
Raja mengusap wajah nya pelan. Ia kemudian mendudukkan dirinya, melirik sekilas pada jam, ternyata sudah menunjukkan pukul 6 lebih.
Raja menuruni kasur nya lalu berjalan menuju kamar mandi. Ia segera memulai ritual mandi nya. 15 menit kemudian, Raja keluar dengan handuk yang melilit pinggang nya.
Raja mengusap rambut nya yang basah menggunakan handuk kecil di tangan nya. Ia berdiri di kaca sambil menatap tubuh nya, apalagi di bagian perut nya yang terdapat kotak-kotak yang sudah terbentuk dengan indah.
Bibir nya menyunggingkan senyum tipis kala mengingat kejadian semalam. "Siapa ya namanya?" gumam nya pelan.
Raja sedikit menyesal karena tak menanyakan nama gadis itu. Yang ia tahu hanya tempat berjualan gadis tersebut, itupun kalau ia masih berjualan di sana.
"Raja, sudah bangun?" suara seorang wanita terdengar di balik pintu kamar nya. Raja yang mengetahui itu Rein langsung saja berjalan untuk membukakan pintu.
"Sudah Bun. Ayo masuk." ajak nya pada Rein yang terlihat belum mandi, masih terbalut daster nya.
Raja ingin meminta maaf pada Rein karena sudah membuat wanita itu khawatir. "Bun, aku minta maaf sudah pulang larut tadi malam. Maaf karena sudah buat bunda khawatir." ujar nya ketika Rein membereskan tempat tidur nya.
Rein menoleh menatap putra nya itu lalu kembali fokus membereskan tempat tidur itu. "Bunda nggak papa kamu mau main sampai jam berapa, asalkan kamu sudah ngabarin bunda, Daddy atau adik-adik kamu. Tadi malam bunda telfon kamu tapi nggak aktif, bunda khawatir kamu kenapa-kenapa di jalan."
Raja meringis kecil, merutuki kesalahan nya. "Maaf bun." ujar nya menyesal.
"Iya nggak papa. Ayo turun kalau sudah siap, kita sarapan sama-sama. Bunda mau bangunin adik-adik kamu dulu." ujar Rein lalu berlalu dari kamar Raja menuju kamar Lovi dan Rayyan.
Raja menghela nafas lega, setelah meminta maaf pada Rein. "Beruntung banget aku." gumam nya pelan.
Raja segera keluar dari kamar nya, saat sudah siap dengan seragam sekolah nya serta tas yang bertegar berada di bahu nya. Sesampainya di meja makan, ternyata belum ada orang sama sekali, namun sudah tersedia beberapa menu makanan. Termasuk pisang goreng yang ia beli semalam.
Melihat itu jantung Raja berpacu dengan cepat. Raut semangat, serta senyuman gadis itu memenuhi kepalanya. "Kenapa kamu?" tanya Davin yang baru saja tiba di meja makan, lengkap dengan setelan kantor nya.
"Eh! Nggak papa kok dad." jawab Raja kikuk, sambil menatap Davin.
"Ohh. Adik-adik kamu mana?" tanya Davin lagi, sambil menuangkan kopi dari teko pada sebuah gelas kaca.
"Lagi di bangunin bunda." ujar nya, sambil ikut menuangkan kopi pada gelas nya.
"Oh gitu. Nanti pulang sekolah ke kantor sebentar, Daddy ada keperluan sama kamu." ujar Davin. Ia melirik putra nya sekilas lalu mengambil pisang goreng yang ada di atas meja.
__ADS_1
Raja mengerutkan keningnya heran. "Biasa nya juga kalau tentang kerjaan Daddy pasti langsung kirim ke email aku, kenapa harus ke kantor?" tanya nya heran. Bukan nya menolak, hanya saja ia sedikit heran.
"Adalah, nanti kamu tau sendiri." jawab Davin membuat Raja menggeleng samar.
***
"Bun, Lovi capek nggak mau sekolah!" rengek Lovi saat mereka menuruni tangga.
"Sekolah aja capek, kerja kuli sana yang capek." cibir Rayyan sambil berjalan di sebelah Rein.
