Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku

Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku
Bab 58. Morning sickness


__ADS_3

Hari demi hari, Rein lalui dengan perasaan bahagia. Ia menikmati perannya sebagai seorang bumil. Meskipun morning sickness yang ia rasakan kadang membuat nya sampai tidak berdaya, namun Rein tetap menjalani dan menikmati semua proses itu dengan sabar.


Rein dengan cepat turun dan berjalan menuju kamar mandi sambil menutup mulut nya, guna menahan rasa mual. "Hoek!" Rein berjongkok di wastafel.


Seperti pagi-pagi sebelumnya, pagi ini pun Rein berdiri lagi dan memuntahkan isi perutnya. Semua makanan enak yang ia makan semalam, berakhir di wastafel.


Air matanya mengalir, namun rasa mual tak kunjung berhenti. Rein memegang pinggiran wastafel ketika tubuh nya mulai lemah.


Sementara itu Davin yang tidak merasakan Rein di sebelah nya langsung saja bangun. Ia dengan cepat beranjak menuju kamar mandi, ketika mendengar suara Rein.


"Masih mau muntah?" tanya nya sambil menahan tubuh Rein yang terkulai lemas.


Rein menggeleng pelan karena kehabisan tenaga. Jika berada di dalam pelukan Davin, maka rasa mual yang ia rasakan langsung hilang.


Davin dengan sigap membersihkan wajah istri nya lalu membopong tubuh Rein menuju kamar. "Istirahat dulu ya, aku ambil makanan dulu." Rein langsung menahan tangan Davin yang akan pergi.


"Mau peluk sebentar." ujar nya pelan.


Davin mengangguk, ia kemudian berbaring di sebelah sang istri lalu menarik Rein dalam pelukan nya. "Makasih sayang." bisik nya pelan. Davin mengecup kening Rein yang sudah kembali terlelap.


Andaikan bisa bergantian, maka Davin ingin agar dirinya saja yang merasakan mual-mual seperti itu. Ia tidak tega melihat Rein yang sudah bangun pagi-pagi buta karena merasa mual dan berakhir berada di atas tempat tidur dengan tubuh yang lemas.


***


"Anak-anak Daddy, jangan nakal. Nurut sama bunda ya, jangan bikin bunda capek." Davin mengecup perut Rein lalu berdiri menatap sang istri yang tampak cantik di matanya.


"Aku pergi dulu ya, kamu baik-baik di rumah. Ingat jangan kerja yang berat-berat, duduk diam aja biar bi Anum yang ngerjain pekerjaan rumah." Kalau tidak di ingatan seperti itu, maka Rein akan mengerjakan pekerjaan rumah sampai tubuh nya kelelahan.


"Iya suami. Ingat, nanti kalau pulang bawa martabak manis nya." Rein kembali mengingat kan pesanan nya membuat Davin tertawa kecil.


"Iya sayang. Ingat kok. Aku berangkat dulu ya, kamu hati-hati di rumah."

__ADS_1


Rein melambaikan tangan nya, ketika Davin memasuki mobil untuk menuju kantor. "Hati-hati Daddy." Rein memperagakan suara anak-anak membuat Davin tersenyum gemas.


***


"Baby-baby utun nya bunda, sekarang kita ngapain ya? Daddy sudah pergi kerja. Gimana kalau kita bangunin kakak kalian aja." Rein langsung menaiki tangga menuju kamar putri nya.


Rein terkadang suka heran dengan Ami yang selalu saja bangun jika matahari sudah terbit. Rein kadang capek sendiri ketika mengomeli putri nya itu untuk bangun pagi.


"Kakak, bangun ini sudah siang." panggil nya sambil mengetuk pintu dengan sedikit keras.


Rein langsung membuka pintu yang tidak terkunci itu, lalu menatap Ami yang masih tertidur pulas sampai terdengar suara dengkuran. "Anak gadis sudah siang hari masih belum bangun? Entar jodoh nya om-om loh." Rein memungut bantal guling yang terjatuh di lantai sambil mengomel.


Ami hanya bergumam kecil, mendengar suara Rein. "Bund, ini masih pagi banget. Jangan ngomel-ngomel dulu, aku masih ngantuk." ujar nya dengan suara serak.


