
1 BULAN KEMUDIAN....
"Semua nya sudah siap kan?" Tanya Davin pada sang sekretaris.
"Iya pak. Bapak dan ibu bisa berangkat jam 7."
"Baik lah. Makasih ya, bonus kamu nyusul." Senyum bahagia langsung terlihat di wajah sekretaris nya, membuat Davin ikut bahagia.
"Terimakasih pak."
Davin mengangguk lalu menyenderkan tubuh nya pada kursi kebanggan milik nya. Ia sedang membayangkan diner-diner romantis yang akan ia dan sang istri lakukan 2 jam lagi.
Dengan cepat daddy 4 anak itu langsung saja menyelesaikan pekerjaan nya yang tinggal sedikit. Tangan nya bergerak lincah di atas layar komputer. Mengetikan baris demi baris kata, mem membentuk sebuah kalimat.
Sekita 25 menit Kemudian, Davin merenggangkan tubuh nya. Ia berdiri lalu meraih jas nya dan tas kerja nya lalu berjalan menuju keluar ruangan.
"Saya pulang duluan. Kalau pekerjaan kamu sudah selesai kamu langsung pulang. Dan satu lagi, adik saya jangan kamu gantung terus." Davin melenggang pergi dengan wajah tak berdosa nya yang sudah membuat sang sekretaris merona malu.
***
Davin memandang hujan yang turun dari dalam mobil dengan kesal. Ia berdecak lalu melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang. Seperti nya diner yang ia bayangkan sedari tadi tidak akan terjadi hari ini.
Sedangkan di tempt lain suara petir terdengar saling bersahutan. Rein sedang menggendong putri kecil nya yang menangis karena kaget. Usia mereka tak terasa sudah 1 bulan, 5 hari.
Waktu berjalan begitu cepat. Rein tampak sibuk menimang bayi mungil itu. Beginilah seorang ibu, semua akan ia lakukan demi buah hatinya. Dengan dekapan hangat dan bisikan menenangkan akhirnya bayi mungil itu kembali tertidur.
Rein belum sempat mandi, pekerjaan rumah di tambah sekarang sudah ada 3 bayi nya membuat ia tidak sempat mengurus dirinya sendiri.
"Mas Davin belum sampai juga." gumam Rein khawatir.
Ia berjalan menunu jendela, matanya menatap langit yang berubah gelap, rintik hujan semakin turun dengan deras namun sang suami belum juga kembali.
Ia kembali menutup tirai jendela, dan hendak berjalan menuju dapur untuk membuat makan malam. Mumpung baby triple sedang tertidur. Nanti ia akan meminta Ami untuk menjaga mereka.
Tin tin tin...
Suara klakson terdengar samar. Dengan cepat Rein berjalan menuju pintu utama. Ia tersenyum senang melihat Davin yang bsru keluar dari dalam mobil nya.
Davin mengecup kening Rein lalu menggandeng tangan sang istri untuk masuk ke dalam rumah. "Mana anak-anak sayang?" tanya Davin yang masih menggandeng mesra pinggang sang istri.
"Ami di kamar nya, kalau baby triple tidur, tadi rewel banget gara-gara kaget dengar suara petir."
"Kamu pasti capek urus anak-anak sendiri?" ujar Davin sambil mengelus wajah istri nya yang tampak kelelahan.
Jangan pernah bilang bahwa istri yang hanya ada di rumah tidak akan pernah lelah. Mengurus anak, membersihkan rumah, memasak dan lain sebagainya itu semua di kerjakan sendiri oleh seorang istri. Apalagi bi Anum yang baru saja memilih berhenti bekerja karena faktor umur yang membuat nya sering sakit, membuat Rein mengurus semua nya sendiri.
Kau tidak akan pernah tau rasanya jika belum mencoba. Hargai istri mu, sayangi dia, terkadang dia menginginkan sesuatu namun mungkin ia tahan, dan tugas mu sebagai suami peka lah, coba mengerti apa yang istri mu mau, buat dia bahagai dengan hal-hal kecil yang membuat nya merasa di hargai dan di cintai.
