
1 Bulan berlalu....
Sudah 1 bulan berlalu setelah kepulangan mereka dari villa. Rumah tangga mereka terlihat lebih baik dan juga harmonis. Davin dan Rein juga tak malu lagi mengumbar kemesraan, membuat Ami yang melihat hanya bisa bersabar menunggu Aldo untuk menikahi nya.
Davin, Rein dan juga Ami mendapatkan undangan malam malam di rumah Ani. Meskipun sebelahan namun mereka jarang bertemu akibat pekerjaan masing-masing.
"Siang suami, lagi sibuk?" Rein sedang berbicara dengan Davin melalui ponsel milik nya.
"Nggak terlalu sibuk kok. Emang kenapa sayang?" tanya Davin di seberang sana.
"Tadi mamah bilang ke aku, kalau kita di suruh ke rumah jam 7. Nanti kamu pulang jam 5 bisa kan?" tanya Rein.
Davin mengangguk meskipun Rein tidak bisa melihat. "Bisa sayang. Kerjaan aku juga nggak terlalu banyak." Rein tersenyum senang mendengar nya.
"Syukur lah. Ya sudah aku tutup dulu ya. Bye suami, semangat kerja nya. I love you." ucap Rein panjang lebar, membuat Davin tersenyum sendiri di dalam ruangan nya.
"Love you too sayang." balas Davin. Pria itu tersenyum sendiri menatap layar ponselnya.
"Bikin gemes aja. Awas kamu nanti malam." gumam Davin sambil tertawa.
***
Pukul 5 sore, Davin sampai di depan rumah. Ia menenteng tas dan jas nya di tangan kanan dan kiri.
"Sayang, aku pulang."
Rein yang sedang membuat jus lantas berjalan menuju ruang keluarga. Ia menyalami Davin lalu mengambil jas serta tas kerja suami nya.
Davin mengecup bibir Rein serta keningnya lalu memeluk istri kesayangan nya. "Kenapa sih?" tanya Rein heran.
Davin menggeleng pelan, ia hanya ingin memeluk Rein saja. "Kamu buat apa?" tanya Davin.
"Buat jus, kamu mau?" tanya Rein sambil menatap suami nya.
"Mau lah."
Rein mengangguk lalu mengajak Davin memasuki kamar mereka. "Mandi dulu, nanti aku bawakan jus nya ke sini." ujar Rein sambil meletakkan tas serta menggantung jas Davin.
"Oke sayang." balas Davin. Ia tanpa membantah langsung masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Sedangkan Rein, ia keluar dari kamar lalu berjalan menuju dapur. Sesampai nya di sana, ia menyiapkan sepiring kue bolu yang ia beli tadi dan segelas jus naga.
Ia kemudian membawa nya menuju kamar mereka.
__ADS_1
Yang bertanya di mana Ami, anak itu sudah pergi duluan ke rumah sang nenek.
"Suami, sini aku bantu keringkan rambut kamu." ucap Rein Ketika Davin keluar dengan handuk yang menggosok rambut nya.
"Makasih sayang." balas Davin sambil duduk di kursi rias Rein.
Rein dengan telaten menggosok rambut Davin yang sangat lembut. Wangi sabun milik Davin memasuki indera penciuman Rein.
"Nah sudah selesai. Itu baju nya sudah aku siapkan.* Rein menunjuk satu set baju yang sudah ia siapkan tadi.
"Istri aku memang yang terbaik." Davin mengecup bibir Rein lalu berlalu dari sana untuk memakai baju yang sudah di siapkan istrinya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 malam. Rein dan Davin kini sedang berjalan menuju rumah tetangga mereka, yang tak lain adalah Rumah Ani dan Aldrich.
Satpam membukakan pagar lalu mengapa Davin dan Rein sopan. "Malam pak Davin, Bu Rein."
"Malam." Ucap kedua nya sambil tersenyum kecil.
Orang-orang ikut merasakan kebahagiaan yang kini tengah di rasakan oleh Davin dan Rein.
"Malam pah, mah." sapa Davin dan Rein sambil menyalami Al dan Ani.
"Ayo langsung ke ruang makan aja." ajak Ani dengan menggandeng Rein, sedangkan Aldrich berjalan bersama Davin di belakang. Setia mengikuti istri kesayangan mereka.
"Maaf ya mah, aku tadi nggak bantu." ucap Rein merasa bersalah, karena tidak membantu mertua nya untuk masak.
