Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku

Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku
Bab 61. Kejutan tak terduga


__ADS_3

Pagi pun tiba, sinar matahari mulai mengeluarkan cahaya nya. Embun-embun pagi menetes di dedaunan. Udara dingin terasa sangat menusuk kulit.


Rein dan Davin sudah berencana untuk olahraga pagi. Kini pasangan suami istri itu jalan santai di sekitar komplek perumahan.


Kedua nya bergandengan tangan menyusuri jalan yang terdapat beberapa orang yang juga berlalu lalang olahraga. "Mas, dulu juga suka jalan pagi sana mbak Carissa?" tanya Rein penasaran.


Davin menatap Rein. Tumben sekali istri nya ini membicarakan Carissa. Ia berpikir sebentar sebelum menjawab. "Cuma beberapa kali aja, emang kenapa hm?" tanya nya sambil mengelus pergelangan tangan Rein.


"Nggak papa." Jawab nya.


Rein menatap sekeliling taman yang ada di area komplek perumahan mereka. Hingga tatapan nya berhenti pada seorang paruh baya yang sedang berjualan.


Tangan nya dengan lincah meracik sesuatu yang terlihat enak di mata Rein. Rein menarik tangan Davin pelan, membuat sang suami menatap nya. "Kenapa sayang?"


"Mau itu sayang." ujar nya menunjuk gerobak yang bertuliskan bubur ayam pak Dul.


"Bubur ayam?" tanya Davin memastikan. Rein mengangguk semangat, ia segera menarik tangan Davin menuju gerobak yang terdapat beberapa orang di sana.


"Pak bubur ayam nya 2, yang 1 jangan pakai bawang goreng ya." ujar Rein Tak sabar.


"Siap neng."


Pria paruh baya itu dengan semangat meracik bubur ayam untuk Rein dan Davin. Tangan nya bergerak lincah, membuat Rein yang melihat nya berdecak kagum.


Tak lama kemudian, bubur ayam kedua nya jadi. Rein langsung mengaduk milik nya. Membuat Davin yang melihat menaikan alisnya.


"Nggak enek kah, kalau di aduk?" tanya nya. Pasal nya Davin tak suka jika makan bubur di aduk dulu.


"Enak lah, bumbu nya tercampur." ujar Rein.


***


Rein dan Davin memasuki rumah sambil bergandengan. Tangan kiri Davin menenteng sebuah kantong hitam berisi bubur untuk Ami.


"Ami, ini sarapan kamu." Davin memberikan bubur itu pada Ami yang baru saja dari dapur.


"Wih apa nih?" tanya nya berbinar.


"Bubur ayam." Rein menjawab.

__ADS_1


"Thank you dad, bun." Ami segera berjalan menuju meja makan untuk menyantap bubur ayam yang sudah di bawakan oleh Davin dan Rein.


Jam kini sudah menunjukkan Setengah 8. Rein sudah siap dengan setelan simpel nya. Ia segera berjalan menuju ruang keluarga yang sudah terdapat Ani dan Ami serta Davin.


"Maaf ya, mas nggak bisa ikut nemenin kamu buat periksa baby twins." ucap Davin merasa bersalah. Ia sebenarnya ingin ikut, namun terhalang oleh tuntutan pekerjaan yang tidak bisa ia tinggal kan.


"Nggak papa. Lain kali kan masih bisa ikut." ujar Rein sambil mengelus tangan Davin.


"Daddy minta maaf ya nggak bisa ikut untuk liat pertumbuhan kalian."


"Iya Daddy nggak apa-apa. Daddy semangat kerja nya." Davin, Ani dan Ami yang mendengar itu tersenyum kecil.


"Titip istri sama anak-anak ku ya mah." ujar nya pada Ani.


"Kamu kaya sama siapa aja. Tenang pasti mamah jagain mereka." Jawab Ani pada putra sulung nya.


Setelah itu Rein, mertua nya serta Ami langsung berangkat menuju rumah sakit.


"Pasti mereka sudah tambah besar." ucap Ami sambil mengelus perut Rein.


"Iya. Untung aja nafsu makan ku nggak bermasalah." jawab Rein.


Rein dan Ami mengangguk membenarkan ucapan Ani. "Macet banget ya?" ucap Ani yang duduk di depan sambil menatap jalanan.


"Iya mah."


Keheningan terjadi beberapa menit sebelum akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Ani, Rein dan Ami segera turun. Ketiga nya berjalan menuju ruangan dokter kandungan. Untung saja Rein sudah membuat janji, jadi tidak perlu menunggu terlalu lama.


