Mengapa Menikah?

Mengapa Menikah?
MM 41. Mengikuti Jejak Mama


__ADS_3

Pagi harinya, Silvya dan Dika menegaskan kembali kepada Nataya agar tidak berbuat sembarangan kepada Naisha. Dia tetap harus menjaga jarak agar tidak terjerumus ke jalan yang salah. 


"Apa mengerti?"


" Iya pa, mengerti."


" Kau tahu Nat, papa nggak ada ya peluk peluk mama mu saat kita belum nikah."


Nataya hanya memanyunkan bibirnya. Dia tidak tahu saja jika mama papa nya itu tidak pacaran alias dinikahkan karena kegrebek warga. Jika Nataya tahu pasti Dika akan habis dicengin olehnya. 


" Iya pa, iya."


" Memangnya kak Nataya meluk cewek nya pa?"


" Haish Dita, bocil nggak usah ikut komen. Dan kelarin sarapannya terus berangkat sekolah."


Kini giliran yang manyun. Ia sungguh kesal selalu dibilang bocil oleh papa dan kakak nya. Hanya mama nya yang tidak memanggilnya begitu.


" Mah!"


" Ya sayang, kenapa hmm?"


" Ma, beberapa hari ini Dita merasa ada yang memata matai Dita. Tapi bukan orang dari uncle Drake. Ini berbeda. Dita bisa merasakannya."


Silvya dan Dika saling pandang. Kedua orang tua itu sedikit heran dengan apa yang dikatakan sang putri. Pun dengan Nataya, ia juga ikut terkejut dengan apa yang diucapkan adiknya.


" Kamu punya musuh dek di sekolahan?"


" Nggak kak, nggak ada. Dita nggak pernah musuhan sama temen temen. Malah mereka semua baik ke Dita." 


Kini Nataya yang mengerutkan keningnya. Ia pun ikut heran dengan penuturan sang adik. 

__ADS_1


" Ma, pa, hari ini aku yang akan antar jemput Dita. Kebetulan hari ini kan kuliah, jadi nggak ke rumah sakit."


Dika mengangguk diikuti dengan Silvya. Namun Silvya sudah mengambil ponselnya untuk menghubungi Drake. Semua terdiam saat Silvya berbicara di telepon. Mereka sudah tahu bahwa Silvya akan jadi seseorang yang berbeda saat tengah berbicara dengan Wild Eagle. Setelah menghubungi Drake, kini Silvya menghubungi Arduino. Ia benar benar tidak ingin kecolongan apapun yang berakibat buruk untuk keluarganya.


" Bagaimana ma?"


" Uncle Drake akan mencoba meretas cctv sekitar sekolahan adek. Biar kita bisa lihat siapa kira kira orang itu. Sedangkan Uncle Ar, dia sementata ini tidak bisa mengetahui nya. Karena tidak ada yang mencurigakan yang mendekat ke arah keluarga Uncle. Jadi kalian harus waspada oke. Mas, kamu juga."


Dika dan kedua anaknya mengangguk mendengar setiap apa yang diucapkan Queen di rumah mereka itu. Seketika pikoran Nataya tertuju kepada Naisha. 


" Ma, bisakah mama mengirim pengawalan untuk Naisha dan Rey?"


" Tenang saja, semuanya sudah mama amankan. Lagian ayah mereka memang secara khusus meminta anak anak mereka dilindungi oleh Wild Eagle. Sepertinya Arjuna Dewantara memiliki musuh. Bahkan dia minta tolong kepada Wild Eagle untuk mengawasi keluarga mantan suami Naisha."


Bukannya tenang, Nataya malah tampak semakin cemas. Silvya yang melihat raut wajah putranya mencoba untuk meyakinkan bahwa semuanya baik baik saja. Orang orang yang dikirimkan oleh Wild Eagle adalah orang orang yang memiliki kemampuan khusus setara tentara bayaran. 


" Ma, pa, apa Om Juna punya masalah dengan keluarga Sasongko ya. Keluarga dari mantan suami noona. Maksudku masalah yang serius gitu. Terus apa Om Juna punya musuh lain ya?"


" Maksud kamu bagaimana Nat."


" Astagfirullah."


