
Setelah melewati pergumulan panas yang cukup lama, kini pagi menyapa kembali. Sepasang suami istri yang masih terbungkus selimut dan saling mendekap tak ada tanda ingin bangun.
Selang beberapa menit kemudian, Davin membuka matanya dengan perlahan. Iris nya menatap wajah cantik tanpa polesan make up, yang akan selalu ia jumpai setiap bangun pagi.
Davin tersenyum menatap tanda yang ia berikan di setiap jengkal tubuh Rein. "Pagi istri ku." sapa nya pelan, dengan sedikit kecupan di bibir dan kening Rein.
Davin terkekeh saat Rein menggeliat pelan, namun beberapa saat istri nya itu kembali diam.
"Sayang, ayo bangun. Sudah pagi." Davin menghela nafas pelan. Rencana yang sudah tersusun rapi sedemikian rupa di kepala nya harus tertunda karena istri nya belum juga bangun. Sudah lah masih ada hari lain, tidak harus hari ini bukan.
Jam kini sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Davin menuruni kasur lalu berjalan menuju kamar mandi, ia hanya menggenakan sebuah boxer berwarna hitam. Meninggalkan Rein yang masih terlelap di atas kasur, dengan tubuh remuk nya akibat keberingasan Davin semalam.
Suara gemericik air terdengar, Davin mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Sesuatu yang terbangun pagi hari harus ia tuntaskan dengan tangan nya. Otot-otot tubuh nya yang sudah terbentuk, ketika terkena air membuat Davin berkali-kali lipat terlihat macho.
Sedangkan di sisi lain, Rein yang baru saja bangun. Menguap di atas kesur dengan tangan kiri yang menepuk-nepuk ranjang sisi kiri, mencari sang suami.
Saat akan memanggil Davin, Rein mendengar suara gemericik air, membuat ia mengurungkan niatnya.
"Sshh...Sakit banget pinggang ku. Mas Davin brutal banget sih." Gerutu Rein sambil mencoba untuk duduk. Tak lupa tangan nya bergerak menarik selimut saat udara dingin terasa menusuk kulitnya yang tidak tertutup sehelai benang pun.
Davin memang keterlaluan tadi malam, ia menggempur Rein seperti singa kelaparan yang tak di beri makan 2 bulan. Setelah Rein jatuh tertidur dan ia mendapatkan kepuasan Akhirnya ia menghentikan permainan yang membuat lelah namun penuh kenikmatan itu.
"Sudah bangun sayang?" tanya Davin yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Rein terpaku menatap tubuh Davin, astaga pikiran nya langsung tertuju pada peristiwa panas yang tadi malam mereka lakukan.
Ternyata tubuh itu yang menggempur nya habis- habisan. Rein langsung menggeleng kan kepala nya, mengusir pikiran kotor yang tiba-tiba muncul.
Cup
Davin mengecup kening serta bibir Rein, membuat Rein terkejut. "Mas dingin." rengek nya manja, karena terkena air dari rambut Davin.
"Ayo mandi." ajak Davin sambil membelai pipi Rein. Rein mengulurkan tangannya, meminta di gendong.
Davin dengan senang hati menggendong sang istri, dengan selimut yang membungkus tubuh indah Rein.
__ADS_1
"Suami ku yang nyiapin air nya?" tanya Rein sambil menatap Davin dari dalam bathtub, yang sudah terisi air hangat.
"Iya istriku. Maaf ya, kamu pasti kesakitan, gara-gara aku semalam." Ucap Davin penuh penyesalan.
Tangan Rein terulur menuju pipi Davin. "Suami ku ngomong apa sih? Itu kan sudah tugas dan kewajiban aku." jawab Rein dengan sedikit cubitan di pipi Davin.
Davin menatap Rein penuh cinta. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan wanita seperti Rein yang bisa mengubah kehidupan nya.
"Love you istri ku."
***
Davin dan Rein kini sedang berada di kamar hotel. Kedua nya sedang menikmati sarapan pagi. Seharusnya mereka ke bawa namun Rein yang mengeluh sakit pinggang membuat Davin berinisiatif untuk membawa makanan ke kamar saja.
"Enak sayang?" tanya Davin yang baru saja menyuapi Rein sepotong daging.
