
Tak terasa kini usia kehamilan Rein sudah memasuki bulan terakhir. Banyak hal yang ia alami selama kehamilan nya. Mulai dari morning sickness yang sangat membuat nya tersiksa, ngidam yang aneh-aneh hingga membuat semua orang mengusap dada sabar dan kini tiba waktunya ia menunggu hari untuk bersalin. Melahirkan ketiga buah hati nya yang sangat-sangat di nantikan semua orang.
Memasuki bulan terakhir, Rein pun sekarang sulit untuk bergerak. Tubuh yang berubah drastis menjadi gemuk, sering membuat nya mengeluh. Melakukan hal kecil pun sekarang ia membutuhkan bantuan.
Untung saja Davin dan Ami berperan sebagai calon ayah dan kakak yang sangat siaga. Kedua nya selalu ada di dekat Rein, kalau-kalau wanita itu membutuhkan sesuatu.
"Bun, kaki nya bengkak banget ya?" ujar Ami. Ia saat ini duduk di karpet dan menghadap Rein yang sedang bersandar di sofa. Ia meneliti kaki Rein yang sangat besar, karena kehamilan nya.
Rein hanya mengangguk sambil mengarahkan kipas angin kecil yang ia pegang untuk menghadap wajah nya. "Iya. Kamu juga pasti gitu, kalau hamil nanti." ucap Rein membuat Ami mengangguk mengerti.
"Ini sayang buah nya." Rein menerima potongan buah yang Davin sodorkan.
"Makasih mas." Davin mengangguk sambil tersenyum kecil. Tangan nya bergerak mengusap pelan perut besar Rein.
"Ya gitu, enak banget hehe." Ucap Rein Ketika tangan Ami dengan lincah nya memijat kaki nya hingga betis. Ami mengangguk senang saat Rein menyukai pijatan nya.
Ami terkadang merasa kasihan pada sang bunda yang terlihat kesusahan jika berjalan. Berdiri saja bahkan ia perlu bantuan.
"Sayang, cecar aja ya?" ucap Davin tiba-tiba. Ia masih setia memainkan jari-jarinya di perut Rein.
Pria itu akan tersenyum saat anak-anak nya merespon melalui sebuah gerakan kecil.
Rein langsung meletakkan buah yang hendak ia makan ke dalam mangkuk. Ia melihat Davin yang tak menatap nya sama sekali.
Rein paham akan kekhawatiran sang suami. Ia tak ingin kehilangan untuk kedua kali nya.
Dari awal memasuki bulan terakhir, Davin sudah mewanti-wanti sang istri agar persalinan nanti cecar saja. Ia tak ingin mengambil resiko. Setiap ingin tidur, Davin akan membujuk Rein agar persalinan nanti cecar saja.
"Mas Davin percaya sama aku. Semua pasti baik-baik aja." ujar nya menenangkan.
"Bun mending cecar aja. Kita nggak mau terjadi apa-apa sama bunda." tambah Ami. Ia sangat mengerti kekhawatiran sang ayah.
"Waktu konsultasi sama dokter, kata nya boleh normal." ujar Rein. Ia sangat ingin melahirkan secara normal. Ya walaupun cecar dan normal itu sama saja.
Rein dan Davin juga waktu itu mengikuti kelas kehamilan. Ia mempelajari banyak hal di sana. Meskipun Davin berpengalaman karena sudah mempunyai seorang putri, namun ia tetap ingin mempelajari banyak hal, apalagi mereka akan mendapatkan bayi kembar, jadi kedua nya sama-sama belajar.
"Ya sudah, mau cecar atau normal yang penting janji kamu akan baik-baik aja. Aku nggak mau kehilangan lagi." Davin memeluk Rein, menyembunyikan wajah nya di potongan leher sang istri.
***
__ADS_1
Kebutuhan baby triple sudah di persiapkan oleh Davin dan Rein. Saat usia kandungan Rein memasuki bulan ke 8, ia dan sang suami serta Ami yang tak mau ketinggalan pergi berbelanja semua keperluan baby triple. Rein juga memesan baju-baju dan keperluan bayi lain nya secara online yang belum sempat mereka beli.
Saat ini Davin dan Ami tengah mempersiapkan keperluan untuk persalinan Rein nanti. Mulai dari daster yang mempunyai kancing depan agar menyusui nanti Rein tidak kesulitan, selimut, dan lain-lain nya. Keperluan ketiga baby juga tak ketinggalan.
Rencana nya mereka akan menginap di rumah sakit hingga persalinan yang akan di lakukan beberapa hari lagi. Awal nya Rein menolak, namun akhirnya ia mengiyakan setelah Davin memohon pada nya agar menginap dengan alasan ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Rein dan ketiga bayi mereka.
Akhirnya setelah 2 jam packing atas instruksi Rein, Davin dan Ami duduk sambil bersandar di sofa. "Banyak banget sampai 3 koper." celetuk Ami tiba-tiba. Ia baru menyadari ternyata sebanyak itu pakaian yang harus di bawa.
Davin dan Rein mengangguk membenarkan. Tiba-tiba Rein memegang perut nya yang terasa sakit. Sudah beberapa hari ini ia mengalami kontraksi palsu. "Mash Davin..." pekik nya sambil memejamkan mata.
