
Dua hari selepas kejadian itu, Naisha bertekad untuk berbicara langsung kepada ayah dan bunda nya mengenai apa yang ia alami.
" Mbok Yem, Nai akan ke rumah sakit dulu."
" Iya non, hati hati ya."
Naisha hendak berjalan keluar dari rumah namun di depan sudah ada Nataya di sana. Nai sungguh terkejut, pria dengan tinggi badan yang tidak jauh dari Rey, terlihat begitu tampan dengan celana panjang bahan berwarna hitam dipadukan dengan kemeja berwarna senada.
Ya Allaah kenapa tuh bocah ganteng bener. Astagfirullah Nai, nyebut Nai, nyebut.
Niasha menggelengkan kepalanya pelan membuat Nataya sedikit heran. Nai pun berjalan mendekat menghampiri Nataya.
" Lho kok udah disini memangnya tidak masuk kerja?"
" Noona hari ini aku off, dan kata papa, Rey sudah pulang. Jadi hari ini aku bisa nganter noona kemana noona mau. Aku masih sedikit khawatir, takutnya pria durjana itu mengganggumu lagi."
Ucapan Nataya membuat hati Naisha menghangat. Tapi Nai kembali sadar, ia tidak boleh terlalu dekat dengan Nataya. Ia tidak ingin pemuda itu terlibat jauh dalam permasalahannya.
" Nat, aku bisa mengemudikan mobilku sendiri. Jadi kau tidak perlu mengantarku."
" Yaaah, kok gitu. Oke deh. Silahkan noona naik mobil noona dan aku akan mengikuti noona dari belakang. Bagaimana?"
Naisha sejenak berpikir mengenai apa yang dikatakan Nataya. Ia pun akhir nya setuju, sesaat ia berpikir mengenai Adnan dan membuat wanita itu bergidik takut. Naisha pun mengangguk, ia kemudian menaiki mobilnya sendiri dan Nataya juga menaiki mobilnya.
Sebelum menaiki mobil Nataya sesaat melihat ke belakang. Ia merasa ada yang mengawasinya. Namun pria itu acuh. Dia tidak ingin tertinggal oleh Naisha, karena wanita itu sudah lebih dulu melajukan mobilnya.
" Huft, untung nggak kelihatan si pangeran. Jika ketahuan habis dari dua sisi kita mah."
" Haish, mengawasi tuan muda itu lebih sulit ketimbang menumpas geng motor."
Dua orang yang berada sedikit jauh dari rumah Naisha itu tadinya sudah begitu khawatir jika mereka ketahuan. Namun saat Nataya acuh, mereka sungguh menghela nafas lega.
Satu jam berlalu akhirnya kedua mobil yang beriringan itu memasuki pekarangan sebuah rumah. Rumah yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil juga namun terlihat nyaman dan asri. Rupanya kegemaran nenek Anjeli menurun kepada Gendis yakni gemar menanam tanaman baik itu bunga bunga maupun sayuran.
Naisha memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah begitu juga dengan Nataya. Wanita itu mengerutkan keningnya, ia sedikit bingung mengapa Nataya ikut parkir di sana. Ia pikir setelah menggiringnya sampai ke rumah sang ayah pria muda itu akan segera pergi. Namun dugaannya salah, Nataya malah dengan santai parkir dan keluar dari mobil. Bahkan ia mengeluarkan sebuah parcel buah dari dalam mobilnya.
" Let's go noona!"
" Laah, ngapain kamu ikut turun."
" Loh memangnya nggak boleh."
" Tapi ini kan rumahku, maksudku rumah ayah ku."
__ADS_1
" Lha, aku kan kesini mau nengokin temenku noona. Memangnya salah ya. Apa noona beranggapan aku kesini karena noona?"
Blush, wajah Naisha merona. Ia sungguh salah tingkah dengan ucapan Nataya. Namun ia sebisa mungkin menguasai dirinya.
" Ooh begitu, ya sudah ayok masuk."
Keduanya melenggang masuk ke dalam rumah. Nataya hanya tersenyum geli melihat raut wajah Naisha yang terlihat malu itu.
Haish, gemesin. Kapan noona ini ketok palu nya ya. Berabe juga kalau tuh laki durjana ngejar noona buat minta balikan.
