
Helikopter yang membawa Silvya dan para pria tersebut akhirnya sampai juga di kapal pesiar mewah yang sudah berada di tengah Laut. Mereka mendarat dengan sempurna. Tampak di sana seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik tengah tersenyum ke arah Silvya.”
“ Hai, Bagaimana kabarmu Silvya.”
“ Aku baik Tania. Kau bagaimana, apa yakin tetap akan tinggal di kapal ini dan tidak ingin kembali ke daratan.”
Tania tergelak, ya semenjak kejadian penculikan yang dilakukan oleh ayahnya sendiri Tania memutuskan untuk berada di kapal tersebut sembari merawat sang ayah. Ia bahkan membuka praktek atau klinik di kapal itu hingga saat ini. Bahkan ia menikah dan memiliki anak juga di kapal ini.
“ Hallo dokter Dika, lama tidak bertemu.”
“ Hallo dr. Tania.”
Mereka pun sedikit terlibat obrolan. Silvya kemudian menjelaskan maksud kedatangannya yang sudah ia sampaikan tadi sekilas di telpon.
“ Silahkan pergunakan waktumu. Astaga putra kalian begitu tampan.”
“ Jangan aneh aneh Tania, doi sudah punya calon istri.”
Tania tergelak. Silvya bersama pria pria itu kemudian bergerak sesuai rencana. Mereka menyebar ke seluruh dek kapal. Menurut informasi yang didapat, pete berada di dek atas, dimana kamar VVIP berada. Tak ingin membuang waktu kelima orang tersebut langsung menuju ke dek tersebut.
“ Baiklah dari sini kalian cari ke semua tempat, resto, club, perbelanjaan, cari.”
Selain mereka berlima tentu saja anak buah Wild Eagle juga membantu menemukan dimana keberadaan Peter.
“ Drake apa belum ketemu dia dimana."
“ Sebentar Q sistem sedang kacau”
“ Haish, kenapa saat seperti ini.”
“ Maklum Q, sistem juga punya kelemahan. Kalian berada di tengah laut, sinyalnya kebawa angin laut juga kali.”
Silvya mendengus mendengar ucapan asal Drake. namun mungkin ada benarnya juga. Kapal pesiar milik Tania ini lumayan berada jauh di perairan laut lepas dan mungkin sistem Drake memang terganggu.
“ Ma … ma … cek!”
“ Yes Son. Copy!”
“ Aku seperti melihat orang itu di sebuah restoran copy.”
“ Baik tunggu di sana.”
Silvya yang memang bersama Dika kemudian berjalan cepat menuju restoran yang dituju. Sekitar 10 menit mereka sampai di sana. Ternyata Rey dan Juna juga sudah berada di sana.
“ Sial!”
__ADS_1
“ Kenapa ma?”
Silvya meminta semua orang untuk melihat ke arah Peter. Di sana ia tengah duduk bersama beberapa orang yang Silvya ketahui sebagai saudagar kaya dari beberapa negara. Akan sedikit sulit meringkusnya disaat seperti sekarang.
“ Lalu apa yang harus kita lakukan sayang?”
“ Kita tunggu sejenak. Aku pasti setelah ini dia akan pergi dari meja tersebut.”
Disaat mereka tengah mengamati, Juna sedikit terganggu terhadap seorang wanita yang mendekati Peter. Juna mengerutkan keningnya. Untuk lebih meyakinkan Juna pun membuka Ponselnya dan melihat data yang diberikan Mr. Sun kepadanya.
“ Astagfirullah.”
Ucapan spontan Juna menarik perhatian semuanya. Rey pun segera bertanya kepada sang ayah.
“ Itu, itu Erika Sasongko. Dia adalah adik Dwi Sasongko mantan besanku.”
“ Apakah benar tuan, dia adalah istri Peter menurut informasi yang saya terima dari Drake.”
Juna mengangguk anggukan kepalanya. Kini ia paham mengapa Rey juga menjadi target Peter.
"Saya paham Nyonya Silvya mengapa Rey ikut jadi target Peter. Peter dan Dwi adalah saudara ipar. Jadi besar kemungkinan Dwi meminta bantuan Peter untuk mencelakakan keluarga kami."
Semua orang yang mendengar kesimpulan itu kini paham. Mereka semakin yakin harus bisa menangkap Peter.
🍀🍀🍀
" Mari kita menikmati keindahan laut di atas sayang."
Peter mengajak Erika untuk ke atas kapal dan menikmati laut lepas. Diikuti oleh Joon mereka berjalan menuju ke atas kapal. Peter tampak senang saat ia merasa sudahbebas dari permasalahan yang menimpanya. Persetan dengan Dwi Sasongko. Ia sungguh tidak peduli dengan kakak iparnya tersebut.