Seorang istri akan merasa di cintai, ketika hal-hal kecil yang ia lakukan di hargai.
"Capek lah mas. Tapi mau gimana lagi, itu kan sudah jadi tugas dan kewajiban aku. Mengurus anak-anak, rumah dan kamu kerja cari uang untuk menafkahi kami."
Davin memeluk Rein erat. "Beruntung banget aku dapat istri komplit kaya kamu sayang." ujar Davin membuat Rein tertawa kecil.
"Aku lebih bangga punya kamu. Ayah dan suami yang terbaik versi aku."
Kedua nya salinvmg mencurahkan isi hati masing-masing.
***
Selepas mandi, Rein keluar menggunakan sebuah kimono putih. Ia berjalan namun di kagetkan dengan lilin-lilin yang sudah ada di setiap sudut kamar. Tak lupa ada sebuah meja kecil yang ada di dekat tempat tidur beserta 2 buah bangku.
Kapan suami nya ini menyiapkan semua nya. Perasaan ia berada di kamar mandi tidak lama.
"Mas Davin..?" ujar nya penuh tanya.
Davin yang sedari tadi berdiri di sana tersenyum hangat menatap sang istri. "Pakai ini sayang." ujar nya sambil menyerahkan sebuah kotak putri pada wanita nya.
"Ini apa, mas?" ujar nya penuh tanya.
"Buka aja." Rein membuka kotak itu.
Matanya menatap kaget sebuah gaun berwarna putih yang sangat cantik. Gaun dengan model Sabrina Davin berikan untuk sang istri. Seharusnya mereka diner di sebuah restoran mewah yang sudah Davin persiapkan namun alam seperti nya tidak mendukung.
"Gaun nya cantik banget." ujar nya girang. Selepas melahirkan, Rein sudah tidak terlalu mengurusi dirinya. Ia akan sibuk mengurus anak dan suami nya sehingga dirinya sendiri tak ia perhatikan. Apalagi ia tidak memakai baby siter membuat nya kadang kerepotan sendiri namun perasaan bahagia lebih mendominasi.
"Kamu lebih cantik dari segalanya. Istri ku lebih-lebih dan lebih dari semua yang tercantik." ujar Davin gombal, membuat Rein tampak merona malu.
"Apasih mas. Ya sudah aku ganti baju sebentar." Davin mengangguk. Ia menilih berjalan menuju Keranjang bayi untuk menatap anak-anak nya yang tertidur dengan nyenyak.
"Pules banget tidur nya tiga kesayangan daddy ini." ujar nya sambil terkekeh kecil
***
__ADS_1
"Wah, mas kapan nyiapin makanan nya? Cepat banget." Rein terkejut menatap makanan yang sudah terhidang dengan cantik di atas meja yang Davin persiapkan.
"Kamu nggak perlu tahu sayang. Yang terpenting sekarang kanu harus menikmati semua ini. Anggap sana diner kecil-kecilan sayang." Rein mengangguk antusias.
Kedua nya mulai menyantap hidangan yang ada. Raut bahagia tergambar jelas di wajah Rein. Membuat Davin yang melihat itu ikut bahagia. Motto nya adalah 'istri bahagia suamipun ikut bahagia'." Mas Davin ini tipe-tipe suami idaman sekali ya para bunda-bunda.
Selesai makan. Davin melipat kedua tangan nya di atas meja lalu menatap Rein. Sang istri yang merasa di tatap sedemikian rupa oleh sang suami langsung nerona malu.
"Jangan liatin terus mas, malu ih." gumam Rein membuat Davin tertawa gemas.
"Kamu tu lucu banget sayang." Davin menarik pipi tembem Rein yang terasa sangat kenyal.
"Aakk...Sakit mas Davin, lepasin!" Pekik nya pelan. Takut membangunkan ketiga bush hati mereka.
Davin beralih mengelus pipi sang istri yang memerah samar. "Haha Maaf sayang, habis nya kamu terlalu gemas untuk di anggurin." jawab Davin sekenanya.
"Mau dansa?" tanya Davin dengan senyum manis nya, membuat Rein salting sendiri.
