
Waktu berjalan dengan cepat, hari sudah kembali malam. Hiruk pikuk kota Jakarta seperti biasa selalu terjadi kemacetan, apalagi ini jam pulang kerja.
Davin hari ini menyetir sendiri. Setelah menangani beberapa urusan di luar kantor akhir nya ia pulang ke rumah. Kemacetan yang terjadi membuat nya harus menunggu dengan sabar.
Setelah sekitar 20 menit, Davin akhir nya bisa menjalankan mobil nya lagi. Suara klakson mobil terdengar sana-sini dari orang-orang yang mungkin sudah tak sabar lagi.
Saat ia melewati jalanan yang sepi, Davin melihat seorang wanita dengan perut besar nya sedang berjalan cepat sambil sesekali menoleh kebelakang.
Seketika Davin teringat akan Rein yang kini tengah hamil juga. Apakah perut rata istrinya akan besar seperti itu, pikir nya sambil tersenyum gemas.
Detik berikutnya wajah Davin langsung pucat ketika melihat wanita itu terjatuh. "Astaga.." ujar nya panik.
Davin segera menepikan mobilnya lalu keluar dan berlari ke arah wanita itu. "Ibu baik-baik saja?" tanya nya spontan.
Ringisan terdengar, gumaman-gumaman kecil terdengar dari mulut wanita itu. Entah membicarakan apa namun Davin bisa melihat bahwa wanita di hadapan nya ini sedang membutuhkan pertolongan.
"Mas, tolong bawa saya pergi dari sini?" ujar nya memohon pada Davin sambil memegang tangan Davin namun segera Davin lepaskan ketika mengingat wajah sang istri.
"Ibu nggak papa?" tanya Davin. Ia sedikit heran, mengapa ada wanita hamil yang keluar tengah malam begini.
"Ada yang ngikutin saya mas. Saya mohon bawa saya pergi dari sini." ujar nya lagi. Davin bingung, tidak mungkin kan jika dia membawa wanita itu menuju rumah utama. Namun jika tidak membawa kesana, kemana lagi harus ia bawa. Ah ia teringat dengan sebuah rumah yang dulu di tempati oleh art nya saat masih bersama Carissa.
Ia mengirim pesan pada seseorang lalu menoleh pada ibu itu.
"Ya sudah ibu ikut saya." ujak nya. Tak lupa Davin membantu wanita itu untuk berjalan menuju mobil dengan perlahan karena perut yang sudah semakin besar.
***
Suasana dalam mobil sangat hening, hanya terdengar suara mesin mobil saja. Davin maupun wanita itu tidak ada yang membuka suara.
Davin sebenarnya penasaran hendak kemana wanita ini malam-malam. Wanita hamil yang terlihat masih muda itu terlihat berantakan, dan Davin baru nyedari nya setelah ia membawa wanita itu dalam mobil.
"Saya sebenarnya kabur dari rumah, mas." Davin melirik wanita itu, ketika ia mulai bercerita dengan sendirinya.
"Saya nggak tahan dengan perlakuan suami saya yang suka seenaknya. Setiap hari saya harus menerima siksaan fisik maupun batin ketika dia kalah main judi. Harta benda kami habis dia jual semua untuk main judi, hingga puncak nya tadi sore dia pulang ke rumah lalu marah-marah karena kalah lagi. Dia minta uang sama saya, tapi saya nggak mau kasih karena itu uang yang saya tabung untuk biaya persalinan nanti." Wanita itu menghentikan ucapannya. Davin menoleh pada wanita itu. Matanya menangkap kedua tangan nya yang saling memilin kemudian mengelus perut besar nya.
"Karena saya nggak mau kasih uang, akhir nya dia mengancam saya untuk menghabisi darah daging nya sendiri. Saya saat itu takut sekali, ingin meminta bantuan tapi saya nggak punya keluarga di sini, kecuali keluarga suami tapi percuma karena mereka nggak pernah suka dengan saya. Dan akhirnya saya mencoba melarikan diri dari rumah, karena takut jika laki-laki itu akan menghabisi nyawa anak nya." air matanya mengalir tanpa sadar. Ingatan nya terputar jelas pada kejadian sore tadi.
__ADS_1
"Kenapa nggak di laporkan ke polisi?" tanya Davin. Menurut nya laki-laki itu sudah sangat keterlaluan, dan pantas untuk mendekam di penjara.
"Gimana mau melaporkan, saya saja kalau keluar rumah selalu di marahin habis-habisan, entah karena alasan apa saya pun tidak tahu." balas nya.
"Saya terimakasih banyak ke mas karena sudah bawa saya pergi." ucap nya lagi.
Davin hanya mengangguk mengiyakan. Tak lama kemudian kedua nya sampai di sebuah bangunan sederhana yang entah itu dimana. Davin mematikan mesin mobil lalu menoleh pada wanita itu.
