Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku

Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku
Bab 46. Bukan yang pertama


__ADS_3

Senyum terus terpancar di wajah kedua mempelai. Tak henti-hentinya tamu undangan mengucapkan selamat kepada kedua nya.


Gedung yang sudah di dekorasi sedemikian rupa, penuh dengan tamu undangan yang berdatangan.


"Capek sayang?" tanya Davin perhatian.


Rein mengangguk, kaki kiri nya juga seperti lecet karena tergores high heels nya. "Duduk aja kalau capek." ujar Davin lagi.


"Mas di sini ada sendal nggak, kaki aku lecet kayaknya." ujar Rein pelan pada Davin, karena ada orang yang berjalan menuju mereka.


"Aaa selamat dad, bunda." Ami yang berjalan ke arah mereka dengan Aldo langsung memeluk Rein dan Davin bersamaan.


"Makasih sayang." Balas Davin dengan mengecup kening Ami sekilas.


"Makasih mi. Gue Sekarang bunda Lo, harus nurut sama gue, awas aja kalau bandel-bandel." ujar Rein sedikit bercanda dengan anak sambung nya itu.


Davin dan Aldo hanya menggeleng melihat wanita-wanita kesayangan mereka.


"Selamat om, dan harus bunda nih manggil nya? atau Tante?" tanya Aldo sambil tertawa kecil pada Rein.


"Panggil bunda aja lah. Masa iya di panggil Tante." gumam Rein membuat mereka tertawa.


"Hahaha nggak papa Bun, lagian bunda juga sudah jadi tante-tante loh, karena nikah sama Daddy. UPS!" Ami menutup mulut nya, ia bisa melihat Davin yang melotot ke arah nya.


"Hehe peace dad."


Rein mengelus lengan Davin, sambil tertawa kecil. "Sudah mas, lagian yang Ami bilang nggak sepenuhnya salah kok." gumam nya sambil terkekeh.


"Aish kalian dua itu." Davin seperti nya akan kalah jika berdebat dengan kedua nya.


***


Hari semakin larut, tamu undangan pun sudah mulai berkurang. Rein duduk sambil memijat kaki nya. Tubuh nya terasa pegal semua.


"Ayo ke kamar sayang." Ajak Davin yang baru saja kembali, setelah menemui sang ibu.


"Emang boleh, mas?" tanya nya.


"Kata mamah boleh. Biar sisa nya mamah yang urusin." Rein mengangguk lalu berdiri. Davin dengan setia menuntut sang istri menuju kamar hotel yang sudah di persiapkan.


"Masih sakit kaki nya?" tanya Davin di sela-sela perjalanan kedua nya menuju kamar.


"Sudah nggak terlalu mas. Cuma sedikit perih aja." Davin langsung membopong Rein membuat sang istri terkejut.


"Ih mas ngagetin." ujar nya kesal.


"Maaf sayang. Sekarang sudah nggak sakit kan?" tanya Davin manis. Rein langsung mengangguk dengan kedua tangan yang melingkar di leher Davin.

__ADS_1


***


Setiba nya di kamar, Davin menurunkan Rein dengan perlahan. Kamar yang juga di hiasi sedemikian rupa, membuat Rein terpana.


"Cantik banget." gumam nya yang masih bisa di dengar Davin.


"Iya cantik banget." balas Davin sambil menatap Rein dalam. Yang di maksud Davin cantik itu tentu saja Rein bukan hiasan kamar hotel mereka.


"Kapan mereka buat ini mas? perasaan tadi kita datang, kamar nya belum kaya gini deh." ujar Rein heran.


"Mungkin waktu kita ke bawah itu pihak hotel nya langsung dekor, sayang." jelas Davin sekenanya.


Rein hanya mengangguk. Ia masih terpana dengan ruangan yang sangat cantik menurut nya. Sama seperti Drakor-drakor yang ia tonton.


Davin sedikit kesal karena Rein mengabaikan nya. Istri nya ini malah sibuk memainkan kelopak bunga mawar yang ada di atas Ranjang.


"Sayang." panggil nya dengan wajah cemberut.


Rein langsung menatap Davin, ia terkejut mendapati Davin memandang nya dengan cemberut. "Mas kenapa?" tanya nya spontan.


"Jangan cuekin aku." ujar nya manja.


Rein terkekeh ia terlalu senang melihat dekorasi yang sangat cantik itu, sehingga tak sadar ia telah mengabaikan sang suami.


"Maaf suami ku."


Jantung davin berdetak kencang, mendengar panggilan itu. Wajah nya pun tak sadar memerah.


"Maaf suami ku." ujar Rein malu-malu.


"Aaa gemes banget." Davin langsung mendekap Rein erat. Istri nya ini sangat menggemaskan.


"Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan itu ya sayang." pinta Davin manja, membuat Rein mengangguk.