Rein lantas menggeleng cepat. Sumpah ia tidak bisa ber-dansa sama sekali.
"Aku nggak bisa mas." ujar nya pelan.
"Nggak papa aku ajarin. Pelan-pelan aja." ajak Davin mencoba membujuk sang istri.
Rein akhirnya mengangguk singkat. Sebuah lagu berjudul 'πΏππππππ' yang di populerkan oleh π΄π-πππππππ mengalun indah memenuhi isi kamar. Untung saja baby triple anteng-anteng saja.
Davin meraih tangan Rein lalu mengalunkan di leher nya. Ia sendiri memeluk pinggang Rein membuat tubuh kedua nya seakan lengket. Alunan suara yang begitu mendayu mulai terdengar.
I found a love, for me
Darling, just dive right in and follow my lead
Well, I found a girl, beautiful and sweet
Oh, I never knew you were the someone waiting for me
Davin menatap Rein dengan penuh cinta. Bagi nya Rein adalah segalanya untuk nya.
'Cause we were just kids when we fell in love
Not knowing what it was
Rein berputar dengan tangan kanan yang Davin genggam erat.
But darling, just kiss me slow
Your heart is all I own
And in your eyes, you're holding mine
Kedua nya kembali berpelukan. YmYang tadi nya Rein sedikit kaku, kini sudah bisa menyesuaikan.
Baby, I'm dancing in the dark
With you between my arms
Barefoot on the grass
Listening to our favourite song
When you said you looked a mess
I whispered underneath my breath
But you heard it
Darling, you look perfect tonight
Dahi kedua nya bertemu. Saling memejamkan mata menikmati alunan musik. Davin sekali lagi bersyukur memiliki wanita sempurna seperti Rein.
Well, I found a woman, stronger than anyone I know
She shares my dreams, I hope that someday I'll share her home
I found a lover, to carry more than just my secrets
To carry love, to carry children of our own
Wanita kuat yang selalu ada untuk nya. Wanita yang selalu setia berada di samping nya, menggengam erat jari nya dan meyakinkan semua akan baik-baik saja.
We are still kids, but we're so in love
Fighting against all odds
__ADS_1
I know we'll be alright this time
Darling, just hold my hand
Be my girl, I'll be your man
I see my future in your eyes
Seorang wanita yang telah rela membiarkan dirinya mengandung, dan melahirkan buah hati mereka ke dunia ini.
Baby, I'm dancing in the dark
With you between my arms
Barefoot on the grass
Listening to our favorite song
When I saw you in that dress, looking so beautiful
I don't deserve this
Darling, you look perfect tonight
Kedua nya berpelukan erat. Entah kenapa suasana jadi melow. Kedua nya terisak pelan, bahagia sekali rasanya. Tuhan biarkan mereka merasakan bahagia ini untuk selamanya.
Baby, I'm dancing in the dark
With you between my arms
Barefoot on the grass
Listening to our favorite song
I have faith in what I see
Now I know I have met an angel in person
And she looks perfect
I don't deserve this
You look perfect tonight
Kecupan di kening lalu kecupan singkat Davin berikan pada sang istri. Rein adalah wanita sempurna dan terbaik menurut Davin. "This song is special for my wife. The perfect woman that God gave to complete my life. Thank you dear, stay together for a long time. I love you now, tomorrow and beyond. Let's grow old together"
Rein tidak bisa Berkata-kata. Hanya tangisan bahagia yang terdengar. "Mas Davin, terimakasih juga sudah ajak aku menikmati kebahagiaan ini. Ayo menua bersama untuk waktu yang lama."
Kedua nya berpelukan erat. Entah siapa yang memulai, bibir kedua nya bertemu saling menyesap tanpa nafsu. Ciuman penuh cinta yang mereka berikan, seolah menggambarkan seberapa besar rasa cinta kedua nya.
Kisah mereka berakhir dengan bahagia. Ini bukan akhir namun ini adalah awal perjalanan kisah rumah tangga mereka yang sebenar nya.
