
Setelah kepulangan mereka dari rumah Ani dan Aldrich. Kini Rein dan Davin sedang berada di kamar.
Rein yang duduk di kasur, melamun tidak menyadari bahwa Davin ada di depan nya.
"Kamu kenapa, hm?" tanya Davin sambil berjongkok di depan nya. Davin menatap Rein dengan sayang. Seolah mencurahkan seluruh cinta nya pada sang istri.
Betul saja, Rein tersentak melihat Davin. "Hah, kenapa mas?" tanya nya.
Davin mengusap pipi Rein lalu menangkup kedua nya. "Istri cantik ku ini kenapa ngelamun?" tanya ulang Davin sambil menatap Rein dalam.
"Nggak papa kok mas." balas Rein sambil menunjukkan senyum nya.
Davin tahu ada yang di sembunyikan oleh Rein, namun ia tak ingin memaksa sang istri untuk bercerita.
"Kalau ada apa-apa cerita ya. Kita sudah menikah, masalah kamu masalah aku juga." Rein mengangguk lalu memeluk Davin.
"Mas Davin, kalau aku nggak hamil-hamil gimana?" tanya nya dengan masih berada di pelukan Davin.
Davin langsung melepaskan pelukan mereka. Ia menatap wajah cantik Rein. "Kenapa bahas itu? Kamu masih kepikiran omongan mamah tadi?" tanya Davin tepat sasaran. Akhirnya ia tahu apa yang membuat sang istri terlihat tertekan.
Rein dengan ragu mengangguk. "Kok aku lama ya hamil nya?" tanya Rein dengan wajah sendu.
Davin menggenggam tangan Rein lalu menatap wajah istri nya. "Sayang dengerin aku dulu. Tujuan kita ketika menikah itu untuk hidup bersama, bukan?" Rein mengangguk. Ia teringat akan tujuan masing-masing dari pribadi mereka ketika akan menikah.
"Jadi, ada atau tidak nya anak itu tidak masalah. Lagian kan kita juga baru menikah, mungkin Tuhan emang pengen kita lebih mengenal satu sama lain sebelum di berikan anak."
Rein memeluk Davin erat. Ia bersyukur mempunyai seorang suami yang selalu mendukung dan penyabar seperti Davin. "Makasih paksu."
"Sama-sama sayang. Oh iya satu lagi, mungkin aja proses pembuatan debay nya harus lebih giat lagi. Misal nya setiap hari gitu." Itu sih modus Davin.
Rein tertawa kecil mendengar ucapan sang suami. "Emang sanggup?" tanya Rein sambil menatap Davin mesra.
"Sanggup lah sayang. Kamu mau coba?" Sebelum Rein menjawab, Davin sudah lebih dulu menerjang nya.
Akhirnya kamar itu di isi dengan suara ******* dari kedua nya. Ruangan yang tadi nya dingin, kini terasa panas akibat permainan kedua nya.
Rein menyesali ucapan nya yang seolah menantang Davin. Suami nya ini benar-benar membuktikan kekuatan nya, membuat Rein pasrah saja jika besok ia tak bisa berjalan.
***
Rein dan Ani kini berada di sebuah restoran mewah. Pagi tadi mertua nya mengajak ia untuk bertemu teman-teman arisan nya.
__ADS_1
"Hi jeng Ani, maaf ya lama. Maklum saya harus bantu menantu saya urus cucu dulu." Seorang wanita paruh baya datang dengan terburu-buru.
Wajah Ani berubah mendengar itu. Ia terlihat antusias mendengar ucapan wanita itu. "Nggak papa jeng. Saya juga pasti gitu kalau ada cucu."
Rein tersenyum kecil, mendengar ucapan sang mertua. Kapan ia bisa memberikan cucu untuk sang mertua.
"Oh ini ya menantu nya?" tanya wanita itu sambil menatap Rein.
"Iya jeng, kenalin ini menantu saya. Nama nya Rein."
"Halo bu, Saya Rein." sapa Rein hangat, tak lupa ia memberikan senyuman.
"Halo juga Rein. Saya Desi."
Terlihat dari kejauhan beberapa wanita dengan pakaian glamor nya datang menghampiri meja mereka.
"Hi jeng Desi, jeng Ani." Sapa mereka pada Ani dan juga Desi.
Rein tersenyum sambil menatap mereka. Ia merasa sangat canggung di antara ibu-ibu sosialita ini. Apalagi pakaian mereka terlihat bermerek semua.
***
Rein Tak terlalu paham obrolan mereka membuat nya hanya diam saja.
Mendengar pertanyaan itu, Rein tersenyum canggung. "Belum Bu." Jawab nya.