"Nggak papa sayang. Tadi mamah juga di bantu Sama bibi kok." ucap Ani, sambil mengelus rambut Rein.
"Alex dimana?" tanya Davin, saat tidak melihat keberadaan sang adik.
"Masih mandi. Adik kamu itu susah banget di suruh pulang kalau sudah kerja, untung mamah ancam kalau nggak mungkin tengah malam nanti baru balik."
"Mungkin banyak kerjaan mah." ucap Davin seperti membela Alex, membuat Ani menghela nafas pasrah.
"Malam semua." Alex tersenyum melihat keluarga nya yang sedang berkumpul.
"Malam."
"Om Alex, habis di gosipin daddy sama Oma." cetus Ami tiba-tiba sambil tertawa.
"Gosipin apa?" tanya Alex penasaran. Matanya menyipit menatap Davin dan Ani.
__ADS_1
"Katanya om Alex kenapa nggak nikah-nikah. Oma sama Opa sudah nggak sabar momong cucu." jelas Ami panjang lebar, membuat seisi meja menatap nya.
"Heh." ucap Davin pada putrinya.
"Belum ketemu jodoh nya. Kalau sudah ketemu nanti aku kenalin dia." balas Alex yang seperti nya biasa-biasa saja.
"Kamu sudah tua, cepat-cepat aja nikah nya. Nanti nggak ada yang mau lagi." ucap Ani pada putra kedua nya.
Alex memutar mata malas, ia belum terlalu tua dan juga ia belum ingin menikah.
"Sudah-sudah ayo makan. Nanti keburu dingin lagi." ucap Aldrich pada mereka semua.
***
Seusai makan, Davin dan keluarga nya langsung menuju ruang keluarga.
Oh iya, jika kalian bertanya dimana Keyla, jawaban nya ia sudah kembali ke Swiss 1 Minggu lalu.
Pekerjaan nya sudah ia tinggalkan cukup lama, membuat nya harus balik ke sana. Sempat Ani dan Aldrich terutama Al, ia tak membolehkan Keyla untuk kembali dan bekerja karena masih mampu membiayai sang putri. Namun karena keras kepala serta keinginan nya untuk mandiri membuat Al dengan pasrah melepaskan putri nya untuk pergi.
"Gimana, sudah ada tanda-tanda belum sayang?" tanya Ani yang duduk bersebelahan dengan Rein dan Ami.
Rein mengerutkan keningnya, ia tak mengerti tanda apa yang di maksud sang mertua. "Tanda apa mah?" tanya nya bingung.
Davin, Alex, Ami dan Al hanya duduk menyaksikan obrolan Rein dan Ani. "Itu loh, kamu belum ada tanda-tanda hamil?" tanya Ani memperjelas. Terlihat sekali raut antusias di wajah Ani saat menanyakan itu.
Rein Langsung melirik sang suami, yang tersenyum menenangkan. "Eh, kayanya belum deh mah. Aku nggak ada ngerasain tanda-tanda orang hamil." ucap Rein kikuk.
Wajah Ani langsung terlihat lesu dan itu tak lepas dari pandangan Rein. "Mungkin belum di kasih sama Tuhan." ucap Aldrich menenangkan sang istri. Ia tahu seberapa antusias nya sang istri menanti kehamilan Rein.
"Maaf mah." ucap Rein merasa bersalah.
"Nggak papa sayang. Mungkin memang belum di kasih. Kalian dua harus kerja keras lagi, biar cepat ada isi nya." Rein mengangguk mengerti.
"Tenang aja mah, nanti Davin buat lebih giat lagi." ujar Davin berusaha mencair kan suasana yang tiba-tiba saja menjadi canggung.
"Atau Daddy sama bunda honeymoon aja Oma, biar cepat ada dede nya." usul Ami sambil menatap mereka.
"Nggak bisa sayang. Daddy masih ada kerjaan kantor, lagian buat di rumah juga bisa kan?" Rein mengangguk setuju mendengar ucapan sang suami.
"Nggak usah honeymoon lah, kalau sudah waktu nya di kasih ya pasti ada Dede di sini. Mas Davin juga sibuk kok." ucap Rein menguatkan argumen sang suami.
"Ya sudah lah terserah kalian aja." balas Ani pasrah. Ia juga tak bisa memaksa menantu dan anak nya.
__ADS_1