Keduanya mengucapkan salam. Tampak di dalam rumah Gendis dan Juna sedang menikmati teh panas mereka dan saling berbicara. Namun Nataya tidak menemukan Rey.
" Laah ada nak Nataya, ayo duduk."
Nataya memberikan parcel buahnya kepada Gendis. Ia kemudian meraih tangan Juna dan menciumnya dengan hikmat. Satu hal lagi perbuatan Nataya yang membuat Naisha kagum.
" Om, Rey ada di mana ya?"
" Dikamarnya nak, pergilah kesana temui dia."
" Baik Om, Nataya ke kamar Rey dulu ya."
Nataya melenggang pergi menuju ke kamar Rey. Kini giliran Juna menatap sang putri. Naisha paham betul dengan arti tatapan ayahnya itu.
" Tadi Nataya mau nganter Nai, tapi Nai menolak. Tapi itu bocah kukuh ternyata mau jengukin Rey."
" Ayah, Nai tidak dekat dengan Nataya. Kebetulan saja dia dan Rey berteman kan."
" Kamu kan wanita bersuami, jangan dekat dengan pria lain. Takutnya jadi fitnah."
Juna sengaja mengatakan hal tersebut. Ia ingin melihat reaksi sang putri dan apa yang akan putrinya katakan setelah ini.
" Ada apa sih, kok tegang gini. Laah Nataya kemana?" ucap Gendis memecah ketegangan yang terjadi antara ayah dan anak gadisnya itu.
" Ayah, bunda Nai mau menyampaikan sesuatu sama ayah dan bunda. Nai harap ayah dan bunda bisa mengerti dan memaafkan Nai.
Di dalam kamar Rey sedikit terkejut saat melihat Nataya masuk. Ia mengerutkan keningnya sesaat apalagi sahabatnya itu tiba tiba naik ke atas tempat tidur dan merangsek di sebelahnya.
" Woy kampret, kenapa lo bisa ada di sini?"
" Elah, lo mah udah di jenguk nggak ada makasih makasihnya."
" Woi, ini mah kepagian buat taraf besuk orang sakit."
__ADS_1
" Kagak ada aturan nyang begitu."
Rey terkekeh mendengar logat betawi yang keluar dari mulut Nataya. Keduanya sama sama tahu jika tidak ada darah betawi mengalir di tubuh Nataya, sehingga membuat Nataya terdengar begitu kaku saat mengatakan hal tersebut.
" Ora pantes Nat ngomong ngono."
" Sak karepku Rey."
Keduanya tertawa bersama. Namun sejurus kemudian Rey memasang wajah seriusnya.
" Ada hubungan apa kamu sama kakak ku."
Uhuk … uhuk …
Nataya tersedak oleh salivanya sendiri saat mendengar pertanyaan Rey. Jika mereka menggunakan bahasa aku-kamu maka bisa dipastikan Rey saat ini tengah berbicara dengan serius kepadanya. Tak ingin membuat sahabatnya itu overthinking, Nataya pun mengatakan yang sebenarnya dia rasakan.
" Aku menyukai kakak mu."
Sedetik
Dua detik
Tiga detik hingga satu menit tidak ada reaksi dari Rey hingga pria yang wajahnya tak kalah tampannya dari Nataya karena dijuluki Suho KW super itu berteriak terkejut.
" Apa!!!"
" Halah kagetnya delay, udah kayak pesawat aja. Nggak asik lo."
Rey kemudian menarik wajah Nataya, ia melihat mata sang sahabat dengan lekat. Rey mencari kebohongan disana tapi ia tidak menemukannya.
" Are you serious?"
" Yes, very very serious."
" Nat, lo tau kan kalo mbak Nai itu sudah bersuami. Lo mau jadi pebinor hah? Gue nggak akan ngebiarin lo berbuat begitu."
Nataya tersenyum kecil membuat Rey semakin bingung dengan tingkah sahabatnya itu. Ia bahkan sekarang sudah mengusap wajahnya kasar.
" Ya Allaah selamatkan sahabat hamba dari kegilaannya ini."
Nataya menepuk pelan bahu Rey sambil berbisik, " Pernikahan noona tidak seperti yang kamu lihat."
" Maksudmu?
__ADS_1
TBC
Bayangin aja Suho kw super sam Cha Eun Woo kw satu ngobrol bareng hihihi. ( maap othor halunya kelewatan)