Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku

Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku
Bab 69. Keusilan Davin


__ADS_3

Rein saat ini sedang menyusui anak pertama nya. Rasanya sedikit geli saat anak nya menghisap buah dada nya dengan kencang. "Anak bunda nyusu nya kuat banget." ujar nya sambil mengelus pipi merah sang buah hati.


"Sakit sayang?" tanya Davin saat melihat Rein meringis.


Rein menggeleng sambil menatap Davin. "Geli sedikit mas, Belum terbiasa." Davin mengulum senyum sambil menatap Rein menggoda.


"Bukan nya udah sering di isap, yank?" goda nya.


Rein melotot mendengar ucapan sang suami. Wajah nya memerah malu. "Mas Davin, jangan gitu. Anak-anak nanti dengar."


Tangisan jagoan kedua nya membuat Davin dan Rein langsung menatap ke arah keranjang bayi. "Abang gantian ya, sama adik kamu." ucap Rein sambil melepaskan hisapannya.


Bayi pertama nya langsung tertidur dengan tenang. Davin dengan perlahan mengangkat anak pertama nya dan di letakan di keranjang bayi. Ia lalu memindahkan anak kedua nya untuk di berikan ASI.


Seketika tangisan nya berhenti saat sumber kehidupan nya mengalir dalam mulut nya. Bayi mungil itu menghisap dengan cepat, membuat ringisan terdengar. Apakah anak laki-laki memang begitu?


Ternyata lelah juga menjadi seorang ibu, padahal baru beberapa jam. ujar Rein dalam hati. Namun ia menikmati peran baru nya.


***


Sudah sekitar 3 hari Rein berada di rumah sakit. Kini Rein dan ketiga bayi nya sudah boleh pulang. Davin dan Ami sedang merapikan pakaian-pakaian yang mereka bawa dalam koper.


Rein duduk di sofa sambil menyusui putri kecil nya. Sesekali ia akan menatap ayah dan anak itu. "Belum selesai?" tanya Rein. Ia tidak di perbolehkan membantu sama sekali oleh kedua nya.


"Sedikit lagi Bun. Bunda perlu sesuatu?" tanya Ami sambil melirik wanita yang kini berstatus ibu nya.


Rein menggeleng pelan. Ia tak membutuhkan apapun saat ini.


Tak lama Kemudian, acara packing pun selesai. Bertepatan dengan itu, Kedua orang tua Davin memasuki kamar rawat menantu mereka.


"Pagi semua nya." sapa Ani semangat. Ia menggandeng tangan sang suami menuju Rein yang duduk anteng di sofa.


"Pagi pah, mah." sapa Balik Rein dan Davin bersamaan.

__ADS_1


"Anak kamu mana, Vin?" tanya Ani saat tidak melihat kehadiran Ami.


"Oma nyari aku? Kangen ya?" Ami yang baru selesai dari kamar mandi, menjawab sambil terkikik kecil.


"Ada-ada aja kamu. Oma kira kamu kemana." jawab Ani.


"Kalian sudah siap?" tanya Aldrich yang sedari tadi diam.


"Sudah pah." Davin menjawab sambil menunjuk koper-koper yang sudah mereka bereskan.


"Ya sudah kita langsung pulang saja. Habis ini papah masih ada kerjaan."


Mereka langsung mengangguk mengerti. Aldrich dan Ani memang menyempatkan untuk menjemput Baby triple sebelum menghadiri sebuah acara yang di adakan oleh rekan kerja nya.


Davin dan Aldrich kebagian membawa koper-koper. Sedangkan Rein ia menggendong putri nya, Ani menggendong cucu kedua dan Ami ia kebagian menggendong Adik ketiga nya.


Tentu saja mereka menjadi pusat perhatian oleh beberapa orang yang ada di rumah sakit. Selain karna banyak nya barang bawaan, Baby triple juga menjadi pusat perhatian.


***


"Anak-anak Daddy tidur Mulu, ngantuk banget ya?" tanya nya sambil menoel-noel pipi sang putra.


