Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku

Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku
Bab 42. Kepulangan Rein


__ADS_3

Davin tidak berangkat kerja, ia memutuskan mengerjakan pekerjaan kantor nya melalui rumah saja. Sekretaris nya sudah mengirimkan pekerjaan nya melalui email pagi tadi.


Rein adalah alasan ia tak berangkat ke kantor. Ucapan sang kekasih yang berjanji akan pulang hari ini membuat Davin tersenyum terus.


"Daddy kenapa sih?" tanya Ami pada Davin.


"Nggak papa." jawab nya entang sambil melangkah menuju ruang kerja nya.


"Aku nggak bisa bayangin kalau Daddy di tinggal pergi sama Rein." Gumam Ami sambil menggelengkan kepalanya.


Ia bisa melihat sendiri bagaimana khawatir nya Davin saat Rein Tak ada kabar. Tak mau makan, bahkan wajah nya terlihat tak bersemangat seperti orang kehilangan arah. Namun pagi ini wajah ceria serta senyum yang terus tersungging membuat Ami ikut bahagia.


"Mom, Daddy udah nemuin kebahagiaan nya." lapor Ami pada sang ibu, melalui hati nya. Ia berharap sang ibu ikut bahagia melihat kebahagiaan mereka saat ini.


***


"Kamu beneran mau pulang?" tanya Abijar sambil menatap sang cucu yang sudah terlihat rapi. Abijar sebenarnya masih sangat merindukan Rein, namun ia juga tak bisa menahan sang cucu terlalu lama bersama nya.


"Iya kek. Rein udah kangen banget sama Ami." ujar nya sambil tersenyum kecil menatap dirinya di pantulan kaca.


"Bilang aja kamu rindu bapak nya." sindir Abijar membuat Rein tertawa kecil.


"Itu juga termasuk." balas nya membuat kedua nya tertawa.


"Kapan-kapan ajak dia ketemu kakek." Rein mengangguk mantap.


"Iya kek. Nanti aku kasih tau mas Davin."


Abijar dan Rein melangkah keluar menuju ruang keluarga. Di sana sudah ada Reni dan mantan suami nya Jeffry. Tak lupa seorang remaja dengan seragam SMA nya.


"Pagi pah." sapa Reni sambil menatap Abijar dan Rein bergantian.


"Pagi." balas Abijar sekenanya. Sementara Rein ia hanya diam dengan raut datar nya. Ia masih kesal dengan perlakuan kedua orang tua nya yang membawa dia dengan paksa.


"Ini siapa mah?" remaja yang Rein Tak tahu nama nya itu menatap Rein penuh tanya.


"Oh dia kakak kamu, nama nya Rein." ujar Reni menjelaskan sambil melirik putrinya tanpa minat.


"Jadi El punya kakak?" tanya nya semangat sambil menatap Rein berbinar.

__ADS_1


Elio Fransisco adalah putra Reni dan suami baru nya, Azam Fransisco. Azam sedang ada pekerjaan di luar kota jadi ia tak berada di situ.


"Iya dia kakak kamu." Abijar menatap cucu laki-laki nya itu dengan senyum kecil.


"Halo kak, aku Elio anak mamah Reni dan papah Azam." sapa nya pada Rein.


"Halo juga." balas Rein sekenanya. Ia bingung harus bersikap seperti apa. Pasalnya ia tak pernah memiliki seorang saudara jadi ia tak tahu bagaimana rasanya menjadi kakak.


***


Sarapan pagi itu terlihat canggung. Abijar menatap Rein yang sedikit melamun. "Rein, kamu nanti di antar sama supir ya?" ujar nya untuk mengalihkan perhatian Rein.


*Nggak usah kek, Rein naik taxi aja." balas Rein sopan.


"Nggak boleh nolak." balas Abijar mutlak.


Rein akhirnya mengangguk, percuma juga berdebat karena ujung-ujungnya dia juga yang akan kalah.


Setelah sarapan mereka selesai, kini mereka berada di ruang keluarga. "Rein langsung pulang ya kek." ujar nya pada sang kakek.


"Cepat banget. Kamu nggak mau duduk dulu bentar gitu?" tanya Abijar yang berat untuk melepaskan Rein pergi.


"Diam kamu." balas Abijar dengan lirikan nya membuat Reni langsung diam.


