Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku

Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku
Bab 54. Samar-samar


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Rein sudah bangun. Ia menatap Davin yang masih tertidur pulas di sebelah nya. Rein lalu beranjak menuju kamar mandi.


Sesampai nya di kamar mandi, Rein mengeluarkan 1 buah testpack. Ia menggenggam testpack itu sedikit kuat lalu memasukkan nya di wadah yang sudah terdapat urine nya.


"Dalam nama Tuhan Yesus." gumam nya sambil menutup mata.


Rein bergerak gelisah di dalam kamar mandi, ia takut akan hasil nya. Sekitar 10 menit kemudian, Rein melihat testpack itu.


Senyum di wajahnya luntur seketika. Rein menggenggam testpack itu dengan wajah sendu. "Garis 1 lagi." gumam nya.


Rein selalu mencoba menggunakan testpack setiap pagi, namun hasil nya tetap sama yaitu garis 1.


"Sayang, kamu di kamar mandi?" Rein langsung beranjak menuju wastafel untuk mencuci wajah nya.


"Iya."


Setelah merasa tenang, Rein langsung keluar. Tak lupa ia membuang testpack yang ia gunakan dalam bak sampah. Senyum nya mengembang menatap Davin yang juga menatap nya.


"Pagi suami ku." sapa Rein sambil memberikan Davin sebuah pelukan.


"Pagi sayang." Davin mengecup daerah perut Rein yang rata membuat sang istri tertawa karena geli.


"Sudah ah geli." rengek Rein membuat Davin tersenyum gemas.


"Morning kiss nya mana?" tagih Davin dengan menja.


Rein langsung mengecup wajah sang suami, kemudian ia mengelus rambut Davin dengan sayang. "Mas pengen punya anak?" tanya nya pelan. Tanpa sadar Rein memanggil Davin menggunakan panggilan mas.


Suasana hening seketika, Davin terdiam lalu mendongak dan menatap Rein yang terlihat lesu. Ia kemudian menarik Rein, membuat sang istri terduduk di pangkuan nya.


"Emang kenapa hm? Kamu mau punya anak?" tanya Davin balik sambil menatap Rein dengan tangan yang mengelus kepala nya.


"Kita nikah sudah mau 3 bulan mas, tapi aku nggak hamil-hamil." jelas Rein.


"Mas pasti pengen punya anak, tapi aku malah nggak bisa ngasih anak untuk mas." Rein terisak di pelukan Davin.


Davin memeluk Rein dengan sayang. "Jangan nangis. Mas nggak papa kok nggak punya anak. Hidup sama kamu dan Ami juga nggak masalah buat mas." Davin mencoba menenangkan sang istri yang makin terisak dalam pelukan nya.


"Tapi, teman-teman mas punya anak semua...hiks."


"Nggak semua sayang. Memang ada yang sudah punya anak tapi kan teman-teman dekat mas belum, lagian mereka nikah aja belum." gurau Davin di ujung kalimat nya.

__ADS_1


Rein hanya diam sambil memeluk Davin dengan erat. "Cuma berdua sama kamu juga nggak papa sayang."


""


***


Beberapa hari kemudian Rein kini sedang berada di dalam kamar mandi. Seperti biasa ia sudah lebih dulu bangun dari sang suami.


Rein saat ini menatap testpack yang ia pegang dengan harapan yang besar. "Semoga garis dua ya Tuhan." gumam nya penuh harap.


Rein lalu melakukan prosedur menggunakan testpack. Tak lama kemudian, Rein meraih testpack yang sudah 10 menit ia masukan dan diamankan dalam urine nya di sebuah wadah kecil.


Tangan Rein bergetar saat melihat hasil testpack di tangan nya. "I-ini beneran kan?" tanya nya entah pada siapa.


Rein menutup mulut tak percaya. Meskipun samar-samar, namun Rein sudah sangat bahagia. "Terimakasih Tuhan." Ujar nya bahagia. Hingga tanpa sadar Rein terisak pelan.


Akhirnya ia hamil juga, meskipun ia belum yakin 100 persen.


***


Jam menunjukkan pukul 10.20 siang. Rein yang sudah membuat janji dengan dokter kandungan langsung pergi menuju rumah sakit. Tidak lupa Rein izin dengan sang suami, yang masih ada di kantor.