"Iya suami ku." Kecupan Davin layangkan bertubi-tubi di kening Rein, membuat Rein tertawa karena geli.


"Sudah mas, geli." ujar nya sambil terbahak. Kedua nya menikmati momen kebersamaan mereka menjadi sepasang suami istri. Davin mendekap Rein dengan erat. Hingga beberapa saat kemudian Rein mendongak dan menatap Davin.


"Mas, lepas dulu. Aku mau mandi, udah gerah banget." ucap nya.


Davin mengabaikan ucapan Rein, ia semakin mengeratkan pelukannya, membuat Rein memberontak. "Aa mas Davin, lepasin dulu. Pengap ini."


"Nggak akan aku lepaskan Sampai kamu panggil aku dengan benar, sayang." balas Davin, membuat Rein tertawa kecil.


"Ish iya-iya. Suami ku lepasin dulu ya, aku mau mandi. Udah gerah banget." Tak tahan melihat wajah imut Rein, Davin langsung mengecup seluruh wajah Rein, Tak ketinggalan juga bibir mungil milik sang istri.


***

__ADS_1


Rein menatap dirinya di kaca dengan malu. Baju apa yang ia kenakan ini? Ah bukan, ini terlihat bukan seperti baju.


Sebuah lingerie merah terpasang indah di tubuh Rein. Warna lingerie yang cerah sangat cocok dengan warna kulit Rein. Membuat nya tampak seksi.


Lingerie itu membuat tubuh Rein semakin terekspos. Hanya di beberapa titik saja yang menutupi bagian privasi nya, namun itu membuat Rein semakin terlihat seksi.


Rein merutuki Ami karena sudah menukar isi koper nya dengan baju haram ini. Lihat saja, ia akan membalas nya saat Menikah nanti.


Dengan cepat Rein berjalan menuju ranjang, lalu menutupi tubuh nya dengan selimut. Davin sedang berada di kamar mandi, membuat nya berniat untuk tidur duluan.


Jantung Rein berdetak lebih cepat, ketika suara pintu kamar mandi terbuka. Langkah sang suami membuat Rein berdebar bukan main.


"Habis lah aku." gumam nya dalam hati.


Sementara itu, Davin yang baru saja selesai mandi, menatap heran pada Rein yang sudah terbungkus selimut.


"Sayang, kamu nggak tidur kan?" tanya nya memastikan.


Davin menahan tawa saat melihat bulu mata Rein yang bergerak, dalam tidur nya. "Oh udah tidur tenyata. Awas aja kalau ketahuan pura-pura tidur. Nggak akan aku lepasin kamu." ucap Davin dengan suara yang sengaja di besarkan.


Rein tersentak saat Davin menduselkan wajah nya di ceruk leher putih nya. "Sshh..." Suara laknat itu keluar dengan sendirinya, membuat Davin tersenyum.


Saat merasakan tangan Davin yang bergerak kemana-mana, Rein segera membuka mata dan menarik selimut. "Aaa Suami ku..." pekik nya membuat Davin tertawa keras.


"Loh, kamu nggak tidur sayang?" tanya Davin sambil tertawa.


Rein mendelik kesal, ia tak sadar menurunkan selimut nya membuat tubuh nya yang hanya menggenakan lingerie terpampang jelas di mata Davin.


Glek


Davin menelan ludah nya berat. "Sayang, kamu lagi godain aku?" tanya nya sambil menyeringai.


Rein mengerutkan keningnya heran. "Godain gimana suami ku?" tanya Rein heran. Ia belum sadar bahwa tubuh nya kini menjadi objek wisata mata Sang suami.


"Maksud kamu pakai baju haram itu kalau bukan untuk menyenangkan suami terus untuk apa lagi, sayang?" tanya Davin gemas.


Davin langsung memeluk Rein lalu melakukan sesuatu yang membuat capek namun mendapatkan kenikmatan itu.


Keringat membasahi tubuh mereka, namun tak ada niatan untuk berhenti. Meskipun ini bukan yang pertama, namun Davin melakukan nya seolah ini pertama kali nya untuk mereka. Kelembutan yang Davin berikan membuat Rein terbuai oleh permainan sang suami.


Rein menutup mata menikmati pelepasan yang baru saja ia dapat kan. Tubuh nya bergerak naik turun karena ulah Davin yang mengejar pelepasan nya juga.


Tak lama kemudian Davin menjatuhkan tubuh nya di sebelah Rein. Ia mengecup kening dan bibir Rein yang terlihat membengkak karena ulah nya.


"Terimakasih istri ku." ucap nya.


Rein hanya mengangguk kecil, ia kehabisan tenaga karena melayani nafsu sang suami yang tak terbendung.

__ADS_1


***


Kalau sempat aku nanti update lagi...Makasih semua๐Ÿ’—๐Ÿ“


__ADS_2