
Skip time, 3 Minggu kemudian....
Setelah sekian lama, proses demi proses mereka lalui hingga akhirnya, tepat hari ini Rein dan Ami mengikuti acara wisuda mereka.
Jam menunjukkan pukul 15.30. Ani dan Keyla sudah sibuk mendandani Rein dan Ami. Ibu dan anak itu tampak mahir sekali merias wajah, seperti seorang MUA terkenal.
"Nah sudah selesai. Gimana, suka nggak?" ujar Keyla yang menatap puas pada hasil karya jari lentik nya.
"Bagus banget. Natural dan nggak terlalu heboh gitu. Suka banget, thanks aunty." Ami berucap senang.
"Nah kamu juga udah selesai. Suka nggak?" tanya Ani pada calon menantu nya.
"Suka Tante. Makasih." Rein tersenyum manis membalas.
"Sama-sama sayang."
***
Jam menunjukkan pukul 16.30. Rein, Davin serta keluarga nya sedang menuju tempat di mana acara wisuda di selenggarakan.
Mereka menggunakan 2 mobil. Mobil yang pertama berisi, Davin, Rein dan Ami. Sedangkan mobil satu nya lagi di isi oleh Al, Ani, Alex dan Keyla.
"Deg-degan nggak sayang?" tanya Davin pada Rein yang duduk di sebelah nya. Ia tersenyum kecil melihat Rein yang memilin jari-jari nya.
Rein mengangguk. Ia memang deg-degan sedari tadi, tapi senang juga akhirnya setelah melewati proses yang panjang ia dan Ami sampai di titik ini.
"Deg-degan banget mas, tapi senang juga akhirnya bisa wisuda." Ami yang duduk di belakang mengangguk membenarkan. Ia seketika teringat saat-saat berat ketika mereka skripsi. Revisi yang di tolak terus menerus, membuat mereka hampir putus asa, namun karena kegigihan dan semangat yang tinggi akhir nya mereka menyelesaikan skripsi nya dengan baik.
"Oh iya, Aldo nanti datang?" tanya Davin pada Ami.
"Datang dad, sama keluarga nya juga." ujar nya. Davin mengangguk mengerti. Perjalanan terasa menyenangkan karena di isi canda tawa mereka. Tak terasa akhir nya Mereka sampai di sebuah hotel ternama, dimana acara wisuda di selenggarakan.
Mereka memarkirkan mobil, lalu segera turun. Ami dan Rein tampak sangat cantik dengan balutan kebaya. Tampak nya sudah banyak mahasiswa-mahasiswi yang berdatangan. Ada yang di dampingi oleh orang tua, teman dan sebagainya.
"Ayo, acara nya sebentar lagi mulai." Ajak Ami pada mereka.
Satu keluarga itupun langsung bergegas masuk. Di lobby hotel, Rein dan Ami langsung menunjukkan kartu tanda mahasiswi. Resepsionis itu pun langsung memberitahukan letak hotel.
"Makasih mbak." ucap Ami yang di balas senyum manis dari mbak-mbak resepsionis.
Aula yang terletak di lantai 20, membuat mereka segera menuju lift. Karena banyak orang, mereka sempat antri beberapa saat.
***
__ADS_1
Akhirnya setelah beberapa jam kemudian, acara wisuda pun selesai. Rein dan Ami masih berfoto dengan teman-teman sekelas mereka. Sementara itu, Davin dan keluarga nya sudah berpamitan karena ada urusan penting. Oh iya, mereka juga sudah foto bersama jadi meninggalkan Rein dan Ami tidak apa-apa.
"Selamat Rein, Ami. Akhirnya wisuda juga." seorang wanita menghampiri Rein dan Ami, lalu memeluk kedunya.
"Thank you beb. Selamat juga buat kamu." Ketiga wanita itu mengobrol dengan asik, hingga Wanita bernama Katrin itu berpamitan.
"Gue pamit duluan, masih ada acara. Bye girls." Rein dan Ami ikut melambaikan tangan juga.
"Kita mau kemana habis ini?" tanya Rein pada Ami.
"Bentar dulu, gue telfon mereka Daddy, tanya mereka sekarang dimana." Rein mengangguk mengiyakan. Ia menarik sebuah kursi lalu menduduki nya. Cape juga, sedari tadi berdiri terus.
"Mereka ada di rooftop, Ayo kita ke sana." ujar Ami. Ia seperti nya tahu, rencana sang Daddy. senyum nya mengembang, membuat Rein menatap aneh padanya.