Rein menyadari bahwa kehadiran nya di sini sama sekali tidak diterima oleh sang ibu. "Rein langsung pulang aja kek." Ia menyalami Abijar kemudian kedua orang tua nya yang terlihat biasa saja.


"Hati-hati kak, nanti main ke sini lagi." ujar El sambil menyalami Rein.


***


"Karena Rein sudah ketemu sama papah, semua warisan nya atas nama Elio kan?" tanya Reni setelah kepergian Rein.


Jeffry yang masih berada di situ langsung menatap Reni melotot. "Jangan lupa bagian ku. Aku juga ikut membawa nya kesini." ujar nya mengingat kan.


Elio sudah pergi beberapa waktu lalu, tinggal lah mereka bertiga. Abijar menatap anak serta mantan menantu nya itu dengan pandangan pandangan yang sulit di artikan.


"Kalian nggak kangen sama Rein atau merasa bersalah?" tanya nya.


Reni menatap Abijar dengan alis terangkat sebelah. "Kangen sih. Tapi dia sudah besar Pah, bisa urus hidup nya sendiri. Jadi buat apa mikirin dia." balas Reni tanpa di saring. Ia bagaikan ibu tiri, yang memerankan karakter jahat atau antagonis dalam sebuah cerita dongeng. Bagaimana bisa seorang ibu bisa berbicara seperti itu.

__ADS_1


"Benar yang di bilang Reni. Rein sudah besar, dia bisa menghidupi dirinya sendiri. Jadi untuk apa memikirkan dia lagi. Kami berdua juga harus fokus sama keluarga kami." sambung Jeffry tak kalah bodoh nya dengan Reni.


Abijar menatap dua manusia yang ada di hadapannya itu dengan datar. "Bodoh kalian! Rein anak kalian, bagaimana bisa kalian melupakan dia, dan melepaskan nya begitu saja?" tanya nya emosi. Bagaimana bisa ia mempunyai anak yang seperti ini.


"Ngelepasin gitu aja gimana pah, uang kuliah dia kami yang bayarin kok." Elak Reni yang ikut marah.


"Iya bayarin tapi hanya sampai semester 3!" balas Abijar telak.


Reni dan Jeffry terdiam. Mereka memang hanya membayar uang kuliah Rein sampai semester 3 saja, karena mereka berpikir bahwa Rein bisa membayar uang kuliah nya sendiri.


"Dengar baik-baik. Sebelum kalian menyesali perbuatan kalian. Jangan pernah tampakkan wajah kalian dia hadapan saya." setelah mengatakan itu, Abijar berjalan menuju kamar nya.


Ia harus segera kembali ke negara asal nya. Ada urusan penting yang harus ia selesai kan.


"Sial! Anak itu selalu saja membuat susah!" gumam Jeffry.


Kedua manusia itu bukan duduk dan menyesali setiap perbuatan nya, malah menggerutu tidak jelas.


***


"Mas Davin aku pulang." Suara Rein terdengar di ruangan tamu. Membuat Davin yang sedang memainkan ponselnya langsung beranjak.


Ia mendekap Rein erat seakan takut kehilangannya. "Kangen banget. Kamu nggak apa-apa kan sayang?" tanya nya khawatir.


Rein menggeleng sambil mengelus pipi Davin. "Aku nggak kenapa-kenapa mas. Mas Davin sehat kan?" tanya Rein sambil menatap Davin hangat.


"Sehat lah. Kan kamu sudah balik."


"Dasar gombal." ujar nya sambil tersipu.


"Mas nggak boleh gitu lagi, kalau aku nggak ada mas harus jaga kesehatan, jangan nggak makan kalau nggak di ancam dulu." Davin hanya mengangguk mendengar ceramah Rein.


"Iya Rein, daddy udah kaya kehilangan penyemangat hidup nya aja waktu kamu hilang kabar." lapor Ami yang muncul dari dapur.


"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Ani yang muncul dari pintu utama bersama sang suami.


"Baik Tan. Maaf ya buat kalian khawatir." ujar nya merasa bersalah.


"Nggak papa. Yang penting kamu sudah kembali dengan selamat. Dan bayi besar kamu nggak uring-uringan lagi." sindir Al pada Davin yang memutar bola mata malas.

__ADS_1


"Sindir aja teruss!" balas nya membuat mereka tertawa.


__ADS_2