Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku

Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku
S2 Chapter 73. Raja jatuh cinta?


__ADS_3

Raja menuruni tangga, ia melangkah menuju ruang keluarga yang sudah terdapat Rein, Davin serta kedua kembaran nya. 'Tumben sekali anak itu tidak keluar' pikir Raja heran. Karena jam-jam seperti ini, biasa nya Rayyan tidak berada di rumah.


"Malam semua nya." sapa nya sopan.


Rein dan Davin tersenyum membalas sapaan putra nya. "Malam sayang. Kamu mau kemana, tumben rapi gitu?" tanya Rein sambil melihat penampilan Raja.


"Teman aku ada yang ulang tahun Bun, jadi Raja di ajak ke sana. Boleh kan Bun?"


"Wih teman yang mana tuh bang?" tanya Rayyan bermaksud ingin ikut.


"Satria. Nggak lama kok." ujar nya, takut jika tak di bolehkan.


"Haha Abang muka nya jangan tegang gitu. Tentu saja boleh, tapi jangan pulang larut malam ya." Pesan Rein sambil menatap putra nya.


"Terimakasih bunda." Raja memeluk Rein dengan sayang.


Davin yang memang cemburuan langsung melepaskan pelukan mereka dengan sedikit paksa. "Jangan lama-lama." ujar nya galak, membuat ke-empat nya memutar mata malas.


"Jealous ke anak sendiri." ejek Rayyan membuat Davin memelototi remaja itu.


"Terserah Daddy dong. Ini kan istri Daddy." balas nya tak mau kalah.


"Daddy mah, itu kan bunda kami." Lovi ikut-ikutan.


"Sudah-sudah. Raja mending berangkat sekarang aja, nanti takut kemalaman."


"Iya Bun. Pamit dulu." Ia menyalami kedua orang tua nya, lalu bergantian Rayyan dan Lovi yang menyalami nya.


"Hati-hati bang."


***


Raja sengaja menggunakan motor sport yang belum lama di belikan oleh Davin, karena takut terkenal macet. Benar saja jalanan cukup macet, untung nya ia menggunakan motor.


"Sorry gue terlambat." ujar Raja saat baru saja memasuki sebuah bangunan mewah. Banyak mobil dan motor terparkir rapi di halaman depan.


"Woi Raja, gue kira Lo nggak jadi datang." Raja tersenyum kecil membalas pelukan salah satu sahabatnya.


"Jadi, tadi kena macet sedikit." ujar nya.


"Siapa aja yang sudah datang?"


Raja menatap ruang tamu yang sudah di hias sedemikian rupa ala-ala anak muda. Ruang tamu itu sudah seperti di sebuah club saja. Lampu remang-remang, serta musik yang memekikkan telinga.


Ternyata hampir satu angkatan teman nya ini undang. Namun Raja belum melihat sahabat-sahabat nya yang lain.


"Yang lain kemana?" tanya Raja pada Satria si pemilik pesta.


"Belum datang, eh itu Brian, Gilang sama Zidan." Tunjuk Satria pada sahabat-sahabat nya yang baru datang juga.

__ADS_1


Suara musik yang memekikkan telinga membuat mereka berbicara harus keras.


"Gila Sat, rumah Lo udah kek club malam." ujar Brian pada sahabat nya itu sambil terkekeh.


Yang lain mengangguk menyetujui. "Sekali-kali lah. Ayo kita party." Ajak Satria semangat. Mereka hanya menggeleng melihat tingkah Satria.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Bukan nya sepi, acara malah semakin ramai. Untung saja Satria tidak memakai acara minum-minum jadi acara masih berjalan lancar.


Salah satu pemain DJ terbaik yang di sewa oleh Satri kini memutar kan salah satu lagu yang sedang viral akhir-akhir ini.


Teriakan heboh anak-anak di sana membuat pesat semakin seru. "Satu..Dua..Tiga.."


"Di putusin pacar mu, ditinggalin pacar mu. Jangan curhat dengan ku...No Comen aku..!!" Teriakan mereka membuat pesta semakin heboh. Sama-sama menyanyikan lagu kebangsaan bunda Corla dengan judul 'No Comen'.


"No Comen itu sih derita Lo, masa bodo nggak mau tau, no Comen itu sih derita Lo, aduh-aduh kasihan deh Lo..."


"Apa Ja?" Satria tidak terlalu mendengar ucapan Raja karena suara bising.


"Gue pulang dulu, takut bunda khawatir kalau kemalaman." ujar nya dengan sedikit keras.


"Cepat banget." ujar Satria. Raja mengedihkan bahu nya, ia kemudian menyodorkan sebuah hadiah Yang sudah ia persiapkan.


"Buat Lo. Happy birthday bro, doa terbaik aja buat Lo." Satria menerima hadiah itu dengan senyum.


"Thnk's. Lo serius mau pulang sekarang? Nanti ajalah sama yang lain."


"Okelah. Hati-hati di jalan." Raja mengangkat dua jempol nya. "Kasih tau yang lain, gue duluan." lanjut nya.


