Mengapa Menikah?

Mengapa Menikah?
MM 50. Mak Lo Keren!!


__ADS_3

Sekitar ada 5 mobil yang datang, jika dihitung ada kurang lebih 20 orang turun dari mobil tersebut. Baik Rey maupun Nataya sedikit terkejut. Mereka tidak menyangka akan muncul segerombolan orang itu di sana.


" Eh buseeet deeh, ngapa banyak bener dah ah," 


" Berapa emang Rey."


" Au deh Nat, mereka  mau nangkep kita ya. Ngapain bawa orang sebanyak gitu dah berasa jadi anak presiden aja."


Kedua pemuda itu hanya saling pandang. Tenaga mereka sudah lumayan habis untuk melawan 6 orang tadi. Bukan karena lemah, posisi mereka baru saja turun gunung. Dimana fisik mereka pasti lelah.


Keduanya bahkan saat ini tengah mengatur nafas mereka yang terengah engah. Di sisi lain, sekelompok orang itu mulai berjalan mendekat menghampiri Nataya dan Rey.


" Rey cari cara buat ngulur waktu," bisik Nataya.


Rey terdiam, bagaimana cara untuk mengulur waktu para predator yang siap memakan mangsanya ini. Tinggal sekitar beberapa meter sekelompok orang itu sampai di depan mereka. Rey masih memutar otaknya sekarang.


" Sudah kalian menyerah saja, ikut kami!" ucap salah satu dari mereka.


" Wohoo tunggu dulu dong. Main ikut ikut aja, kita bukan bocah esde yang dikasih permen terus ikut ya. Kalian mau ngasih apa sama kami biar kami mau ikut kalian," tukas Rey cepat.


" Haish, kami tidak perlu memberikan apa apa kepada kalian. Jika kalian tidak mau, maka kami akan menyeret paksa kalian saat ini juga."


Glek


Rey menelan saliva nya dengan susah payah. Orang orang ini berbeda dengan yang tadi. Mereka tampak lebih kuat ketimbang cecereme sebelumnya.


Sebenarnya orang orang itu juga lumayan bingung. Pasalnya bos mereka menginginkan kedua anak itu dihabisi seketika. Rencana semula yakni membuat mereka tampak seperti sebuah kecelakaan. Akan tetapi anak anak ini bisa melawan, maka dari itu mereka tengah memutar otak mereka. Dan, salah satu solusi yakni membuat rekayasa penculikan. Mereka akan mengeksekusi di jalan lalu membuang keduanya ke jurang, sungguh rencana yang sempurna.


Namun rupanya rencana itu tidak akan berjalan dengan mulus. Dari jarak sekitar 25 meter tampak beberapa orang mengintai dan menunggu aba aba. Nataya tersenyum saat ia menerima kode tersebut.


" Alhamdulillaah bantuan sudah datang," bisik Nataya ke telinga sang sahabat. Seketika Rey tersenyum. Matanya pun berbinar, ia memiliki sebuah rencana.


" Bapak bapak yang terhormat, sebenarnya apa yang kalian mau dari kami hmmm?" tanya Rey


" Bos kami menginginkan nyawa kalian!" jawab salah seorang yang kemudian orang itu meringis kesakitan karena kakinya diinjak oleh temannya.


Rey dan Nataya saling pandang. Bisa diambil kesimpulan bahwa bos mereka ini adalah musuh kedua orang tuanya. Tapi bagaimana bisa kedua orang tua mereka memiliki satu musuh yang sama? Pertanyaan itu mampir di pikiran Rey dan Nataya.


" Halaah kebanyakan omong, hajar!"

__ADS_1


Hiaaat


Bugh


Bugh


Pletak …


Sekelompok orang itu bersama sama menyerang Rey dan Nataya. Namun mereka terkejut saat satu per satu kawan mereka jatuh ke tanah.


Blup


Blup 


Blup


Sebuah tembakan kedap suara mengenai mereka. Pantas saja mereka sama sekali tidak menyadari hal tersebut. Rey pun terkejut dengan pemandangan yang ada di depannya, namun  tidak dengan Nataya.


Beberapa orang tampak mendekat dengan senjata yang mereka bawa. Total ada 5 orang yang berjalan mendekat.


"Maaf tuan muda, kami sedikit telat."


Ckiiiit


Sebuah mobil rubicon warna hijau army berhenti di sana. Muncul 3 orang yang Rey dan Nataya sangat kenal. Mereka pun mengerutkan kening, bertanya tanya mengapa orang tua mereka datang ke tempat mereka.


