Mengapa Menikah?

Mengapa Menikah?
MM 53. Pembunuh Bayaran


__ADS_3

Hari terakhir Naisha dirawat di rumah sakit, Airin dan Teo ternyata datang untuk membesuk. Keduanya terkejut saat Naisha di rawat. Namun setelah mendapat penjelasan Juna, mereka pun bernafas lega.


" Lalu kalau Nai Off apakah bos akan kembali lagi ke Star Building?"


Pertanyaan Teo membuat Airin meremang. Jika benar Juna kembali ke perusahaan, perusahaan akan lebih seperti kuburan ketimbang tempat kerja.


" Tidak, yang ada mereka semua tertekan. Orang aku cuma sekedar datang aja mereka sudah gugup dan takut kayak apa. Biar Rey yang pimpin."


" Tapi yah."


" Nggak ada tapi tapi an."


Rey memberengut, jika sedang mode tegas begitu sang ayah memang tidak bisa ditawar ataupun diganggu gugat keputusannya. Sedangkan Airin dan Naisha hanya terkekeh pelan.


Teo mengangguk paham, meskipun putra kedua Juna itu suka berbuat semaunya tapi Rey adalah pria yang bertanggung jawab dan berdedikasi tinggi terhadap pekerjaan. Tidak jauh beda dari sang ayah. Maka dari itu Teo siap siap saja mendampingi Rey nanti di Star Building.


Juna dan Gendis memutuskan untuk membawa Naisha pulang ke rumah. Tadinya Nataya tidak terlalu suka dengan ide tersebut. Tapi bagaimanapun dia belum berhak atas Naisha. Dan juga sepertinya berada di kediaman ayah dan bunda nya bisa membuat Naisha lebih aman. Nataya mengingat kembali apa yang terjadi kemarin dan menurut prediksi sang mama mereka pasti akan muncul lagi nanti.


Bahkan saat ini Silvya selalu menempatkan penjagaan yang ketat terhadap semua anggota keluarga Arjuna dan tentu saja keluarganya. Jika Peter benar benar yang dimaksud adalah benar mantan anak buahnya, Silvya tentu paham orang itu akan berbuat lebih nekat lagi.


Peter Peterson dalam Wild Eagle dulu adalah bagian perburuan target. Ia akan melakukan segala cara untuk bisa mendapatkan target. Meskipun dulu selalu bertentangan dengan Silvya namun memang naluri berburunya sangat kuat. Ia memiliki batasan waktu untuk mendapatkan targetnya.


Namun beda dulu beda sekarang. Jika dulu fasilitas Wild Eagle salalu number one saat mereka beraksi maka tidak dengan sekarang. Dulu mereka memiliki Drake yang siap menuntut setiap aksi, tapi tentu saja Peter tidak punya itu sekarang.


Sebuah kemungkinan yang terjadi adalah Peter akan menyewa seseorang untuk bisa mencelakakan mereka. Maka dari itu Silvya benar benar menempatkan penjagaan ekstra di sekitar semua orang yang diprediksi akan jadi targetnya.


Meskipun begitu Silvya masih sedikit heran, mengapa Peter juga menargetkan keluarga Juna. Menurut track record yang ia lakukan, Peter sama sekali tidak pernah bersinggungan dengan pemilik Star Building tersebut.


" Nataya hari ini nggak kuliah atau kerja?"


" Nggak bund, hari ini Nataya off. Mau nganter noona pulang ke rumah dengan selamat."


Gendis tersenyum simpul, pemuda di depannya ini memiliki aura good boy. Meskipun terkesan protektif namun Gendis bisa menilai ketulusan Nataya terhadap putrinya.


" Ayo kita pulang," ucap Juna yang baru kembali untuk menyelesaikan administrasi.

__ADS_1


Dika pun ikut mengantar Naisha sampai di depan rumah sakit. Setelah mengucapkan terima kasih Juna segera masuk ke mobil dan mulai melaju ke arah rumah. Kali ini Nataya yang menyetir. Ia menggunakan mobil rubicon milik sang mama. Sebenarnya ada alasan khusus mengapa ia memakai mobil mamanya. Semua itu Silvya yang minta, mobil rubicon tersebut sudah dimodifikasi dengan kaca anti peluru.


Di dalam mobil Juna sempat terkejut saat ada beberapa mobil yang mengikuti mereka. Namun Juna berusaha tenang.


" Nat, apa kau mengenal mobil mobil itu?"


