
Pagi hari Dika dan Silvya sudah menunggu Nataya dan Dita untuk sarapan. Tapi lebih tepatnya menunggu Nataya menyampaikan keputusannya. Apakah putra mereka itu akan setuju atau menolak. Seandainya Nataya menolak pun juga Dika akan menerimanya dengan lapang dada. Ia tidak akan memaksa sang putra.
" Pa~"
" Sarapan dulu."
Nataya mengangguk, ia pun mulai menyantap sandwich tuna buatan sang mama. Dita yang tidak mengerti mengenai pembicaraan semalam hanya menatap bingung dengan sikap anggota keluarganya pagi ini. Mereka terkesan diam, seperti ada sesuatu hal yang serius.
15 menit berlangsung keempat orang tersebut selesai dengan sarapan mereka. Nata terlihat mengambil ancang-ancang untuk menyampaikan keputusannya.
" Pa, Nataya siap untuk jadi relawan."
Senyum Dika mengembang, ia yakin putranya itu mengerti maksud dan tujuan dari permintaannya. Dika pun mengangguk.
" Apa sudah mengerti maksud papa?"
" Iya pa udah, terus kuliah spesialis bagaimana?"
" Bisa kamu lanjutkan nanti, tidak masalah."
Nataya mengangguk, kini ia hanya harus bilang kepada Naisha. Meskipun berat tapi ia harus melakukannya. Setelah berpikir semalaman Nataya mengerti. Sang papa bukannya tidak setuju dia menikah muda. Akan tetapi dia butuh banyak pengalaman dalam hidupnya dan menjadi relawan adalah salah satu cara. Disana Nataya yakin akan bisa lebih mengerti arti tanggung jawab dan lebih dewasa dalam menghadapi sesuatu. Terlebih dia menjadi relawan di negara konflik yang butuh perhatian dan konsentrasi ekstra.
Hari ini juga ia akan menemui Naisha karena menurut jadwal ia akan berangkat dalam waktu seminggu lagi dengan tim yang memang sudah disiapkan. Ia akan membuat kenangan manis dengan Naisha selama beberapa hari ini. Ia bahkan membuat daftar apa saja yang akan ia lakukan bersama noonanya. Yang tadinya ia ingin memberitahu Naisha sekarang akhirnya diurungkan. Nataya akan memberitahu Naisha nanti saat hari terakhir mereka berkencan.
Nataya sudah bersiap hendak mengajak Naisha untuk pergi. Ia mengenakan pakaian yang santai. Celana jeans, kaos oblong berwarna putih dipadukan dengan jaket denim kegemarannya. Dan yang pasti dia tidak membawa motor.
Naisha tampil cantik dengan celana kulot panjang dan kemeja blaster panjang. Sebuah tas kecil dan jam tangan tak lupa ia pakai.
" Apakah sudah siap noona? Jangan lupa obatmu. Kau masuh harus minum obat bukan?"
Naisha tersenyum dan menunjukkan obat yang sudah dimasukkan ke dalam tas. Sungguh Nataya lebih bawel ketimbang bunda nya.
" Mau kemana kita hari?"
" Ke taman safari, mau?
Mobil Nataya melaju membelah jalan raya. Dan benar saja mereka ke taman safari. Nataya melihat Naisha sungguh antusias. Rupanya semenjak menjabat sebagai CEO Star building membuat Naisha begitu sibuk dan jarang bepergian kemana-mana.
Hari itu sungguh dilalui dengan menyenangkan. Hingga beberapa hari kemudian Nataya selalu membawa Naisha pergi ke tempat tempat yang mereka bisa jangkau. Taman bermain, pantai, kebun raya, perkebunan, dan lainnya.
__ADS_1
Naisha sedikit merasa aneh. Pasalnya Nataya selama beberapa hari ini tidak pergi ke kampus maupun ke rumah sakit. Namun Naisha tidak pernah berkesempatan untuk bertanya. Setiap kali Naisha ingin menanyakan hal tersebut, Nataya selalu mengalihkan perhatian Naisha.
Kini mereka tengah duduk di sebuah taman. Taman dimana Nataya pernah menolong Naisha dari gangguan orang yang tidak dikenal.
" Noona, ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan."
Nataya terlebih dulu meraih tangan noona nya. Ia kemudian memasangkan sebuah cincin yang ia beli di William Diamond tempo hari.
" Alhamdulillah pas. Apakah noona tahu, cincin ini adalah cincin yang akan kuberikan kepada noona saat kita menikah nanti. Tapi sepertinya aku tidak bisa melakukan itu dalam waktu dekat ini. Noona, bisakah kau menjaga cincin itu sampai aku kembali nanti?"
