Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku

Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku
Bab 44. Meminta restu & bertemu Kakek Abijar


__ADS_3

Davin membunyikan klakson mobil nya, tak lama kemudian pagar terbuka. "Cari siapa pak?" tanya Seorang pria dengan baju atasan putih serta celana hitam. Jangan lupakan pentungan di kantong kirinya.


Davin menatap satpam itu. "Ini benar rumah ibu Reni?" tanya nya.


"Iya benar, ini rumah ibu Reni. Bapak ada keperluan apa ya?" tanya nya sopan.


"Saya mau bertemu beliau sebentar." ujar Davin.


"Kebetulan ibu lagi di rumah, silahkan masuk pak." Davin langsung memasukkan mobil nya, tak lupa ia mengucapkan terimakasih.


Ia berjalan menuju pintu, atas petunjuk satpam yang berjaga. "Kok jadi deg-degan gini ya." gumam Davin sambil mengelus dada nya.


"Dalam Nama Tuhan Yesus." Davin kemudian mengetuk pintu, hingga tak lama pintu terbuka. Davin mengerutkan keningnya menatap seorang remaja yang berdiri di hadapan nya.


"Cari siapa om?" tanya remaja yang tak lain ada Elio.


"Saya cari ibu Reni?"


"Oh mamah. Masuk-masuk, mamah ada di dalam." Elio membawa Davin ke dalam. Tak jauh dari mereka, Davin bisa melihat seorang wanita yang terlihat mirip dengan sang kekasih.


"Mah, ada yang cari mamah." ujar Elio pada Reni.


Reni yang sedang memainkan ponselnya, menoleh. Ia mengerutkan keningnya. "Davin Artama kan?" tanya nya heran. Siapa sih yang tidak mengenal Davin.


Reni langsung mempersilahkan Davin untuk duduk. "Silahkan duduk. Elio minta bibi buatkan minum.


"Ibu mengenal saya?" tanya Davin sedikit terkejut.


"Haha siapa sih yang tidak mengenal anda." ujar Rena sambil tertawa kecil.


Davin tersenyum kecil, kemudian ia menatap Reni dengan serius. Ia akan mengutarakan maksud kedatangan nya. "Sebelumnya maaf, saya mengganggu waktunya. Langsung saja maksud dan tujuan saya datang ke sini untuk meminta izin serta restu dari ibu untuk menikahi Rein."


Reni langsung mengubah raut wajah nya. Senyum yang sedari tadi mengembang langsung pudar. "M-menikah?" Davin mengangguk semangat dengan senyum yang mengembang.


"Iya Bu, saya berniat menikahi Rein." Ujar Davin memperjelas ucapan nya.


"Nikahi saja anak itu. Aku tidak ada urusan dengan nya." ujar Reni sambil membuang wajah nya tidak menatap Davin.

__ADS_1


Davin mengerutkan keningnya. "Ibu Reni ibu nya Rein kan?" tanya Davin memastikan lagi, siapa tahu saja ia salah orang.


"Iya saya ibu nya, tapi itu dulu. Sekarang saya bukan lagi orang tua nya." Reni menekan setiap Kata nya, membuat Davin membulat kan mata. Raut terkejut sangat jelas terlihat di wajah nya.


"Kenapa anda berbicara seperti itu?" tanya Davin. Cara bicara nya pun menjadi formal. Ia tak menyangka bahwa hubungan Rein dan sang ibu kurang baik.


"Itu bukan urusan anda. Silahkan pergi dari sini, saya sibuk. Jika ingin menikahi anak itu, nikahi saja agar tidak menjadi beban untuk keluarga saya." Davin sadar bahwa ia di usir. Tak ingin harga di nya jatuh, Davin langsung beranjak dari sana dengan sopan, meskipun Reni tidak menghiraukan nya.


"Kenapa mamah ngomong gitu?" Elio yang mendengar ucapan sang ibu terkejut. Baru saja ia merasakan kebahagiaan karena memiliki seorang kakak, namun ternyata ibu nya tidak menyukai sang kakak.


Reni menatap Elio sebentar lalu pergi dari sana dengan wajah muram. "Tidak usah ikut campur. Ini bukan urusan kamu."


***


Davin menghela nafas panjang. Ia sedang berada di dalam mobil. Ia masih memikirkan kejadian tadi. Respon dari ibu sang kekasih yang di luar dugaan nya.