~ππ°πΌπ°π~
ππ΄ππΈπΌπ°πΊπ°ππΈπ· πππ³π°π· πΌπ΄π½π΄πΌπ°π½πΈ ππ°ππ° πΌπ΄π½ππ»πΈπ π±πΎπΎπΊ πΈπ½πΈ ππ°πΌπΏπ°πΈ ππ΄π»π΄ππ°πΈ. πΆπ°πΊ ππ΄ππ°ππ° 3 π±ππ»π°π½ π»π΄π±πΈπ· ππ°πΊππ ππ°π½πΆ π»π°πΌπ° ππ½πππΊ πΌπ΄π½ππ΄π»π΄ππ°πΈπΊπ°π½ π±πΎπΎπΊ πΈπ½πΈ. πΊπ°π»πΈπ°π½ ππ΄π°π³π΄ππ ππ΄ππ±π°πΈπΊ, ππ΄ππΈπΌπ°πΊπ°ππΈπ· π°ππ°π πππΏπΎππ π½ππ°.
π΄π½π³πΈπ½πΆ π½ππ° π±π°π·π°πΆπΈπ° πΊπ°ππ΄π½π° π°πΊπ π±πΈπΊπ°π½ πΏπ΄π½πΆπ°π½ππ ππ°π³ π΄π½π³πΈπ½πΆ π·π΄π·π΄. ππ΄πΌπΎπΆπ° π΄π½π³πΈπ½πΆ π½ππ° π½πΆπ΄π½π° ππ°.
ππ½πππΊ π±π°π±π πππΈπΏπ»π΄ ππ΄π½πΆπ°πΉπ° π½π°πΌπ°π½ππ° ππΈπ³π°πΊ π°πΊπ πΊπ°ππΈπ· ππ°π, πΊπ°ππ΄π½π° ππ΄π½π²π°π½π° π½ππ° π°πΊπ π°πΊπ°π½ π±ππ°π π2 π½ππ° π³πΈ π±πΎπΎπΊ πΈπ½πΈ πΉππΆπ°.
ππ°πΏπΈ ππ΄π±π΄π»ππΌ πΈππ π°πΊπ πΌπ°π ππ°π, π°π³π° ππ°π½πΆ πΌπ°π π½πΆπΆπ°πΊ π³πΈ π±ππ°ππΊπ°π½ π2π½ππ° π±π°π±π πππΈπΏπ»π΄.
πΌπ°π π±π°π½πΆπ΄π π°π³π° π2 π½ππ°.
π½πΆπΆπ°πΊ πππ°π· π°πΉπ° πΊπ°πΊ, πΊπΈππ°π· πΌπ΄ππ΄πΊπ° π±π΄ππ°πΊπ·πΈπ π³πΈ ππΈπ½πΈ π°πΉπ°.
ππΈπ»π°π·πΊπ° π³πΈ π πΎππ΄ ππ°. ππ°π½πΆ πΏπ°π»πΈπ½πΆ π±π°π½ππ°πΊ π°πΊπ°π½ π°πΊπ ππππππΈ.
ππ΄π΄ ππΎπ πΆπππ π»πΎπ π΄ ππΎπ ππ΄-πΉπ°πΆπ°π ππ°ππ°π°π° ππ΄π·π΄π·π΄π·π΄π·π
π²π΄ππΈππ° ππ΄π³πΈπΊπΈπ, πΉπ°π³πΈ π°πΊπ πΊπ΄πΌπ°ππΈπ½ π½ππ»πΈπ ππ³π°π· π³π°πΏπ°π 2 ππΈπ±π πΊπ°ππ° π»π΄π±πΈπ·, π΄π· πΊπ΄π·π°πΏππ, π»π°π½πΆπππ½πΆ π³πΎππ½ π°πΊπ...π³π°π½ π±πΈπ°ππ°π½ππ° π°πΊπ πΏπ°πΆπΈ π½ππ»πΈπ πΈπ³π΄ π½ππ° π»π°π½π²π°π, πΏππΉπΈ πππ·π°π½ πΏπ°ππ πΈπ½πΈ ππ΄π»π΄ππ°πΈ πΉππΆπ° ππΊππΊππΊ πΏπ°πΆπΈ ππ°π³πΈ π½ππ»πΈπ.
__ADS_1