
Setelah kehebohan perkara tamu bulanan Rein, kini malam sudah berganti menjadi pagi lagi. Davin sedang bersiap-siap untuk menuju kantor.
"Sayang aku berangka dulu. Kamu sama Ami kalau bosan ajak Keyla nyalon atau ke mall aja." ujar Davin sambil membenarkan kancing lengan nya.
"Iya mas." jawab Rein sambil membenarkan dasi Davin.
"Pake ini aja sayang, belanja apapun yang kamu mau." Davin menyodorkan sebuah kartu hitam pada Rein.
Rein menatap kartu itu. "Nggak usah mas, aku masih ada uang kok." jawab nya cepat.
Davin meraih tangan Rein lalu meletakkan kartu limit itu di tangan nya. "Ambil sayang. Anggap aja, mas lagi belajar buat nafkahin kamu." ujar nya sambil terkekeh.
Wajah Rein memerah malu. "Makasih mas." Davin yang gemas melihat kegemoy-an Rein menangkup pipi nya hendak ia cium, namun sebuah deheman membuat kedua nya kaget.
"Ehem..."
"Pagi-pagi udah tebar keromantisan aja!" sindir nya.
Davin dan Rein langsung menengok, ternyata ada Alex yang berjalan ke arah mereka lengkap dengan setelan jas nya.
"Jomblo diam. Iri aja liat kebahagiaan orang." balas Davin kejam membuat Alex melotot tak terima.
"Enak aja, aku lagi suka sama orang ya!" balas nya tak mau kalah.
Davin memicingkan matanya, ia baru tahu bahwa Alex menyukai seseorang. Dulu mereka tidak.terlalu dekat, jadi ia kurang mengetahui kehidupan sang adik.
"Mas nggak jadi ke kantor?" lerai Rein sebelum perdebatan itu semakin panjang.
"Eh jadi sayang. Lo sih ganggu mulu!" gemas Davin pada Alex yang melotot tak terima di katain pengganggu.
***
Jam menunjukkan pukul 13.20. Rein keluar dari kamar nya dengan pakaian yang sudah rapi.
"Mi, ikut nge-mall nggak?" ajak Rein karena terlalu bosan. Ia rencana nya hendak bekerja setelah lulus namun Davin melarang nya.
"Nggak ikut deh. Aku mau jalan sama ayang beb." jawab Ami sambil menunjuk isi chatan nya dengan Aldo sang kekasih.
Rein memutar mata malas, melihat kebucinan dua orang itu. "Ajak kak Key aja kek nya." gumam Rein semangat.
"Ya sudah lah gue pergi dulu, mau ajak kak Keyla." Ami hanya mengangguk kan kepala nya dan kembali sibuk dengan benda pipih di tangan nya.
***
__ADS_1
Rein sudah berdiri di depan pintu rumah Ani. Ia mengetuk pintu beberapa kali namun belum juga ada jawaban. "Sepi banget, pada pergi kali ya." gumam nya.
Ceklek..
Pintu terbuka menampakkan sosok Keyla yang berdiri dengan raut wajah mengantuk. Astaga jangan bilang ia baru bangun tidur, pikir Rein.
"Kenapa Rein?* tanya nya sambil menguap pelan.
"Baru bangun tidur kak?" tanya Rein sambil menyengir.
Keyla mengangguk. "Iya. Kamu mau kemana rapi gitu?"
Rein melihat tampilan nya sendiri kemudian menatap Keyla lagi. "Aku mau ngajakin kakak, nge-mall." Ajak nya antusias sambil menunjukkan kartu hitam yang di berikan Davin.
"Punya kak Davin?" tanya Keyla dengan wajah berbinar.
"Ayo masuk, tunggu aku siap-siap dulu." Keyla menarik tangan Rein lalu membawa nya masuk. Rein menatap kepergian Keyla yang kini sudah menghilang di balik tangga.
"Cepat banget." ia bahkan menggerjapkan matanya berkali-kali.
"Loh ada Rein di sini?" Ani dan Aldrich yang baru saja kembali dari kantor untuk makan siang menatap Rein dengan hangat.
Rein berdiri dan menyalami kedua nya. "Iya tan, mau ajak kak Keyla nge-mall." Rein tersenyum kikuk.
"Iya tan. Nanti kabarin Rein aja."
