Mengapa Menikah?

Mengapa Menikah?
MM 35. Tidak Semeter Sekalipun


__ADS_3

Sudah sekitar 30 menit tapi Adnan juga belum pergi dari ruangan Naisha. Sungguh menghambat semua pekerjaan semua orang. Mengapa demikian, karena baik Rey ataupun Airin tidak mungkin meninggalkan Naisha sendiri di sebuah ruangan bersama dengan Adnan.


Adnan masih terus mengoceh dengan permintaannya agar Naisha kembali. Sungguh membuat telinga semua orang yang ada di situ semakin panas.


Sebuah langkah kaki terdengar begitu jelas dan cepat mendekati ruangan Naisha. Tanpa aba aba dan tanpa permisi seseorang masuk lalu entah bagaimana asal muasalnya orang itu sudah mendaratkan bibirnya di pucuk kepala Naisha. Bukan hanya itu, orang tersebut juga memeluk mesra Naisha.


" Sayang, maaf aku terlambat. Yuuk makan siang."


Cengo, semua orang di ruangan tersebut benar benar dibuat bingung dengan perbuatan pria tersebut. Namun tidak dengan Rey, sungguh dia ingin tertawa  dengan keras melihat ekspresi terkejut Adnan.


" Nataya, ka~"


" Iya noona, maaf ya padahal udah janji makan siang bareng. Tadi ada sedikit urusan di kampus. Eeeh ada tamu to maaf ya tuan saya tidak lihat. Maklum mata saya sudah dipenuhi dengan wajah noona jadi saya tidak melihat ada orang lain lagi disini selian noona. Rey, mbak mu aku bawa dulu ya. Tolong selesaikan urusan noona. Aku takut noona pingsan jika telat makan siang kan bahaya."


Perkataan Nataya benar benar membuat semua orang di sana menganga. Terlebih Airin, ia sedikit bingung dengan pria yang mungkin seusia dengan dirinya itu. Naisha benar benar tidak mengerti bagaimana pria ini bisa tiba tiba di sana.


Nataya langsung meraih tangan Naisha dan membawanya pergi dari ruangan. Seperti besi yang terkena magnet, Naisha pun mengikuti Nataya tanpa protes. Keduanya pun keluar meninggalkan Adnan yang tampak kesal.


" Apakah masih ada yang mau dibicarakan tuan Adnan?"


" Sebaiknya saya permisi, tidak ada gunanya lagi saya di sini."


Adnan berdiri dari duduknya dan berjalan keluar. Namun suara Rey menghentikan langkahnya.


" Tuan Adnan maaf, sebaiknya tuan membawa kembali bunga tersebut. Disini tidak ada yang menginginkannya. Dan maaf hanya akan menambah kotor ruangan."


Adnan kembali meraih buket bunga yang ia bawa tadi dengan kasar. Pria itu lalu berjalan dengan cepat meninggalkan ruangan milik Naisha. Sedangkan Rey tertawa terbahak bahak. Ia sungguh puas bisa melihat wajah Adnan yang begitu kesal tersebut.


" Rasain  emang enak. Brother you are the best. Emang paling paling deh hahahha."


" Hyung, apa Bang Rey yang meminta pria tadi kesini?"


Rey mengangguk menjawab pertanyaan dari Airin. Tanpa diketahui oleh semuanya, saat pertama kali Adnan datang, Rey langsung mengirim pesan kepada sahabatnya itu

__ADS_1


^^^Bro, ke Star Building cepet!! ( Rey)^^^


Napa emang bro? ( Nataya)


^^^Jangan banyak tanya, kalau nggak cepet mbak Nai bakalan dibawa sama buaya buntung (Rey)^^^


Nataya yang waktu itu baru saja hendak mau menyantap bakso ke mulutnya urung. Pria itu langsung berlari meninggalkan semangkok baksonya menuju ke parkiran dan melesatkan motornya ke Star building. Rasa lapar yang tadinya begitu ia rasakan seketika hilang saat mendapatkan pesan dari Rey. 


Sesampainya di depan ruangan Naisha oun Nataya tambah geram saat mendengar bagaimana Adnan mencoba membujuk Naisha agar kembali kepada pria durjana itu. Maka dari itu ia pun melakukan hal tak terduga di depan sahabatnya, yakni memeluk dan mencium kepala Naisha.


