
Davin dan Rein menatap Ami yang tersenyum ke arah mereka. "Kamu hati-hati di rumah. Kalau bosan nanti datang ke mereka mamah aja." Rein menatap putri sambung nya itu dengan hangat.
"Iya Bun." Jawab Ami kalem.
"Oh iya, selama Daddy sama bunda kamu pergi. Kamu jaga rumah." pesan Davin.
"Yaelah dad, rumah nya nggak di jaga juga nggak akan pergi." gurau Ami membuat Rein tertawa kecil.
Davin hanya menggeleng kan kepala nya. "Ini buat pegangan kamu, Daddy nggak ada uang cash." Davin memberikan sebuah kartu hitam pada Ami, yang di sambut dengan senyum puas.
"Nah gini kek dari tadi. Pake basa-basi segala Daddy mah." Ucap Ami sambil tertawa membuat Davin dan Rein menghela nafas berat.
"Yasudah kami berangkat dulu. Bye sayang." Rein memeluk Ami di ikuti Davin.
"Bye dad, bund. Jangan lupa buatkan Ami adik kembar?" pesan Ami sambil menatap orang tua nya.
Wajah Rein memerah malu, namun beda dengan Davin yang tentu saja mengangguk antusias. "Ish malu mas." ucap Rein pelan, di sambut tawa Davin.
"Ya sudah kami berangkat ya."
Ami mengangguk sambil menyalami kedua orang tua nya. Ia melambaikan tangan nya. "Bye dad, bund."
***
"Ngantuk sayang?* tanya Davin pada Rein yang menatap ke laut jendela mobil.
Rein menoleh lalu menatap Davin. "Ngantuk. Perjalanan nya masih jauh?* Tanya Rein sambil menatap Davin.
Davin membawa Rein untuk bersandar di dadanya. Dengan tangan yang melingkar di pinggang Rein. "Tidur aja sayang, nanti kalau sudah sampai aku bangunkan." Rein menguap sebentar lalu memejamkan matanya.
Tak berapa lama, suara dengkuran halus terdengar. Davin mengecup ubun-ubun Rein sambil mengeratkan pelukannya.
"Pak di kurangi ya kecepatan nya, istri saya lagi tidur." Supir melirik Davin dari kaca lalu mengangguk hormat.
"Baik tuan."
Memasuki area perkampungan, Davin menatap warga yang berlalu lalang untuk pulang ke rumah masing-masing, karena Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.
Suasana asri perkampungan membuat Davin tak sabar ingin membangunkan istrinya. "Sayang, bangun kita sudah sampai." Davin memberikan kecupan-kecupan kecil untuk membangun kan Rein.
Rein menggeliat kecil, lalu membuka matanya. "Hoam! kita sudah sampai mas?" tanya Rein sambil menguap dengan mata nya menatap sekeliling nya melalui kaca mobil.
__ADS_1
"Sudah sayang ayo keluar." Rein merapikan rambut nya lalu keluar dari mobil bersama suami nya.
"Woah! Ini dimana mas?" Tanya Rein dengan wajah terkejut nya. Hamparan teh hijau memenuhi penglihatan Rein, membuat nya berdecak kagum.
"Bandung sayang. Di villa keluarga." jelas Davin. Ia menatap Rein lalu mengajak nya masuk.
"Koper nya?" tanya Rein pada suami nya.
"Sudah di masukin sama kang Dadang. Orang yang bersihin dan jaga villa ini." Rein ber-Oh ria mendengar penjelasan Davin.
***
"Gimana kang, semua nya aman kan?" tanya Davin saat kang Dadang yang baru saja keluar dari dalam villa.
"Aman mas Davin. Ini teh istrinya?" tanya kang Dadang sambil menatap Rein.
"Iya pak. Ini istri saya."
"Rein pak." sapa ramah Rein.
"Saya Dadang. Orang yang berisikan villa ini." ucap kang Dadang memperkenalkan diri nya.
"Cantik pisan euy. Cocok lah sama mas Davin yang ganteng." Davin tertawa mendengar ucapan kang Dadang. Sedangan Rein ia tersenyum hanya tersenyum kecil, karena kurang mengerti apa yang di bicarakan mereka.
Rein menatap interior villa yang sangat bagus itu. Barang-barang tersusun rapi, tak lupa foto keluarga besar di pajang di ruang tamu.
