Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku

Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku
Bab 43. Persiapan pernikahan


__ADS_3

Rein dan Davin disibukan dengan segala macam urusan untuk pernikahan kedua nya. Sebenarnya Al dan Ani ingin membantu, namun kedua nya menolak dengan alasan masih bisa mengurus nya sendiri.


Rein teringat ia belum memberitahu kan pada sang kakek bahwa ia akan segera menikah dengan Davin.


"Mas Davin?" Saat ini kedua nya hendak melihat lokasi yang akan mereka gunakan untuk pemberkatan nanti.


"Kenapa sayang?" tanya Davin sambil melirik Rein, namun tatapan nya masih fokus menatap jalan.


"Ada yang mau ketemu sama mas. Kira-kira Mas ada waktu nggak?" tanya nya.


"Siapa?* Davin mengerutkan keningnya, siapa yang ingin bertemu dengan nya.


"Kakek aku.* balas Rein sambil melirik Davin.


”Kakek kamu?" Davin tiba-tiba saja merasa gugup. Rein mengangguk cepat sambil menatap Davin.


"Iya. Sekalian kita kasih tau kakek kalau aku mau menikah." ujar nya.


Davin baru sadar, bawah keluarga Rein tidak ada yang mengetahui bahwa Rein akan menikah. "Iya sayang. Gimana kalau kita ketemu kakek kamu pas weekend." Rein tersenyum sambil mengucapkan terimakasih.


"Makasih mas.*


"Sama-sama calon istri." Wajah Rein memerah mendengar ucapan Davin.


***


Hari terus berlalu, waktu demi waktu mereka lewati. Davin dan Rein mempersiapkan acara pernikahan mereka dengan sedemikian rupa.


Kedua nya bekerja sama mengurus pernikahan.


"Gimana persiapan pernikahan kalian? Sudah berapa persen?" Ani yang berkunjung kerumah mereka menatap Davin dan Rein penuh tanya.


"Sudah 85% mah. Tinggal bagi undangan, terus urus catering sama fitting baju pengantin. Kalau gedung dan segala macam nya pihak WO yang urus. " Davin membuka sebuah kardus yang baru saja di antar oleh seorang kurir.


"Biar urusan catering mamah yang urus. Kalian urus yang lain aja." Davin dan Rein mengangguk.


"Makasih Tante." jawab nya, membuat Ani mengangkat alis nya.

__ADS_1


"Kenapa masih panggil Tante? Mulai sekarang panggil mamah, biar sama kaya yang lain." ujar Ani sambil menatap calon menantu nya.


"B-baik mah." Wajah Rein tersipu, namun tak urung ia senang.


Hanya tinggal 6 hari lagi mereka akan segera menikah. "Ini mamah aja yang tulus undangan nya. Nanti kasih buat papah juga, Davin bingung mau undang siapa aja." Ani mengangguk lalu menerima undangan yang sudah Davin berikan pada nya.


"Ami datang." Pekikan dari pintu utama terdengar. Ami masuk sambil menggandeng tangan Aldo.


"Cie yang mau nikah. Senang kan? senang lah masa enggak!" ujar nya dengan senyum Pepsodent. Ia mendudukkan dirinya di sebelah Rein yang beberapa hari lagi akan resmi menjadi ibu nya.


"Aish senang banget, Lo Akhir nya jadi bunda gue." bisik Ami tepat di telinga Rein, membuat Rein mendelik malu. "Gegaya-an Lo waktu itu nolak daddy gue, sekarang kepincut kan." Sungguh Rein ingin menenggelamkan Ami dalam laut.


"Nggak usah buka kartu." balas Rein, membuat Ami terkekeh.


***


H-5 menuju pernikahan.


Rein dan Davin sedang berada di sebuah butik ternama untuk melihat gaun yang mereka pesan 1 Minggu lalu. Kedua nya di sambut baik oleh seorang designer yang merancang khusus baju pernikahan mereka.


"Jadi ini adalah rancangan yang sudah saya buat sesuai dengan keinginan nona. Silahkan di coba dulu." ujar nya sambil menuntun Rein memasuki ruangan untuk ganti.


