Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku

Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku
S2 Chapter 72. Artama dan Aksara


__ADS_3

"Bunda kami pulang." Lovi memeluk Rein, yang di balas tak kalah erat oleh sang ibunda. Gadis itu begitu di manjakan oleh Rein dan Davin, bukan hanya mereka sana namun keluarga mereka pun seperti itu.


Raja dan Rayyan ikut menyapa lalu menyalami Rein kemudian mereka berjalan menuju ruang keluarga.


"Langsung mandi ya. Nanti langsung turun buat makan." ujar Rein sambil menatap ketiga anak nya.


"Siap Bun." Lovi menjawab dengan antusias.


Rein menatap kepergian ketiga buah hati nya dengan senyum kecil. "Kalian sudah besar aja. Tapi kalian tetap putra dan putri kecil bagi bunda." ujar nya.


Kadang Rein sedih, kala ia menyadari bahwa kedua putra dan putri nya sudah besar. Mereka kelak akan mempunyai istri dan juga suami, apakah mereka akan melupakan dirinya.


"Kamu kenapa sayang?" suara bass yang sangat di kenali Rein menyapa indera pendengaran nya. Rein menoleh mendapati Davin yang berdiri di belakang nya. Suami nya itu semakin terlihat tampan, meskipun beberapa rambut putih mulai terlihat beberapa tahun belakangan ini.


"Loh dad, kapan pulang?" tanya Rein heran. Ia melirik jam, masih 15.30. Biasanya suami nya itu akan pulang jam 5 atau jam 6 malam.


"Baru aja. Istri cantik ku ini entah lagi melamun apa jadi nggak sadar kalau suami nya sudah pulang." ejek Davin sambil tertawa kecil. Rein ikut tertawa sambil meraih tas kerja sang suami. Namun sebelum itu seperti biasa ia akan mengalami Davin dan memberikan kecupan singkat di bibir sang suami.


"Dad, mandi dulu sana. Anak-anak juga lagi mandi. Nanti langsung kesini kita makan sama-sama."


"Siap sayang. Seperti biasa, temanin ya?" ujar nya memelas, membuat Rein mau tak mau mengangguk.


***


"Chat nggak ya? Tapi gimana kalau aku ganggu." Lovi melipat kedua tangannya lalu menatap ponselnya yang tergeletak di atas kasur dengan cemberut.


"Sudah lah chat aja." Jari lentik nya dengan gesit memainkan benda pipih berlogo apel di gigit itu. Hadiah dari Davin tahun lalu, saat ulang tahun nya.


"Malam kak Zidan" Lovi langsung menekan tombol Delete. Ini kan masih sore, ujar nya menggerutu dalam hati.


Ya benar sekali. Lovi sedang mengirim pesan pada pujaan hati nya siapa lagi jika bukan Zidan. Dari mana ia mendapatkan nomor telfon Zidan, tentu saja meminta nya pada Rayyan, kembaran nya.


"Sore kak Zidan, sudah pulang sekolah?"


Ini adalah basa-basi paling buruk. Tentu saja pria itu sudah pulang 1 jam yang lalu. Lovi mengacak rambut nya yang masih terbungkus handuk.


Melepas handuk itu lalu menuruni kasur menuju meja rias nya. "Kak Zidan, ganteng banget." gumam nya sambil tersenyum sendiri.

__ADS_1


Ia mengambil sisir lalu menyisir rambut tebal nya. Wajah nya memerah saat mengingat kejadian beberapa Minggu lalu.


"Ngapain senyum-senyum sendiri?" Lovi menoleh kaget pada Rayyan yang berdiri di depan pintu nya dengan wajah tengil.


"Abang kepo aja." balas Lovi yang kembali menghadap cermin.


"Bilangin bunda ni, kalau kamu suka Zidan." Lovi melotot tak terima. Dengan cepat ia berlalu dari kaca menuju kembaran nya.


"Abang jangan Cepu deh." ujar nya kesal sambil merengek.


"Biarin." Rayuan langsung berlalu dari sana dengan cepat, meninggalkan Lovi yang menggeram kesal.


***


Disisi lain, Zidan yang baru saja selesai mandi meraih ponselnya saat ada notifikasi yang masuk.


"Sore kak Zidan, sudah pulang sekolah?" Pemuda itu mengerutkan keningnya. Tumben sekali adik dari sahabat nya ini mengirim kan pesan untuk nya.