Setelah berpamitan, Raja kemudian berlalu dari sana. Meninggalkan pesta yang semakin larut semakin seru.


***


Raja membawa motor dengan kecepatan sedang. Untung saja ia membawa jaket nya, jadi angin malam tidak terlalu menembus kulit nya.


"Dingin banget." melirik jam tangan nya, ternyata sudah pukul 11 malam.


Tepat lampu merah, Raja berhenti. Mata nya melirik sekilas pada sekitar nya. Hingga iris nya menemukan seorang gadis yang mungkin seumuran dengan nya sedang berjualan di depan sebuah bangunan besar yang masih dalam proses pembangunan.


"Jam segini, tuh cewek masih jualan." ujar nya heran.


Lampu kembali hijau, Raja segera menarik gas nya kembali. Ia menghidupkan lampu sen kiri nya kemudian, berbelok menuju kedai kopi gadis itu.


Semakin dekat, Raja semakin mendengar suara gadis itu. Entah kenapa suara gadis itu membuat sesuatu dalam dirinya terasa berdebar.


"Neng, kopi nya satu ya."


"Iya pak di tunggu ya." ujar nya dengan senyum yang merekah. Jari nya dengan gesit membuat secangkir kopi, sangat pas sekali dengan udara malam ini yang cukup dingin.

__ADS_1


Raja tersentak melihat senyum gadis itu. Ia melangkah kedepan kedai gadis itu. "Permisi saya pesan Late Coffe satu." ujar nya membuat gadis itu mendongak menatap nya.


Bibir gadis itu tertarik membentuk bulan sabit. "Siap mas. Di tunggu sebentar ya." Gadis itu lalu membuat Pesanan Raja setelah mengantar pesanan pekerja proyek bangunan tadi.


"Pisang goreng nya berapa?" tanya Raja ketika melihat gorengan pisang yang masih terdapat kepulan asap. seperti nya baru saja di goreng.


"2 ribu 1 mas." ujar nya semangat.


Entah kenapa Raja menyukai setiap apa yang di lakukan gadis itu. Semangat nya ketika meracik kopi dan senyum yang begitu mengagumkan tersebut.


"Saya ambil semua ya." ujar Raja membuat gerakan gadis itu terhenti. Ia menatap Raja dengan pandangan bertanya seolah memastikan bahwa ia tak salah dengar.


"Ini serius mas?" tanya nya.


"Iya." Raja tersenyum kecil melihat gadis itu mengucapkan banyak terimakasih untuk nya.


"Syukurlah, saya jadi bisa cepat pulang." ujar nya membuat Raja ikut senang.


"Oh iya kopi nya bisa di bungkus aja kan?" tanya Raja, gadis itu kembali mengangguk semangat.


"Bisa-bisa."


**"


Setelah membungkus semua nya. Gadis itu melangkah mendekati Raja. "Total nya 150 mas." ujar nya pada Raja. Remaja itu mengeluarkan uang berwarna merah 2 lembar lalu memberikan pada gadis itu.


"Sebentar mas kembalian nya."


Raja menggeleng, ia menatap gadis itu Lamat. "Kembalian nya ambil aja. Anggap itu sebagai rejeki kamu." ujar nya dengan senyuman.


"Seriusan mas, terimakasih banyak." Senyum gadis itu membuat Raja ingin terus melihat nya.


"Sama-sama. Kamu segera pulang, ini sudah larut." Gadis itu mengangguk sambil membereskan semua barang nya.


Raja baru menyadari, bahwa jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Tiba-tiba saja ia mengkhawatirkan sang bunda, yang pasti akan menunggu nya.


"Maaf Bun, Raja terlambat pulang nya." Ia kemudian memacu kendaraan nya dengan kecepatan sedang, menuju rumah nya.


Tak membutuhkan waktu lama, Raja akhir nya tiba. Memasuki rumah, ternyata lampu sudah di matikan. Hanya ada beberapa lampu hias yang di hidup kan di bagian pojok ruangan.


"Tadi janji nya apa?" Reflek Raja berhenti melangkah. Dari arah sofa, Davin muncul dengan baju tidur nya.


"Maaf dad, tadi ada urusan sebentar." ujar nya menyesal.


Davin melirik putra nya, kemudian menatap kantong plastik yang di bawa oleh Raja. "Apa itu?" tanya nya pada Raja.


"Kopi sama pisang goreng dad." Jawab Raja.


Davin mengerutkan keningnya heran. "Ini tadi Raja beli dekat lampu merah dad." Ia mengerti kalau sang Daddy mengira ia membawa nya dari ultah Satria.

__ADS_1


"Oh gitu. Bunda kamu sudah tidur karena kelamaan nungguin kamu, besok pagi minta maaf." Raja mengangguk mengerti lalu berlalu menunju dapur untuk meletakkan pisang goreng yang ia beli.


Senyum nya mengembang mengingat gadis tadi, entah kapan mereka akan bertemu lagi.


__ADS_2