
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 3 sore. Rein dan Davin hendak berpamitan untuk pulang. Namun sebelum itu Davin mengisi buku tamu terlebih dahulu.
Bunda Lela menatap kedua pasangan itu dengan senyum hangat nya. "Terimakasih sudah berkunjung ke sini." ucap Nya. Senyum tak pernah lepas di wajah nya.
Rein menatap bunda Lela. "Saya juga senang berkunjung ke sini, main sama anak-anak." balas nya.
"Kalian orang baik. Semoga selalu di lindungi Tuhan, di jauhkan dari orang-orang yang punya niat jahat. Dan kandungan kamu, semoga ketiga nya baby nya sehat-sehat terus, hingga persalinan nanti." Davin dan Rein langsung mengaminkan nya.
Ketiga nya berjalan keluar hingga tiba di teras rumah. Anak-anak sedang bermain di depan rumah. Ketiga nya menatap anak-anak itu dengan senyum kecil.
"Bunda, saya akan jadi donatur tetap di panti asuhan ini. Saya minta tolong nanti yang putus sekolah bisa di sekolah kan, saya mau masa depan mereka terjamin." ucap Davin tiba-tiba. Bunda Lela langsung menatap nya dengan kaget.
"Yang benar Nak?" tanya nya kaget, tidak menyangka.
"Iya bun. Nanti setiap bulan akan saya kirimkan jadi mereka bisa sekolah dan bisa membantu keuangan di sini."
Bunda Lela menangis terharu, setelah sekian lama penantian nya Akhirnya ada sepasang suami istri yang dengan berbaik hati ingin menjadi donatur untuk panti asuhan mereka.
"Saya minta doa nya saja, dari kalian semua. Semoga tiba persalinan nanti semua nya di mudahkan Tuhan. Istri dan anak-anak kami sehat semua."
Bunda Lela mengangguk pasti. Ia pasti akan mendoakan mereka. "Pasti nak, Kami pasti akan bantu doa."
Setelah itu Rein dan Davin akan berpamitan untuk pulang, namun sebuah tarikan di gaun Rein membuat nya berhenti. Kedua nya menengok ke belakang, seorang gadis mungil dengan wajah sembab nya sedang menatap mereka dengan berkaca-kaca.
"Bunda dan Daddy mau pelgi kemana?" suara cadel serta wajah sembab nya terlihat lucu di mata Rein dan Davin.
Kedua nya pikir Cristi masih tertidur, ternyata sudah bangun. "Putri bunda Sudah bangun tidur?" tanya Rein sambil berusaha mengelus rambut Cristi.
Cristi mengangguk. Ia merentangkan kedua tangannya pada Davin, dan dengan sigap Davin langsung mengangkat nya dalam gendongan nya. "Sudah bunda." jawab nya gemas.
Rein dan Davin jadi tidak tega untuk meninggalkan gadis mungil ini pergi.
"Om Davin dan Tante Rein harus pulang. Cristi sama bunda aja sini." Bunda Lela merasa tak enak pada Davin dan Rein.
Davin melirik bunda Lela lalu menggeleng pelan. "Biar saja Bun." ucap nya.
Cristi memeluk Davin. "Bunda dan Daddy mau pulang, telus Clisti sama siapa di sini?" tanya nya manja. Wajah nya ia sembunyikan di leher Davin.
__ADS_1
Isakan kecil terdengar, membuat Davin dan Rein langsung saling tatap. "Cristi kenapa nangis sayang? Cup cup cup..Anak bunda nggak boleh nangis dong, kan sudah besar." ujar nya mencoba menenangkan gadis kecil itu.
Rein ingin sekali menggendong nya, tapi tidak bisa karena perut besar nya. "Clisti mau di tinggal pelgi. Nanti Clisti sama siapa di sini?" ujar nya dengan suara serak.
"Cristi kan punya bunda Lela di sini, sebagai orang tua Cristi. Ada juga kakak-kakak lain nya. Berarti Cristi nggak sendiri dong di sini." Davin mencoba memberi pengertian pada Cristi.
"Belalti, Clisti sudah bukan anak bunda dan Daddy dong?" tanya nya sambil menatap kedua nya bergantian.
"Cristi tetap anak bunda yang paling cantik. Sekarang Cristi sama bunda Lela dulu, bunda dan Daddy harus pulang. Nanti Kalau ada waktu lagi, bunda dan Daddy ke sini. Bawa kakak Cristi juga, anak bunda."
