
Hari hari berlalu dengan begitu baik bagi Naisha. Ia merasakan jauh lebih tenang dan mulai kembali menata hatinya. Lambat laun apa yang ia rasakan kepada Adnan mulai terkikis. Bahkan rasa cinta yang ada dulu lambat laun mulai memudar seiring perlakuan buruk pria tersebut kepadanya. Nai tak lagi menangis saat malam. Air matanya rasanya sudah kering. Ia meyakinkan dirinya untuk tidak menjalin hubungan baru dulu. Kini ia bernafas lega karena dirinya benar benar tak lagi ada ikatan apapun.
Terselip rasa trauma dalam dirinya yang membuat wanita itu sungguh tidak ingin berada dalam sebuah hubungan untuk saat in. Ia akan fokus bekerja dan membenahi diri. Naisha merasa mungkin dirinya kurang baik sehingga membuatnya mendapat teguran dari Yang Maha Kuasa.
" Sebaiknya aku memang harus intropeksi diri. Mungkin aku banyak berbuat dosa, mungkin aku banyak salah sehingga Allaah tengah menegurku. Dan mungkin aku harus fokus ke pekerjaan, juga membantu Rey belajar menangani Star Building."
Niasha meneguhkan hatinya untuk menepi dari semua hubungan. Ia akan fokus kepada perusahaannya hingga dirasa ia bisa kembali membuka hatinya untuk seorang pria. Namun penyelidikannya mengenai keluarga Sasongko terus ia lakukan. Terlebih Naisha sudah menerima beberapa file dari Mr. Sun ynag mana semuanya mengenai keluarga mantan suamiya itu.
Beda Naisha beda lagi dengan Adnan. Pria berusia 27 tahun itu berteriak marah saat mendapatkan surat dari pengadilan. Ya surat putusan cerai yang rupanya sudah dipercepat oleh Cahyo. Jadi tak lagi ada sidang sidang mediasi lagi karena Nai tidak menginginkan hal tersebut.
Adnan melempar semua benda yang bisa ia raih. Ia kini terduduk dilantai sambil menangis pilu. Ia baru menyadari bahwa ia menyayangi Naisha. Setelah kejadian itu dia tak bisa jika tidak mengingat Naisha. Ia selalu merasa bersalah, sungguh ia ingin bisa kembali kepada Naisha.
Adnan ingin sekali bisa meminta maaf kepada Naisha. Ia mencoba menghubungi Naisha namun tak jua di tanggapi. Berkali kali mendatangi Star Building namun ia selalu dihalau saat sudah berada di lobby gedung tersebut. Dan kini, surat cerai itu benar benar telah datang padanya. Ia sekarang tak lagi punya hubungan apapun terhadap Naisha. Tangis Adnan pun pecah kembali seiring dengan penyesalannya.
Kring … kring …
Adnan melirik sekilas ponselnya. Nama Bellia muncul di sana. Sudah beberapa hari ini Bellia menghubungi dan selalu Adnan abaikan. Bahkan Adnan sudah menjual rumah yang pernah ia dan Naisha tempati lalu pindah ke rumah lain agar Bellia tidak bisa menemukannya.
Adnan sungguh sungguh tidak ingin melihat Bellia untuk saat ini. Biarkanlah ia di kata picik atau brengsek sekalian. Namun melihat Bellia saat dirinya tengah tidak stabil hanya akan membuat Adnan semakin marah. Bahkan beberapa hari Adnan absen dari perusahaan membuat Dwi snag papa begitu murka. Namun lagi lagi Adnan tidak peduli. Ia sungguh lelah mengikuti skenario sang papa.
" Nai, please. Jangan ceraikan aku Nai. Aku mohon hu hu hu. Aku menyesal Nai sungguh aku benar benar menyesal. Apa kita tidak bisa memperbaiki ini. Apa sudah tidak ada kau di hatimu Nai hiks hiks."
Adnan bermonolog sambil melihat foto dirinya dan Nisha yang tertawa bersama. Foto dulu yang ia ambil dan dianggap hanya sekedar pemanis dalam hubungan mereka kini tampak begitu berarti. Bagaimana tidak, kini Adnan sungguh merasa kehilangan Naisha dan hanya foto itu lah satu satunya pengobat rindunya.