Davin dan Ami langsung bergegas menuju Rein yang duduk di atas kasur sambil menutup matanya. Meskipun mereka pernah melihat Rein kontraksi namun tetap saja kedua nya panik.
"Tenang sayang. Mana yang sakit?" tanya Davin sambil memegang tangan Rein yang mencengkram erat telapak nya.
"Tarik nafas Bun, tarik nafas." ujar Ami. Rein segera mengikuti saran Ami.
Davin membantu Rein berdiri sambil berjalan di sekitar kamar dengan perlahan. Rein menumpukan kepala nya di dada Davin. Posisi kedua nya Rein berdiri di hadapan Davin sambil memeluk sang suami.
Davin mengusap-ngusap pinggang Rein. Kini sang istri sudah lebih tenang.
***
Wajah tua nya tampak bahagia, sebentar lagi ia akan bertemu dengan cicit-cicit nya. "Kakek dari kapan ke sini?" tanya Rein yang sedang duduk di sofa bersebelahan dengan Abijar.
"2 Hari lalu. Kakek sengaja pulang ke sini, mau lihat cicit-cicit kakek." ujar nya Abijar sambil membelai rambut Rein yang di sanggul.
"Oh gitu." Kedua nya membicarakan banyak hal, sembari menunggu Davin dan Ami yang sedang mencari makan.
"Waktu persalinan nanti kamu jangan panik. Banyak berdoa, semoga di lancarkan semua nya. Kakek janji, nanti bawa mamah kamu ke sini." ucap Abijar panjang lebar.
Rein langsung menatap sang kakek. Dalam hati nya ia memang berharap agar sang ibu datang di saat persalinan nya dan mendukung nya. Namun, Rein tidak terlalu berharap, takut nya ia malah sakit hati sendiri.
***
8 Maret XX
Hari yang di tunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Rein sedang berada di dalam ruangan nya. Di temani Davin, Ami, Abijar, Ani dan sang suami serta Alex, Keyla yang tak ketinggalan juga serta Reni dan Jeffry.
Rein mengusap air matanya saat Ani, Aldrich, Alex dan Keyla memberikan nya semangat. "Semangat ya sayang. Sebentar lagi kamu akan bertemu dengan ketiga buah hati kamu. Nanti saat persalinan jangan panik, tetap berdoa dalam hati, minta pertolongan sama Tuhan." ujar Ani sambil mengelus tangan Rein.
__ADS_1
"Iya mah. Makasih." Ani memeluk Rein sambil mengusap-ngusap rambut menantu nya itu.
"Sama-sama sayang."
Aldrich mengusap rambut Rein dan menatap menantu nya hangat. "Papah berdoa semoga semua nya di lancarkan. Kamu dan baby triple sehat-sehat semua." semua yang ada disitu mengaminkan ucapan Aldrich.
"Amin. Makasih pah."
"Semangat kakak ipar. Kami sudah nggak sabar nunggu baby triple." Alex dan Keyla berucap sama-sama. Rein mengangguk lalu berterima kasih pada kedua nya.
Ami dan Abijar pun datang lalu memberikan semangat pada Rein, meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. "Makasih kek, makasih sayang." ucap Rein pada keduanya. Kedua nya pun bergantian memeluk Rein.
Davin menggenggam tangan Rein sambil mengusap nya lembut. "Sayang kamu nggak boleh setress berlebihan, ingat kata dokter." ucap Davin pelan pada sang istri.
Kini guliran Jeffry dan Reni. Kedua nya mendatangi Rein yang mengelus perut nya sambil menatap Davin. Suasana seketika canggung.
Ani dan Aldrich serta Ami dan Abijar memilih untuk keluar dari ruangan. Memberikan waktu pada ayah, ibu dan anak itu untuk menyelesaikan yang perlu di selesaikan.
"Gimana kondisi kamu?" Jeffry memecahkan keheningan yang terjadi. Rein menoleh lalu menatap seorang pria paruh baya yang dulu sangat ia sayangi.
"Baik." jawab Rein sekenanya.
Keheningan kembali terjadi. Davin berdehem pelan, sambil menatap sang istri.
"Kamu jangan khawatir, semua pasti baik-baik aja." Reni tiba-tiba berucap membuat ketiga nya menoleh padanya.
"Iya, amin."
"Kamu pasti bisa. Mamah percaya, putri mamah ini pasti bisa menyelesaikan tugas nya sebagai seorang wanita. Mamah mau kamu tetap baik-baik aja demi suami kamu, anak-anak kamu dan keluarga kamu." selepas mengatakan itu, Reni mengecup kening Rein lalu memeluk putri nya itu.
Air mata Rein turun begitu saja mendengar ucapan sang ibu. Ia bisa merasakan ketulusan ucapan yang keluar dari mulut sang ibu. "Terimakasih mah." ucap nya parau.
Davin mengelus rambut Rein, dan mencoba menenangkan sang istri. Rein sangat terharu, ini salah satu mimpi nya. Bisa berbaikan dengan kedua orang tua nya serta mereka menyemangatinya. Menunggu nya menyelesaikan tugas nya sebagai seorang wanita.
***
Semoga suka...
Maaf ya lama nggak update, hp ku rusak beberapa hari lalu dan baru ada mood untuk nulis lagi.
__ADS_1
Selamat membaca ❤️