
Dika dan Nataya yang masih bersembunyi di bawah tangga tentu saja sangat murka mendengar kata kata Peter. Bapak dan anak itu ingin segera ke atas namun tangan keduanya di cekal oleh Rey dan Juna.
" Tunggu aba-aba dari istrimu dokter. Jangan mengacaukan rencana nya."
Dika membuang nafasnya kasar. Apa yang diucapkan Juna ada benarnya. Tadi sebelum naik ke atas Silvya sudah berpesan agar mereka menunggu aba-aba nya baru mereka keluar. Nataya dan Dika berusaha menahan diri meskipun itu sungguh sangat sulit. Mereka tahu di sana juga ada asisten si Peter itu yang pasti lah memegang senjata juga.
" Pa, gimana?"
" Sebentar kita tunggu sebentar lagi."
Dika berkali kali mengatur nafasnya mencoba tetap tenang. Tapi ya itu, dia tetap tidak tenang. Meskipun dia tahu kemampuan sang istri tapi dia tetap mengkhawatirkannya.
Kembali ke atas, Silvya tengah memikirkan cara agar wanita itu tetap selamat. Tapi ia tidak mungkin menggunakan cara yang sama dengan saat menyelamatkan sang mommy.
" Apa aku sungguh bodoh Pet karena harus ikut dengan mu. Lagian aku tidak kenal siapa wanita itu. Mau kau bunuh mau kau lempar ke laut, mau kau apakan juga bukan urusanku. So … Terserah dan menyerahlah."
Erika membelalakkan matanya saat mendengar ucapan Silvya tersebut. Ia sungguh terkejut. Tapi apa yang diucapkan wanita yang ada di depannya itu benar. Dia bukanlah siapa siapa yang harus diselamatkan.
" Dasar kau brengsek Queen. Dari dulu kau memang sesukanya sendiri."
" Hei, kau benar Pet. Tapi ya suka suka aku. Aku pemimpinnya, apa yang aku mau ya pasti ku lakukan."
Silvya terus memprofokasi Peter. Dan itu berhasil, pria itu dengan kasar mendorong Erika ke samping dan melepaskan sebuah tembakan.
Dor
Dengan tangkas Silvya bisa menghindar. Dia berlindung di balik sebuah bangku yang ada di sana. Sedangkan Dika dan Nataya tak lagi bisa menahan diri. Bapak dan anak itu pun menyusul Silvya.
Dor
Nataya melepaskan sebuah tembakan ke anak buah Peter. Tembakan tersebut mengenai lengan Joon sehingga pistol Joon terlempar.
" Pa, ambil pistolnya."
__ADS_1
Saat Dika hendak bergerak, pistol tersebut lebih dulu diambil oleh Erika. Peter tersenyum, ia merasa masih ada kesempatan untuk kabur.
" Joon apakah sudah siap?'
" Shhh, sudah bos."
Sambil sedikit mendesis kesakitan, Joon berdiri memegangi tangannya yang terkena timah panas milik Nataya. Ternyata di bawah sana sudah ada sebuah speedboat yang dipersiapkan oleh Joon untuk mereka kabur.
Peter tersenyum menyeringai. Merasa bahwa dirinya aman dan bisa pergi, pria itu pun berkata dengan sombongnya.
" Hei Queen, apakah hanya seprti ini yang kau bisa. Lihatlah sebentar lagi aku bisa pergi dari sini rupanya semakin tua kemampuanmu semakin menurun."
Dor
" Arghh!!! Brengsek kau Q!!"
Baru saja Peter selesai menutup mulutnya, Silvya sudah melepaskan tembakan tepat di punggung tangan pria itu. Sehingga pistol peter pun terlempar juga. Kali ini Dika berlari kencang agar bisa mengambil pistol milik Peter yang tergeletak di lantai.
Silvya tersenyum simpul. Ia menaik turunkan alisnya kepada Peter. Tanda ia mengejek pria itu. Terang saja Peter marah. Ia sungguh kesal kali ini. Terlebih sekarang tangannya kosong tanpa memegang senjata.
" Halaah, emang nggak ada kata lain apa Pet selain brengsek. Rupanya kau harus belajar banyak perbendaharaan kata agar tidak itu itu saja umpatan yang kau ucapkan."