Meskipun tidak mengerti namun Cristi tetap mengangguk. "Baik bunda."
"Daddy, Clisti mau cium pelut bunda."
Davin yang gemas dengan Cristi Langsung mengecup pipi gembul nya. Ia lalu membawa Cristi menghadap perut Rein. "Halo dedek-dedek bayi, ini kakak Clisti. Nanti kalau kalian lahil kita main sama-sama ya. Bye-bye dedek. Muach..." Satu kecupan sayang Cristi berikan pada perut Rein setelah mengobrol dengan mereka.
"Halo juga kakak cantik, nanti kalau kami lahir kita main sama-sama ya. Bye bye kakak." Rein menirukan suara anak kecil membuat Cristi tertawa kecil.
"Haha bunda lucu sekali." ucap nya.
Rein dan Davin langsung mengecup sayang pipi Cristi. Ah mereka seperti memiliki seorang putri kecil. "Semoga baby di dalam perut ada yang perempuan, Amin." gumam Rein setelah melihat Davin yang sangat akrab dengan Cristi. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Davin saat memilki seorang putri lagi.
"Oke Daddy, bunda. Bye-bye."
"Bunda, Daddy. Terimakasih sudah jadi Olang tua yang baik buat Clisti. Clisti senang akhirnya bisa melasakan punya Olang tua."
Davin dan Rein mengangguk sambil tersenyum gemas pada Cristi yang berada di gendongan Bunda Lela.
"Bye semua nya, sampai jumpa lagi." Anak-anak yang ada disitu, melambaikan tangan nya setelah melihat mobil Rein dan Davin berlalu dari sana.
***
"Cristi gemesin banget mas. Pengen rasanya bawa dia pulang sama kita." ujar Rein sambil menatap Davin.
"Haha sama, mas juga gemes sama dia. Nanti kapan-kapan lagi, kita main ke sana, ajak Ami juga. Pasti dia senang."
"Iya mas."
__ADS_1
"Sayang, mau belanja sekarang atau besok aja?" tanya Davin.
"Sekarang aja mas."
"Nggak capek emangnya?" tanya Davin, pasal nya Rein tidak ada istirahat sama sekali.
Rein menggeleng. Ia sangat excited bermain bersama anak-anak tadi. "Nggak mas." Davin hanya mengangguk mengiyakan.
Mobil yang di kendarai Davin berhenti di parkiran. Kedua nya turun lalu Davin merangkul pinggang Rein mesra. Mall untung saja belum tutup.
Kedua nya memasuki toko baju, Rein berkeliling di ikuti Davin di belakang nya. Beberapa baju seperti daster kaos oblong dan celana tentu ukuran nya lebih besar Rein beli.
Paper bag di tangan Davin sudah sangat banyak. "Sayang, kamu masih mau belanja lagi?" tanya Davin sambil menunjukan paper bag yang ada di tangan nya.
Rein terkekeh kecil, sambil menggeleng. Ia tak sadar belanjaan nya ternyata sudah banyak. "Sudah mas. Sudah banyak." ucap nya.
Davin tidak mempermasalahkan Rein ingin memborong semua nya, yang ia khawatir kan adalah bagaimana jika ia kecapaian. "Sekarang kita pulang?" tanya nya.
Rein mengangguk. Melewati tokoh baju untuk bayi. Rein melihat sepasang baju bayi yang sangat bagus. Ia segera menahan tangan Davin yang akan segera pergi.
"Mas Davin, kita masuk dulu Sebentar ke situ." ucap nya sedikit memohon.
"Mau ngapain sayang?" tanya nya dengan sabar.
"Sebentar aja, pliss." ucap nya memohon.
Akhirnya Davin mengangguk, ia segera mengikuti Rein ke dalam tokoh peralatan bayi. Tak lama Rein kembali dengan sebuah paper bag biru di tangan nya.
"Kamu beli apa sayang?" tanya Davin.
"Beli baju sama sepatu bayi. Soal nya lucu gitu." ujar nya dengan wajah gemes, membuat Davin tak tega jika ingin marah.
"Ya sudah, sekarang kita pulang."
Kedua nya langsung beranjak untuk pulang. Kunjungan ke rumah wanita yang Davin temui di jalan itu tak jadi, karena Rein membutuhkan istirahat.
***
__ADS_1
Selamat membaca. Semoga suka ya ๐ค