Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku

Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku
Bab 39. Night Ride


__ADS_3

"Sayang kamu sudah siap belum?" tanya Davin dari luar kamar. Tumben sekali, Rein mengunci pintu kamar nya.


"Sudah mas bentar dulu." Tak lama Rein keluar dengan sebuah dres berwarna hitam selutut. Davin tampak terpesona melihat kecantikan Rein. Polesan make up yang tidak terlalu tebal membuat Rein sangat cantik.


"Sayang, kamu cantik banget." puji Davin dengan tatapan terpesona.


Rein tersenyum malu mendengar nya. "Makasih mas Davin." balas nya sambil tersipu.


Davin mengangguk mengiyakan. "Tapi, kayanya kamu harus ganti. baju sayang.” lanjut Davin dengan senyum tak enak.


"Kenapa? Baju nya kurang bagus ya?" tanya Rein sambil meneliti dress yang ia kenakan.


Davin menggeleng cepat. "Bukan gitu, dress nya bagus, kamu juga cantik. Tapi, aku mau ajak kamu naik motor, jadi kalau pakai dress pasti. ribet kamu-nya." jelas Davin panjang lebar.


"Oh gitu. Ya sudah aku ganti bentar." Rein langsung masuk kembali.


***


"Pegangan sayang." Rein mengangguk, ia memeluk Davin dengan sedikit erat. Kini kedua nya sudah berada di atas sebuah motor sport berwarna hitam.


"Mas sejak kapan bisa bawa motor?" tanya Rein penasaran.


"Sudah lama. Kita berangkat sekarang ya?" Rein mengangguk semangat. Ini baru pertama kali nya ia di bonceng dengan motor besar, rasanya menyenangkan sekali.


"Kita mau kemana mas?"


"Apa sayang?" Davin kurang mendengar suara Rein karena terbawa angin yang kencang. Ia kemudian memelankan sedikit kecepatan motor nya.


"Aku bilang kita mau kemana?" ulang Rein sekali lagi.


"Night ride sayang, bareng teman-teman motor aku." jawab Davin di balik helm full face nya.


"Teman-teman motor?" gumam Rein bingung.


Perjalanan terasa menyenangkan. Kedua nya begitu menikmati perjalanan hingga tiba lah mereka di sebuah rumah yang cukup tua, namun terawat.


"Hi bro, selamat datang!" seorang pria yang seumuran Davin namun masih tampan menghampiri Rein dan Davin.


Pria itu dan Davin melakukan tos ala anak muda. "Sudah lama nggak ketemu kita." Davin berucap akrab dengan pria itu.


"Kau yang terlalu sibuk." balas nya membuat Davin tertawa.


"Oh ya, siapa dia? kekasih mu?" tanya pria itu sambil menatap Rein yang langsung tersenyum sambil membungkuk menyapa.


"Hmm. Kenalkan dia Rein, calon istri ku." Davin merangkul pinggang Rein dengan mesra.


"Oh begitu. Saya Dimas, salam kenal Rein." Rein mengangguk sambil menerima uluran tangan Dimas.


"Ayo masuk dulu, kita tunggu anggota yang lain." Dimas mengajak Davin dan Rein untuk masuk.

__ADS_1


***


Suara motor saling bersahutan di jalanan yang tak terlalu lenggang. Bendera yang di bawa berkibar dengan megah nya. Davin yang membawa Rein tersenyum tipis kala Rein mengeratkan pelukannya.


"Kenapa sayang?" tanya Davin saat Rein meletakkan dagu di bahu kirinya.


"Senang." jawab Rein sedikit keras. Ia baru pertama kali merasakan momen seperti ini. Ia tak menyangka ternyata Davin seorang anggota sebuah club motor.


Davin menarik gas, membuat motor sport itu melaju lebih cepat.


"Kiri-kiri...!!" Teriakan dari pemimpin di depan membuat mereka menepikan motornya.


"Kita istirahat dulu. Habis ini kita putar balik menuju basecamp."


Davin membawa Rein menuju sebuah warung kecil. "Kamu mau minum apa sayang?" tanya nya.


"Mau teh hangat mas, dingin banget Udara nya." jawab Rein sambil menggosok kedua telapak tangannya.


"Oke." Davin segera memesan 1 gelas teh hangat dan kopi Hitam 1.


"Ini kita mau ke mana sih mas?" tanya Rein karena ia benar-benar tidak tahu tujuan mereka hendak kemana.


Davin mengangguk. "Mutar-mutar aja sayang." jawab Davin sambil terkekeh kecil.


"Oh gitu. Tapi lumayan sih, sekitar 1 jam lebih di jalan tadi, kalau cuma untuk mutar-mutar, apalagi kalau macet." Davin mengangguk mengiyakan.