Nataya dan Dika saling pandang. Bisa bisa Silvya mengatakan hal tersebut saat situasi tengah seperti ini. Silvya semakin mendekat ke arah Peter. Sedangkan Nataya berusaha meringkus Joon bersama Dika. Kedua pria berbeda usia itu saling memberi kode. Tapi rupanya mereka kalah cepat.
Byuuur
Joon lebih dulu melompat ke laut. Dika dan Nataya hanya melongo melihat aksi Joon sedangkan Peter ia bertambah kesal karena asisten pribadinya itu tega meninggalkan dirinya sendiri.
" Dasar orang rendahan. Bisa bisanya dia meninggalkanku disini sendiri."
Silvya tertawa terbahak bahak. Jarak antara Joon dan Peter memang jauh. Setidaknya sekitar 10 meteran. Kini disana hanya ada Peter yang beridir di tepi kapal pesiar tersebut. Sedangkan Erika berjarak sekitar 5 meter dari sang suami.
Erika masih memegang pistol milik Peter. Tangannya pun masih begitu gemetaran, tapi matanya menatap kosong dan wajahnya sungguh tampak pias. Nataya dan Dika tahu bahwa wanita itu saat ini tengah mengalami syok yang luar biasa.
__ADS_1
Peter yang melihat Erika memegang pistolnya mencoba membujuk Erika agar menyerahkannya kepada nya. Namun berkali kali dipanggil Eruka tidak menyahut. Wanita itu hanya membatu. Hingga sebuah bentakan membuatnya menengadahkan kepalanya lalu melihat sang suami.
" Wanita bodoh! Berikan pistolnya!"
" Kak, apa aku tidak pernah kau anggap. Apa semuanya hanya sekedar karena pertukaran. Apa aku hanya barang sitaan bagimu?"
" Hei jangan ngelunjak. Sudah baik aku menghidupi mu selama ini. Berikan pistolnya, kalau tidak mati saja kau!"
Air mata Erika seketika luruh. Saat ia hendak membuka hati nya kepada Peter malah pria tersebut tidak menginginkannya. Silvya yang mendengar pun begitu marah. Ia membidik Peter dengan pistolnya. Ia sungguh hendak menghabisi pria kurang ajar itu.
Dor
Dor
Dor
Bruk
Peter jatuh dengan bersimbah darah. Silvya terkejut. Dia bahkan belum menarik pelatuknya, lalu siapa yang menembak Peter. Bahkan Nataya juga tidak memegang pistolnya saat ini.
Tampak Erika masih memegang pistolnya yang mengarah ke Peter. Tangan wanita itu gemetar hebat. Ia pun langsung menjatuhkan pistol tersebut ke lantai. Sejenak semuanya hening hingga suara tangis disertai teriakan keluar dari bibir Erika.
Silvya menyimpan senjatanya lalu menghampiri Erika. Ia memeluk tubuh wanita itu dengan erat dan menangkannya.
" Sudah tidak apa apa."
Erika menangis di pelukan Silvya. Entah, ia sendiri tidak mengerti mengapa ia bisa melakukan hal itu. Tapi tergambar jelas dalam ingatannya saat Peter dengan tega menyuruh menggugurkan kandungan Erika bahkan saat usia bayi dalam perutnya sudah masuk usia 5 bulan. Waktu itu Erika sempat nekat mempertahankan kandungannya. Setelah upaya Peter menggugurkan kandungannya yang pertama, Erika kemudian dinyatakan hamil setelah 6 bulan kemudian. Perutnya yang kecil membuat wanita itu bisa menyembunyikan kehamilannya. Namun bagaimanapun ia ketahuan juga. Erika sungguh sakit hati. Keinginan memiliki anak harus pupus lagi.
Erika masih meraung saat ini. Silvvya memberi kode kepada anak buahnya yang ada di lantai bawah untuk membersihkan tubuh Peter yang berlumur darah. Rupanya Erika menembak Peter tepat di jantung nya. Rey dan Juna pun menyusun naik ke atas. Ia menghampiri Erika dan ikut menangkannya.
" Semua sudah tidak apa apa Erika."
" Bang … maaf. Maafkan suamiku, maafkan keluarga ku bang."
__ADS_1
" Sudah kau tidak perlu minta maaf. Disini kau pun korban."
TBC