
2 hari kemudian...
Davin mengajak Rein untuk bertemu dengan wanita hamil yang ia tolong. Ah Sebenarnya, Rein yang memaksa ingin bertemu sehingga Davin Akhir nya menyetujui.
Jam menunjukkan pukul 2 siang. Rein sudah duduk dengan anteng di dalam mobil. Ia sedang menunggu Davin yang kembali ke dalam rumah untuk mengambil dompet yang tertinggal.
Di tangan kanan nya ada sebuah bingkisan kado yang sudah ia persiapkan untuk bayi wanita itu. Tak lama kemudian Davin masuk ke dalam mobil.
"Sudah siap?" tanya Davin.
"Sudah Daddy. Let's go." Davin menggeleng pelan, melihat tingkah sang istri. Tangan nya terangkat menuju rambut Rein lalu mengelus nya pelan.
***
Perjalanan kedua nya sedikit mengalami kemacetan. Namun akhirnya Rein dan davin tiba di sebuah rumah sederhana. "Sudah sampai?" tanya Rein sambil melihat sekeliling nya. Davin mengangguk lalu turun dan mobil.
"Ayo keluar. Hati-hati." Davin membantu Rein turun dari mobil dengan perlahan. Setelah itu, kedua nya langsung berjalan masuk. Suasana rumah yang asri membuat Rein betah.
Para tetangga yang sedang berkumpul, menatap mereka dengan bisik-bisik. Namun Rein dan Davin memilih tak memperdulikan mereka.
Tok tok tok...
Tiga kali ketukan, akhir nya pintu itu terbuka. Menampakkan seorang wanita muda yang hanya menggenakan daster, dengan rambut yang tercepol asal.
"Eh mas Davin. Silahkan masuk." ucap nya kaget. Bagaimana tidak orang yang menolong nya, dan merubah kehidupan nya kini berdiri di hadapan nya.
"Hm ya. Ayo sayang.*m" ujar Davin sambil menggandeng tangan Rein memasuki rumah. Wanita itu menatap Rein dengan seksama, ah jadi ini istri pria baik hati yang sudah menolong nya. Sangat cantik, pantas saja pak Davin menikahi nya.
Memang benar Rein terlihat sangat cantik, semua karena kehamilan nya, membuat aura nya tampak bersinar.
"Saya Rein." ucap Rein memperkenalkan dirinya. Wanita itu menatap nya lalu tersenyum.
"Saya Jesica Bu." ucap nya memperkenalkan diri sambil membungkuk kecil.
***
Jesica dan Rein sudah akrab dalam sekejap mata. Kedua nya mengobrol asik. Kini Baby Amar sedang berada dalam pangkuan nya.
Rein menatap bayi mungil itu dengan gemas. "Halo baby Amar, ini Tante Rein." ucap nya gemas.
__ADS_1
Baby Amar, tertawa layak nya bayi yang sedang merasa senang. Tangan mungil nya mencoba menggapai wajah Rein membuat bumil itu tergelak.
"Kamu mau pegang wajah Tante, hm?" Rein menguasakan hidung nya di hidung baby Amar.
Davin sedang mengangkat panggilan dari sekretaris nya.
"Wah, jadi mbak lagi hamil kembar tiga?" tanya nya dengan wajah antusias.
"Iya. Mbak sudah nggak sabar pengen mereka cepat-cepat lahir. Pasti lucu-lucu." jawab nya. Jesica mengangguk membenarkan. Ia yang punya anak 1 saja rumah sudah heboh Apalagi 3.
"Pasti rumah nggak bakalan sepi lagi kalau mereka sudah lahir." Rein mengangguk mendengar kan. Ah obrolan mereka ini membuat nya tak sabar ingin cepat-cepat melahirkan mereka.
Suara tangisan, teriakan mereka pasti menggema dalam rumah. Rein Senyum-senyum sendiri membayangkan nya.
"Ini, Mbak bawa bingkisan untuk baby Amar. Semoga suka ya."
"Nggak usah repot-repot mbak, tapi makasih ya sudah bawakan bingkisan untuk baby Amar."
"Sama-sama. Oh iya, kamu sekarang kerja apa Jes?" tanya Rein penasaran.
