
Nataya terlelap di sofa ruang tamu, rupanya setelah berbicara banyak dengan Naisha ia seketika tertidur saat Naisha tengah menjawab panggilan dari Airin mengenai NO yang ditangani sang adik.
Naisha tidak tega membangunkan pria itu, ia berjalan ke kamar untuk membawa bantal dan selimut. Beruntung sofa ruang tamu yang ada di rumah itu lumayan panjang, sehingga tubuh Nataya tidak akan sakit harus ketekuk tekuk.
Naisha mengangkat kepala Nataya dan menaruh bantal di sana. Ia kemudian menyelimuti tubuh tinggi itu sepintas ia melihat wajah tampan dokter muda yang baru beberapa menit bersepakat bahwa mereka berpacaran. Naisha melihat gurat lelah di wajah tampan Nataya.
Naisha memindai garis wajah Nataya, dan satu kata keluar dari bibirnya 'sempurna'. Wajah Nataya benar benar menampilkan ketampanan yang sempurna. Sesaat dia merasa minder dengan pemuda yang tengah ia pandangi itu.
" Nat, apa yang kau suka dariku. Kau begitu tampan, berprestasi, aku yakin banyak gadis gadis muda yang mengejarmu. Tapi mengapa kau memilihku yang notabene nya lebih tua darimu dan lebih lebih aku ini janda."
" Karena cinta itu tidak memiliki alasan noona."
Naisha terkejut, rupanya Nataya tidak tidur. Dia sungguh malu dengan apa yang sudah ia lakukan itu.
" Kamu tidak tidur?"
" Tidur, tapi terbangun saat noona memberiku bantal."
Naisha mendengus, ia pun segera bangkit dari duduknya dan hendak masuk ke kamar. Tapi tangannya ditarik oleh Nataya sehingga tubuhnya jatuh tepat di atas tubuh Nataya.
Naisha ingin berdiri bangkit dari tubuh Nataya, tapi pemuda itu menahannya. Bahkan ia menahan tubuh Naisha agar tidak bisa bangun. Pandangan mereka beradu. Sesaat Naisha diam karena lagi lagi terpesona dengan wajah Nataya. Namun sejurus kemudian ia bisa menguasai dirinya dan berusaha memberontak agar Nataya melepaskannya.
" Nat lepasin, nanti dilihat orang dikiranya kita macem macem."
" Biarin, siapa takut. Biar sekalian bisa dinikahin."
" Nat jangan aneh aneh. Itu aku belum tutup pintu lho."
" Jadi kalau udah tutup pintu boleh nih aneh aneh."
Naisha sungguh bingung harus bicara bagaimana dengan bocah ini. Sekuat tenaga Naisha berusaha melepaskan diri maka semakin erat Nataya memeluk Naisha. Pria itu malah sengaja memejamkan matanya. Sebuah langkah kaki mendekat dengan benar benar pelan, Naisha yang melihat siapa yang datang sungguh sungguh terkejut.
Orang itu meletakkan jarinya di bibir sebagai tanda untuk Naisha agar diam. Tapi percayalah Naisha sungguh malu setengah mati. Rasanya ia ingin menenggelamkan tubuhnya di dasar laut terdalam.
__ADS_1
" Aduuuoooh sakit. Noona mengapa kau menjewerku."
" Bagus, bagus ya kamu. Malam malam begini gangguin anak gadis orang. Sepertinya mama harus minta uncle Drake buat mengawal kamu langsung ya."
" Mama?? Mengapa mama bisa di sini?"
Ya, orang yang datang dengan perlahan lahan adalah Silvya. Tentu saja kemampuan mengendap endap Silvya masih mumpuni sehingga lawan tidak akan menyadari kehadiran dirinya.
" Maaf ya Naisha, anak tante emang suka rusuh. Tante harus bawa balik anak ini dulu. Sekali lagi maaf ya Naisha."
" Ti-tidak apa apa tante."
Silvya masih menarik telinga sang putra sulung. Sungguh dia amat gemas melihat kelakuan putranya tadi.
" Ma, lepasin. Malu sama noona."