__ADS_1
Namun tiba tiba Adnan bangkit. Ia berdiri dari duduknya. Bagai mendapat sebuah kekuatan setelah melihat foto Naisha, tjba tiba Adnan menjadi memiliki tekad untuk kembali mendekati Naisha. Ia menghapus air mata yang sudah membasahi wajahnya.
" Tidak, aku tidak boleh melepaskan Naisha. Nai adalah milikku dan selamanya akan jadi milikku. Aku harus bisa mendapatkan hati Naisha kembali."
Adnan kemudian berlalu menuju ke kamarnya untuk merapikan dirinya yang berantakan. Rambut acak acakan, rambut di wajah yang mulai memanjang tak terurus kini aia cukur dan merapikan. Ia tidak ingin terlihat buruk dihadapan Naisha.
" Aku harus tampil tampan maksimal. Aku tidak boleh terlihat buruk."
Adnan mematut dirinya di depan cermin. Satu jam ia habiskan untuk membersihkan dan merapikan diri. Hingga dirasa cukup ia pun menyambar kunci mobilnya dan bersiap menuju ke Star Building.
Adnan bersiul senang, ia akan mulai mengejar Naisha dimulai dari hari ini. Namun ketika sampai di depan rumah langkah pria itu terhenti saat melihat seseorang berdiri di sana.
Tck, mau apa dia kesini. Lagian dari mana dia tahu rumahku yang ini.
Kalimat tersebut pun lolos dari bibir wanita tersebut. Tampak binar kebahagiaan saat ia bisa menemukan sang kekasih. Namun tidak dengan Adnan, panggilan sayang yang wanita itu keluarkan membuat telinganya gatal. Sungguh ia merasa muak dengan wanita yang ada di depannya.
" Mengapa kamu bisa tahu rumahku Bel?"
Nada bicara Adnan yang dingin membuat Bellia sedikit heran. Namun ia acuh, Bellia terus mendekat dan meraih lengan Adnan lalu bergelayut manja. Adnan yang risih langsung menepis tangan wanita itu lalu sedikit bergeser ke samping. Ia merasa tidak nyaman dekat dekat dengan Bellia.
Merasa dirinya ditolak, raut wajah bellia seketika langsung berubah.
" Kamu kenapa sih sayang, lagi bad mood?"
__ADS_1
" Tidak apa apa."
" Oh iya kok beberapa hari tidak ke perusahaan, telponku juga nggak diangkat. Waktu kapan mau menyusul ke Korea juga tidak jadi. Kenapa, padahal aku sungguh kangen."
Bellia mendekat lagi kearah Adnan. Ia hendak memeluk Adnan tetapi Adnan langsung memundurkan tubuhnya.
Bellia kini terlihat marah ia merasa dirinya ditolak oleh Adnan.
" Ad, kamu kenapa sih? Dari tadi aku ngerasa kamu nggak mau deket aku."
" Bell, please aku sibuk. Dan sebaiknya kita nggak ketemu dulu. Aku lagi nggak pengen ketemu kamu."
" Apa? Apa maksudmu?"
" Kita sebaiknya akhiri hubungan kita Bel. Aku ingin kita udahan."
" Apa? Apa aku nggak salah dengar. Gila kamu ya Ad. Setelah semua yang kita alami bersama kamu dengan entengnya minta kita putus. Nggak, aku nggak mau kita putus. Baiklah kamu mungkin butuh waktu sendiri, oke aku akan kasih kamu waktu itu. Tapi aku tidak akan membiarkan kamu mengakhiri hubungan kita aku mencintaimu Ad sungguh."
Adnan diam tidak bereaksi apapun. Bahkan hingga Bellia memutuskan untuk pergi dari rumahnya. Senyum Adnan kembali merekah ketika mengingat kembali wajah Naisha. Ia pun segera memasuki mobilnya untuk menuju ke Star Building.
Sedangkan Bellia, ia berteriak marah dalam mobilnya. Berkali kali ia memukul setir kemudinya dan berteriak sekeras mungkin.
" Brengsek, tidak … tidak, aku tidak boleh pisah dengan Adnan. Aku tidak boleh putus. Aku harus melakukan cara agar Adnan tidak bisa memutuskanku. Ya, kau harus berpikir dengan jernih Bellia. Kau harus memikirkan cara agar pria itu tetap berada di genggamanmu."
__ADS_1
TBC