"Aku kerja di toko bunga di persimpangan jalan sana kak. Lumayan lah hasil nya untuk mencukupi kebutuhan kami." Rein mengangguk.
***
Kini malam pun tiba. Rein dan Davin sudah kembali ke rumah. Kedua nya juga sudah mandi. Davin saat ini sedang duduk di atas kasur bersama Rein, dengan tangan yang mengurut kaki sang istri yang mulai membengkak.
Rein menatap Davin dengan sayang. "Jesica ternyata masih 20 tahun mas." ucap nya tiba-tiba.
Davin menaikkan alis nya sebelah. "Terus?" tanya Davin acuh.
"Kasian aja, dia harus banting tulang untuk bekerja demi membiayai kehidupan mereka berdua." Rein salut dengan Jesica, meskipun masih muda namun ia mau bekerja keras demi sang buah hati.
"Iya."
Rein merenggut melihat respon Davin yang terlihat tidak berminat dengan obrolan mereka ini.
"Bun, aku tidur sini dong." Ami tiba-tiba masuk ke dalam kamar mereka.
"Aish kamu ini ngagetin aja." gerutu Rein namun di balas tawa oleh Ami.
__ADS_1
"Ayolah, aku kangen bunda sama Daddy." ucap nya memelas.
"Nggak boleh. Kamu punya kamar sendiri." Davin menyela Rein yang ingin berbicara.
Ami memutar bola mata malas. "Pelit banget dad. Cuma sekali juga. Boleh ya Bun."
Rein mengangguk ia juga merindukan Putri nya ini. "Boleh-boleh." Ami bersorak senang dan langsung naik ke atas kasur. Mengabaikan Davin yang hendak protes tak terima.
"Sayang..." ujar nya merengek.
"Cuma sesekali mas, di bolehin aja kenapa sih?"
Kalau sudah begini Davin mana berani melawan. Posisi tidur mereka Davin berada di sisi kanan, Rein di tengah dan Ami di sisi kiri.
"Bun, aku mau peluk dong." ujar Ami pada Rein.
"Peluk aja, tapi jangan kencang-kencang, rasanya sesak." Ami dengan senang langsung memeluk Rein. Ia ingin bermanja-manja dengan bunda nya, namun Daddy nya itu selalu memonopoli sang bunda jadi dia tidak mempunyai kesempatan.
"Peluk aku juga sayang." ujar Davin tiba-tiba.
Rein langsung menatap sang suami yang menatap nya dengan cemberut. "Kenapa cemberut gitu?" tanya nya dengan lembut.
Davin lekas menyembunyikan wajah nya di potongan leher Rein. "Aku kan lagi haus, terus mau nen sayang, tapi Ami malah tidur di sini." bisik nya dengan wajah kesal.
Ingin rasanya Rein tertawa namun ia tahan. "Besok aja ya. Kan jarang-jarang Ami tidur sama kita." Rein mencoba menjelaskan pada sang suami.
"Ya sudah, sekarang peluk aja." ujar nya. Rein langsung mengangkat tangan nya dan mengelus rambut Davin. Ia tak bisa memeluk sang suami, karena Ami yang memeluk nya.
"Elus aja ya." Davin yang mengerti langsung mengangguk.
Akhirnya malam itu Rein mengelus rambut dua bayi besar nya hingga tertidur. Ia sendiri sebenarnya kesusahan tidur dengan posisi terlentang, namun karena kasihan melihat Ami ia pun mencoba menahan nya.
Tak lama Rein tertidur juga. Ketiga nya tidur dengan pulas tanpa terganggu dengan suara hujan yang mulai turun dengan deras.
***
Keesokan pagi nya, Rein lebih dulu membuka mata. Ia menggerjap pelan, dahi Nya mengernyit ketika ia berada dalam pelukan sang suami. Dengan perlahan Rein melepaskan pelukannya.
Ia melihat Ami yang masih tertidur dengan pulas sambil memeluk guling. Meskipun sedikit kesusahan namun Rein akhirnya bisa turun dari kasur.
__ADS_1
Ia segera melangkah menuju kamar mandi, dan membersihkan dirinya. Rencana nya pagi ini, ia ingin memasak untuk mereka.