Davin mengusap wajah nya, lalu memegang setir mobil. Dengan perlahan ia melajukan mobilnya menuju rumah.


Rencananya tadi setelah ia dari rumah Reni ia akan menuju rumah Jeffry untuk meminta restu. Namun melihat respon Reni ia berubah pikiran, ia takut Jeffry juga akan merespon hal yang sama seperti mantan istri nya.


Mungkin besok hari saja, ia bertemu dengan Jeffry. Oh ya Davin mengantongi alamat rumah Jeffry dari sang ayah.


***


Davin keluar dari rumah Jeffry dengan senyum yang terus mengembang. Ia menatap calon mertua nya itu dengan raut bahagia. Restu dari sang ayah sudah ia kantongi,


meskipun hubungan Jeffry dan Rein sudah tidak seperti dulu, namun Jeffry tetap ingin yang terbaik untuk sang putri. Ia tadi sempat mengintrogasi Davin sedikit. Dan akhirnya ia pun melepaskan Rein bersama Davin.


"Makasih pak. Kalau begitu saya permisi dulu." Davin menatap sepasang suami istri yang terlihat sangat mesra.


"Iya. Titip salam untuk Rein ya?" Davin mengangguk mendengar ucapan Istri Jeffry, ayah dari Rein.


Davin kemudian berlalu dari sana dengan perasaan bahagia. Kini ia hanya tinggal meminta restu dari Kakek sang kekasih. Abijar Diwantara. Seorang pebisnis terkenal yang namanya sudah ada di mana-mana. Ia baru tahu bahwa Rein adalah cucu dari seorang Abijar.


***


"Davin sudah siap belum?" Al berdiri di luar pintu kamar Davin.

__ADS_1


"Sudah pah." Davin keluar dengan tampilan yang cukup rapi. Sebuah kemeja batik serta celana kain hitam tampak sangat pas di tubuh atletis Davin.


"Aku juga sudah siap." Ami datang dengan dress biru sebatas lutut.


Rencana nya Davin akan menemui Abijar hanya bersama dengan Rein, namun Ani yang mendengar itu langsung mengusulkan untuk ikut serta. Hitung-hitung untuk melamar Rein ulang didepan keluarga nya. Meskipun pernah di lamar, namun Ani ingin Rein bisa merasa kan momen lamaran seperti orang-orang.


Jangan tanya persiapan apa saja yang sudah di persiapkan oleh mereka untuk di bawa. Ani yang baru mengetahui bahwa Davin akan bertemu Abijar, ia langsung menghubungi orang untuk membuat seserahan yang terlihat sederhana namun harga nya fantastis.


Rein sendiri sudah berada di kediaman sang kakek, atas usulan Ani. Ia ingin Rein berada di sana bersama sang kakek.


"Ayo berangkat." Keyla dan Alex sudah tampil rapi.


Ani di bantu BI Anum menyusun segala macam seserahan yang akan di berikan pada Rein di atas mobil.


"Sudah Bu." Ucap BI Anum.


"Makasih ya bi." Bi Anum mengangguk lalu berpamitan dari sana.


***


Mereka melakukan semua ini dengan tiba-tiba. Tidak ada persiapan apapun namun puji Tuhan semua berjalan dengan lancar.


Pernikahan yang tinggal dua hari lagi membuat mereka ngebut untuk menyelesaikan semua urusan.


Di ruangan keluarga yang biasanya terasa sepi kini ramai di isi canda tawa dari Abijar dan keluarga Davin.


Raut bahagia terpancar jelas dari mereka masing-masing. Reni yang di pasak ikut harus memaksakan senyum nya. Karena mendapat kan ancaman dari sang ayah. Berbanding terbalik dengan Elio dan Azam yang begitu mudah berbaur.


Wanita itu sangat aneh, padahal Rein dan dirinya tidak pernah ada perselisihan apapun namun ia begitu membenci Rein.


"Saya merestui hubungan anda dan cucu saya Rein. Saya harap anda bisa menjaga cucu saya." Abijar menatap Davin dengan senyum kecil namun penuh ketegasan.


Ruangan yang tadi nya terasa tegang langsung berubah menjadi hangat kala mendengar ucapan Abijar yang merestui hubungan Davin dan Rein.


"Makasih banyak kek. Saya tidak bisa janji tapi saya akan usahakan untuk selalu membuat Rein bahagia di samping saya.


***

__ADS_1


Yey double up jugaa📍 Semoga suka bab ini


__ADS_2