
Rein yang di bawa secara paksa, kini di kurung dalam sebuah kamar. Ia tak tahu entah dimana dirinya sekarang. Yang pasti ini bukan rumah nya dulu.
"Mas Davin..." gumam nya sambil menatap hamparan bunga melewati jendela. Sekitar 30 menit lalu ia baru saja bangun akibat pingsan.
Rein tak tahu apa yang mereka inginkan dari nya. Dulu ia di tinggalkan tepat saat lulus SMA, tanpa penjelasan apapun. Mereka hanya memberitahu kan nya tentang perceraian.
Rein terpuruk saat itu, dan hanya Ami yang menemani nya. Kini mereka kembali, membawa nya pergi dari sebuah kebahagiaan yang sudah ia temukan.
***
"Dimana Rein?" seorang lansia memasuki rumah dengan tongkat di tangan nya. Wajah yang sudah terlihat kerutan itu tidak menghalangi ketegasan nya.
Tatapan tajam itu bak elang yang siap memangsa target nya. "D-di kamar pah."
Pria itu melangkah pergi menaiki tangga menuju kamar yang ia yakini tempat Rein berada. Bunyi pantofel dan tongkat memenuhi ruangan yang terasa sunyi itu.
Iris nya menangkap sebuah pintu berwarna cokelat. Kaki nya melangkah mendekat.
Tok Tok Tok...
Tiga kali ketukan, pintu terbuka secara otomatis. Rein menutup mulutnya terkejut, menatap wajah orang yang kini berdiri di hadapan nya. "Kakek..." gumam nya tak percaya. Rein memeluk sang kakek dengan erat.
"Hmm. Maafkan kakek, baru mengetahui semua nya. Kakek terlalu sibuk, sehingga tidak memperhatikan cucu kesayangan kakek ini." Rein menangis mendengar penuturan sang kakek.
Abijar Diwantara seorang pria yang terkenal akan kehebatan nya dalam dunia bisnis. Ia terlalu sibuk mengurusi bisnis nya membuat ia tak mengetahui perbuatan menantu dan anak nya. Beberapa Minggu lalu ia baru mengetahui jika sang cucu tidak tinggal di antara salah satu nya.
"Kakek kira selama ini kamu tinggal sama mamah atau papah kamu." ujar nya merasa bersalah.
Rein menggeleng dalam pelukan nya. Ia sangat sangat merindukan sang kakek. "Rein waktu itu tinggal di kontrakan, tapi sekarang sudah pindah di rumah sahabat Rein." jelas Rein namun tak menyebutkan alasan yang membuat ia pindah.
"Sahabat kamu? Siapa dia?" tanya Abijar pemasaran.
"Amira Artama, kek." Jawab Rein sambil menatap sang kakek.
"Artama?" Abijar baru mengetahui bahwa sang cucu berteman dengan putri pebisnis hebat, siapa lagi jika bukan Davin Artama, anak dari Aldrich Artama yang tak kalah hebat.
Abijar membawa Rein masuk ke dalam kamar. "Gimana kabar kamu?" Tanya Abijar sambil mengelus rambut Rein.
Rein tersenyum riang menatap sang kakek. "Rein sehat dong. Kakek juga sehat kan?" tanya Rein khawatir, pasal nya sang kakek dulu sering sakit.
*Puji Tuhan kakek sehat."
"Syukurlah. Rein senang dengar nya."
***
__ADS_1
"Masih jauh rumah nya?" tanya Davin sambil memfokuskan diri menatap jalan yang cukup padat. Ami yang duduk di sebelah Davin menggeleng.
"Bentar lagi sampai dad." jelas nya. Davin baru mengetahui jika orang tua Rein ada di Indonesia. Astaga, dia kurang mengenal sang kekasih, sesal Davin dalam hati. Ia bahkan tak mengetahui permasalahan yang di alami sang kekasih dan orang tua nya.
Tak berapa lama, Davin, Ami dan Aldo sampai di sebuah bangunan minimalis. "Ini rumah nya?" tanya Davin sambil memperhatikan rumah yang terasa sepi.
"Iya dad. Tapi Ami nggak tau mereka masih tinggal di sini atau sudah pindah." jelas nya.
"Kita turun aja om, biar di cek." ujar Aldo, membuat ayah dan anak itu mengangguk setuju.
***
Tok tok tok...
Davin berdiri gelisah, ia dari tadi mengetuk pintu namun belum ada yang membuka nya. Rumah itu juga terasa sepi, seperti tidak berpenghuni.
"Ami, kamu yakin ini rumah nya?" tanya Davin lagi.