" Iya yah, itu orang orangnya mama. Sengaja memang ditempatkan di sekitar ayah dan bunda."


Jawaban Nataya tentu membuat Juna bernafas lega. Ia tak lagi merasa khawatir.


Haish, punya calon besan pemimpin jasa keamanan dan detektif swasta profesional memang luar biasa, batin Juna.


Lain Juna lain lagi Gendis dan Naisha. Mereka tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Mengapa mobil mobil itu mengikuti, lebih tepatnya seperti menggiring mereka.


" Nat, what happened?"


" Nothing noona. Tidak ada apa apa. Semuanya ok. Jangan khawatir."


Jawaban Nataya tentu saja tidak memuaskan untuk Naisha. Namun wanita itu memilih diam, karena dia memang tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


Aaaaaahhhhh!!!


Tanpa diduga sebuah tembakan melesat mengenai jendela samping Nataya. Suara tembakan tersebut pelan namun benar benar pas di jendela kemudi. Gendis dan Naisha berteriak histeris. Sedangkan Juna sedikit panik.


" Nat, kamu tidak apa apa?"


" Tidak apa apa jangan khawatir. Mobil mama dilengkapi dengan kaca anti peluru. Maaf sepertinya ayah dan bunda harus berpegangan erat, dan kau noona kencangkan sabuk pengamanmu. We will play."


Nataya tersenyum, namun senyuman itu sungguh mengerikan. Lagi lagi Nai menemukan sisi lain Nataya. Pria yang ada di sampingnya itu sungguh memiliki banyak kejutan.


" Everything is ready, I want to go home now. Kalian urus orang itu, cari dia sampai dapat lalu bawa ke depan mama dengan masih bernyawa!"


Nataya berbicara melalui earphone. Ia pun kemudian mematikan sambungan dan sedikit lebih dalam menekan pedal gasnya.


Bruuummm

__ADS_1


Rubicon berwarna hijau army itu melesat cepat meninggalkan jalan bebas hambatan dan menuju ke jalan biasa.


Di sisi lain, anak buah Wild Eagle mengejar orang yang baru saja melepaskan tembakan. Jika dilihat dari arah datangnya peluru bisa dipastikan orang tersebut ada di seberang jalan.


Salah satu dari mereka pun menghubungi markas. Dengan cepat Drake langsung mengambil alih monitor untuk melihat keberadaan orang tesebut melalui kamera pengawas di sekitar daerah tersebut.


“ Dia lari ke kawaasan padat penduduk di belakang mall H. Pria itu memakai jaket warna merah maroon dengn Topi senada. dia menyandang sebuah duffle bag berwarna hitam, yang berisi senjata laras panjang. Hati hati jangan sampai menimbulkan keributan, satu lagi dia pembunuh bayaran. Dia pasti memiliki senjata lain!”


Semua mengangguk mengerti, mereka untuk langsung menuju lokasi yang diberikan oleh Drake. Orang tersebut tidak boleh lolos. Dia benar benar melakukan penyerangan bahkan saat hari masih siang.


“ Tck, berani sekali orang ini. memangnya dia tidak tahu siapa yang dihadapi,” ucap salah seorang dari anak buah Silvya.


Sesampainya di pemukiman padat penduduk tersebut mereka langsung menyebar. Mereka tidak bisa masuk dengan kendaraan karena memang jalan hanya bisa dilalui oleh motor dan pejalan kaki. Masing masing mereka bisa mendengarkan arahan dari Drake langsung.


“ Dia ada di pasar hati hati. Dia bisa saja berbuat diluar prediksi kita. Di sana banyak warga sipil.”


Drake kembali memberitahu lokasi dimana penembak tersebut berada. Para anak buah Wild Eagle langsung masuk ke dalam pasar dan membaur.


“ Target terkunci, dia berada di dekat tukang potong ayam. dekati lumpuhkan secara hati hati.”


salah satu dari mereka akhirnya bisa melihat orang tersebut dengan begitu jelas. Para anak buah Wild eagle yang memang tidak berpakaian formal tentu saja bisa benar benar membaur dengan mudah.


Dua orang berjalan mendekat ke arah pria bertopi merah tersebut. Satu gerakan penyergapan dan sebuah suntikan bius di leher langsung bisa melumpuhkan orang tersebut.


Brukk


Orang itu jatuh namun dengan cepat ditangkap oleh yang lain sehingga tidak memancing perhatian.


" Dapat."


" Langsung bawa ke markas!"


" Siap Drake."


TBC

__ADS_1


__ADS_2