
Rein baru saja kembali dari kantor Davin usai mengantar kan bekal makan siang. Perjalanan sedikit Macet membuat nya tiba di rumah pukul 3 sore.
"Kenapa bi?" tanya Rein pada seorang wanita paruh baya yang berjalan ke arah nya. Dia ada pekerja di rumah milik Davin.
"Itu non, tadi ada 2 orang yang datang terus nyari non Rein. Saya suruh masuk aja."
Rein mengerutkan keningnya heran, siapa yang mencari dirinya. "Oh iya bi, makasih ya."
Rein melangkah menuju ruang tamu dengan perasaan yang tiba-tiba saja menjadi cemas. "Siapa yang nyariin aku?" ucap nya penuh tanya.
***
"Rein, itu kamu sayang?" suara seorang wanita paruh baya membuat langkah Rein terhenti.
"Mamah kangen banget sama kamu." Rein masih terdiam membeku, apalagi wanita yang mengaku sebagai ibu nya itu memeluk dirinya erat.
Tidak ada respon apapun yang Rein tunjukkan selain dari terkejut. "Kamu apa kabar, sayang?" tanya wanita itu lagi.
Setelah kesadaran nya kembali, Rein reflek melepaskan pelukan itu dengan sedikit dorongan. "Kalian kenapa kesini?" tanya nya.
"Kamu ngomong apa sih, nak. kami ini orang tua kamu?" Pria paruh baya yang sedari tadi menatap mereka mengangkat suara.
Rein terkekeh kecil, mendengar itu. Entahlah rasanya ia sudah tak seperti dulu yang mengharapkan kehadiran mereka. Mengharapkan mereka datang lalu menemui nya, membawa nya keluar dari masalah yang ia hadapi saat itu. Semua terasa berbeda, sekarang.
"Orang tua yang bagaimana? Orang tua yang nggak pernah peduli anak nya di luaran sana, bahkan di tinggalkan begitu saja, tanpa ada penjelasan yang jelas?" sindir Rein pada kedua nya.
"Kami bisa jelasin sayang, ayo duduk dulu." ajak wanita paruh baya itu, membuat Rein tercengang.
***
"Jadi maksud kalian ke sini apa?" tanya Rein setelah keheningan terjadi beberapa saat.
"Jadi gini, kamu tahu kan mamah sama papah sudah cerai?" Rein mengangguk mengerti dengan raut datar nya.
"Kedatangan kami ke sini itu, mau ajak kamu untuk tinggal sama salah satu dari kami. Terserah kamu mau ikut siapa?" jelas sang papah.
Rein mengerutkan keningnya. "Rein sudah nyaman tinggal di sini, jadi maaf Rein nggak bisa ikut kalian berdua." Rein langsung menolak mentah-mentah.
Raut kedua nya berubah setelah mendengar penolakan Rein. "Jangan gitu dong sayang, maksud mamah sama papah baik loh ke sini. Oh iya, Kamu juga sudah punya saudara loh." jelas sang ibu membuat raut wajah Rein berubah pias.
Kenapa baru sekarang ke sini, setelah Rein bisa lalui semuanya. Rein sudah menemukan kebahagiaan Rein sendiri, ujar nya dalam hati.
"Rein nggak butuh saudara. Sekarang Rein sudah bahagia dengan kehidupan Rein yang sekarang." ujar nya tenang tapi tidak dengan hati nya.
"Nggak bisa, pokoknya kamu ikut kita sekarang!" Rein memberontak saat sang ayah berdiri lalu menarik tangan nya.
__ADS_1
"Lepasin. Rein nggak mau ikut kalian!" Pekik nya keras, berusaha melepaskan cekalan sang ayah yang cukup kuat.
"Dasar pembangkang! Ikut kita sekarang." sang ibu juga berusaha menarik tangan Rein.
"Mas Davin tolong...Hikss lepasin Rein." Rein terus memberontak, bahkan tangan nya memerah.
Plak
Suara tamparan menggema di ruangan itu. Rein bahkan tersungkur dengan pipi memerah. Air matanya mengalir deras, tak menyangka bahwa wanita yang selama ini ia nanti untuk datang menjemput dirinya menampar nya dengan keras.
"Anak durhaka kamu. Ikut kami sekarang. Kamu harus balas Budi untuk semua kebaikan kami selama ini sama kamu!" Dengan tak berperasaan sang ibu menarik tangan Rein.
Bibi yang sedari tadi menyaksikan perlakuan kedua orang tua itu berharap Davin segera pulang. Ia juga sudah mengirimkan pesan. "Ayo tuan, cepat pulang." gumam nya.
"Berhenti!"
"Bibi?" Suara Rein bergetar menatap wanita paruh baya yang datang menghampiri nya sambil tergopoh-gopoh.
