yang sekarang jadi pemimpin Universitas?"
" Iya benar, kakak sepupu mu kan juga dosen di sana?"
" Kak Yasa sama kayak kak Nataya, ngikutin jejak papanya."
" Terus Dita mau ikutin jejak siapa hmm?"
Dika mengusap lembut kepala sang putri. Ia ingat malam yang lalu mengenai pembicaraan putra putrinya yang ingin menjadi apa nanti.
" Entah pa, Dita masih belum ngerti mah kemana nanti setelah lulus SMA. Yang jelas Dita nggak mungkin jadi dokter seperti Kak Nataya apalagi jadi dosen seperti Kak Yasa."
Ya, Yasa Naratama Dwilaga. Putra pertama dari Radian Nareen Dwilaga dan Hasna Sandika Rayadinata ternyata mengikuti jejak sang ayah menjadi seorang dosen di universitas milik keluarga Dwilaga. Sama halnya seperti Nataya, Yasa memiliki kepribadian yang ceria dan ramah. Menjadi dosen muda yang ramah dan murah senyum tentu saja membuat dia sepupu dari Nataya itu menjadi idola gadis gadis kampus.
" Apakah tidak mau menghubungi paman saja?"
" Tidak usah pa, ikuti saja prosedurnya secara umum."
Hal inilah juga yang disukai Dika, putranya tidak pernah mau merepotkan siapapun untuk apa yang akan ia lakukan.
__ADS_1
Hari ini benar benar dihabiskan Nataya bersibuk di kampus untuk mengurus prosedur pendaftaran. Namun tetap saja, meskipun menggunakan jalur umum perlakuan khusus tidak bisa ia yolak dari para pegawai kampus. Mereka semua pasti mengetahui siapa iti Nataya.
Pria itu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia sebenarnya tidak suka diperlakukan istimewa, namun mau bagaimana lagi nama besar keluarganya membuat dia memang istimewa.
" Woy!!"
" Bang Yasa kamu disini? Nggak ngajar?"
" Lagi off, lagian kan aku belum full ngajar juga. Masih uji coba kan. Gimana udah beres?"
" Udah nih."
Nataya ternyata bertemu dengan kakak sepupunya. Mereka pun berbincang lama di taman. Wajah tampan keduanya tentu saja menarik perhatian orang orang di kampus terlebih para gadis.
" Haish … "
" Hahaha, resiko jadi ganteng tuh gitu Nat."
" Apa abang nggak risih dilihati begitu?"
Yasa memicingkan matanya, sepertinya adik sepupunya itu lupa jika di rumah sakit dia juga mendapatkan tatapan seperti itu.
" Iya juga ya hahaha."
Keduanya tertawa bersama. Kedua pria tampan itu benar benar tidak sadar jika keduanya memang tampan sehingga membuat orang orang tidak bosan melihatnya.
Bang Yasa nih sama Nataya lagi di kampus. Bang Yasa jadi cameo yak, jangan minta cerita tentang Bang Yasa heheheh
🍀🍀🍀
Adnan yang masih mencari cara untuk kembali mendekati Naisha dibuat kesal dengan tingkah Bellia. Wanita itu terus mengejar dirinya, berusaha untuk kembali mendekati. Padahal secara terang terangan Adnan menolak kehadiran Bellia. Bahkan Adnan sudah menyampaikan keinginannya untuk mengakhiri hubungan keduanya.
Ia sungguh tahu taktik wanita matre tersebut. Bellia selalu menyuguhkan apapun agar bisa Adnan makan atau minum.
Heh, memangnya aku pria bodoh yang tidak tahu apa yang kau rencanakan. Kau pasti memasukkan sesuatu pada apapun yang kau berikan kepadaku.
__ADS_1
Adnan bermonolog dalam hati. Bahkan di perusahaan Bellia terang terangan mendekati Adnan membuat Dwi tampak geram.
" Kau masih berhubungan dengan wanita itu. Asal kau tahu ya Ad, jangan pikir papa nggak tahu tentang hubunganmu dengan jalaanng itu."
" Tck, aku udah nggak ada hubungan apapun sama dia pa."
" Singkirkan, dari pada menjadi penghambat."
Glek
Adnan menelan saliva nya dengan kasar. Ternyata papa nya mengetahui fakta bahwa dia berhubungan dengan Bellia. Ia sungguh sangat terkejut.
Apa jangan jangan papa tahu juga aku pernah melakukan tabrak lari.
Adnan mengusap wajahnya dengan kasar. Kejadian tersebut sungguh harus disembunyikan dengan baik. Ia pun tidak ingin sang papa tahu. Adnan khawatir jika papa nya akan menggunakan hal tersebut sebagai alat untuk mengancamnya.
" Ekhem, papa tidak usah cemas. Aku bisa mengatasi Bellia."
" Bagus, papa harap kamu bisa mendapatkan Naisha kembali bagaimanapun caranya."
Brak!!
Setelah mengatakan hal tersebut Dwi melenggang keluar dari ruangan Adnan. Pria berusia 27 tahun itu menggertakkan gigi gigi nya karena amat kesal kepada papa nya. Tapi Adnan belum bisa melakukan apa apa. Ia sendiri merasa harus menyelidiki mengenai apa yang papa nya tuduhkan kepada ayah Naisha.
Mungkin tindakan yang dilakukan Adnan sangat telat. Namun ia berpikir lebih baik telat daripada tidak sama sekali. Siapa tahu dengan mengungkap kebenarannya bisa membuat Adnan kembali pada Naisha.
Adnan tidak tahu saja, baik Juna ataupun Naisha sudah mulai melakukan penelusuran mengenai insiden 30 tahun silam yang menimpa Erika Sasongko.
Jika Juna sudah lebih dulu membuka kiriman surel yang Mr. Sun berikan, Naisha baru semalam membukanya.
Hal tersebut sedikit membuat Naisha bingung. Karena selama berpacaran dengan Adnan ia tidak pernah mengenal Erika Sasongko. Sebenarnya lebih tepatnya Adnan tidak pernah mengenalkan keluarga besar Sasongko.
Adnan pernah menceritakan bahwa keluarga Sasongko hanyalah tertinggal papanya semata. Maka dari itu Adnan hanya memiliki keluarga intinya itu yang terdiri dari papa dan mama nya. Hingga kiriman surel dari Mr. Sun menyebutkan bahwa Dwi Sasongko memiliki seorang adik saudara perempuan yang bernama Erika. Bahkan di dalam isi surel disebutkan Adnan memiliki adik perempuan.
Naisha sungguh merasa dibohongi dengan asal usul keluarga Adnan. Entah memang sengaja menyembunyikan atau apa, yang jelas selama merek bersama dan Naisha diajak berkunjung ke kediaman Sasongko ia tidak pernah melihat satu foto pun tergantung di dinding.
Jika biasanya setiap rumah memiliki foto keluarga, tidak dengan kediaman Adnan. Di rumah milik orang tua Adnan tidak ada foto keluarga satu pun. Hanya foto foto Adnan yang menghiasi rumah dan satu atau dua bingkai foto mama dan papa nya. Itu pun mereka tidak ada dalam satu frame.
__ADS_1
Waktu itu Naisha sama sekali tidak menaruh kecurigaan, namun sekarang setelah mengetahui fakta mengenai keluarga Sasongko membuat wanita itu merasa ada sebuah rahasia besar yang disembunyikan.
TBC