***


"Hi bu Rein, gimana kabar nya?" Rein dan dokter wanita itu sudah akrab. Karena Rein sering menanyakan informasi seputar kehamilan.


"Baik dok. Dokter Iva juga gimana kabar nya?" tanya balik Rein sambil duduk di ikuti Ani di sebelah nya, sedangkan Ani ia menarik sebuah kursi yang tak jauh dari pintu masuk lalu duduk juga.


"Saya selalu baik. Mereka siapa?" tanya dokter Iva sambil menatap Ani dan Ami.


"Oh iya sampai lupa. Ini mertua aku, mamah Ani dan ini anak ku Ami." ujar Rein menjelaskan. Dokter Iva agak terkejut saat Rein mengatakan bahwa Ami adalah putri nya, pasal nya kedua nya tampak seumuran.


Dokter Iva hanya mengangguk mengerti, ia memberikan sapaan hangat pada kedua nya. "Gimana kalian sudah siap untuk melihat perkembangan mereka?" Rein mengangguk pasti. Ani dan Ami juga mengangguk semangat.

__ADS_1


"Sudah nggak sabar dokter." ujar Ami membuat dokter Iva tertawa.


"Siap banget dok. Sudah nggak sabar liat pertumbuhan mereka."


Dokter Iva tersenyum kecil melihat antusias ketiga nya. Setelah melakukan beberapa rangkaian pemeriksaan. Rein akhirnya berbaring di bad cover. "Enggak usah tegang, rileks aja." Ujar nya pada Rein yang tampak gugup.


"iya dokter. cuma sedikit deg-degan."


"Nggak papa. Dulu mamah juga gitu pas hamil Davin, suka deg-degan setiap kali mau USG." Ujar Ani membagi cerita.


"Permisi ya, angkat baju nya sebentar. Kita oleskan gel dulu."


Rein mengernyitkan dahi saat gel itu di oleskan di perut nya. Sensasi dingin langsung ia rasakan.


Di lansir dari Halodoc, Pemeriksaan USG biasanya menggunakan sebuah alat bernama transducer yang ditempelkan pada kulit untuk memancarkan gelombang suara dengan frekuensi tinggi. Namun, terdapat beberapa teknik USG yang perlu memasukkan transducer ke dalam tubuh. Teknik ini membutuhkan transducer khusus.


Di samping itu, perkembangan teknologi membuat hasil pencitraan USG bukan saja lebih akurat, tapi juga dapat digunakan dengan tujuan lebih spesifik. Dengan USG, dokter bisa mendeteksi berbagai masalah pada jaringan tubuh, pembuluh darah, dan organ-organ tubuh. Hebatnya, alat ini tidak membutuhkan pembedahan saat menampilkan gambar untuk mendeteksi masalah di dalam tubuh. Keunggulan lain dari metode yang juga dikenal dengan nama sonografi ini adalah nihilnya penggunaan radiasi.


Pemeriksaan USG memang sangat bermanfaat bagi ibu hamil. Selain mengetahui perkembangan janin, pemeriksaan yang rutin juga dapat membantu ibu memantau kondisi kesehatan Si Kecil. Dengan persiapan di atas, ibu pun tidak perlu cemas lagi sebelum melakukan pemeriksaan, kan?


"Kalian bisa liat itu kan? Kedua nya sangat sehat-eh tunggu dulu." Dokter Iva membulat kan matanya sambil menatap layar.


"Kenapa dokter? Anak-anak saya baik-baik saja kan?" Ani dan Ami juga ikut khawatir.


"Tenang aja, cucu mamah kuat kok, mereka pasti baik-baik aja." ujar Ani menenangkan.


"Bener yang di bilang Oma Bun, adik-adik ku pasti baik-baik aja." Rein sedikit bernafas lega, mendengar ucapan Ani dan Ami.


"Baby twins nya baik-baik aja, mereka juga sehat. Bahkan sekarang organ-organ tubuh nya sudah mulai terlihat. Kalian dengar itu, detak jantung mereka?"


Rein tersenyum haru menatap kedua buah hati nya yang tampak tumbuh dengan sehat. Detak jantung mereka bagaikan melodi yang beralun indah di telinga ketiga nya.


"Namun, seperti nya kita semua di beri kejutan?" ucap Dokter Iva misterius sambil melihat mereka Sebentar lalu menatap layar lagi.


***


Semoga suka...


Maaf ya lama update, ga punya kuota wkwkwk🤣

__ADS_1


__ADS_2