
Usia kandungan Rein sudah memasuki Minggu ke-28 atau sama dengan 7 bulan. Tubuh nya kini semakin berisi, apalagi bagian perut yang 2 kali lipat lebih besar tidak seperti ibu hamil biasanya, membuat nya sulit bergerak. Keluhan-keluhan pun semakin banyak, membuat Davin menjadi suami siaga.
Tentang morning sickness nya, sudah tidak terlalu parah apalagi saat usia kehamilan nya memasuki 4 bulan. Kini hanya nafsu makan nya saja yang bertambah. Itu membuat Davin senang namun juga sedikit was-was.
Sudah menjadi kebiasaan Rein, ia akan mengajak bayi-bayi nya mengobrol sebelum tidur. "Anak-anak bunda sehat terus ya, sebentar lagi kita akan bertemu." Ucap nya sambil mengelus perut besar nya.
"Iya bunda." jawab nya menirukan suara bayi. Kemudian Rein tertawa sendiri menyadari tingkah konyol nya.
"Kira-kira kalian semua cowok atau cewek ya? Tapi mau cowok atau cewek bunda harap kalian tetap sehat." Sebuah tendangan kecil menjawab pertanyaan Rein membuat nya tertawa gemas.
"Kalian gemesin banget." Ucap nya sambil mengelus-elus perut nya.
Pintu terbuka, menampakkan Davin yang hanya memakai celana Jogger tanpa atasan. Di tangan kanan nya, ia membawa segelas susu hangat untuk Rein.
Rein tidak mengedip kan matanya melihat Davin yang masuk. Tatapan nya berhenti pada 8 kotak yang terbentuk dengan indah itu. Tumben-tumbenan suami nya ini tidak memakai baju.
"Sayang. Kenapa bengong, hm?" tanya Davin sambil mendudukkan dirinya di sebelah Rein.
"Hah, eh nggak papa kok." Rein menerima susu itu lalu meneguk nya, sesekali matanya akan melirik Davin.
Kehamilan nya membuat Rein sedikit agresif. Ia kadang meminta duluan pada Davin, membuat Davin kesenangan seperti mendapat jackpot besar-besaran.
Setelah selesai, Davin menerima gelas yang Rein sodorkan. Davin dengan sengaja berjalan menuju meja sambil menunjukan tubuh nya yang terpampang jelas di mata Rein, membuat sang istri meneguk ludah nya. Tiba-tiba saja ia merasa panas.
"Mas Davin, kenapa nggak pakai baju?" tanya nya.
Davin menahan tawa, lalu mendekati Rein. "Gerah sayang. Emang kamu nggak kegerahan ya?" tanya sambil membelai rambut Rein.
Davin tahu, bahwa Rein tengah menginginkan nya. Terlihat dari tubuh nya yang tak bisa diam. Namun Davin masih ingin mengerjai sang isteri, sampai Rein meminta langsung tanpa mengkode-kode.
"Nggak, biasa aja kok."
"Tapi kok, mas gerah ya?" tanya Davin sambil menunjukan tubuh nya yang berkeringat.
"Em..Mas mandi aja sana." ujar Rein sambil melirik roti sobek Davin yang terlihat menggiurkan. Tangan nya Gatal ingin menyentuh nya.
"Gimana kalau kamu yang mandikan mas?" Rein melotot malu. Dengan cepat ia menggeleng.
__ADS_1
"Mas mandi sendiri." ucap nya cepat.
Davin langsung memeluk Rein yang tampak merona. "Kamu tu gemesin banget sih sayang." bisik nya membuat Rein bergidik.
"Mas mau makan kamu aja dulu, baru mandi." lanjut nya langsung mengecup potongan leher Rein.
Rein mendesah kecil akibat permainan Davin. Matanya tertutup saat Davin mengecup leher nya. Pekikan tertahan Rein terdengar saat Davin membuat sebuah tanda.
"Aahh..Mas davinhh.." desah Rein Ketika tangan Davin bergerak sesukanya di bagian dada nya.
"Hmm?" gumam Davin yang asik dengan kegiatan nya.
Rein benar-benar di mabuk dengan sentuhan sang suami. Gerakan lembut Davin membuat nya terbuai untuk kesekian kalinya. Ruangan yang tadi nya panas bertambah panas akibat permainan kedua nya.
Davin dengan lembut memperlakukan Rein bak seorang ratu. "Daddy ingin mengunjungi kalian, sayang." ucap nya sambil mengecup perut Rein lembut.
"Owhh mash.." Rein mencengkram lengan berotot Davin saat sesuatu menerobos masuk.
