
Kehamilan Rein sudah 1 bulan, ia sudah memasuki fase mengidam. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 01.00 malam. Davin sudah tertidur nyenyak di sebelah nya, bahkan terdengar suara dengkuran.
Rein bangun lalu duduk sambil menoleh menatap suami nya. "Suami..." Rein mengguncang pelan lengan Davin namun Davin enggan membuka mata.
"Ayo mas bangun dulu..." Sekitar 10 menit kemudian, akhir nya Davin terbangun dengan wajah kantuk nya.
"Hoam! Kenapa sayang?" tanya nya sambil menguap. Rein menatap Davin berbinar, ia menunjukkan puppy eyes nya membuat Davin mengernyitkan dahi nya bingung.
"Kamu kenapa hm?" tanya nya ulang, setelah melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 1 malam.
"Mas baby twins lagi pengen sesuatu deh." ujar Rein sambil menatap Davin berbinar. Mendengar itu Davin langsung menatap Rein senang.
"Baby twins pengen apa sayang?" tanya nya antusias.
"Pengen makan mie ayam. Tapi..."
"Tapi?" tanya Davin penasaran.
"Pengen papah sama kakek yang buat." celetuk Rein tanpa beban. Ia menunjukkan puppy eyes nya pada Davin membuat sang suami tersenyum kaku.
"Tapi ini sudah malam sayang. Besok aja gimana?" tanya Davin. Masalah nya, Abijar dan Aldrich pasti sudah tertidur dan yang lebih parahnya kedua pria itu tidak ada yang bisa memasak.
Raut wajah Rein langsung berubah murung. "Tapi baby twins nya pengen makan sekarang mas." ujar nya sambil mengelus perut rata nya dengan mimik sedih.
Davin mengusap wajah nya kemudian menatap Rein. "Ya sudah, tunggu sebentar ya aku bangunin mereka dulu."
"Aku ikut." Davin dengan sigap memegang tangan Rein untuk menuruni kasur.
Kedua pasangan suami istri itu berjalan pelan menuju Keluar. Untung saja Abijar masih tinggal di rumah mereka dan tidak kembali ke rumah nya.
Setelah sampai di kamar tamu, atau kamar yang di tempati oleh Abijar. Davin segera mengetuk pintu. "Kek, bangun. Ini Rein." itu Rein yang bersuara membuat Davin tersenyum gemas pada Sang istri.
Sudah sekitar 10 menit, namun Abijar belum juga membuka pintu. "Kok lama banget kakek buka pintu nya?" tanya Rein sudah tak sabar.
"Sabar sayang. Ini kan sudah tengah malam, pasti kakek udah tidur." Davin dengan sabar membujuk sang istri agar sabar. Davin dengan perhatian mengambil sebuah kursi agar Rein tidak terlalu banyak berdiri.
"Duduk aja ya, biar aku yang panggil." Ujar nya membuat Rein tersenyum bahagia.
"Makasih Suami ku." balas nya mesra.
***
__ADS_1
Setelah memakaikan Rein jaket agar Tak kedinginan, Davin langsung menggandeng tangan Rein untuk berjalan menuju rumah kedua orang tua nya.
"Gelap ya di luar." gumam Rein yang masih bisa di dengar Davin.
"Kan sudah malam, makanya gelap. Kamu takut?" tanya Davin sambil merangkul mesra Rein.
Rein menggeleng sambil menatap Davin. "Nggaklah. Aku kan pemberani."
Namun setelah mengatakan itu, Rein memekik kecil saat sebuah kucing hitam bersuara di sebelah nya. Davin dengan sigap memeluk Rein yang ada di pelukan nya. "Tadi katanya pemberani?" tanya Davin sambil tertawa.
"Kaget tau." gumam nya kesal.
Setelah sampai di depan rumah kedua orang tua nya, Davin langsung menekan bel rumah. "Kira-kira mereka mamah bangun nggak ya?" tanya Rein sambil membenarkan jaket nya ketika hawa dingin menusuk kulitnya.
"Kurang tau juga. Kita tunggu sebentar ya." ujar Davin dengan sabar.
Rein mengangguk sambil memeluk lengan berotot Davin. "Lama banget mas, aku ngantuk." ujar Rein.
Setelah 20 menit kemudian, akhir nya Ani dan Aldrich muncul dengan wajah kantuk mereka. "Kalian ngapain malam-malam ke sini?" tanya Ani heran.