"Yakin dad. Dulu Rein tinggal di sini. Tapi itu waktu jaman SMA dad, nggak tau kalau sekarang." jelas Ami membuat Davin dan Aldo sama-sama menghela nafas.
"permisi mas, cari siapa ya?" seorang wanita yang melewati mereka menyapa dengan hangat.
"Kami cari ibu Reni, bu. Apa beliau masih tinggal di sini?" tanya Ami dengan sopan. Reni Diwantara adalah nama dari Ibu Rein.
"Oh gitu ya. Makasih Bu informasi nya." Ibu itu mengangguk lalu berlalu dari sana.
***
Hari sudah gelap namun tak ada tanda-tanda jika Rein kembali. Davin berdiri gelisah di depan pintu, berharap Rein segera kembali.
"Dad, makan dulu dong." ujar Ami yang sedari tadi membujuk Davin untuk makan.
"Daddy tunggu Rein pulang, baru makan." Davin menjawab namun tak menatap Ami.
"Daddy nggak boleh gitu, Rein bisa marah sama Daddy kalau tau Daddy telat makan."
Davin mengangguk membenarkan, ia ingin makan namun rasa khawatir akan keberadaan sang kekasih membuat nya tak nafsu untuk makan.
"Benar yang di bilang Ami, kamu nggak usah terlalu khawatir gitu. Lagian Rein kan ikut orang tua nya, bukan lagi di culik." Aldrich datang di ikuti Ani di sebelah nya.
Kedua paruh baya itu baru mengetahui jika Rein di bawa oleh orang tua nya. "Ayo nak makan dulu, mamah udah masakin makanan kesukaan kamu." Davin menurut ucapan sang ibu. Meskipun raut khawatir tergambar jelas.
***
"Jadi, kamu pacaran sama anak tuan Aldrich?" tanya Abijar terkejut. Rein mengangguk malu.
__ADS_1
Rein menceritakan kehidupan nya selama ini karena paksaan sang kakek. Termasuk dirinya yang pacaran dengan Davin.
"Dia bukan nya duda ya?" tanya Abijar.
"Iya kek. Tapi Rein nggak masalah sama status itu." jawab Rein cepat, membuat Abijar terkekeh. Cucu nya persis dirinya. Suka yang lebih dewasa.
"Oh gitu. kapan-kapan, ajak dia ketemu kakek ya?" Rein terkejut mendengar itu, namun tak urung ia mengangguk.
"Iya kek. Nanti aku ajak mas Davin ketemu kakek."
"Oh iya, aku lupa kabarin mas Davin." Rein menepuk keningnya pelan. Ia segera mencari ponsel nya.
"Banyak banget telfon nya. Pasti mas Davin khawatir." gumam Rein merasa bersalah.
Ia segera menelfon Davin, hingga panggilan ketiga suara berat dan khas milik Davin terdengar.
***
Setelah makan, Davin beranjak menuju kamar nya untuk membersihkan diri. Namun saat akan menuju kamar mandi, suara ponselnya berbunyi.
Davin dengan cepat meraih ponselnya, matanya membulat saat melihat emoticon love merah dengan nama Rein muncul di layar nya.
"Halo sayang? Kamu dimana? Kamu baik-baik aja kan?" Davin mencerca Rein dengan banyak pertanyaan, membuat Rein merasa bersalah.
"Mas Davin aku baik-baik aja. Aku lagi di rumah kakek mas." jelas Rein membuat Davin menghembuskan napas lega. Ia lega karena sang kekasih baik-baik saja.
"Oh gitu, iya sayang. Mas jemput kamu ya?" Davin sangat merindukan Rein.
"Eh jangan mas, ini sudah malam. Rein besok balik nya." ujar Rein cepat.
"Tapi aku kangen sayang..." balas Davin gemas. Ia ingin menggigit sang kekasih, seandainya Rein ada di dekat nya.
"Rein juga kangen mas. Mas sudah makan?" tanya Rein penuh perhatian.
"Sudah sayang. Kalau kamu?"
"Sudah mas."
"Sayang, besok beneran pulang kan?" tanya Davin serius.
"Iya mas. Ya sudah Rein matikan ya mas. Rein besok beneran pulang. Bye mas Davin."
Davin menatap ponselnya dengan raut bahagia. Akhirnya besok ia bisa bertemu lagi dengan Rein. Davin tidak bisa membayangkan jika Rein pergi meninggalkan nya.
Baru beberapa jam di tinggal dirinya sudah hampir gila, apalagi jika di tinggal selama nya. Davin bergidik membayang kan itu.
__ADS_1