Mengapa Menikah?

Mengapa Menikah?
MM 34. Apa Mau Anda Tuan?


__ADS_3

Naisha sedikit melamun di meja kerjanya. Beberapa hari ini tidak melihat Nataya membuatnya bertanya tanya ada apa gerangan dengan bocah tersebut. Biasanya Nataya selalu muncul di hadapannya baik itu saat pagi hari atau malam hari.


" Mbak!"


Panggilan Rey membuyarkan lamunannya akan pria tersebut.


" Lagi mikirin apa?"


" Nggak, nggak lagi mikirin apa apa? Gimana? Sudah mengerti mengenai NO?"


Rey terdiam sejenak. Setelah ia pulih dari kecelakaannya, pria berusia 23 tahun itu memang langsung kembali ke Star Building dan belajar mengambil alih semua urusan No. Dari mulai pemilihan desain, warna, dan model yang akan dikeluarkan.


NO yang merupakan alat alat outdoor tersebut harus selalu berinovasi dalam mengeluarkan produk produk barunya. Hal tersebut bertujuan agar NO tetap eksis dan diminati para penikmat olahraga outdoor. 


Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin ia revisi mengenai sepatu yang dikeluarkan kemarin. Namun produk tersebut sudah di launching saat ia masuk rumah sakit.


Juga, Rey merasa bahwa tenda keluaran NO sudah harus di update. Rey juga berencana untuk mengupgrade warna warna yang NO keluarkan. NO identik dengan warna warna dark, Rey ingin membuat NO sedikit lebih warm dengan warna warna yang lebih terlihat.


Apa yang dipikirkan oleh Rey ia sampaikan kepada sang kakak. Naisha tersenyum lebar, rupanya ketertarikan Rey terhadap NO membuat adiknya itu berpikir lebih produktif.


" Bagus, apa yang kau katakan bagus kok. Tinggal eksekusi."


" Bagaimana eksekusinya mbak?"


" Panggil semua tim NO lalu adakan rapat. Presentasikan apa yang sudah kamu pikirkan, berikan gambaran keinginanmu. Buat perbandingan, jangan lupa target pasar yang dituju dengan adanya perubahan tersebut. Jangan asal mengubah sesuatu tapi tujuan dari perubahan itu tidak jelas. Jika itu kamu lakukan sudah pasti mereka akan menolak usulanmu."


Rey mengangguk paham. Ia benar benar kagum dengan kakak perempuannya itu. Saat seperti itu Naisha terlihat begitu berwibawa dan cerdas. Memang layak sebagai CEO Star Building.


" Mbak, udah deh mbak aja selamanya yang jadi CEO kenapa juga harus Rey sih."


" Because I'm a woman. I just want to be a housewife."

__ADS_1


" Memang kenapa kalau ibu rumah tangga. Tuh nyatanya mama nya Nataya juga sampai sekarang juga bekerja."


" Tidak ada yang salah Rey. Mbak juga tetap akan bekerja. Tapi mbak ingin prioritas utama mbak adalah suami dan anak anak mbak nanti. Lagian kan ada kamu. Ya kamu lah yang harus mengurus Star Building. Beruntung lho DCC dipegang sama Om Dante dan DIS di pegang sama Tante Alina. Coba jika nggak, kamu bakalan yang pusing ngurus semuanya."


Kedua kakak beradik itu tahu betul sang ayah sama sekali tidak pernah mau ikut campur dalam usaha apapun milik Dewantara Corp Company atau yang dikenal dengan DCC. Juna bahkan menolak dengan lantang saat diminta mengurusi DCC. Meskipun begitu ia memiliki saham di DCC tapi waktu itu pun bukan atas nama dia sendiri. Arjuna Dewantara lebih senang mengembangkan bisnisnya yang tanpa campur tangan Dewantara.


" Ya baiklah aku paham kok. Oh iya apakah kita bisa mengajukan usul untuk tema seperti apa iklan ke JD Advertising."


" Tentu, kita bebas request. Katakan saja apa yang kamu inginkan untuk iklan sebuah produk, pihak JD Advertising akan mencoba mewujudkan iklan yang kamu inginkan."


Rey mengangguk mengerti, ia menemukan ketertarikan saat membicarakan mengenai NO. Hal tersebut juga dirasakan oleh Naisha. Wanita itu sungguh senang.


