Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku

Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku
Bab 53. Davin merasa bersalah


__ADS_3

Ami akhir nya menghela nafas lega setelah Rein tertidur pulas. Dengan setia Ami mengompres kening Rein yang terasa sangat panas.


"Capat sembuh bunda." ucap nya lalu melangkah keluar kamar orang tua nya.


Setelah menangis sekitar 2 jam, tubuh Rein langsung panas tinggi. Ami kemudian menghubungi dokter keluarga Artama untuk memeriksa sang bunda.


Dokter mengatakan bahwa Rein terlalu kelelahan. Mengakibatkan ia menjadi drop dan demam tinggi. Namun setelah di berikan obat penurun panas, akhir nya Rein tertidur pulas.


Ami sudah mengabari Davin, mengenai kondisi Rein namun belum mendapatkan balasan. Mungkin Davin memang sibuk jadi tidak melihat Ponsel nya.


***


Setelah rapat usai, Davin langsung berjalan menuju ruangan nya bersama Alex.


"Kak, kondisi kakak ipar gimana?" tanya Alex sambil menatap kakak nya.


Davin langsung mengeluarkan ponsel nya. Dan menghubungi Rein. Namun hingga panggilan ke tiga, Rein belum juga mengangkat panggilan.


"Nggak di angkat." ucap nya khawatir. Ia langsung menghubungi putri nya. Hingga beberapa saat, Ami mengangkat panggilan dan menjelaskan kondisi sang bunda.


"Gimana, apa kata Ami." tanya Alex.


"Kakak ipar kamu demam gara-gara banyak nangis. Kakak pulang duluan ya, nanti minta tolong kamu kasih tahu Cella buat handel kerjaan kakak." ujar Davin panik sekaligus khawatir.


Alex mengangguk mengerti. "Iya kak. Hati-hati." ujar nya. Davin mengangguk lalu berjalan menuju ruangan sang kakak yang tak jauh dari tempat nya berdiri.


***


Alex mencari Cella namun belum melihat sekretaris kakak nya itu. Alex duduk di ruangan Cella yang cukup rapi, matanya menatap sekeliling ruangan sekretaris sang kakak.


Hingga akhirnya, Alex melihat seorang wanita yang keluar dari kamar mandi dengan menggerutu, siapa lagi jika bukan Cella.


"Aish, kenapa sekarang sih datang bulan nya?" gumam Cella yang masih bisa di dengar Alex.

__ADS_1


Alex diam sambil menatap Cella yang tampak lucu di matanya. "Gemes banget." gumam nya dalam hati.


"Eh, pak Alex?" Cella menatap kaget pada Alex yang duduk di sofa sambil menatap nya. Jujur saja karena sibuk dengan tamu bulanan nya yang datang tiba-tiba, Cella tidak menyadari kehadiran Alex.


"Iya ini saya? Kok kaget gitu?" tanya Alex dengan wajah lempeng nya.


Cella tersenyum kikuk. 'jangan bilang pak Alex liat aku lagi mutar-mutar nggak jelas di depan kaca?' gumam nya dalam hati sambil menatap Alex khawatir.


"Iya saya liat semua. Mulai dari kamu keluar dari kamar mandi, menggerutu nggak jelas sampai mutar-mutar di depan kaca." mata Cella membulat kaget. Ia menelan ludah gugup.


"Maaf pak." ucap nya sambil menunduk.


Alex tertawa melihat Cella. "Oh iya, kata pak Davin. Minta tolong kamu handle semua kerjaan dia hari ini ya." Cella langsung mengangguk patuh.


"Baik pak."


Setelah itu Alex langsung berlalu dari sana dengan senyuman yang mengembang, karena berhasil membuat Cella kaget.


***


Davin Akhirnya sampai di depan rumah nya. Dengan cepat ia keluar dari mobil lalu berjalan masuk menuju rumah.


"Eh Daddy cepat banget pulang nya?" tanya Ami saat melihat kehadiran Davin yang tiba-tiba.


"Daddy khawatir sama bunda kamu. Sekarang bunda dimana?" tanya Davin.


"Di kamar dad. Udah tidur setelah minum obat." jelas Ami.


Davin bernafas lega. "Syukurlah. Panas nya sudah turun?" tanya nya.


"Sudah lumayan."


Davin langsung berlalu dari sana menuju kamar mereka. Ia membuka pintu dengan perlahan, takut membangun kan sang istri.

__ADS_1


Davin duduk di tepi kasur sambil menatap Rein yang tertidur pulas. "Maaf ya?" bisik Davin pelan sambil mengelus kening Rein yang terasa hangat.


Davin teringat saat ia menepis tangan Rein tadi pagi. Rasa bersalah membuat nya mengumpati diri sendiri.


"Cepat sembuh istri ku." kecupan sayang Davin berikan pada Rein lalu ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Jam sudah menunjukkan pukul setengah 3 sore. Rein perlahan membuka matanya. Kepala nya terasa berat serta mata yang tampak membengkak membuat Rein meringis kecil.


Tiba-tiba Rein teringat akan Davin yang menepis tangan nya tadi, membuat Rein menekuk wajahnya. "Awas aja, nggak aku kasih jatah."


"Buruk banget niat nya." Rein menatap kaget Davin yang duduk di sofa sambil menatap nya. Namun karena rasa kesal yang masih ada, membuat Rein enggan menyahut.


"Kenapa hm? Masih ada yang sakit." Rein membuang wajah nya tai mau menatap Davin yang juga menatap nya.


"Ngambek? Maaf ya, janji nggak akan gitu lagi." Davin memeluk Rein erat membuat Rein memberontak ingin di lepaskan.


"Ayo dong sayang jawab. Betah banget diam-diam gini." Davin masih berusaha mengajak Rein berbicara. Namun lagi-lagi Rein mengacuhkan nya.


"Istri ku ini kalau lagi ngambek lucu banget sih muka nya. Ututut liat nih matanya bengkak gara-gara banyak nangis, hidung nya juga merah, udah kaya badut aja." Rein menahan tawa nya dalam hati.


Davin memeluk Rein sambil mengecup seluruh wajah sang istri. "Maaf ya sayang. Janji, lain kali kalau kamu mau ikut ke kantor atau kemanapun nanti aku bolehin."


Davin Akhirnya tertidur sambil memeluk Rein. Rein mengangkat tangan nya mengelus wajah Davin yang tampak lelah.


"Maaf suami." ujar nya dengan pelan.


***


Maaf ya ges yaa, aku lama banget nggak update. Beberapa hari ini aku sibuk banget, lagi ada acara keluarga gitu.


Semoga suka bab ini, see you guys

__ADS_1


__ADS_2