"Iya. Ya sudah kami ke kamar dulu ya." pamit Ani.
"Iya tan.*
***
Rein dan Keyla berkeliling di mall, dengan masing-masing tangan yang menenteng sebuah paper bag berisi benda yang mereka beli.
"Kak Key, aku ke sana bentar ya." Rein menunjuk sebuah toko jam tangan.
"Iya. Aku juga mau ke sana." Keyla dan Rein memasuki toko yang mereka ingin tuju.
"Selamat datang selamat berbelanja di sini. Silahkan kak di lihat-lihat dulu jam tangan nya." seorang pegawai wanita langsung menghampiri Rein.
Rein tersenyum sambil mengangguk. Ia berkeliling melihat-lihat berbagai macam merk jam tangan dengan harga fantastis. Matanya menangkap sebuah jam tangan berwarna perak. Rein langsung mengambil nya. "Bagus banget." gumam nya sambil menatap jam tangan itu.
Rein tersenyum tipis, membayangkan jika Davin memakai jam tangan ini. Pasti sangat tampan pikirnya.
__ADS_1
"Kak, tolong bungkus ini ya." Pegawai wanita itu langsung mengangguk senang. Ia dengan cekatan membawa jam tangan yang Rein pilih lalu membungkus nya dengan rapi.
Rein mengeluarkan kartu yang ia miliki dan menyodorkan nya pada kasir. Ia ingin membelikan Davin hadiah dengan uang nya sendiri.
"Terimakasih sudah berbelanja di sini. Semoga hari kakak menyenangkan." ucap kasir itu.
"Terimakasih kembali." Rein berlalu setelah membayar jam tangan itu.
"Sudah Rein?" tanya Keyla yang baru saja keluar dari dalam toko tas branded.
"Sudah kak." ujar nya sambil menunjuk paper bag kecil berisi jam tangan untuk Davin.
"Ya sudah. Mau pulang sekarang atau mau singgah lagi?"
"Pulang aja kak. Sudah mau sore juga."
Kedua wanita itu langsung berlalu dari mall, menuju rumah dengan perasaan bahagia. Sedangkan di sisi lain, Davin menatap ponselnya yang terus berdering.
"Tumben banget Rein belanja sebanyak ini." gumam nya. Ia tak marah hanya heran saja, ia tahu Rein, kekasih nya itu tidak akan belanja sebanyak ini, karena dia bukan orang yang boros.
Davin memilih tak memikirkan itu, ia bergegas merapikan meja nya, lalu memasukkan laptop nya ke dalam tas dan meraih jas nya lalu berlalu keluar. Ia berencana mengajak Rein untuk pergi ke suatu tempat.
Davin menyapa sekretaris nya lalu berpamitan pulang duluan. "Saya pulang duluan. Kalau kerjaan kamu sudah beres, kamu langsung pulang juga."
"Baik pak. Hati-hati di jalan."
Tak membutuhkan waktu lama, Davin tiba di rumah. Ia turun dengan perasaan bahagia. Ia sudah memikirkan rencana-rencana yang akan ia lakukan bersama Rein nanti.
"Sayang, aku pulang." teriak nya dari depan pintu.
"Nggak ada yang budek di rumah ini mas." jawab Rein sambil melangkah mendekati Davin. Pria itu hanya menyengir, ia memeluk Rein dengan erat.
"Kangen banget sayang." gumam nya manja.
Rein sedikit kesulitan untuk mengelus rambut Davin karena perbedaan tinggi badan. "Mas nunduk coba." Ujar nya.
Davin mengangguk tanpa banyak bertanya. Rein membalas pelukan Davin sambil mengelus rambut nya. Davin menyembunyikan wajah nya di ceruk leher Rein. Menikmati tangan halus Rein yang bergerak mengelus rambut nya.
"Mas mandi dulu sana, aku sudah siapin air hangat."
Davin melepaskan pelukannya lalu menatap Rein penuh cinta. "Makasih sayang ku." ujar nya sambil mencuri satu kecupan di bibir mungil Rein.
"Mas Davin, kalau ada yang liat gimana?" pekik nya kesal.
__ADS_1
"Biarin aja sayang. Kamu juga siap-siap, aku mau ajak kamu ke suatu tempat." Rein mengerutkan keningnya, Davin hendak membawa nya kemana, pikir Rein.