"Tahan sayang." ucap nya sambil mengecup bibir Rein lembut, merendam erangan Rein. Davin sedikit kesulitan mencium wajah sang istri akibat perut besar Rein.
Dengan gerakan pelan, Davin mulai menggerakkan pinggulnya naik turun. Matanya terpejam nikmat merasakan kehangatan dari sang istri.
Davin bergerak pelan, sambil menatap Rein yang sangat menikmati permainan nya. "Mas, cepat dong." ujar nya dengan wajah memerah.
"Nggak bisa sayang, kamu lagi hamil. Nanti kalau mereka kenapa-kenapa gimana?" balas nya sambil menyeka keringat Rein.
Rein seketika merutuki dirinya. Gara-gara nafsu sialan ini hampir saja ia mencelakai ketiga buah hati nya.
Hingga tak lama kemudian, Davin dan Rein sama-sama mencapai puncak nya. Davin memeluk Rein dari samping, ia menyembunyikan wajah nya di potongan leher Rein.
"Lagi mas?" Davin seketika menatap Rein yang juga menatap nya memohon.
"Hah? Lagi sayang?" tanya Davin tak percaya, meskipun dalam hati ia bersorak girang. Ini yang ia sukai ketika Rein mengandung. Keinginannya untuk bercinta semakin tinggi.
"Nggak capek, hm?" Rein dengan cepat menggeleng sambil tersenyum manis.
"Kita istirahat bentar ya." Rein mengangguk senang. Akhirnya kedua nya duduk dengan Rein yang bersandar di dada Davin.
__ADS_1
"Sayang aku mau cerita?" ucap Davin pada Rein.
Rein mendongak menatap Davin yang terlihat sangat tampan. Ingin sekali ia memakan sang suami sekarang juga.
"Aww..." Rein mengelus jidat nya yang baru saja di sentil oleh Davin.
"Mas kenapa kdrt?" tanya nya sebal.
"Kamu kenapa bengong gitu sambil liatin mas kaya mau di telan hidup-hidup." ucap Davin membuat Rein mengerucut malu.
Ia segera memeluk sang suami, menyembunyikan wajah malu nya. "Tadi mas mau cerita apa?" tanya Rein dengan wajah yang masih ia benamkan di dada Davin.
"Sekitar beberapa bulan lalu, mas ketemu sama seorang ibu hamil waktu pulang dari kantor di pinggir jalan."
Mengalir lah cerita Davin, Rein mendengar kan sambil mengelus dada Davin dengan gerakan memutar. "Terus, mas bawa aja ke rumah bi Sin. Art yang dulu kerja sama mas waktu masih ada Carissa."
Rein langsung menatap Davin, membuat Davin menelan ludah gugup. Apakah istri nya ini akan marah, pikir nya takut. " Lanjut." ucap Rein sambil menatap Davin.
"Peluk dulu." ucap Davin, membuat Rein langsung memeluk sang suami.
"2 Bulan lalu dia sudah lahiran, anak nya cowok."
"Kok mas tahu?" tanya Rein cepat.
"Emm..Mas tahu dari anak buah mas kok Sayang." ucap Davin sebelum Rein salah paham.
"Oh gitu. Terus sekarang suami nya itu gimana?" tanya Rein penasaran. Ia tadi bergidik ngeri ketika mendengar cerita Davin mengenai suami wanita itu yang suka bermain tangan.
"Sudah masuk penjara." jawab Davin singkat sambil mengecup kepala Rein.
"Syukurlah. Aku mau ketemu dia ya mas, boleh kan?" pinta Rein dengan penuh harap.
"Boleh, besok mas antar ke sana." Rein langsung mengucapkan terimakasih pada Davin. Beruntung sekali ia mendapat kan suami seperti Davin Artama ini.
Sedangkan Davin, ia bersyukur Rein tidak marah karena mendengar cerita nya. Oh iya, satu hal yang Davin sengaja tidak ceritakan. Tentang ia lupa membeli martabak manis pesanan Rein waktu itu, bisa-bisa ia tidur di luar lagi.
"Ayo sayang, kita lanjut lagi." ajak Davin semangat.
__ADS_1
Rein menatap Davin lalu menguap sebentar. "Nggak ah mas, aku sudah nggak pengen lagi. Ayo kita mandi habis itu tidur." ucap Rein dengan wajah ngantuk nya.
Davin tercengang mendengar itu. Aish enteng sekali istri nya berbicara seperti itu. Bagaimana dengan milik nya yang sudah bangun ini? Davin hanya bisa menggerutu dalam hati. Seharusnya tadi saat istri nya lagi mau, ia gunakan kesempatan itu dengan baik, bukan nya menolak. Benar sekali seperti kata pepatah, penyesalan itu selalu datang di akhir.