Sementara itu Davin juga sedang mencoba tuxedo yang sudah di rancang khusus untuk nya.


Tak lama kemudian Rein keluar dari dalam ruang ganti. Ia menatap Davin yang sedang membelakangi nya.


"Mas Davin?" panggil nya dengan senyum.


Davin yang mendengar suara Rein langsung berbalik. Ia hampir tersedak ludah nya sendiri, saat menatap Rein. Polesan make up tipis serta rambut di gerai di tambah gaun dengan belahan tipis di dada membuat Rein tampak sangat anggun. Gaun itu sangat cocok di tubuh ramping Rein.


Davin masih terpaku menatap wanita yang sebentar lagi akan ia jadikan istri nya. "Gimana mas?" tanya Rein sekali lagi, ia harap-harap cemas melihat reaksi Davin yang hanya diam.


Davin akhirnya tersadar. Ia berjalan menuju Rein. "Cocok banget sayang. Mas suka." ujar nya.


Akhirnya kedua nya memiliki gaun itu dan memilih tuxedo hitam yang sangat pas di tubuh tegap Davin.


***

__ADS_1


"Ada tempat yang mau kamu datangin sayang?" tanya Davin sambil menatap Rein, yang duduk di sebelah nya.


"Nggak ada sih. Mas sendiri gimana?"


"Kalau gitu ikut mas ke kantor sebentar ya?" ajak Davin yang di angguki Rein tanpa banyak bertanya.


Rein memejamkan mata nya perlahan, saat rasa kantuk menghampiri nya. Davin tersenyum tipis melihat Rein yang tertidur. Tangan kirinya terangkat mengelus rambut Rein yang sangat halus.


Tak butuh waktu lama kedua nya sampai di parkiran kantor. Davin membuka pintu lalu turun dan menghampiri Rein yang masih tertidur.


"Pak, tolong parkir-in." Davin memberikan kunci pada satpam. Ia kemudian menggendong Rein lalu membawa nya masuk.


Banyak karyawan yang menatap iri ke arah Rein. Bagaimana tidak Davin yang memiliki sifat tegas serta dingin di kantor membawa seorang wanita dalam pelukan nya dengan cara romantis itu membuat mereka di landa rasa iri.


Davin berjalan dengan santai mengabaikan bisik-bisik karyawan nya. "Anteng banget." gumam Davin kala menatap Rein yang tidur dengan tenang tanpa terganggu sama sekali.


Sesampai di ruangan nya, Davin langsung di sambut oleh Cella yang bekerja keras menggantikan semua pekerjaan nya dari beberapa hari lalu. "Siang Cella." sapa nya.


Cella langsung berdiri dan menunduk hormat pada Davin. "Siang juga pak." jawab nya sopan.


Cella dengan sigap membuka pintu untuk Davin. "Terimakasih. Kamu lanjutkan pekerjaan kamu." ujar nya.


Davin merebahkan Rein di kamar milik nya. Ia menatap wajah cantik Rein tanpa bosan. Entah kenapa saat melihat pipi Rein yang gembul itu membuat ia ingin menggigit nya.


Satu kecupan ia layangkan karena tak mungkin ia menggigit nya. "Aish gemesein banget sih sayang." ujar nya greget sendiri.


Takut membangun kan Rein, Davin Akhirnya keluar. Ia kemudian menghubungi Cella untuk menanyakan pekerjaan nya.


"Nanti saya periksa lagi. Makasih ya sudah bantu saya beberapa hari ini." ujar nya sambil menatap Cella.


"Iya pak sama-sama. Yang penting bonus saya naikin pak." ujar nya malu-malu membuat Davin terkekeh.


"Tenang saja. Itu sudah pasti, yang penting kerjaan kamu beres." Cella mengangguk semangat. Ia sudah membayangkan berapa nominal yang akan masuk ke rekening nya, membuat ia tak sadar tersenyum sendiri.


***


Nanti malam update lagi kalau sempat ya hehe...

__ADS_1


__ADS_2