" Nat, kamu ini ngomong apa?"
" Noona, aku akan menjadi relawan di negara lain selama setahun. Ya, setahun. Apakah noona mau menungguku?"
Deg
Naisha sungguh terkejut. Matanya mulai berkaca. Dia memang yang menginginkan bahwa pernikahan ini tidak terlalu terburu-buru. Tapi juga bukan seperti ini. Bukan Nataya yang harus pergi bahkan apa tadi menjadi relawan di negara yang berkonflik? Sungguh Naisha tidak bisa membayangkannya.
" Tidak … tidak … kenapa harus jadi relawan di negara yang berkonflik. Kamu bagaimana nanti di sana. Kenapa tidak sekedar di negara yang hanya kekurangan tenaga medis. Kenapa harus di negara yang sedang perang."
Tangis Naisha seketika pecah. Sungguh Nataya tidak mengira jika reaksi Naisha akan seperti ini. Dia sungguh bingung melihat Naisha yang menangis seperti itu. Beberapa orang mulai memperhatikan membuat Nataya tambah bingung lagi. Ia pun memeluk Naisha.
" Bodo."
Nataya tentu saja terkejut. Bagaimana bisa tiba tiba Naisha bersikap manja begitu. Pria itu pun hanya terkekeh geli. Namun ia berusaha menenangkan dan memberi Naisha pengertian bahwa di negara itu memang kekurangan tenaga medis. Dan RS Mitra Harapan bekerjasama dengan pemerintah akan mengirimkan bantuan tenaga kemanusiaan ke sana.
" Tapi itu bahaya Nat."
" Doakan saja semoga calon suamimu ini bisa kembali tanpa kurang suatu apapun."
Naisha kembali memeluk Nataya. Bahkan pelukan itu sungguh erat. Nataya bisa merasakan sebuah ketakutan dan kekhawatiran di sana.
" Berjanjilah kau akan menjaga dirimu untuk tetap hidup Nat."
" Aku berjanji noona."
🍀🍀🍀
Hari keberangkatan tim medis dari RS Mitra harapan dilepas oleh dirut rumah sakit dan beberapa staf. Mereka akan ikut pesawat tentara militer karena beberapa tentara juga akan dikirim bersama dengan tim medis ke negara tersebut. Terlihat beberapa sanak saudara mengantarkan kepergian salah satu anggota keluarganya untuk menjadi relawan.
__ADS_1
Sekuat-kuatnya Silvya akhirnya dia menangis juga. Bagaimanapun ia paham betul bagaimana negara konflik itu. Tidak berbeda dengan Silvya, Dika pun begitu.
"Pa, ma, dek, aku pergi dulu. Oh iya nitip noona ku jangan sampai di colek sama orang lain."
Nataya selalu bisa membuat suasana tegang menjadi mencair. Ia memeluk keluarganya satu per satu. Kini giliran ia berpamitan kepada keluarga samg noona.
" Ayah, bunda, Rey tunggu menantu pulang ya. Jaga noona untuk ku, awas jangan biarkan para kumbang mendekati bunga milikku. Rey gue pamit."
Greb
Rey memeluk Nataya dengan erat bahkan dia sudah menangis di pelukan sahabatnya itu.
" Cengeng, jangan nangis lu. Malu sama otot."
Rey hanya mendengus kesal mendengar selorohan Nataya tersebut. Dan kini giliran Nataya berpamitan dengan Naisha. Wanita itu sungguh tidak sanggup melihat Nataya.
Nataya kemudian memeluk erat. Ia tidak mengatakan apapun. Ia membiarkan Naisha menangis di dadanya.
" Berjanjilah kau akan baik baik saja."
" Iya."
" Kabarin aku saat kau punya waktu."
" Iya."
" Makanlah yang teratur, jangan sampai terluka."
" Iya."
Naisha mengatakan banyak hal dan Nataya hanya menjawabnya dengan satu kata ' iya'. Setelah puas Naisha akhirnya mau menatap Nataya.
" Baiklah aku harus segera pergi, jaga diri baik baik. Jaga semua yang ada di dirimu untuk ku. Tunggu aku pulang dan kita akan menikah. Setahun. Kita hanya akan berpisah setahun."
Naisha mengangguk. Nataya pun melepaskan pelukannya dan berjalan menuju kelompok tim medis yang akan berangkat. Sebuah lambaian tangan mengantarkan pria itu meninggalkan negara ini.
Ketika Nataya sudah menghilang dari pandangannya Naisha baru menyadari bahwa dirinya benar benar sudah jatuh cinta pada pemuda itu. Hatinya benar-benar terpatri oleh nama Nataya.
" Aku akan menunggumu dan cepatlah pulang."
__ADS_1
TBC