" Bang, apa pria muda tadi menyukai kak Nai?"


" Ya, dia temanku. Dia seorang dokter putra dari pasangan Dokter Radika Tara Dwilaga dan Silvya Bellona Linford."


" Apa???!"


Airin tentu tahu dua nama besar itu. Dia sungguh tidak menyangka pria tadi adalah putra dari dua orang hebat yang namanya dikenal di bidangnya masing masing. Yang bikin tidak kalah heran nya pria tadi menyukai Naisha. Pertanyaan muncul dari benak Airin, sejak kapan Naisha berhubungan dengan dokter muda itu.


" Apa abang memberi jalan pada dokter itu untuk mendekati kak Nai."


" Tentu saja, aku tahu persis siapa Nataya. Dia adalah pria yang baik dan penyayang. Aku yakin Mbak Nai akan bahagia bila bersama dengan Nataya."


Airin terdiam saat mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Rey. Jika pria di depannya mengatakan hal tersebut berarti pria tadi benar benar adalah pria yang baik. Airin pun menghembuskan nafasnya lega, ia hanya tidak ingin kakak perempuan yang ia sayangi itu mengalami sakit hati seperti sebelumnya.


Disisi lain, Nataya masih menggenggam erat tangan Naisha. Terasa sekali hawa protektif di genggaman tangan besar pria itu  mereka berjalan menyusuri jalan di luar Star building hingga menemukan sebuah warung bakso. Nataya pun menuntun tangan Naisha masuk ke warung bakso tersebut. Tanpa melepaskannya pria itu memesan bakso. Bahkan hingga pesanannya datang Nataya masih belum juga melepaskan genggamannya.


" Nat, bagaimana aku makannya jika kamu tidak melepaskan tanganmu ini?"


Naisha mengangkat tangannya ke arah wajah Nataya. Pria itu tersenyum kaku menyadari kebodohannya.


" Eeh maaf noona maaf. Nih udah aku lepasin. Tapi nggak dilepas pun noona masih tetap bisa makan kok, aku yang suapin."


Naisha mencubit lengan besar Nataya. Bukannya sakit Nataya malah tersenyum senang. Ia senang melihat wajah malu malu Naisha karena baginya itu sangat menggemaskan.

__ADS_1


" Noona please jangan membuat ekspresi wajah begitu?"


" Eeeh, memang wajahku kenapa?"


" Aku tidak tahan ingin menggigit pipimu kalau masih berekspresi begitu."


Nataya mengucapkan hal tersebut tepat di telinga Naisha hingga membuat tubuh wanita itu meremang. Tambah merah saja wajah Naisha dan Nataya hanya terkekeh kecil. Ia pun meminta Naisha untuk segera makan.


Sebenarnya dalam hati Nataya terselip sebuah ketakutan, takut jika Naisha masih terpengaruh dengan Adnan. Bagaimanapun Naisha pernah mencintai Adnan. Nataya sungguh tidak bisa jika melihat Naisha kembali pada Adnan. Maka dari itu ia bersikap protektif terhadap Naisha.


Noona, aku tidak akan membiarkanmu kembali pada pria durjana itu. Tidak akan kubiarkan dia mendekatimu barang semeter sekalipun.


Nataya sejenak melirik ke arah Naisha. Ia tersenyum Naisha makan dengan begitu lahap. Nataya meraih sebuah tisu dan mengelap bibir Naisha.


Deg


Jantung Naisha berdetak cepat mendapat perlakuan sederhana dari Nataya. Ia pun mengambil alih tissue tersebut agar mengurangi debaran jantungnya yang tidak beraturan.


" Oh iya kata Rey kamu mulai kuliah lagi ya."


" Iya, maaf tidak memberitahumu. Dan maaf juga beberapa hari ini aku tidak menemuimu."


Nataya ingin cepat selesai dalam menempuh program pendidikan spesialis ini. Meskipun begitu tetaplah ia membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan.


" Eh tidak apa apa, kamu tidak harus selalu menemui ku kok."


Nataya tersenyum, ia bisa melihat bahwa Naisha mengkhawatirkan dirinya karena beberapa hari tidak memberinya kabar.


" Tenang noona aku akan mengabari setiap saat. Biar noona tidak kesepian."


" Apa an sih Nat."


TBC

__ADS_1


__ADS_2