Miranda mengerutkan keningnya heran. "Lama ya, padahal nikah nya sudah 2 bulan lebih. Waktu itu menantu saya menikah, nggak sampai 1 bulan sudah hamil." ujar nya bangga, menceritakan itu.
Ani melirik Rein yang tampak diam. "Anak sama menantu saya pengen menghabiskan waktu berdua dulu sebelum punya anak yang nantinya akan membuat mereka membagi waktu." jelas Ani membela Rein. Rein hanya mengangguk mengiyakan ucapan sang mertua.
Akhirnya kumpulan ibu-ibu itu saling membanggakan menantu dan cucu mereka. Rein dan Ani hanya diam mendengarkan mereka.
"Kalau gitu kami pulang duluan ya jeng, masih ada kerjaan lain lagi." ujar Ani yang kasihan melihat Rein seperti tertekan karena ucapan teman-teman sosialita nya.
"Oh gitu, hati-hati jeng Ani dan Rein." ujar Desi pada teman nya.
"Kapan-kapan kita kumpul lagi ya, ajak cucu sama menantu juga." Ujar Miranda dan yang lain nya mengangguk menyetujui.
***
"Rein, kamu nggak usah terlalu mikirin ucapan teman-teman mamah. Kamu puas-puasin aja waktu sama suami kamu. karena kalau sudah punya anak itu, waktu kamu pasti terbagi untuk urus suami dan anak." Ucap Ani ketika mereka sudah di dalam mobil.
__ADS_1
"Iya mah. Maaf Rein belum bisa kasih cucu buat mamah." ujar nya sendu. Ani tersenyum lalu mengusap rambut Rein sayang.
"Nggak papa. Nggak usah kamu pikirkan, nanti malah sakit lagi." ujar Ani sambil menatap menantu nya.
Sekali lagi Rein bersyukur mendapatkan mertua seperti Ani. Mertua yang tidak terlalu menuntut nya dan selalu mensupport dirinya.
"Makasih banyak mah." Rein memeluk Ani dengan erat.
***
Hari-hari berlalu Rein jalani dengan baik. Ia juga sudah tidak terlalu memikirkan ucapan-ucapan dari teman-teman Ani masalah mempunyai anak.
Rein dan Davin hanya berusaha dan selalu menyerahkan semua nya pada yang kuasa.
Pagi ini Rein memaksa untuk ikut bersama Davin menuju kantor. "Mau ikut..." rengek nya manja pada Davin. Bahkan matanya sudah berkaca-kaca siap menumpahkan kristal bening.
"Di rumah aja ya, kan lagi sakit." ujar Davin membujuk Rein dengan lembut.
"Nggak mau. Mau ikut Hikss...." Rein terisak sambil memegang ujung jari Kelingking Davin.
"Bunda, sama Ami aja ya di rumah." bujuk Ami pada ibu sambung sekaligus sahabat nya itu.
Rein menggeleng kuat. Ia hanya ingin ikut dengan Davin, namun mereka seakan tak mengerti.
Rein juga tak mengerti mengapa ia menjadi semanja ini, bahkan sampai menangis.
Davin yang akan ada rapat penting pagi ini, mencoba sabar untuk menghadapi sifat manja sang istri yang tak seperti biasanya.
"Kak, sudah siap belum. Rapat nya sebentar lagi mulai." Alex tiba-tiba menghampiri nya dengan setelan jas yang sudah rapi.
"Iya bentar. Kakak ipar kamu, hari ini rewel banget." jelas Davin sambil melirik Alex.
"Sudah ya nangis nya, matanya udah bengkak loh." Davin mengusap air mata yang terus turun membasahi wajah cantik Rein.
"M-mau ikut suami..." ujar nya sesegukan.
"Kak ayo cepat. Kita sudah telat." Alex mendesak Davin membuat pria itu tanpa sadar menyentak tangan Rein yang memegang jari nya dengan kasar.
"Kamu di rumah aja, nggak usah ikut." Ujar nya pada Rein yang tersentak kaget karena perbuatannya. Namun Davin tak menyadari nya karena terlalu buru-buru.
"Ami tolong jaga bunda kamu. Daddy usahakan pulang cepat." Ami menatap Rein yang sudah siap menangis akibat ulah Daddy nya.
__ADS_1
"Bun, jangan nangis. Ayo kita masuk aja." bujuk Ami pada Rein yang kini sudah menangis melihat kepergian Davin.
Ami menuntun Rein yang diam saja dengan tangisan yang semakin kencang. "Istirahat aja ya, biar cepat sembuh." Rein tetap diam dengan wajah sembab, karena terlalu lama menangis.