Namun senyum Peter hilang saat ia mendapatkan sebuah pesan dari seseorang. Tangannya mencengkeram ponsel miliknya dengan erat saat membaca pesan tersebut. Rahangnya mengeras karena menahan marah.
" Sial, pembunuh bayaran itu menipuku. Dia membatalkan pesananku. Dia membawa lari uangku. Brengsek… bajingaaan!!"
Erika tentu saja terkejut mendengar setiap apa yang keluar dari mulut suaminya. Selama menikah baru kali ini Peter berbicara sefrontal itu. Lalu apa tadi yang ia dengar, pembunuh bayaran? Pesanan? Siapa yang akan suaminya bunuh?
Tubuh Erika bergetar hebat, ia bahkan berjalan mundur. Wanita itu sungguh ketakutan dengan perubahan ekspresi wajah Peter.
" Kak kau sungguh menakutkan."
Peter menyeringai, kesabarannya sudah habis oleh segala rencananya yang gagal. Ia mendekat ke arah Erika lalu mencengkeram erat dagu sang istri.
" Ka-kak kau menyakitiku."
" Heh, dasar wanita lemah. Haish, aku sungguh kesal sekali kali ini."
__ADS_1
Saking marahnya, Peter tidak melihat ada yang aneh dengan situasi atas kapal tersebut. Di sana tampak sangat sepi. Bahkan tidak ada orang satupun kecuali dia, Erika, dan Joon.
Rupanya Silvya meminta Tania untuk mengosongkan bagian atas kapal saat ia mendengar bahwa Peter tengah menuju ke sana. Dan, ini lah kesempatanya.
" Peter Paterson. Hai … lama tak bertemu."
Silvya muncul di hadapan Peter. Sejenak Peter terkejut, namun ia kemudian tersenyum lebar.
" My Queen. Do you know, I miss you, my queen."
" Oh ya. Wah kebetulan sekali kalau begitu. Lalu bisa kau jelaskan mengapa kau ingin menghabisi nyawa putraku dan putra Arjuna Dewantara."
Deg
Erika terkejut mendengar nama pria yang pernah ada di hatinya itu disebut. Dan apa tadi, suaminya ingin membunuh putra dari Juna. Erika sungguh tidak habis pikir mengapa Peter melakukan itu.
" Kak apa maksudnya kamu ingin membunuh putra dari Juna?"
" Kau memang bodoh Erika. Kau sangat bodoh. Apa kau tidak tahu bahwa kakak dan ayahmu begitu membenci keluarga Dewantara. Kakakmu, Dwi yang memintaku untuk menghabisi nyawa seluruh keluarga Arjuna Dewantara. Dan apa kau tahu penyebab kecelakaan mu itu, itu adalah ulah dari kakak dan ayah mu juga."
Daaaar
Bagai disengat listrik, Erika sangat terkejut. Bahkan tubuhnya sudah jatuh ke lantai. Keluarganya sungguh tega. Hanya karena untuk membalas dendam mereka tega menggunakan dirinya sebagai alat.
Peter sungguh tidak peduli melihat Erika yang menangis. Ia terus menceritakan mengapa Dwi dan ayah Erika membuat rekayasa kecelakaan Erika yang diperuntukkan untuk menjebak Arjuna Dewantara.
" Cukup kak. Cukup!"
" Tck percuma kau menangis, Joon."
Peter memanggil Joon, asistennya itu paham apa yang diminta oleh sang tuan. Joon memberikan sebuah rollover kepada Peter. Peter pun langsung menarik tubuh Erika agar berdiri. Kini Wanita itu tambah terkejut saat sebuah pistol yang moncong nya itu menempel di pelipis kanannya.
"K-kak, apa yang kau lakukan?"
" Jadilah berguna untukku. Paling tidak berbalas budi lah karena sudah ku pelihara selama ini."
Silvya tentu saja marah melihat seorang wanita diperlakukan seperti itu. Ia pun mengarahkan pistolnya ke arah Peter.
" Wohooo jangan bertindak sembarangan Queen atau wanita ini kepala wanita ini akan meledak dalam hitungan detik."
" Apa maumu?"
" Ikutlah dengan ku Queen maka aku akan melepaskan wanita ini. Aaah aku melihat ada heli di sana. Minta dia kemari dan pergilah bersama ku."
Silvya mengerang marah. Sungguh ia tidak suka dengan adegan ini. Ini sedikit mengingatkannya saat sang mommy disandera oleh seseorang.
__ADS_1
" Damn, ini dejavu!!"
TBC