
Adnan terduduk pilu di rumah nya ketika ia mengingat saat dia diusir oleh seorang wanita yang mengatakan bahwa Naisha adalah calon menantunya. Hatinya sungguh hancur. Apakah ini rasa tidak diinginkan? Pertanyaan itu kini berputar dalam benak dan pikirannya.
Ia teringat saat menolak Naisha mentah mentah, bahkan di saat malam pertamanya. Hatinya seketika hancur. Pria itu terduduk lesu. Disisi lain ia sungguh ingin bisa kembali bersama Naisha. Namun disisi satunya lain Bellia saat ini tengah mengandung, dan itu jelas anaknya.
" Apakah aku benar benar harus melepaskan Naisha?"
Pertanyaan yang sebenarnya dia sendiri yang bisa menjawabnya. Adnan kemudian masuk ke kamarnya, ia mengeluarkan sebuah tas ransel dan memasukkan beberapa baju kedalamnya.
" Aku akan menemui Bellia. Bagaimanapun aku harus bertanggung jawab. Bukankah dulu aku mencintainya?"
Adnan membulatkan tekadnya untuk kembali merajut cinta dengan Bellia. Mau tidak mau ia pun harus melepaskan Naisha. Ada suatu hal yang membuatnya akhirnya memilih untuk mundur.
Hal tersebut adalah anak. Sebrengsek brengseknya dia, dia tidak ingin nanti anaknya menjadi anak yang akan melakukan kesalahan sama seperti dirinya. Adnan ingin anaknya nanti tumbuh menjadi seseorang yang lebih baik dari pada ayah dan ibunya. Dan semua itu dimulai dari sekarang. Meskipun anak itu ada karena perbuatan bejat kedua orang tuanya, namun bagaimanapun juga anak yang saat ini dikandung oleh Bellia adalah pemberian Tuhan.
Anak yang masih dalam perut Bellia adalah anaknya bagaimanapun nantinya. Adnan juga berpikir bahwa ia tidak akan jadi orang tua yang egois seperti sang ayah. Dia juga akan mendidik Bellia menjadi ibu yang baik untuk anaknya kelak.
Adnan benar benar membulatkan tekadnya tersebut. Ia harus segera menemui Bellia dan mengesahkan pernikahan mereka. Malam ini juga dia harus lari pergi dari kota ini agar sang papa tidak lagi bisa mengancamnya seperti sebelumnya.
🍀🍀🍀
Sejak diberitahu apa yang Peter rencanakan terhadap keluarga Juna, Dwi tampak tersenyum senang. Sebentar lagi dendamnya akan terbalaskan. Semua akan merasakan apa yang telah ia rasakan dulu. Prita yang baru saja kembali dari dapur membuatkan susu hangat untuk suaminya itu menatap heran sang suami.
“ Sepertinya suasana hatimu sedang bagus mas?”
“ Kau benar sayang. Aku sedang bahagia. Sebentar lagi nama keluarga Arjuna Dewantara itu akan dilupakan oleh orang orang.”
“ Maksudmu?”
Dwi tidak menjelaskan secara rinci kepada sang istri. ia hanya tersenyum lalu menegak habis susu yang disodorkan sang istri.
“ Mas, apa kau tidak rindu dengan putrimu?”
__ADS_1
Prang!!!!
Dwi melempar gelas susu itu ke lantai membuat Prita terlonjak kaget. Raut muka bahagia tadi menjadi marah. Dengan spontan Dwi mencengkram dagu Prita dengan kedua jarinya.
“ Jangan pernah kau sebut anak durhaka itu di depanku lagi. Sudah aku katakan aku tidak punya putri seperti dia. Disaat dia menolak perjodohan yang ku atur dan malah pergi meninggalkan rumah, sejak saat itu dia bukan putriku. Perawat? Huh apa hebatnya jadi perawat."
Prita tergugu, ia menangis pilu melihat keluarganya yang jauh dari kata harmonis. Perlakuan Dwi yang otoriter dalam rumah tangga mereka membuat keluarga ini terpecah belah. Ambisi, dendam, dan rasa haus akan kekuasaan membuat Dwi gelap mata.
Baiklah mas, sepertinya aku pun tak lagi bisa mendampingi mu. Sudah cukup aku bersabar dengan semua tingkah lakumu. Aku akan pergi bersama putra dan putri kita. Kejarlah bahagia dengan caramu itu.