" Apa kalian tidak apa apa?" 


Satu pertanyaan keluar dari bibir Silvya dan dijawab anggukan oleh Nataya dan Rey. Silvya kemudian melewati anak anaknya lalu berjongkok di depan 6 orang yang pertama berhasil dikalahkan oleh Nataya dan Rey. Wanita paruh baya itu menarik rambut salah satu dari mereka. Tatapan matanya sungguh tajam menusuk membuat yang melihatnya bergidik ngeri. Aura Queen mafia masih begitu melekat di tubuh Silvya.


" Katakan, siapa yang menyuruhmu."


Juna, Rey, dan bahkan Nataya terkejut mendengar suara dingin mengintimidasi Silvya. Nataya tahu jika ibu nya itu mantan mafia namun ia belum pernah melihat sisi bengis sang ibu. Yang ia tahu selama ini Silvya selalu bersikap lembut kepada keluarganya.


Nataya, Rey, dan Juna menatap Dika dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Mungkin dalam benak mereka bertanya apakah Dika terkejut atau tidak.


" Aku sudah biasa, bahkan melihat yang lebih dari ini pun," ucap Dika pelan. Ia tahu arti tatapan ketiga orang itu.


Kembali ke Silvya yang tengah menanyai si pembuat onar. Pria itu belum juga menjawab. Akhirnya Silvya pun berdiri dan menekan paha pria itu dengan kakinya hingga terdengar suara kreteeeek, dan orang tersebut mengeraang kesakitan.

__ADS_1


" Arghhhh ampun ampun … saya akan kasih tau."


" Seharusnya dari tadi, jadi kamu tidak perlu merasa sakit begini. Cepat katakan!!"


" Orang yang menyuruh kami adalah Peter, Peter Paterson. Dia meminta kami untuk menghabisi nyawa kedua bocah itu secara bersama sama."


Duagh


Silvya menendang tubuh pria itu hingga jatuh tak sadarkan diri. Semua yang melihat tampak ngeri.


" Nat, gila. Mak lo keren asli sumpah."


" Sttt, diem. Gue jadi harus hati hati nih sama mak gue. Nggak boleh bikin doi marah. Apa kabar bokap gue ya."


Baik Juna maupun Dika hanya menggeleng pelan mendengar pembicaraan absurd kedua putra mereka tersebut. Namun sungguh Juna merasa begitu takjub dengan apa yang ia lihat. Keluarga calon besannya itu benar benar tidak sembarangan. Ia tambah takjub saat seseorang memberi hormat dan bicara penuh keseganan.


" Queen, apa yang akan kita lakukan kepada orang orang ini. Tadi kami hanya menembak dengan peluru bius."


" Bawa mereka ke markas, Drake tahu apa yang harus dilakukan. Dua orang lainnya bawa mobil putra Tuan Juna kembali ke rumahnya dan standby di sana sampai perintah selanjutnya."


" Siap laksanakan."


Sekitar 5 orang anak buah Silvya itu langsung bergerak cepat. Mereka melakukan tugas masing masing. Silvya kembali mengingat nama yang disebutkan oleh orang tersebut.


" Peter Paterson, Tuan Juna, apa anda mengenal nama ini?"


Juna terdiam sejenak, ia mencoba mengingat ingat nama tersebut. Kemudian Juna menggeleng, ia sama sekali tidak mengenal orang yang memiliki nama tersebut.


" Sayang, apa mungkin itu teman lamamu? Atau seseorang di masa lalu?"


Kata seseorang di masa lalu yang diucapkan sang suami tentu saja ditujukan untuk menyebut nama lain dari musuh. Silvya mengusap keningnya dengan ibu jari dan jari telunjuk, mencoba mengingat ingat nama tersebut. Bagaimanapun musuh Silvya di masa lalu sungguh banyak. Ia harus merecord satu persatu.


" Jika benar itu adalah orang dimasa lalu mama, mengapa dia juga menargetkan Rey?"


Pertanyaan Nataya membuat ketiga orang dewasa itu saling pandang. Mereka akhirnya berspekulasi masing masing.


" Begini, mungkin. Ini baru mungkin ya yah, om, tante. Mungkin ada hubungannya antara musuh tante dengan musuh ayah. Atau, musuh ayah minta bantuan sama orang yang kebetulan musuh tante. Begitu?"


Ucapan Rey membuat semua mengangguk. Ini adalah kesimpulan terdekat dari rentetan peristiwa.

__ADS_1


TBC


__ADS_2