
Davin mengambil cuti beberapa hari untuk menemani sang istri. Kedua nya kini sedang bersiap-siap untuk berkunjung ke sebuah panti asuhan dan akan bertemu wanita hamil yang Davin ceritakan tadi malam.
Namun, setelah mandi Rein berdiri di depan cermin dengan wajah yang hampir ingin menangis. Bagaimana tidak semua baju yang ia miliki hampir tak ada yang muat lagi di tubuh nya.
Beberapa pakaian yang dulu sering ia pakai juga sudah tidak bisa masuk. Hanya sampai leher saja setelah itu tidak bisa di turunkan lagi. Tinggal baju rumah seperti kaos oblong dan celana rumahan saja serta beberapa daster, namun tidak mungkin jika Rein memakai itu untuk pergi ke luar.
Davin menahan tawa nya saat melihat Rein terduduk di atas kasur dengan handuk sebatas lutut. "Mas Davin, aku harus pakai apa?" tanya nya kesal, sambil menunjukkan baju yang ia pegang.
"Pakai yang ada aja ya, nanti setelah pulang dari panti asuhan kita beli baju buat kamu." Davin berjalan menuju lemari, lalu mencarikan baju yang sekiranya muat di tubuh sang istri.
Davin kembali dengan sebuah dress putih dengan motif bunga. Ia menyodorkan nya pada sang istri yang terlihat kesal. "Coba pakai ini dulu, siapa tau muat." Rein menerima dress tersebut lalu memakai nya.
Helaan nafas lega terdengar. Rein membenarkan dress yang ia gunakan itu, untung saja muat walaupun sedikit terasa sesak untuk nya.
"Muat sih, tapi sesak." ujar nya pada sang suami.
Davin membantu Rein mengancing kan dress tersebut. Setelah itu ia mencubit pipi tembem Rein dengan gemas. "Nggak sakit kan?" Rein menggeleng sebagai jawaban, ia hanya merasa sedikit sesak di bagian perut.
"Pakai tahan ini dulu ya, nanti kita beli baru lagi." ucap nya.
Rein mengangguk lalu meraih tas nya, kemudian kedua nya berjalan keluar kamar.
***
Mobil terparkir di sebuah halaman luas yang di tanami beberapa pohon di bagian sudut nya. Davin segera keluar lalu membantu Rein untuk turun. Sedikit kesusahan karena perut Rein yang terasa berat.
Banyak anak-anak yang berlarian kesana-kemari. Rein dan Davin bergandengan tangan lalu berjalan menuju mereka.
Anak-anak itu mengentikan kegiatan mereka masing-masing. Dengan Kompak mereka menatap Rein dan Davin yang tersenyum menatap mereka.
"Halo semua nya." sapa Rein hangat.
Anak-anak itu tersenyum, lalu melambaikan tangan nya pada Rein. "Halo nyonya, halo tuan." sapa mereka balik dengan senyuman.
Seorang anak lantas berlari masuk menuju rumah yang tak jauh dari mereka. Beberapa menit kemudian, anak itu keluar dengan seorang wanita paruh baya.
"Selamat datang tuan, dan nyonya. Silahkan masuk." Davin segera mengandung Rein yang tengah asik menatap anak-anak itu.
"Panggil Davin saja Bu, dan ini istri saya Rein." ucap Davin memperkenalkan diri mereka.
Anak-anak itu mendekat pada Davin dan Rein sambil menatap perut besar Rein. "Wah, di perut nyonya ada dedek bayi ya?" seorang anak yang Rein perkiraan berusia 8 tahun bertanya pada nya.
"Iya, di sini ada 3 dedek bayi. Halo semua nya."
"Woah..." mereka mengangkat 3 jari mereka sambil berdecak kagum.
"Halo dedek-dedek bayi." sapa mereka semua. Sekitar 10 orang anak itu mengerubungi mereka dengan wajah senang.
__ADS_1
"Meta, ajak mereka main ke luar ya." wanita paruh baya itu berbicara dengan seorang gadis yang Rein dan Davin perkiraan berusia 17 tahun.
"Baik bunda. Ayo semua nya, kita main di luar." anak-anak itu langsung mengikuti langkah Meta keluar dengan menurut.
"Saya Lela, biasa di panggil bunda Lela sama anak-anak. Saya pemilik panti asuhan ini." ucap Bunda Lela dengan senyum kecil.
"Oh gitu. Panti ini sudah lama ya bun?" tanya Rein, sambil melihat sekeliling nya. Cat dinding nya bahkan sudah terlihat pudar.
"Panti ini sudah berdiri sekitar 10 tahun. Makanya ya beginilah keadaan nya." ujar bunda Lela.
"Anak-anak nya lumayan banyak ya bun?" Bunda Lela mengangguk mendengar ucapan Davin.
"Lumayan banyak. Yang main di luar tadi jumlah nya 10 orang, terus yang besar nya 7 orang dan yang masib bayi 5 orang. Jadi total 22 orang."
"Banyak juga ya."
"Oh iya Bu, di sini ada anak cowok yang besar?" tanya Davin.