"Mau ke rumah sakit. Kamu mau ikut?" tanya Rein menoleh pada putri nya.


Ami menggeleng, hari ini ia ingin bermalas-malasan di kasur nya. "Nggak ah bund." Rein hanya ber-oh ria.


Ia memang belum memberitahu pada Davin mengenai hasil testpack yang tadi pagi ia gunakan. Ia tak ingin jika nanti hasil nya tak sesuai ekspektasi akan membuat kedua nya sedih.


"Bunda pergi dulu, bye sayang."


"Hati-hati bunda." Ami memeluk dan menyalami Rein sebagai tanda hormat nya.


***


"Selamat siang ibu Rein. Ibu yang buat janji dengan saya kan?" Seorang dokter muda menghampiri Rein.


"Siang dokter. Iya saya yang buat janji dengan dokter." jelas Rein.


Dokter kandungan itu langsung mempersilahkan Rein untuk duduk. "Jadi gini dok, tadi pagi saya tes kehamilan. Terus testpack nya menunjukkan garis dua tapi yang satu nya masih samar-samar."


Dokter itu tersenyum mengangguk mendengar penjelasan Rein. "Kita langsung periksa ya Bu. Untuk mengetahui hasil nya lebih jelas."

__ADS_1


***


"Jadi gini Bu. Saya curiga ibu sedang hamil, Usia kehamilan nya mungkin masih 2-3 minggu jadi sangat sulit di deteksi oleh pemeriksaan USG karena ukurannya masih sangat kecil. Mungkin masih sebesar jarum saja dan masih melakukan pembelahan sel-sel. Biasanya pada usia ini baru akan terlihat penebalan dinding rahim atau kantung kehamilan saja."


Rein mengangguk mengerti, ia sudah menguatkan diri untuk hasil nya, apapun itu. Rein kini duduk lagi di hadapan dokter itu.


Dokter itu menyemangati Rein yang terlihat sedih meskipun ia tutup-tutupi. "Ibu bisa mengulangi tes kehamilan beberapa hari kemudian untuk memastikan lagi. Bu Rein bisa di pastikan hamil, namun kehamilan nya belum terlihat jelas yang artinya janin masih sangat kecil."


"Biasanya Hasil testpack yang samar dapat terjadi karena hormon hCG yang dihasilkan masih sangat rendah dan belum bisa terdeteksi sepenuhnya. Seiring dengan bertambahnya usia kehamilan, hormon hCG dalam tubuh akan meningkat. Ibu bisa mengulang tes kehamilan beberapa hari kemudian untuk memastikannya." jelas dokter itu panjang lebar dengan senyum.


Rein mengangguk mengerti. "Makasih dok."


Setelah itu Rein langsung berpamitan untuk pulang. Di dalam mobil Rein hanya duduk diam sambil mengingat-ngingat penjelasan dokter tadi. Ia berharap agar dirinya hamil.


Meskipun davin sering mengatakan bahwa tidak masalah kalau mereka tidak mempunyai anak namun Rein tahu bahwa Davin ingin sekali memiliki anak.


Ia ingat saat kedua nya sedang menonton televisi, Davin sangat terlihat antusias ketika ada seorang bayi. "Semoga hasil nya baik." gumam nya.


***


"Sayang, tau nggak? Tadi waktu meeting sama Klien di restoran. Ternyata dia bawa anak nya yang masih bayi. Kasihan banget dia masih kecil gitu, tapi sudah nggak punya ibu. Aku langsung ingat waktu Ami pas kecil."


Davin dan Rein saat ini sudah berada di atas ranjang. Kedua nya mengobrol kecil sebelum tidur.


"Kasihan banget. Terus gimana?" tanya Rein langsung.


"Ya gitu, cuma papah nya yang urus." jelas Davin sambil menatap istrinya.


"Aku pengen ketemu dong suami." ujar Rein penuh harap.


"Iya nanti aku kabarin dia ya. Sekarang ayo kita tidur."


Kedua nya pun langsung beristirahat, setelah berdoa terlebih dahulu. Davin mengecup sayang kening Rein yang sudah tertidur pulas.


"Malam istri ku. Semoga kita juga cepat punya anak ya." bisik nya pelan.


***


Maaf buat segala Typo dan penulisan yang masih berantakan..


Semoga suka bab ini.....

__ADS_1


__ADS_2