"Abang diam deh, nggak usah ikut campur. Ayolah Bun, Lovi nggak usah sekolah hari ini." Ujar nya sambil menggerakkan tangan Rein yang ia gandeng, membuat wanita paruh baya itu menghela nafas lelah.
"Kamu nggak sekolah emang mau nikah?" tanya Rein sambil melirik putri nya.
"Ya nggak sekolah bukan berarti nikah Bun." balas nya sambil memasang wajah cemberut.
Masalah nya jika ia sekolah hari ini, Lovi sangat malu jika bertemu Zidan nanti. Pasal nya ia tadi malam salah mengirim pesan, dan pesan itu malah terkirim pada nomor sang pujaan hati. Belum sempat di tarik kembali, pesan itu sudah di baca oleh Zidan.
Davin dan Raja melirik pada tiga orang yang sangat heboh pagi-pagi sekali. "Kenapa sayang?" tanya Davin pada istri nya.
Davin melirik Lovi yang masih memasang wajah cemberut nya. "Putri Daddy kenapa nggak mau sekolah?" tanya Davin heran.
"Pokoknya hari ini aja dad aku nggak sekolah." rengek nya. Sangat berharap agar ia di perbolehkan.
"Kelas kamu hari ini ulangan harian."
Lovi tersenyum lebar menatap Raja yang menatap nya biasa tanpa rasa bersalah. "Abang tau dari mana?" tanya nya heran.
Raja menggeleng pelan. Ia hanya menebak-nebak saja, ternyata tebakan nya benar. "Pokoknya kamu sekolah, ada ulangan harian hari ini." ujar Rein Tak ada bantahan.
Lovi menelungkup kan wajah nya di atas meja, ia harus menyiapkan dirinya untuk bertemu dengan Zidan nanti. "Memalukan!" gumam nya membuat Rayyan melirik nya sekilas
"Apa nya yang memalukan?" tanya nya.
"Abang kepo!" balas Lovi tak semangat.
__ADS_1
Lovi menatap Daddy nya penuh permohonan, namun Davin hanya menggeleng tanda ia tak bisa membantu. Suami takut istri, gumam Lovi sambil terkikik dalam hati.
"Sudah ayo makan sarapan nya. Sebentar lagi jam 7." ujar Rein sambil membagikan nasi pada sang suami.
"Iya Bun." jawab mereka serempak. Sangat patuh pada Rein.
***
"Bunda tumben buat pisang goreng?" Semua langsung melihat pada Rein.
Raja sendiri hampir tersedak ketika mendengar pertanyaan Rayyan. "Bukan bunda yang buat." jawab Rein jujur.
Raja tersenyum canggung saat mereka semua menatap dirinya. "Abang tumben beli pisang goreng sebanyak ini?" Lovi bertanya menelisik pada Raja yang seketika panik, namun ia berusaha sembunyikan.
"Bantu orang." jawab nya singkat. Memang benar dia membantu gadis itu, jika dia membeli semua pisang nya, otomatis gadis itu akan pulang lebih cepat.
"Tumben banget." gumam Lovi dan Rayyan sama-sama.
Davin dan Rein saling tatap kemudian mengedihkan bahu tak tahu.
***
"Ayo turun." Raja berucap pada adik nya yang hanya diam di dalam mobil. Padahal mereka sudah tiba di sekolah 5 menit yang lalu.
"Abang duluan aja deh." ujar nya khawatir. Bagaimana jika ia bertemu Zidan nanti saat berjalan menuju kelas.
"Kamu kenapa sih? Ada yang ganggu kamu?" Rayyan yang ikut naik mobil dengan Raja dan Lovi mencetus.
Lovi menggeleng sambil menatap sekitar nya. "Bukan bang. Ini lebih menegangkan dari pada di ganggu sama fans-fans kalian." ujar nya membuat Raja dan Rayyan penasaran.
"Ya terus apa kalau bukan karena di ganggu?" Rayyan mencoba sabar menghadapi adik nya ini.
"Pokoknya ada deh. Ya sudah Lovi turun dulu bang. Bye abang." Ia menyalami kedua nya tak lupa Raja dan Rayyan mengecup kening gadis itu.
"Lah malah di tinggal bocah." gumam Rayyan kesal, melihat kepergian adik nya yang berlari. Rayyan segera mengikuti Raja yang sudah keluar.
__ADS_1