"Sekarang ibu bisa tinggal di rumah ini." Ucap Davin pada wanita itu.
Wanita itu membulatkan matanya syok. Ia menatap rumah itu dan Davin bergantian. "B-buat saya?" tanya nya lagi.
"Iya untuk ibu. Ibu bisa mulai kehidupan ibu yang baru di sini dengan bahagia tanpa campur tangan suami ibu lagi."
Wanita itu terisak pelan, ia menoleh pada Davin yang sudah ia anggap sebagai seorang malaikat tak bersayap yang Tuhan kirim kan untuk nya dan buah hati nya.
"Terimakasih mas. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan mas."
"Saya cuma minta doa nya, buat istri saya yang lagi hamil." balas Davin.
"Ini sudah saya beli, besok mungkin akan ada orang yang ke sini untuk mengantarkan sertifikat rumah."
Setelah itu Davin berlalu masuk ke dalam mobil, ia harus segera pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Wanita itu menatap kepergian Davin dengan mengucap syukur. Bagi nya Davin sudah seperti seorang malaikat.
"Nak, ada orang baik hati yang sudah tolong kita." ucap nya sambil mengelus perut besar nya. Sebuah tendangan merespon ucapan nya membuat wanita itu tersenyum bahagia.
***
Sesampai nya di rumah Davin masuk ke dalam rumah. Lampu sudah di matikan hanya lampu hias yang berada di pojok ruangan yang menyala.
Tek
Lampu langsung menyala. Davin mundur karena terkejut saat seseorang memeluk nya dengan erat. "Lama banget pulang nya." gerutu seseorang siapa lagi jika bukan Rein.
Davin meringis melihat istri kecil nya. Karena menolong wanita tadi ia sampai lupa bahwa Rein masih menunggu nya.
Rein melirik tangan Davin kanan dan kiri. Ia mengerutkan keningnya saat sesuatu yang sudah ia tunggu-tunggu sedari tadi tidak terlihat di pandangan nya.
__ADS_1
"Mas...?" panggil nya, membuat Davin menatap Rein.
"Kenapa hm?" Ia mendongak lalu menyodorkan kedua tangan yang yang sudah ia buka.
"Mana martabak nya?" Tanya nya dengan wajah berbinar. Rein Sudah membayangkan martabak manis, dengan lelehan coklat membuat ia menelan ludah nya. Tunggu aku sayang, aku akan memakan mu hingga tak tersisa. pikir Rein Tak sabar.
Davin langsung membulat kan matanya. Bagaimana bisa ia melupakan pesanan bumil satu ini. Dengan ragu-ragu ia menatap Rein yang menyodorkan tangan nya tak sabar.
"Maaf sayang." ucap nya tak tega. Rein mengerutkan keningnya, ia kan meminta martabak pesanan nya kenapa malah di bilang maaf."
"Iya di maafkan. Sekarang mana martabak nya." Ucap Rein kesal karena lama sekali Davin memberikan nya.
Ia segera meraih tas Davin dan membuka nya, siapa tau Davin simpan di dalam tas kerja nya. "Kok nggak ada mas? Martabak nya mana?" tanya dengan wajah cemberut.
"Maaf sayang, aku lupa beli. Soal nya tadi-" Rein langsung berdiri cepat menghadap Davin.
"Kok bisa lupa? Mas sudah janji loh." ucap nya dengan wajah muram. Matanya berkaca-kaca menatap Davin yang kini terlihat panik.
Nafas Rein naik turun, bayangan lelehan coklat di padukan dengan rasa gurih itu seketika hilang dari pikiran nya ketika Davin mengatakan lupa.
"Maaf sayang, tadi ada-" Belum juga selesai menjelaskan, Rein sudah berlalu menuju kamar dengan cepat membuat Davin panik.
"Sayang mau kemana, pelan-pelan jalan nya?" ujar nya mengingat kan. Ia merutuki dirinya yang sudah melupakan pesanan bumil kesayangan nya.
Brak
Pintu tertutup dengan kencang. Untung saja Davin bisa mengerem jika tidak mungkin jidat paripurna nya membiru. Beberapa detik berikutnya, pintu terbuka menampakkan Rein yang membawa sebuah bantal dan selimut.
"Mas tidur di luar titik." ketus nya sambil memberikan bantal dan selimut.
Belum sempat protes pintu kembali tertutup. Davin menghela nafas, meratapi nasibnya yang sangat tidak bagus. Malam ini jatah meminum nutrisi langsung dari pabrik tertunda membuat nya kesal.
***
Semoga suka bab ini, jangan lupa tinggalkan jejak kalian...
Terimakasih semua nya💗🌤️
__ADS_1