Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku

Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku
Bab 37. Perkara tamu bulanan


__ADS_3

Jantung kedua nya berdegup kencang. Bahkan kedua nya bisa merasakan debaran itu satu sama lain. Davin melepaskan pelukannya lalu menatap penuh cinta pada Rein, yang kini berstatus tunangan nya.


"Makasih sayang. Makasih sudah mau terima aku apa adanya." gumam nya yang hanya bisa di dengar oleh Rein seorang. Hanya kata-kata itulah yang mampu Davin ucapkan, ia tidak tahu bagaimana ia berterimakasih pada Rein karena sudah mau menerima nya.


"Sama-sama mas. Rein juga makasih buat semua rasa sayang, cinta dan rasa aman yang selalu mas kasih untuk Rein." Rein bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang baik seperti Ami, Davin dan keluarga nya. Ia hanya orang luar yang beruntung bisa mendapatkan cinta dari mereka.


"Ciee yang di terima..." Rein dan Davin langsung menoleh dan mendapati Ami yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Selamat Daddy, and selamat Rein yang akan naik level jadi bunda Rein." ucap Ami bahagia sambil memeluk mereka.


"Thank you Mi." ucap Rein.


"Thank you sayang." Davin memeluk erat Ami. "Seneng nggak, Sebentar lagi kamu punya bunda?" tanya Davin sambil mengelus rambut Ami.


"Seneng lah dad. Nanti buatin Ami adik banyak-banyak ya!." pesan Ami sambil terkikik geli, apalagi wajah Rein yang langsung memerah.


"Itu pasti." Jawab Davin semangat.


***


"Jadi kalian rencana menikah nya kapan?" Aldrich bertanya sambil memakan daging yang baru saja ia potong kecil-kecil.


"1 bulan lagi pah." Davin menjawab dengan sangat santai.


"Hah? 1 bulan lagi? Nggak kecepatan mas?" tanya Rein yang masih terkejut.


"Nggak dong sayang. Lebih cepat lebih baik." Jawab nya sambil menatap Rein penuh cinta.


Aldrich dan Ani hanya mengangguk mengiyakan. Memang secepatnya Mereka harus menikah, selain menghindar dari dosa mereka juga sudah ingin menggendong cucu. Sayang sekali, Ami sudah tumbuh besar tanpa campur tangan mereka.


"Kalau perlu bantuan, nanti kabarin papah atau mamah kamu."


"Iya pah siap. Nanti kalau Davin butuh bantuan pasti Davin kasih tahu."


Aldo beserta keluarga nya yang hadir di situ ikut merasakan kebahagiaan yang di rasakan oleh Rein dan Davin.


Aldo menopang tangan nya di atas meja, ia tengah memikirkan kapan ia akan menikahi sang kekasih. "Apa aku nikah nya setelah calon mertua aku nikah?" gumam nya pelan. Tak sadar ia tersenyum kecil, di tengah lamunannya.


"Aldo kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya sang ibu sambil menatap nya heran. Lantas semua pasang mata yang ada di meja itu langsung menatap dirinya.


"Hehe nggak papa bu, Aldo lagi nggak mikirin apa-apa kok." elak nya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.


Obrolan terasa hangat, mereka saling berbagi cerita. Hingga jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. "Jeng, kami balik duluan ya, ini sudah larut." Pamit ibu Aldo pada Ani sambil cipika-cipiki.


"Iya jeng. Hati-hati di jalan. Kapan-kapan datang ke rumah ya."


"Nanti saya kabarin kalau ada waktu senggang."

__ADS_1


Ani dan Al mengangguk, Aldo juga berpamitan pada sang kekasih, untuk pulang karena ia yang menyetir tadi.


"Selamat sekali lagi buat Ami sama Rein. Kami pulang duluan ya" Ucap ibu Aldo pada Ami dan Rein.


"Iya Tante makasih."


"Hati-hati di jalan tan."


***


Matahari perlahan menunjukan cahaya nya, jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi namun Rein masih bergelut di atas kasur nya.


Wajah nya tampak pucat, kadang juga ringisan kecil terdengar. "S-sakit.." ringis nya pelan dengan mata yang terpejam.


Tangan nya terulur ke bagian perut bawah dan mengelus nya. "Mas Davin." gumam nya memanggil calon suami nya.


Pagi ini seperti nya Rein kedatangan tamu bulanan. Entah kenapa kali ini sangat sakit, padahal biasa nya tidak sesakit ini.


Dengan mengumpulkan kekuatan nya, Rein mencoba berdiri dan melangkah menuju kamar mandi. Saat sudah berdiri Rein melangkah dengan pelan karena nyeri yang terasa sangat sakit.