"Pagi apa nya, ini sudah jam 8 mau jam 9. Ayo bangun, anak gadis kok bangun nya siang terus." Ami langsung bangun dengan wajah kantuk nya.


Ia menatap Rein yang sudah terlihat cantik meskipun hanya menggenakan sebuah daster berwarna biru. "Pagi adik-adik kakak. Bunda berisik banget kan?" ujar nya sambil mengajak calon adik-adik nya untuk mengobrol, membicarakan Rein yang hanya menggeleng pelan.


"Cepat mandi sana. Temanin bunda mencok mangga muda." ujar Rein sambil tersenyum kearah Ami yang sudah bergidik ngilu.


Pasal nya Davin melarang Rein untuk mencok jika belum makan nasi. "Bunda sudah makan. Kalau belum, adik-adik kamu pasti rewel di dalam sana." ujar nya santai.


Ami mengangguk mengerti. Ia segera menuju kamar mandi untuk mencuci wajah nya. "Ayo bund." ajak nya pada Rein yang baru selesai merapikan tempat tidur nya.


Anak dan ibu itu segera keluar kamar. Ami memegang tangan Rein Ketika menuruni tangga, karena BI Anum baru saja mengepel lantai.


"Bi, buah nya dimana?" tanya Rein pada bi Anum.


"Di atas meja non. Sudah saya siapkan juga sambal nya." jelas bi Anum membuat Rein tersenyum senang.


"Makasih Bi."

__ADS_1


***


Ami menatap Rein yang terlihat sangat santai memakan mangga muda, yang sangat asam. Ami menelan air liur nya sendiri sambil bergidik ngilu. "Bund, nggak ngilu apa?" tanya nya sambil menatap mangga muda yang ada di tangan Rein.


"Nggak ah. Ini enak kok, kamu cobain ini." ujar nya sambil menyodorkan potongan mangga yang sudah ia cocol sambal pada Ami.


Ami langsung menggeleng tanda menolak. "Nggak mau bund. Bunda aja yang makan." tolak nya.


Rein mengangkat bahu acuh, biar saja ia yang menghabiskan nya sendiri. "Ya sudah kalau nggak mau."


Ami menyendok nasi goreng untuk dirinya. Kedua nya makan dengan hening, sesekali Ami melirik Rein yang terlihat sangat menikmati Mangga muda yang hanya tinggal setengah.


Tak lama kemudian ponsel Rein berbunyi. Raut wajah nya berbinar seketika. "Hallo daddy." sapa nya ceria sambil memakan mangga muda.


Di seberang sana, Davin menatap sang istri yang terlihat menggemaskan. "Lagi makan apa sayang?" tanya Davin.


"Lagi mencok mangga muda sama Ami, tapi dia nggak mau." adu nya pada Davin sambil mengarahkan kamera pada Ami dan mangkuk yang berisi mangga.


Davin yang melihat Mangga muda itu juga enggan untuk memakan nya karena asam. "Jangan banyak-banyak makan nya, nanti sakit perut." ujar nya mengingat kan.


"Bunda udah ngabisin setengah dad, suruh berhenti aja." Rein memelototi Ami yang bersuara.


"Sayang, sudah ya. Ami ambil mangga nya." perintah Davin langsung. Bukan nya jahat, namun ini semua demi kebaikan Rein nanti.


"Nggak mau. Aku masih pengen." rengek nya sambil menahan mangkuk yang hendak di ambil Ami.


"Sinikan bun, mangkuk nya." ujar Ami meminta. Rein menggeleng sambil memakan mangga itu.


Ia menatap Ami memelas agar tak mengambil mangkuk nya. "Nggak bisa. Nanti kalau bunda sakit perut, Daddy marah loh." Ujar nya.


Davin yang melihat Rein menggeleng pun tersenyum kecil. "Sayang, kasih ya mangkuk nya sama Ami. Nanti martabat manis nya 2." Mendengar itu Rein langsung menatap Davin berbinar.

__ADS_1


"Janji ya." Ia langsung menyodorkan mangkuk itu pada Ami dengan cepat.


Ami dan Davin sama-sama menggeleng melihat kelakuan bumil satu ini. "Iya sayang, janji."


__ADS_2