" Mbak, tadi ngelamun apakah mikirin bocah kampret."


" Bocah kampret? Siapa?"


" Nataya!"


Uhuk … uhuk


" Enggak, ngapain mikirin teman mu itu."


Rey menelisik wajah sang kakak, ia menatap mata Naisha dengan lekat. Tampak sekali kakaknya itu berbohong. Rey sedari kecil hafal, Nasha akan mengedip ngedipkan matanya jika ia tengah berbohong akan suatu hal. Pemuda itu pun hanya tersenyum lalu berdehem.


" Ehem, ooh nggak mikirin. Ya udah sih kalau gitu nggak usah salting. Cuman emang sekarang dia lagi sibuk sih, kan kuliah lagi ngambil spesialis bedah anak."


" Ooh jadi ambil spesialis, alhamdulillah kalau begitu."


Rey hanya menyunggingkan senyum saat kakaknya bergumam pelan. Ia tahu, tampaknya sang kakak menaruh rasa kepada sahabatnya itu. Meskipun Naisha berusaha berbicara tidak, tapi Rey bisa menangkap binar ketertarikan dari mata sang kakak.


Hais, kayaknya judul ftv sahabatku menjadi kakak iparku bakalan cepat terwujud. 

__ADS_1


Rey bermonolog dalam hati, hingga ia terkejut saat Airin masuk membuka pintu dengan begitu keras.


" Eh anak piyik, pelan pelan napa buka pintunya. Et deh dah kayak orang kabur karena ketahuan nyolong."


" Astagfirullah maaf hyung eh abang. Maaf kak Nai. Itu ada itu?"


" Itu siapa?"


Belum selesai Airin mengucapkan perkataannya seseorang sudah muncul dari balik pintu dengan sebuket bunga mawar putih disertai senyuman yang begitu lebar. Tapi semua orang yang berada di ruangan Naisha tidak ada yang membalas senyumnya tersebut.


" Hay sayang."


" Mau apa kamu ke sini?"


Dengan santainya Adnan langsung menerobos masuk dan duduk di sofa yang ada di ruangan Naisha. Rey sudah mengepalkan tangannya dengan erat bersiap melayangkan tinjunya kepada pria tak tahu malu yang berada di hadapannya itu. Namun sentuhan tangan sang kakak membuatnya melonggarkan kepalan tangannya.


" Mau apa anda kemari, kita tidak sedang dalam urusan kerjasama jadi apa tujuan anda datang ke sini?"


Hati Adnan mencelos mendengar setiap kata yang keluar dari bibir wanita yang ada di depannya itu. Sapaan 'anda' yang diucapkan Naisha mempertegas bahwa mereka benar benar orang asing sekarang. Disisi lain, Naisha yang terlihat semakin cantik dan menarik di mata Adnan sungguh membuat pria itu tak berkedip menatap nya.


" Jaga pandangan anda tuan!" sergah Rey. Ia sungguh risih melihat Adnan yang menatap kakak perempuannya dengan penuh harap.


" Ekhem, aku hanya ingin memberikan ini padamu. Apakah kita bisa bisa berbicara berdua?"


Baik Nisha, Rey, dan Airin, ketiganya mengerutkan alis mereka masing masing mendengar permintaan Adnan. Tentu saja Naisha akan menolak mentah mentah, ia masih sangat trauma mengingat apa yang sudah pria itu lakukan kepadanya waktu itu.


" Maaf saya tidak bisa berbicara berdua dengan Anda tuan."


" Nai, please aku mohon. Berikan aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahanku. Aku sungguh minta maaf Nai, aku mencintaimu. Kembali lah padaku aku mohon."


Naisha membelalakkan matanya mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut Adnan. Sedangkan Rey dan Airin membuat ekspresi muntah. Bahkan Rey merasa bulu kuduknya berdiri saat Adnan mengucapkan kata demi kata tersebut.

__ADS_1


Emang lu kate mbak gue wanita bodoh yang dengan gampangnya menerima kata maaf setelah disakiti sebegitu dalamnya. Dasar cowok beegoo. Lihat saja apa yang akan gue lakuin ke laki laki kampret macam kau orang ini.


TBC


__ADS_2