"Baby twins pengen makan mie ayam buatan kakek nya, mah." Ujar Rein antusias menatap Ani dan Aldrich.
"Iya mah. Papah mau kan buatin mie ayam?" tanya Rein pada Aldrich, Tak lupa ia menunjukkan puppy eyes nya, membuat ketiga nya saling lirik.
"Kalau mamah terserah papah kamu." ujar Ani sambil mengelus rambut Rein.
Aldrich yang menjadi tersangka, hanya bisa mengangguk pasrah. "Mah." rengek nya pada Ani.
"Nanti mamah bantu." ujar Ani tapi langsung di hentikan oleh Rein.
"Nggak boleh di bantu. Baby twins mau nya papah yang masak sendiri. Tadi nya kakek Abijar juga harus ikut masak, tapi di bangunin nggak bangun-bangun ya sudah papah aja yang masak." jelas Rein panjang lebar.
Aldrich menelan ludah pasrah. "Istri kamu beneran ngidam?" tanya nya pelan.
Davin mengangguk membenarkan. "Iya pah. Emang kenapa sih, papah kaya takut banget?" tanya Davin pelan.
"Papah dulu pernah masak juga, karena mamah kamu ngidam. Dan rumah kita hampir aja kebakaran gara-gara papah." jelas Aldrich membuat Davin tertawa.
"Kalian kenapa?" tanya Rein heran. Ia sedari tadi memperhatikan Davin dan sang papah yang bisik-bisik.
"Ayo sayang kita masuk." ajak Ani pada menantu nya. Meninggalkan Davin dan Aldrich yang meratapi nasib nya.
__ADS_1
"Semangat pah. Demi cucu papah." ujar Davin menyemangati sang ayah.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Namun mie ayam nya belum jadi-jadi. Karena lama menunggu, Akhir nya Rein tertidur di meja makan dengan tangan yang masih memegang sendok dan garpu.
Davin dengan sigap mengambil sendok dan garpu itu dari tangan Rein sambil tertawa kecil. "Gemesin banget sih, sayang."
Kemudian Davin mengangkat sang istri dalam gendongan nya lalu membawa Rein menuju kamar milik dia di kediaman orang tua nya. "Mah, aku bawa istri ku ke kamar dulu. Mumpung dia tidur, mamah Bantu papah aja." usul Davin yang langsung di angguki Ani.
"Iya. Pelan-pelan naik tangga nya." pesan Ani membuat Davin mengangguk.
Setelah melihat Davin yang membopong tubuh istri nya menghilang di balik pintu, Ani langsung bergegas menuju dapur.
"Sudah belum mas?" tanya Ani pada Aldrich yang sedang memotong 2 ikat sawi hijau.
"Sedikit lagi sayang." jawab nya dengan mimik serius sambil memotong sawi. Ani tersenyum melihat suami nya yang terlihat bekerja keras untuk membuat mie ayam dengan melihat tutorial dari YouTube.
"Dimana mereka?" tanya Al.
"Rein sudah tidur, jadi Davin bawa dia ke kamar." Aldrich Langsung menatap istri nya.
"Kalau gitu, ngapain buat ini sayang?" tanya Aldrich sambil menunjuk mie ayam buatan nya.
"Buat aja sayang. Pasti besok di cariin sama Rein mie ayam nya." ucap Ani.
Setelah itu tidak ada obrolan lagi. Ani membantu Aldrich membuat mie ayam hingga selesai. "Enak banget." ucap Ani ketika mencoba nya.
"Siapa dulu yang buat." ujar nya sombong.
"Untung nggak kebakaran lagi dapur rumah ini." celetuk Ani membuat Aldrich tertawa kecil.
"Nggak akan lagi sayang. Makasih ya sudah bantu." Al mengecup bibir Ani lalu memeluk istri nya itu.
Sementara itu, di dalam kamar Rein tertidur pulas. Davin memandang wajah sang istri yang terlihat sangat cantik di matanya. "Kasian banget sih, nunggu mie ayam nya sampai ketiduran." ia mengelus pipi Rein lalu beralih menatap perut yang sudah terlihat menonjol kecil.
"Anak-anak Daddy selalu sehat ya di perut bunda. Daddy sayang kalian." Davin mengecup perut Rein lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh istri nya. Ia berbaring di sebelah Rein lalu menarik Rein pelan dalam pelukan nya.
***
Makasih sudah baca, jangannn lupa tinggalkan jejak.
__ADS_1