Rein menatap foto itu, melihat wajah-wajah yang masih tampak asing di penglihatan nya. Keluarga Davin memang ada yang tidak datang saat pernikahan mereka karena ada pekerjaan penting, jadi Rein tidak terlalu tahu mengenai orang-orang yang ada di foto itu.
"Kamar kita di mana mas?" tanya Rein sambil melihat sekeliling nya.
"Bukan mas sayang, tapi suami ku." Jelas Davin mengingat kan Rein. Jika ada orang lain selain mereka berdua, Rein akan memanggil nya dengan sebutan 'Mas' dan jika hanya mereka berdua maka Rein wajib memanggil nya 'Suami ku.'
"Iya iya suami ku sayang." Rein mencubit pipi Davin gemas, itu juga ia harus menjinjit karena perbedaan tinggi kedua nya.
***
Karena cuaca tiba-tiba hujan, akhir nya Rein dan Davin hanya berada dalam kamar sambil menikmati cokelat panas yang sudah Rein buat.
Kedua nya menatap hamparan teh yang sangat memanjakan mata. Daun-daun nya yang begitu hijau membuat Rein kagum.
"Villa ini sudah lama, suami ku?" tanya Rein pada Davin yang ada di samping nya.
__ADS_1
"Sudah sayang. Dari aku belum nikah." jelas Davin.
Rein mengangguk. "Lama juga ya."
Setelah cangkir cokelat panas itu habis, Davin segera mengajak Rein untuk masuk, karena kedua nya duduk di balkon kamar tadi.
"Dingin banget ya." Davin mengangguk setuju. Ia kemudian meraih remote AC lalu mengatur suhu ruangan agar terasa hangat.
"Peluk suami." ujar nya manja di sambut kekehan kecil Davin.
Davin segera memeluk sang istri dengan erat. Rein menenggelamkan wajah nya di dada Davin mencari kehangatan.
Kedua nya kini berbaring di atas kasur dengan selimut yang membungkus tubuh mereka. Rein memeluk Davin dan Davin dengan setia mengelus rambut istri nya.
"Sayang, gimana kalau kita main sesuatu yang bisa buat kita jadi panas?" ujar Davin, membuat Rein yang memang kedinginan menatap nya penuh tanya.
"Permainan apa itu?" tanya Rein sambil mengerutkan keningnya.
"Kuda-kudaan sayang." Rein menatap Davin heran. Masa iya main kuda-kudaan bisa membuat panas. Agak nya Rein belum mengerti arah pembicaraan Davin ini mengarah ke arah kotor.
Davin langsung menerjang bibir mungil Rein. Membuat Rein terkejut bukan main. "Ih suami, ngagetin aja." ucap nya kesal.
"Haha maaf sayang, tapi cuaca dingin gini emang cocok Buat dedek." kecupan Davin berikan pada kening, kedua mata, pipi hidung, dagu dan yang terakhir bibir PING Rein.
"Sayang, mau kan buat dedek?" tanya Davin dengan kilatan nafsu di matanya. Rein menelan ludah gugup menatap Davin yang terlihat semakin tampan di saat-saat seperti ini.
"S-suami, nggak bisa besok aja gitu?" tanya Rein menawar.
Davin menggeleng cepat. "Nggak bisa sayang. Besok itu beda lagi. Ingat, kan Ami minta adik, jadi kita mulai nyicil dari malam ini." jelas Davin panjang lebar.
Akhirnya Rein pasrah di ajak main kuda-kudaan oleh sang suami. Namun permainan kuda-kudaan ini sedikit melelahkan namun membuat nikmat.
Erangan Rein terdengar saat sesuatu menerobos memasuki tubuh bagian bawah nya. "Sshh, Suami pelan-pelan." erang Rein sambil menutup matanya.
"Iya sayang. Maaf ya." Davin lebih memelankan setiap gerakan nya, namun pasti membuat Rein memekik tertahan.
*******-******* terdengar di dalam kamar villa, namun mereka bebas karena mereka hanya berdua di dalam situ.
Setelah 2 jam bermain kuda-kudaan. Davin akhir nya merebahkan tubuhnya di samping Rein. "Makasih istri." Ia mengecup Kening dan bibir Rein.
"Cepat tumbuh sayang, Daddy dan bunda menanti mu." bisik nya sambil mengelus perut rata Rein.
__ADS_1
Rein ikut mengaminkan ucapan sang suami, dalam hati.