Prita yang memang sudah dikabari Adnan ingin menikahi Bellia tentunya setuju saja. Bagaimanapun putranya tersebut harus bertanggung jawab dengan gadis yang sudah ia hamili. Namun ia memilih diam dan tidak memberitahu sang suami.
Prita cukup tahu perangai Dwi. Jika ia memberitahu mengenai apa yang Adnan lakukan, tentu saja Dwi akan melakukan banyak cara untuk menghalangi tujuan Adnan. Cukup sudah anak anak nya menjadi korban dari keegoisan sang suami. Bahkan akibat yang ditimbulkan tidak main main, yakni mempermainkan hati seorang wanita.
Beruntung Naisha adalah wanita kuat, jika tidak pasti dia akan depresi dengan apa yang Adnan lakukan. Memikat hati seorang gadis lalu mengabaikannya dan mengatakan bahwa tidak mencintainya, sungguh adalah sebuah hal yang sangat jahat dan tidak termaafkan.
*
*
*
Seorang gadis yang baru saja hendak merebahkan tubuhnya harus kembali bangkit. Ia melirik jam weker di atas nakasnya. Gadis itu memicingkan matanya saat jarum pendek jam tersebut berada di angka 11.
" Siapa yang malam malam ini bertamu?"
Ia pun berjalan gontai ke arah pintu rumahnya. Rumah minimalis type 27 itu berhasil ia miliki sekitar 1 tahun yang lalu hasil dari ia menabung selama menjadi perawat.
Dinar sedikit mengintip dari jendela, mencoba melihat siapa yang datang. Ia pun terkejut saat melihat seseorang yang sudah lama tidak ia temui itu berdiri dibalik pintu dengan membawa sebuah tas besar.
Mama, gumam Dinar lirih. Ia pun segera membukakan pintu untuk wanita yang sudah melahirkannya di dunia ini.
__ADS_1
" Assaamualiakum nak?"
" Waalaikumslama ma."
Prita langsung memeluk erat putri kecilnya itu. Ia meluapkan rindu yang tidak terbendung. Kata maaf terus mengalir di bibir wanita paruh baya tersebut. Ya, penyesalan selalu ada di bagian akhir. Prita menangis, ia sungguh merasa bersalah karena tidak bisa melindungi dan membela anak anaknya di hadapan sang suami.
Mungkin dia akan dicap sebagai ibu yang bodoh di dunia oleh banyak orang. Tapi banyak pertimbangan yang ia lakukan saat itu.
" Maafin mama nak. Mama sungguh minta maaf. Kamu pasti sangat membenci mama."
" Sudah ma, mama tidak salah. Semua yang terjadi di keluarga kita adalah papa yang paling bersalah. Kita semua tahu itu."
Dinar menuntun Prita untuk masuk ke dalam rumah. Ibu dua anak itu kembali menangis saat melihat kondisi rumah Dinar yang sangat jauh berbeda dengan rumah mereka.
" Ma, aku nyaman di sini. Setidaknya tidak ada papa yang selalu mendikte ku untuk melakukan apa yang tidak aku inginkan."
Prita mengangguk, kepergian Dinar dari rumah dan tidak kembali lagi semua adalah ulah keegoisan sang suami.
" Apa mama pergi dari rumah?"
" Iya nak, sungguh mama sudah tidak bisa bersama papa mu yang semakin hari bukannya semakin berubah ke yang lebih baik tapi malah semakin menjadi."
" Tapi kalau mama di sini tentu mama akan ditemukan dengan lebih mudah."
" Lalu?"
Dinar menemukan sebuah cara untuk mereka pergi sementara dari kota ini. Beruntung Dinar tidak pernah mengambil cuti kerja, jadi ia bisa memintanya untuk saat ini. Secara langsung Dinar pun pergi bersama sang mama setelah membereskan beberapa barangnya dan menuju ke rumah kepala perawat untuk meminta izin cuti sekitar 1 minggu.
Kini ibu dan anak malam itu juga meninggalkan kota J untuk sembunyi sementara dari Dwi Sasongko. Bagaimanapun juga mereka tidak boleh ditemukan untuk saat ini agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan.
TBC
__ADS_1