
Beberapa hari berlalu dan Keluarga Sasongko memutuskan untuk membawa pulang Dwi ke rumah. Bahkan Dinar mengajukan resign dari rumah sakit untuk merawat sang papa di rumah. Akan tetapi rupanya hal tersebut dilarang oleh Prita. Bagaimanapun keluarga mereka sudah bukan lagi orang kaya seperti kemarin, Prita mengusulkan bahwa dia saja yang akan merawat suaminya sendiri dan membiarkan Dinar untuk tetap bekerja. Sangat sayang jika putrinya itu keluar dari pekerjaan. Bagaimanapun apa yang diraih Dinar saat ini bukanlah hal yang mudah.
Adnan juga sudah berkata akan membawa kedua orang tuanya itu ke kampung halaman Bellia. Ia rasa di sana akan membantu proses penyembuhan sang papa. Dinar pun akhirnya setuju setelah mereka saling bicara.
" Ad mumpung disini apakah tidak ingin meminta maaf kepada Naisha?"
Adnan terdiam, ia sungguh merasa malu untuk menemui wanita yang sudah ia sakiti hatinya itu. Rasanya sudah tidak ada muka untuk Adnan menemui Naisha.
" Minta maaf lah yang tulus agar hidupmu lebih tenang kedepannya."
Apa yang dikatakan mama nya benar adanya. Ia harus minta maaf dengan sungguh sungguh agar di hidupnya merasa jauh lebih tenang. Adnan pun mengangguk. Ia akan menemui Naisha hari ini sebelum mereka kembali ke kota B.
Naisha yang belum kembali bekerja masih berada di rumah bersama sang bunda. Ia melakukan banyak aktivitas bersama Gendis, salah satu nya memasak. Sebenarnya Naisha sangat suka memasak, akan tetapi selama menjadi CEO di Star Building ia sangat jarang sekali masuk dapur.
Tok tok tok
Terdengar suara pintu rumah mereka di ketuk. Naisha berinisiatif untuk membukanya karena sang bunda dan Mbok Yem tengah sibuk membuat makanan.
Ceklek
" Maaf cari sia~"
" Hai Nai. Aku kesini mau minta maaf sama kamu."
Naisha sedikit terkejut dengan kedatangan Adnan. Tapi Naisha tetap bersikap sopan, ia mempersilahkan masuk, tapi Adnan menolak. Ia memilih untuk duduk di teras saja. Adnan pun mulai mengatakan apa yang harus ia katakan.
Pria itu meminta maaf dengan segala perlakuannya terhadap Naisha. Adnan benar benar menyesal. Ia juga meminta maaf atas apa yang sudah diperbuat oleh sang papa. Sungguh Adnan merasa sangat malu kepada Naisha dan keluarganya.
" Sudahlah Ad, yang lalu biarlah berlalu. Bohong jika aku tidak sakit hati atas perlakuanmu. Akan tetapi yang namanya nasi sudah jadi bubur maka ya sudah dinikmati saja bubur tersebut. Hiduplah dengan baik jangan mengulang lagi kesalahan yang sama. Semoga kau dan Bellia hidup bahagia."
Adnan tergugu, sungguh wanita yang pernah ia sakiti hatinya ini adalah wanita yang begitu baik. Naisha begitu lapang dada mau memaafkan apa yang sudah diperbuat oleh nyaq.
Adnan pun pamit, ia harus segera kembali ke rumah sakit untuk membawa kedua orang tuanya ke kota B. Naisha pun menghela nafasnya penuh kelegaan. Semua permasalahan lalu kini sudah terselesaikan dengan baik. Ia pun tersenyum lalu ia memutar tubuhnya ingin kembali masuk ke rumah. Namun langkahnya terhenti saat seseorang menutup kedua matanya dari belakang.
Naisha tentu tahu siapa dia, aroma parfum maskulin yang ia hirup cukup membuatnya mengenal siapa si pemilik tangan.
" Nat."
" Yaaah ketebak."
__ADS_1
Ternyata Nataya sudah di sana saat Adnan bertamu. Namun pemuda tersebut membiarkan Naisha dan Adnan menyelesaikan permasalahan yang pernah terjadi diantara mereka.
Nataya membalikkan tubuh Naisha agar menghadap kepadanya. Ia menatap lekat maik hitam milik noonanya itu.
" Ayo menikah."
Glek
Naisha menelan salivanya dengan susah payah. Meskipun ia sudah memprediksi hal tersebut tapi tetap saja Naisha masih kaget saat Nataya mengatakannya langsung.
" Apa tidak terburu buru. Kita baru saja kenal lho Nat."
" So what?"
" Nat, kamu masih sangat muda. Masih panjang lagi yang akan kamu lakukan kedepannya. Kamu masih kuliah, masih akan bermain dengan teman temanmu. Intinya masih banyak hal yang akan kamu lakukan."
" Tapi aku mau mainnya sama noona aja."
Pluk!