"Masih dingin?" tanya Davin sambil meraih kedua telapak tangan Rein.


Teh yang masih hangat itu, Rein raih lalu menggenggam gelas nya mencari kehangatan. Tumben sekali malam ini sangat dingin pikir Rein."


"Ayo sayang, sudah mau berangkat mereka." ujar Davin pada Rein.


Rein mengangguk lalu meletakkan gelas itu di atas meja. Davin menggandeng tangan Rein lalu membawa nya menuju motor mereka.


Davin memakaikan helm pada Rein lalu membantu memegang tangan nya untuk naik. "Sudah?" tanya Davin.


"Sudah mas." Davin sendiri memakai Helm nya, kemudian menghidupkan mesin motor.


Rein menatap teman-teman Davin, ia baru sadar ternyata tidak ada perempuan selain dia. "Mas Davin, aku baru sadar kalau nggak ada ceweknya selain aku." ujar Rein sambil memajukan tubuhnya dan menatap Davin dari samping.


"Mereka kebanyakan belum menikah sayang. Emang kenapa kalau cuma kamu?" tanya Davin balik.


"Ya nggak papa sih mas." Davin mengangguk lalu menarik gas. "Pegangan di sini sayang!" ujar Davin sambil membawa tangan Davin dan ia masukan di dalam saku jaket nya.


Tubuh Rein dan Davin berdempetan, membuat Davin bersorak dalam hati, ia mencuri kesempatan dalam kesempitan.


Perjalanan begitu menyenangkan, Davin dan Rein sama-sama menikmati perjalanan. "Akhirnya sampai juga." gumam Davin sambil melepaskan helm nya.


"Bro, kami langsung balik, takut kemalaman." Davin berpamitan pada pria bernama Dimas yang tadi menyapa mereka.

__ADS_1


"Oke. Hati-hati di jalan. Nanti gue kabarin kalau ada acara lagi." ujar Dimas pada Davin.


"Sip. Gue balik."


"Balik duluan mas." pamit Rein pada Dimas yang mengangkat dua jempol nya sambil tersenyum.


***


"Asik nih yang habis jalan-jalan." Ami yang sedang menonton TV, berucap ketika Davin dan Rein memasuki rumah.


"Jangan iri ya." Balas sang Daddy.


"Siapa juga yang iri, mana oleh-oleh buat Ami?" tanya nya sambil mengulurkan tangannya.


"Oleh-oleh apa? Emang kamu ada pesan tadi?" tanya Rein.


"Yaelah, kalian harus nya paham-paham dong, masa nggak ada oleh-oleh gitu dari luar?"


"Nggak sempat beli. Sudah-sudah Daddy mau istirahat, kamu lanjut nonton aja sana." Ami mencebik kesal. Ia meraih ponselnya lalu menghubungi sang kekasih.


"Yang, main ke rumah dong, bawain martabak manis." ujar nya manja.


"Oke." Aldo yang bucin dengan Ami langsung saja mengiyakan.


***


"Mas Davin, aku punya sesuatu buat mas?" ujar Rein saat Davin duduk di sofa kamar nya.


"Apa sayang?" tanya Davin sambil mematikan ponsel nya. Ia menatap penuh cinta Rein yang berdiri dengan tangan yang bertaut di Belakang tubuh nya.


"Mas tutup mata dulu!" perintah Rein membuat Davin heran namun tetap menutup matanya.


"Nah sekarang coba buka." Davin menatap sebuah paper bag yang di sodorkan Rein padanya.


"Ini apa?" tanya nya dengan antusias.


"Buka lah." perintah Rein.


Davin dengan excited membuka paper bag tersebut. Raut wajah senang nya langsung berkali lipat saat melihat sebuah jam tangan branded yang sangat mahal.


"Wah, bagus banget." puji nya sambil tersenyum.


"Suka mas?" tanya Rein penuh harap.


"Suka banget sayang. Makasih ya." ujar nya sambil mengecup kening, pipi dan bibir Rein.


"Sama-sama."


Davin seketika menghentikan kegiatan nya ia menatap Rein yang terlihat excited juga. "Sayang kamu beli pakai uang mas kan? berarti sama aja dong mas yang beli." ujar nya tiba-tiba.

__ADS_1


Raut excited yang di tunjukkan Rein seketika sirna. "Eii...Mas jangan salah ya, itu Rein beli pakai uang Rein sendiri." balas nya ketus.


"Oh gitu, maaf ya sayang nya mas. Mas cuma bercanda kok." Davin membawa Rein ke pelukan nya.


__ADS_2