"Ada nak, sebentar saya panggil kan." 2 orang remaja datang di belakang bunda Lela. Kedua nya menyalami Davin dan Rein dengan sopan.
"Saya Didit tuan, dan ini Lio adik saya." ucap kedua nya memperkenalkan diri.
"Oh adik kakak ya?" tanya Rein penasaran, sambil menatap mereka hangat.
"Didit lebih tua dari Lio, jadi anggapan nya Lio itu adik nya." jelas Bunda Lela pada kedua nya.
"Bisa tuan."
"Jangan panggil tuan atau nyonya, panggil aja Tante sama om." ucap Rein pada keduanya.
"Baik Tante."
Kedua nya segera mengikuti Davin menuju mobil. Meninggalkan Rein yang masih mengobrol-ngobrol kecil dengan bunda Lela.
"Kalian dua sekolah?" tanya Davin sambil menatap kedua nya.
Didit dan Lio segera menggeleng. "Sudah berhenti om, sekitar tahun yang lalu. Kami harus bantu bunda nyari uang untuk bertahan hidup." ucap Didit di angguki Lio.
Davin mengerutkan keningnya, apakah tidak ada donasi untuk panti asuhan ini. "Orang yang berdonasi nggak ada?" tanya nya.
"Kata bunda, donasi nya di hentikan sekitar 1 tahun lalu, jadi biaya buat sekolah nya nggak ada. Terpaksa kami berhenti sekolah dan memilih kerja buat bantu bunda nyari uang untuk makan adik-adik dan kami."
Sesampai nya di mobil, Davin segera menurunkan beberapa kardus yang sudah di bungkus rapi. Ketiga nya mengangkut kardus-kardus itu di bantu Meta yang sedang bermain dengan anak-anak itu di luar.
"Makasih ya kalian sudah bantu om." ucap Davin pada mereka setelah semua kardus nya sudah di dalam rumah.
"Sama-sama om." Ketiga nya segera berlalu dari sana.
__ADS_1
"Nak Davin ayo di minum dulu teh nya." ucap bunda Lela.
"Iya Bun."
***
Hari sudah menunjukkan pukul 12 siang, Davin dan Rein cukup lama bermain di panti asuhan. Hampir semua anak-anak itu, akrab dengan Rein dan Davin.
Setelah makan siang, anak-anak itu langsung tidur siang. Tapi tidak dengan seorang gadis mungil berusia 3 tahun, yang duduk di pangkuan Davin dengan Barbie di tangan nya. "Om Davin, punya Olang tua?" tanya nya dengan cadel.
Davin menunduk dan menatap gadis mungil bernama Cristi itu dengan senyum kecil nya. "Punya. Emang kenapa, hm?" Davin mengelus rambut Cristi dengan sayang.
"Bagaimana lasa nya punya Olang tua?" tanya nya sambil memainkan jari Davin yang sangat jauh berbeda dengan jari mungil nya.
Deg
Davin langsung melirik sang istri yang sedari tadi melihat mereka. Ia mengkode sang istri, apa yang harus ia jawab.
"Cristi, mau tau gimana rasanya punya orang tua?" tanya Rein.
Dengan mengangguk cepat, Cristi menatap Rein berbinar. "Mau-mau." jawab nya.
"Untuk sehari ini, Cristi bisa anggap Tante dan om sebagai orang tua nya Cristi. Dan Cristi nanti harus kasih tau Tante bagaimana rasanya punya orang tua."
"Sekarang Cristi coba panggil Daddy dan bunda." ujar Davin pada Cristi.
Gadis itu terdiam sambil menatap Davin dan Rein. Bibir mungil nya bergumam pelan hingga suara kecil nya keluar.
"Daddy, bunda..." ucap nya sambil menatap Rein dan Davin.
Rein dan Davin saling tatap lalu melihat Cristi yang kembali terdiam. "Senang nya, punya Daddy dan bunda." ucap nya lagi.
"Cristi senang?" tanya Rein sambil mengelus pipi merah itu.
Gadis itu mengangguk. "Senang sekali bunda."
"Clisti, boleh peluk bunda dan Daddy?" tanya nya pelan.
Davin melirik Rein yang sudah berkaca-kaca. Kedua nya lantas memeluk Cristi. Bunda Lela yang sedari tadi menyaksikan mereka, tersenyum haru.
"Boleh dong sayang. Putri bunda kenapa nangis hm?" tanya Rein sambil menghapus air mata nya juga.
Cristi hanya terisak pelan, sambil memeluk Davin dengan erat. Telnyata begini lasanya memiliki olang tua itu. pikir otak kecil nya.
Beberapa saat kemudian Cristi akhirnya tertidur di pelukan Davin. Segera Davin beranjak untuk menidurkan nya di sebelah anak-anak lain yang tidur siang.
***
__ADS_1
Yang masih punya orang tua, sayangi orang tua kalian ya. Jika kalian jauh dari mereka, coba lah untuk menelfon mereka dan katakan aku menyayangimu ayah Ibu. Siapa tau, mereka juga merindukan kalian.