"Enak banget. Suami ku mau?" tanya Rein pada sang suami.
Davin membuka mulutnya lalu Rein menyuapi sepotong daging kecil yang sudah ia baluri dengan saos pedas.
"Habis ini, kita mau ke mana?"
"Aku ikut kemana suami ku pergi aja." jawab Rein kalem. Sungguh jawaban yang biasa untuk pasangan suami istri lain, namun sangat berefek unruk seorang Davin Artama.
"Aku mau ajak kamu ke suatu tempat, mau?" tanya Davin sambil membersihkan sisa saos di sudut bibir Rein.
Rein mengangkat alis penuh tanya. "Kemana sih?"
"Nanti kamu tau sendiri."
***
Rein dan Davin berjalan dengan tangan yang bertaut. Rein mengerutkan keningnya saat Davin membawa ia menuju sebuah pemakaman.
"Sudah sampai." gumam Davin yang masih bisa Rein dengar. Rein menatap gundukan tanah yang sudah di tumbuhi rumput.
__ADS_1
Kedua nya pun tampak berjongkok di makam Carissa. Mantan istri Davin. Rein sudah tak asing lagi dengan tempat ini, karena ia sering menemani Ami untuk datang ke sini.
"Hallo Issa, kamu apa kabar? Maaf ya aku baru bisa jengukin kamu." ucap Davin dengan tangan mengelus nisan bernama 'Carissa Nugraheni'
"Maaf ya aku nggak bisa tepati janji aku dulu. Aku sekarang sudah menikah lagi, dan mungkin kamu sering liat dari atas situ siapa istri aku."
Davin menggenggam tangan Rein dan meremas nya pelan. "Hallo mbak Carissa, saya Rein sahabat anak Tante, sekaligus istri mas Davin."
"Maaf bukan bermaksud menggantikan posisi kamu, percayalah aku dan Ami mempunyai ruang khusus untuk kamu di hati kami berdua. Dulu kamu suruh aku nikah kan? dan sekarang aku sudah menemukan orang yang tepat, orang yang benar-benar sayang sama aku dan anak kita Ami." Rein tidak ada rasa cemburu sama sekali saat Davin berucap seperti itu. Bagi nya untuk apa cemburu dengan seseorang yang bahkan sudah tidak ada lagi di dunia.
"Mbak saya mohon izin untuk menggantikan peran mbak. Bukan untuk menyingkirkan namun untuk melanjutkan peran mbak dalam merawat dan menjaga Ami dan Mas Davin."
Tiupan angin terasa saat Rein berucap seperti itu. Seolah mengatakan bahwa Carissa memberikan izin untuk nya.
Kedua pasangan suami istri itu kemudian mendoakan Carissa, lalu menaburkan bunga dan tak lupa membersihkan rumah terakhir Carissa.
"Kami pamit pulang dulu mbak, lain waktu kami akan mampir lagi." Davin menggandeng tangan Rein lalu membawa nya keluar dari area pemakaman.
Angin bertiup kencang melewati mereka. Davin dan Rein saling tatap lalu tersenyum. "Sekarang kita mau kemana lagi, mas?" tanya Rein sambil menatap Davin penuh cinta.
"Pulang aja, mau?" Rein mengangguk tanpa ragu. Untung saja koper kedua nya sudah di bawa tadi.
Davin membawa mobil dengan kecepatan sedang. Jalanan sedikit macet membuat mereka agak kesiangan sampai di rumah.
"Selamat datang pasutri baru...." Davin dan Rein terkejut melihat Ani dan yang lain nya sudah berdiri menyambut kedatangan mereka.
"Mas udah tau?" tanya Rein pada suami nya.
Davin menggeleng pelan. "Nggak sayang. Mas kan sama kamu terus hari ini." jawab nya sambil mengelus rambut Rein.
Kedua nya langsung masuk setelah Ami memasangkan sebuah kalung bunga yang sudah mereka persiapkan untuk menyambut kedatangan Davin dan Rein.
****
Maafkan segala typo, dan penulisan yang kurang jelas. Aku nulis nya ngebut takut kemalaman.
__ADS_1
Sibuk banget aku astagaa, sibuk healing maksud nya heheheh
semoga suka bab ini. See you