Silvya bergeming, ia acuh dengan gerakan protes sang putra. Silvya terus menarik Nataya hingga ke luar rumah.
" Sayang, sampai jumpa esok!"
" Ma, motor Nat."
" Akan ada orang yang bawa. Kamu ini lho Nat, bisa bisa nya begitu."
Dan, dimulailah ceramah panjang sang mama. Mau tidak mau Nataya harus mendengarkan kata demi kata yang keluar dari bibir wanita yang sudah melahirkannya itu.
Bahkan sampai di dalam rumah, Silvya masih menggerutu. Dika yang baru saja kembali dari rumah sakit dibuat terkejut dengan anak dan istrinya.
" Sayang ada apa ini?"
" Anakmu tuh mas, gangguin anak gadis orang malam malam begini."
Tatapan tajam langsung menghubus Nataya. Ia bisa merasakan papanya itu marah.
__ADS_1
" Woohooo pa, dengerin penjelasan Nataya dulu. Itu semua tidak seperti yang mama dan papa pikirkan."
Kedua orang tua itu kini duduk dengan menghadap putranya. Mereka mendengarkan setiap kata demi kata putranya. Kini keduanya pun paham, namun tetap saja baik Dika maupun Silvya tidak membenarkan tindakan Nataya yang malam malam keluar untuk mengunjungi seorang wanita.
" Apa kamu mau, Naisha di cap sebagai Janda kegatelan yang suka menggoda?"
" Nggak lah pa. Awas aja jika ada yang bicara buruk tentang noona."
Dika mendengus kesal. Putranya tengah berada di dalam fase jatuh cinta akut dan bucin level dewa.
" Makanya itu, kalau kamu nggak mau Naisha diomongin macem macem, kamu juga harus jaga sikap."
" Iya ma, Nataya mengerti. Nataya akan hati hati. Maaf."
" Good, kembali lah tidur. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Naisha. Mama sudah mengirim beberapa orang untuk menjaganya. Mama yakin tidak akan mudah siapapun untuk menyentuhnya."
Nataya tersenyum, ia pun mengucapkan terimakasih lalu mencium pipi sang mama dan kemudian berlari ke kamarnya. Silvya hanya bergeleng geleng melihat tingkah sang putra.
" Ya Allah mas, kelakuan anakmu membuatku pusing. Jika kau tahu apa yang dilakukan tadi."
" Memang apa yang dia lakukan?"
Silvya kemudinaenceritalan apa yang dia lihat. Mungkin Nataya masih beruntung karena saat ia mencium Naisha, sang mama belum datang.
" Ya Allaah ini anak. Bener bener ya. Haish, aku tidak tahu jika Juna tahu kelakuan anak kita ini sayang. Aku benar benar ingin segera menikahkan dia. Takut dosa jika lama lama begini."
Silvya mengangguk setuju. Ia juga tidak mau anak anak terjerumus di hubungan yang tidak sehat. Terlebih mengenai sekss diluar nikah. Hiiiih, baik Dika maupun Silvya bergidik ngeri.
Silvya pun terus meminta Drake untuk mengirim orang orangnya untuk mengawasi Nataya. Ia harus menggantinya secara berkala, karena anak itu benar benar mewarisi sikap kewaspadaannya. Tidak mudah bagi anggota Wild Eagle mengawasi prince dan princes dari sang Queen mereka.
Bahkan Drake sendiri mengatakan bahwa hal tersebut tidaklah mudah. Namun meskipun begitu mereka harus bisa melaksanakan tugas tersebut. Walaupun Nataya dan Nadita menguasai bela diri yang lumayan mumpuni, tetaplah Silvya harus waspada. Dunia bawah masih hidup dan berkembang hingga saat ini. Ia harus selalu waspada dan jangan sampai kecolongan.
Bukan hanya karena sebuah ketakutan semata. Akan tetapi saudara kembarnya Arduino yang juga sudah pensiun dari dunia mafia sampai saat ini pun masih selalu waspada dan menjaga anak serta istri nya. Karena masih ada beberapa pihak yang menginginkan nyawa mereka meski mereka sudah tidak berkecimpung di dunia bawah.
__ADS_1
TBC