"Mas, anak nya jangan di gangguin. Kalau bangun mas tanggung jawab loh." Davin hanya melirik istri nya dan kembali mengganggu tidur anak-anak nya.


Sekarang tdiak hanya menoel pipi ketiga nya, Davin juga sudah mencubit pelan pipi merah itu. Hingga tangisan kencang putri kecil nya membuat ia tersentak kaget.


"Eh..eh Daddy minta maaf sayang." Davin dengan panik langsung menepuk-nepuk kecil area paha sang anak agar kembali tertidur.


Rein yang sedang mengganti baju menghela nafas panjang. "Sudah di kasih tau, tapi nggak dengar." gumam nya.


Bayi kecil itu tidak berhenti menangis, meskipun Davin sudah menggendong nya. Malahan Putra ketiga nya, ikut terbangun dan menangis. Jadi lah Davin yang kelabakan.


"Sayang, bantuin?" ujar pada Rein yang baru saja keluar.

__ADS_1


Karena merasa kasihan, Rein langsung mengambil putri nya lalu duduk di kasur agar lebih mudah menyusui nya. "Makanya mas jangan ganggu mereka."


Davin dengan wajah menyesal nya hanya mengangguk. Ia mengaku salah, tapi semua ini tidak sepenuhnya salah dirinya bukan. Salahkan saja baby triple yang terlalu menggemaskan.


"Iya iya maaf sayang. Mereka gemesin banget sih." ujar nya dengan kekehan kecil.


Putri kecil nya sudah tertidur. Rein dengan perlahan meletakan nya di keranjang bayi. Sekarang giliran putra ketiga nya yang harus di berikan ASI. Davin dengan sigap langsung meletakkan putra nya yang sudah lebih tenang dia atas pangkuan Rein.


"Sayang aku juga mau." Davin berseru pelan dengan mata yang tertuju pada buah dada Rein yang kini menjadi sumber kehidupan anak-anak nya.


Rein langsung melirik suami nya. "Nggak boleh mas, ini buat anak-anak." ujar nya pelan.


"Kan ada dua sayang. Aku satu nya." ujar Davin memelas. Karena gemas melihat anak nya yang menyedot dengan cepat, ia dengan iseng nya menarik buah dada Rein sehingga terlepas dari mulut sang bayi.


Baby S atau putra ketiga nya yang tidak merasakan ASI dari sang ibu, menggeliat dengan mata yang masih tertutup. Rein lagi-lagi menghela nafas, melihat kelakuan suami nya ini. Padahal kan anak nya sebentar lagi akan tertidur.


"Mas Davin, jangan ganggu. Baby S sebentar lagi mau tidur." ujar nya memelas.


Davin dengan wajah tak berdosa nya hanya cengengesan. "Lagian lucu banget sayang." Ia pun tak mau kalah. Akhir nya Rein memukul tangan Davin yang akan kembali berulah membangunkan sang buah hati.


"Diam mas." Davin memutar mata malas. Ia langsung merebahkan tubuhnya lalu memeluk Rein menyamping.


"Makasih sayang. Kamu sudah tepatin janji kamu." gumam nya kecil namun masih bisa di dengar Rein.


Entah sudah berapa kali Davin mengatakan itu. "Iya mas. Makasih juga sudah jadi suami dan Daddy yang siaga."


Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus. Rein melirik suami nya yang sudah tertidur. Ia tersenyum tipis. Ia lalu membiarkan sang suami agar beristirahat. Karena di rumah sakit suami nya sudah cukup begadang menjaga buah hati nya yang kadang bangun tengah malam.


"Terimakasih sudah jadi suami dan Daddy terbaik sayang."


Rein dengan perlahan mengangkat tangan Davin, lalu ia menuruni kasur dan berjalan menuju keranjang bayi. Dengan perlahan ia menidurkan baby S perlahan di sebelah adik dan kakak nya.


"Sehat-sehat anak-anak bunda. Terimakasih sudah hadir dan melengkapi kehidupan bunda, Daddy kakak dan yang lain nya." Kecupan manis Rein layangkan pada ketiga nya.

__ADS_1


__ADS_2