Dika dan Silvya sungguh terkejut dengan cerita sang putra. Mengapa hal sebesar itu baru disampaikan Nataya sekarang. Tapi bukan itu poinnya. Poin utamanya adalah Arjuna Dewantara memiliki musuh yang mungkin sekarang bisa membahayakan keluarganya terlebih anak anak nya.


Entah mengapa Silvya merasa harus ikut membantu keluarga tersebut.  Bahkan Silvya berpikir untuk menghubungi sahabat karibnya, Mr. Sun untuk mencari siapa orang dibalik semua yang terjadi ini. 


" Sayang apa orang yang mengikuti Dita ada hubungannya dengan penculikan Rey beberapa tahun silam?"


" Entah mas, aku belum bisa mengambil kesimpulan. Tapi jika dilihat, tidak ada hubungannya kan mas? Kita juga mengenal keluarga Dewantara hanya sebatas beliau adalah pemegang saham terbanyak di RS Mitra Harapan. Aku malah khawatir orang yang membuntuti Dita adalah musuhku di masa lalu."


Wajah Silvya tampak sendu, Dika cukup paham dengan apa yang diucapkan sang istri. Begitu juga kedua anak mereka. Baik Dita maupun Nataya tahu asal usul keluarga nya. Kedua anak itu berdiri lalu memeluk sang mama.

__ADS_1


" Ma, mama hebat dengan semua yang mama sudah lakukan," ucap Nataya.


" Iya ma, Dita bangga punya mama. Mama adalah wanita kuat. Dita bahkan ingin seperti mama," tukas Dita menimpali sang kakak.


Dika sungguh bersyukur, putra putrinya sungguh menerima masa lalu ibu mereka. Namun seketika Dika mengerutkan keningnya saat mencerna lagu perkataan sang putri.


" Dita mau kayak mama, jadi mafia gitu?"


" Astagfirullah papa. Bukan gitu, tapi setelah dipikir pikir Dita sekarang tahu mau jadi apa."


Semuanya penatap penasaran terhadap anak gadis satu satunya keluarga itu. Mereka menanti Dita mengatakan kalimatnya yang menggantung.


" Dita mau masuk militer aja."


" Apa???"


Semua terkejut tanpa terkecuali. Silvya bahkan memastikan apa yang dikatakan sang putri. Ibu dua anak itu tidak mungkin salah dengar karena semua di meja makan itu ikut terkejut dengan ucapan Dita.


" Maksud Dita gimana?"


" Iya ma, Dita mau masuk militer aja. Mau sekolah di Akademi Militer. Di kota M tuh, tanah kelahiran kak Kiran istri dari Abang Kai kan akademi militernya bagus. Terkenal lagi."


Silvya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Dika wajahnya berubah pias. Bagaimana ia bisa melepaskan putri kecilnya bersekolah di militer. Dika sudah menggeleng keras tanda dia tidak setuju.


" Nak, kenapa harus militer. Bisnis kek, koki kek, atau apa gitu. Mamamu dulu sudah buat papa sering spot jantung. Lah ini kamu mau ikuti jejak mamamu tapi dalam versi yang legal. Haduuuh papa nggak kebayang deh tiap hari mikirin kamu. Belum kalau kamu dikirim ke daerah konflik, belum nanti kalau kamu harus menghadapi perang. Haduuuh mules papa belum apa apa juga."


Silvya dan Nataya ingin sekali tertawa melihat ekspresi Dika. Namun keduanya sebisa mungkin menahannya. Ibu dan anak itu tahu saat ini kepala keluarga mereka benar benar tengah dilanda kecemasan karena perkataan snag putri.


" Pa, jangan mikir kejauhan apa. Seandainya itu terjadi masih lama juga," ucap Dita mencoba menenangkan papa nya. Tapi tetap saja sang papa tidak ada tenang tenangnya. Pria paruh baya itu terlanjur berpikir yang tidak karuan.


" Baiklah, meeting pagi ini kita akhiri ya. Kak, antar adek ke sekolahnya ya. Mama sama papa juga berangkat."

__ADS_1


Nataya dan Dita mencium tangan kedua orang tuanya bergantian lalu mereka berangkat bersama. Sedangkan Dika, ia hanya membuang nafasnya dengan kasar. Sebenarnya ia sudah memprediksi hal ini. Prediksi mengenai salah satu anak nya yang akan mengikuti jejak sang istri. Namun ia tidak menyangka jika malah Dita lah yang menginginkannya.


TBC


__ADS_2