"Non Rein baik-baik aja?" tanya nya sambil membantu Rein berdiri.
"Saya nggak papa bi. Bibi kenapa ke sini?" tanya Rein. Ia takut jika Davin akan mengetahui kejadian ini.
"Banyak omong. Mas, cepat bawa dia keluar dari sini. Kita harus berhasil bawa dia ke papah." ujar sang ibu.
"Berhenti, jangan bawa non Rein." Rein menatap haru pada wanita paruh baya yang kini berdiri di hadapan nya, sebagai benteng, melindungi nya dari kedua orang tua nya.
"Bibi!" Teriakan Rein menggema, melihat bi Anum tergeletak dengan kening yang mengeluarkan darah akibat dorongan dari sang ayah.
"Kalian pergi dari sini. Jangan temui Rein lagi!" pekik nya kesal.
"Berisik. Bawa dia mas." Rein jatuh pingsan akibat pukulan dari sang ibu di belakang leher nya.
"Dasar menyusahkan. Papah juga, ngapain nyariin anak ini, untung aja ketemu, kalau nggak kita nggak akan dapat apa-apa."
***
"Loh, bibi...Bangun bi..." Davin yang baru saja pulang dari kantor, terkejut melihat bi Anum yang masih tergeletak di dekat meja ruang tamu.
"Tuan Davin, sudah pulang? Tuan tolong selamatkan non Rein tuan, non Rein di bawa pergi!" ujar nya panik. Bahkan ia membiarkan darah di keningnya yang sudah mengering.
Davin membulatkan matanya. "Siapa yang bawa bi?" tanya nya Panik.
"Kalau nggak salah itu orang tua nya Tuan, tapi bibi nggak tau juga di bawa ke mana? Bibi sudah berusaha cegah tapi mereka tetap bawa non Rein pergi. Maaf tuan." jelas nya merasa bersalah.
"Orang tua nya?" gumam Davin.
__ADS_1
"Ya sudah, nggak papa bi. Itu luka nya di bersihkan takut infeksi, Saya mau cari Rein dulu." Davin langsung berlalu dari sana menuju kamar nya.
Setelah mengisi daya ponsel nya, Davin membuka pesan, dan melihat sebuah pesan dari BI Anum. "Ck, sial." umpat nya, ia baru membuka ponsel nya karena kehabisan daya.
"Kemana kamu sayang?" ujar nya cemas. Ia mencoba menelfon Rein namun tak tersambung.
"Tapi, tadi kata bibi dia di bawa orang tua nya kan?" gumam nya. Davin langsung menghubungi Ami, yang sedang berada di rumah Aldo.
"Halo, Ami kamu bisa pulang sekarang?"
"Kenapa dad? Daddy baik-baik aja kan?" tanya Ami khawatir di seberang sana.
"Daddy baik-baik aja. Kamu bisa pulang sekarang, ada yang mau Daddy tanyakan." ujar Davin.
"Iya dad, Ami pulang sekarang."
"Salam buat orang tua Aldo." Panggilan terputus. Davin menunggu Ami tak sabar, ia yakin Ami pasti tahu dimana rumah orang tua Rein.
Sekitar 20 menit, Ami memasuki rumah. Ia bisa melihat Davin yang berdiri tak tenang di ruang tamu. "Daddy kamu kenapa sayang?" tanya Aldo yang ikut.
"Nggak tau juga."
"Dad?" Ujar Ami sambil menyalami Davin di ikuti Aldo.
"Akhirnya kamu sampai juga. Kamu tahu rumah orang tua Rein?" tanya Davin langsung.
Ami mengerutkan keningnya. "Tahu dad, tapi Ami nggak yakin kalau mamah nya masih tinggal di sana. Emang kenapa sih?" tanya Ami bingung.
"Rein di bawa sama orang tua nya tadi, tapi kata bibi Rein di bawa secara paksa." jelas Davin dengan raut datar nya.
Ami dan Aldo membulatkan mata terkejut. "Bukan nya orang tua Rein sudah cerai ya?" ujar nya membuat Davin langsung menatap nya.
"Cerai?"
"Iya dad. Dari Rein lulus SMA." jelas Ami.
"Sekarang antar Daddy ke rumah orang tua nya." ujar Davin sambil berlalu dari sana. Perasaan nya tak enak, rasa khawatir menyerang nya tiba-tiba.
"Sayang, sabar ya. Aku nggak akan biarkan kamu kenapa-kenapa!" gumam nya.
***
Maafkan aku, nggak update kamarin, aku sakit gigi dua hari ini, syukur lah sudah mendingan sekarang...
Semoga suka part ini, salam sayang. Jangan lupa like dan vote nya.
__ADS_1
See you guys