Naisha menepuk keningnya dengan tangan sendiri. Sungguh pria muda di depannya ini benar benar tidak tertolong lagi. Naisha masih berusaha membujuk agar Nataya mengurungkan niatnya untuk menikahi yang dalam waktu dekat. Namun tampaknya ia tidak akan berhasil karena alasan yang diutarakan akan dijawab juga dengan sejuta hal yang bisa mematahkannya oleh pemuda itu.
" Noona dengarkan aku. Sungguh aku mencintaimu. Aku tahu apa yang kau khawatirkan, tapi percayalah aku hanya ingin menghabiskan hariku bersamamu. Banyak hal yang yang ingin aku lakukan denganmu. Aku ingin kamu jadi ratu di hatiku dan di rumahku. Ayo bersama sama mencapai cinta yang halal. Aku tidak ingin berlama lama berhubungan seperti ini. Aku ingin hubungan yang sah."
Cup
Nataya mengecup bibir Naisha sekilas membuat wanita itu sungguh terkejut.
" Nah kan kalau begini malah dosa noona. Mana pengen nambah lagi."
Plak!!!
Sebuah keplakan tangan mendarat di lengan besar milik Nataya. Ia hanya tersenyum kecil melihat raut wajah Naisha yang merah seperti udang rebus.
🍀🍀🍀
Nataya mengungkapkan keinginannya untuk menikahi Naisha kepada kedua orang tuanya. Tentu saja baik Dika dan Silvya tidak keberatan sama sekali. Meskipun tergolong menikah muda namun Silvya percaya putranya itu bisa bertanggung jawab terhadap Naisha nanti.
Berbeda dengan Dika, pria itu malah tampak khawatir. Mengingat kelakuan putranya yang terkadang absurd. Dika khawatir jika usia muda Nataya masih membuatnya kurang memiliki tanggung jawab.
__ADS_1
" Apa kau yakin? Pernikahan bukan untuk main-main lho ya."
Nataya mengangguk. Ia sungguh sudah bertekad bulat untuk menikahi gadis eh janda tapi masih perawan pujaan nya itu. Dika mengambil nafasnya dalam dalam dan membuangnya perlahan.
" Nat bagaimana kalau setahun lagi?"
" Maksud papa?"
Nataya terkejut mendengar ucapan sang papa. Bukan hanya Nataya, Silvya pun ikut bingung dengan sang suami. Kemarin Dika iya-iya saja soal menikahkan Nataya. Akan tetapi kali ini tampaknya kepala keluarga itu seakan berat untuk melepaskan putranya menikah.
" Pergilah menjadi relawan selama setahun. Setelah kembali barulah kau menikahi Naisha. Pikirkan dulu jangan ambil keputusan sekarang. Papa tunggu jawabanmu besok."
Setelah mengatakan hal tersebut, Dika melenggang pergi dan masuk ke kamarnya meninggalkan istri dan putranya yang masih penuh dengan kebingungan. Nataya menunduk, papanya tidak pernah berkata dengan nada yang begitu dalam dan berat.
" Mama akan bicara sama papamu."
" Tidak perlu ma. Nataya kembali ke kamar dulu."
Nataya meninggalkan Silvya dengan wajah lesu. Sungguh ia tidak bersemangat sama sekali. Ia masih tidak paham mengapa papa nya tiba-tiba mengatakan ide tersebut. Sednagkan Silvya ia begegas menuju kamar untuk menemui sang suami.
Di dalam kamar Dika tampak tengah berdiri di depan jendela sambil melipat kedua tangannya. Ia menatap hujan yang tengah membasahi bumi tersebut.
" Mas," panggil Silvya lembut.
" Aku tahu sayang apa yang akan kau bicarakan. Sungguh aku juga ingin anak itu segera meresmikan hubungannya tapi aku sungguh masih sangat khawatir. Aku khawatir dan takut dia masih labil dan belum tahu arti kata tanggung jawab. Menikah bukan perkara main-main. Bukan ajang coba-coba. Menikah adalah tanggung jawab seumur hidup. Terlebih bagi pria."
Silvya berjalan menghampiri sang suami. Ia kemudian memeluk Dika dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung lebar suaminya tersebut.
" Hhhhh, aku tahu mas. Aku paham yang kamu maksud. Tapi apakah perlu mengirimnya untuk menjadi relawan?"
" Apa kau meragukan kemampuan putramu?"
" Bukan begitu, hanya~"
Dika membalikkan tubuhnya agar menghadap sang istri. Ia menangkupkan kedua tangannya di wajah istrinya tersebut dan menatap manik mata kecoklatan milik wanita yang dinikahinya lebih dari 20 tahun itu.
" Sayang, aku hanya ingin Nataya benar benar menjadi dewasa. Dengan menjadi relawan dia akan lebih memiliki tanggung jawab. Disana aku yakin akan bisa membentuk karakter Nataya menjadi lebih baik lagi. Bukannya aku ragu dengan putraku tapi akan banyak hal yang ia dapat saat menjadi relawan nanti, dan aku yakin hal tersebut agar berguna untuknya kedepannya."
Silvya mengangguk mengerti. Apa yang diucapkan suaminya semuanya benar adanya. Silvya lalu memeluk sang suami dengan erat untuk mencurahkan kegelisahannya.
__ADS_1
TBC