"Kenapa sih? Masih waras kan, senyum-senyum gitu?" Ami berdecak sebal, mengangguk kesenangan orang saja calon ibu ini.
Kedua wanita itu langsung melangkah menuju rooftop yang berada di lantai paling atas. "Mereka ngapain di rooftop, Mi?" tanya Rein Ketika mereka di dalam lift.
Ami hanya mengedihkan bahu tanda tak tahu. "Nanti juga tahu Lo sendiri." gumam nya.
***
"Kata Ami mereka udah ke sini." lapor Davin pada kedua orang tuanya. Wajah pria itu seketika menjadi tegang. Ia bergerak gelisah membuat Alex dan Keyla yang melihat tertawa kecil.
"Mana ada. Siapa yang bilang, aku gugup." balas nya ketus, berusaha menutupi kegugupannya.
"Ya ya percaya kita." gumam Alex di balas tawa kecil Keyla. Kedua kakak adik itu tampak kompak sekali, mengerjai Davin.
Ani dan Al hanya tersenyum kecil melihat tingkah ketiga anak mereka. "Sudah-sudah. Davin, kamu siap-siap aja, mereka mungkin Sebentar lagi sampai." ujar Al membuat Davin mengangguk. Ia segera meraih sebuah gitar lalu mengambil posisi di dekat pagar pembatas dengan hiasan lilin di atas meja yang terletak di sebelah kirinya.
***
Setelah keluar dari lift, Ami dan Rein melewati sebuah lorong yang tak terlalu jauh. Kemudian kedua nya menaiki sebuah tangga atas instruksi pegawai hotel. Meskipun agak kesusahan karena memakai kebaya.
Kriet...
Bunyi pintu rooftop terbuka. Kedua nya langsung berjalan masuk. Lampu kelap-kelip yang menghiasi sekitar pembatas menambah keindahan malam. Rooftop yang sudah di hiasi sedemikian rupa terlihat indah. Di tambah angin yang bertiup menambah keindahan.
"Ami?" panggil Rein kala Ami tiba-tiba menghilang dari sebelah nya. Meskipun disekitar nya terlihat indah, namun jika sendiri pasti terasa menakutkan.
"Mas Davin?" panggil nya sambil melangkah maju.
Suara petikan gitar, membuat langkah Rein terhenti. Ia menatap siluet tubuh seorang pria yang mirip dengan sang kekasih.
__ADS_1
"Mas Davin?" panggil nya ragu sambil berjalan mendekat.
~I wanna grow old with you~
~I wanna die lying in your arms~
~I wanna grow old with you~
~I wanna be looking in your eyes~
~I wanna be there for you~
~sharing in everything you do~
~I wanna grow old with you~
Lagu Westlife dengan judul I wanna grow old with you, bagian Reff mengalun indah di pendengaran Rein.
Ia terpaku menatap Davin yang berdiri di hadapan nya sambil membawa kan sebuah lagu yang sangat-sangat romantis.
~I wanna grow old with you~
Riuh tepuk tangan terdengar, Apalagi ketika Davin berlutut di hadapan nya setelah menyanyikan bagian terakhir lagu tersebut. Rein menutup mulutnya tak percaya, bahkan jantung nya berdetak kencang.
Davin menghela nafas pelan kemudian mengeluarkan sebuah cincin yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari. Ia kemudian mendongak menatap Rein yang juga menatap nya. Jantung nya berdegup kencang saat ini.
"Semangat-semangat, apapun hasil nya, kamu sudah melakukan yang terbaik." ucap nya menyemangati diri sendiri dalam hati.
"Aku tidak pandai merangkai kata-kata, yang perlu kamu tahu aku sangat mencintaimu. Dengan ini izinkan aku untuk menjadikan kamu sebagai milik ku selama nya. Menjadikan kamu satu-satunya wanita yang selalu ku lihat saat aku membuka mata di pagi hari. So, Will you marry me?"
Kata-kata romantis yang sudah ia susun sedemikian rupa hilang seketika, saat ia menatap Rein yang berdiri di hadapan nya. Jantung nya berdegup, menunggu Jawaban Rein.
"Yes I will. Let's grow old together!."
Davin langsung memeluk Rein setelah menyematkan sebuah cincin berlian yang sangat cantik dengan ukiran nama Rein di sana. "Thank you honey." ucap nya haru.
***
Update juga, maaf ngaret...
Aku lagi nggak enak badan guys, sorry kemarin nggak up.
Thank you yang sudah baca...
__ADS_1
MAAFKAN SEGALA TYPO DAN PENULISAN YANG KURANG JELAS!!!