Beberapa menit kemudian setelah membersihkan diri dengan air hangat, Rein keluar dengan perlahan.


Matanya menangkap noda merah yang sangat jelas di atas kasur nya. Gumaman terdengar di ikuti langkah kaki nya yang berjalan dengan perlahan menuju ke sana.


Ia dengan cepat membuka spray berwarna putih itu lalu menyimpan nya di keranjang cucian. Setelah itu ia melangkah menuju lemari lalu mengeluarkan spray berwarna gelap.


Rein merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia meringkuk sambil memegang perut nya yang terasa sakit.


"Sayang?" Suara Davin terdengar di luar pintu.


"Masuk mas." jawab Rein dengan suara pelan.


Air matanya mengalir karena sakit yang ia rasakan.


Posisi nya sekarang agak menungging, kepala nya ia tenggelam kan di kasur dengan tangan yang meremas perut nya pelan untuk meredakan sakit.


"Kamu kenapa?" panik Davin.


"Hmm..."Hanya gumaman yang Davin dengar, membuat nya semakin panik.


"Sayang, kamu sakit? Mana yang sakit?" Davin memegang tangan Rein yang terasa dingin.


"Bentar aku panggil mamah dulu." Davin berlalu dari sana dengan cepat untuk memanggil Ani. Padahal Rein ingin melarang namun terlambat karena Davin sudah berlalu.


***


"Mah...Mamah tolong!!" Davin pagi-pagi sudah membuat heboh di rumah kedua orang tua nya.

__ADS_1


Ia berteriak dari pintu depan hingga ke dalam rumah memanggil sang ibu. "Kenapa kak?" Keyla yang baru saja keluar dari dapur menatap heran sang kakak.


"Key, mana mamah?" tanya nya cepat.


"Itu di dapur, kenapa sih kak?" tanya Keyla bingung.


"Itu loh calon kakak ipar mu kesakitan di dalam kamar." jelas nya panik.


"Hah? Rein kenapa?" tanya Keyla ikutan panik.


"Nggak tau juga, makanya kakak nyariin mamah." ujar nya gemas pada sang adik.


Davin langsung berlalu dari sana mendatangi sang ibu yang sedang memasak di dapur. "Mah, tolong Davin!" Ani yang sedang menumis sayur terkejut mendengar suara Davin.


"Kamu kenapa sih, teriak pagi-pagi gini?" ujar nya sambil menatap Davin yang menyengir merasa bersalah.


"Itu mah, Rein kesakitan di kamar nya, Davin nggak tau harus gimana." ujar nya membuat Ani ikut panik. Takut jika calon menantu nya itu kenapa-kenapa.


"Aaa...Sakit mah, kenapa di jewer?" pekik Davin kaget, saat Ani tiba-tiba menjewer nya.


"Ya kamu kenapa nggak bawa calon mantu mamah ke rumah sakit!" Omel Ani kesal.


Ia melepaskan jeweran nya lalu melangkah meninggalkan Davin yang masih diam karena terkejut mendengar Omelan sang ibu.


"Iya yah, kenapa tadi nggak langsung bawa ke rumah sakit." gumam nya sambil menggaruk kepalanya.


***


"Rein kenapa? Apa nya yang sakit, bilang ke tante?" tanya Ani khawatir saat baru tiba di depan kamar Rein. Ternyata Keyla juga sudah ada di sana.


"Rein nggak papa kok Tan. Cuma datang bulan aja, jadi sakit di bagian perut sama pinggang." jelas Rain cepat, saat melihat kekhwatiran di wajah Ani.


"Oh gitu. Sekarang udah baikan?" tanya Ani lagi. Wanita paruh baya itu sudah duduk di sebelah Rein sambil mengelus rambut nya.


"Sudah Tan, tadi kak Keyla bawain air hangat di botol buat kompres." Keyla yang di sebut mengangguk sambil menunjuk air yang ia pegang.


"Syukurlah. Tante kira kamu kenapa-kenapa. Davin juga heboh banget, kirain kamu sakit parah atau apa." jelas Ani dengan greget. Keyla tertawa mendengar ucapan sang ibu, berbeda dengan Rein yang merasa tak enak.


"Maaf Tan, jadi ngerepotin."


"Nggak papa sayang, kamu cepat sembuh ya. Nanti Tante buatin jamu."


Rein tersenyum kecil lalu mengangguk. "Makasih."


****


Hola semua, aku update lagi.

__ADS_1


Sorry ya udah 2 hari aku nggak update, aku ada kesibukan di rumah, jadi nggak sempat nulis. Maaf buat kalian nunggu.


Semoga suka bab ini, makasih semua ❤️Jangan lupa like dan vote, follow juga yaw hehehe...


__ADS_2