Satu hal yang harus kalian ketahui, Lovi memang sangat jarang sekali mengirim pesan pada Zidan. Sekali nya mengirim pesan, gadis itu tidak akan membalas lagi karena takut Zidan akan ilfill dengan nya.


"Nak Zidan, ayo turun makan ayah sama adik Nak Zidan sudah di meja makan."


"Iya bi." Zidan segera keluar dari kamar, di depan pintu seorang wanita paruh baya yang sudah ia anggap seperti ibu nya sendiri, sedang berdiri sambil tersenyum.


"Nak Zidan habis mandi?" tanya bi Lita saat melihat rambut Zidan yang masih terlihat basah.


"Iya bi, Kenapa emang nya?"


"Nak Zidan habis mandi di keringkan dulu atuh rambut nya. Nanti bisa sakit kepala." jelas Bi Lita.


"Iya bi maaf, Zidan suka lupa." Bi Lita hanya mengangguk saja sambil terkekeh.


Anissa Humaira Aksara. Sosok wanita penuh kasih sayang, lembut dan begitu menyayangi anak-anaknya. Anissa berpulang kepangkuan sang maha kuasa, saat berjuang melahirkan anak kedua nya adik dari Zidan yang bernama Alisa Humaira Aksara yang biasa di panggil Lisa.


Lisa sekarang sudah berumur 15 tahun, dan itu artinya Anissa sudah 15 tahun meninggalkan mereka untuk selamanya. Meskipun begitu Dewa Aksara ayah dari Zidan tidak pernah berniat ingin menikah lagi. Ia merasa sanggup menjadi singel parent untuk kedua anak nya.


Dewa adalah sosok ayah panutan, meskipun sibuk bekerja ia selalu mempunyai waktu untuk kedua anak nya. Ia tak ingin kedua anak nya kekurangan kasih sayang. Sebisa mungkin ia akan berperan menjadi ayah dan ibu sekaligus.

__ADS_1


Beruntung nya ada Bi Lita asisten rumah tangga yang sudah mengabdi untuk keluarga Aksara sebelum Dewa menikah. Sehingga wanita paruh baya itu bisa membantu mengurusi isi rumah sang majikan.


Bi Lita sendiri sudah Dewa Anggap seperti orang tua nya sendiri.


"Malam yah, malam dek." sapa Zidan hangat. Zidan menarik kursi di sebelah Lisa yang berhadapan dengan Dewa.


"Malam nak, malam kak." sapa balik kedua nya tak kalah hangat.


"Bibi ayo makan sama-sama." Ajak Lisa yang memang dekat dengan Bi Lita.


"Iya nona kecil." Lisa cemberut ketika mendengar ucapan bi Lita. Ia merasa sudah besar, jadi tidak perlu di panggil Nona kecil segala.


"Bibi Lisa sudah besar, jangan panggil Nona kecil terus." ujar nya manyun. Dewa dan Zidan terkekeh kecil.


"Kamu kan memang masih kecil dek?" ujar Zidan menambahi."


"Lisa bentar lagi SMA, berarti Lisa sudah besar kak." balas nya tak mau kalah.


"Sudah-sudah, ayo makan." Lerai Dewa.


Mereka makan di selingi beberapa candaan dan akan diam ketika Dewa bersuara. "Ayah hari Kamis sibuk, nggak?" tanya Lisa yang harus saja menghabiskan sisa makanan nya.


"Belum tau juga, emang kenapa dek?" tanya Dewa sambil menatap putri semata wayangnya.


"Di sekolah ada pentas seni, jadi wali kelas Lisa nyuruh buat undang orang tua murid." ujar nya.


"Nanti ayah usahakan datang." ujar Dewa.


Lisa tersenyum senang. "Makasih yah, ayah memang yang terbaik." ujar nya bangga sambil memberikan dua jempol nya.


"Sudah-sudah..." Dewa terkekeh kecil melihat kelakuan putri nya itu.


Zidan dan Bi Lita hanya menyimak saja, mereka ikut senang melihat Lisa bahagia. Gadis kecil itu tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, hal itu membuat Dewa, Zidan selalu berusaha agar Lisa tetap bahagia meskipun tanpa ada nya seorang ibu.


***


Slow update ya gesss, mohon pengertiannya..

__ADS_1


__ADS_2