
Rein sudah berada di dalam ruangan persalinan. Di temani Davin yang selalu menyemangati nya. Ada 2 dokter dan beberapa suster yang akan membantu nya melahirkan ketiga buah hati nya ke dunia.
Doa-doa di Panjatkan oleh Ani dan yang lain nya di luar. Mereka menunggu dengan tak sabar. Sedangkan di dalam Rein sedang menenangkan Davin yang terisak pelan di bahu nya.
"Sayang, cecar aja ya." ujar nya merengek. Ketakutan akan kehilangan menghantui nya. Bayangan-bayangan Kepergian mantan istri nya menari-nari di kepalanya.
"Mas Davin percaya sama aku. Aku janji aku akan baik-baik aja. Kan mas di sini juga temanin aku." ujar Rein sambil menghapus air mata sang suami.
Davin mengangguk lalu memeluk Rein kembali. Kedua nya bahkan mengabaikan tatapan iri dari dokter dan suster yang berada di ruangan itu.
Rein sudah menguatkan hati nya, ia sudah mempersiapkan dirinya untuk waktu ini. Rein menutup matanya, jari-jari nya mencengkram pinggiran kasur dengan kuat. Kontraksi datang lagi, dan akan hilang kembali.
Rintihan terdengar kembali, membuat Davin panik. Ia meminta dokter untuk melakukan sesuatu. "Dokter, lakukan sesuatu. Aku tidak ingin kehilangan istri ku." ujar nya takut.
"Mas, aku nggak papa kok." Rein ingin sekali tertawa melihat kepanikan Davin, namun ia mengerti ketakutan yang di rasakan sang suami.
"Bohong. Mana yang sakit, sini aku liat." Davin hendak memeriksa tubuh sang istri namun Rein langsung menghentikan nya.
"Mas, aku beneran nggak papa." Rein sendiri bingung. Ia kira kontraksi nya akan sangat sakit, namun ternyata tidak. Saat kontraksi itu datang maka ia akan merasa kesakitan namun beberapa menit kemudian akan berhenti dan ia akan terlihat baik-baik saja.
Davin terduduk sambil mengusap peluh di kening sang istri. "Jangan bikin takut, aku nggak mau kehilangan kamu." gumam nya sedih.
Rein tidak menjawab, ia hanya mengelus wajah Davin. Rein menyimpan tenaga dengan tidak banyak berbicara. Sebentar lagi akan tiba waktu nya ia melahirkan buah hati mereka.
Dokter mengatakan bahwa sudah pembukaan 9, dimana rasa sakit nya semakin terasa. Davin setia menemani sang istri. Membisikan kata-kata untuk menyemangati sang istri.
"Baik Bu Rein, pembukaan nya sudah lengkap. Kita akan memulai proses persalinan." suara dokter terdengar.
Mendengar itu Rein menyiapkan dirinya. "Sayang, bantu bunda ya." ucap nya dalam hati.
"Sayang, kamu pasti bisa. Aku mencintaimu." ucap Davin. Ia mengecup kening Rein lalu menggenggam tangan sang istri.
Dokter mulai membantu Rein, melakukan tugas mereka dengan serius.
***
Suara bayi terdengar begitu memekikkan telinga. Rein bernafas dengan cepat, setelah berhasil mengeluarkan bayi pertama nya.
__ADS_1
"Bayi pertama seorang laki-laki."
Davin terpaku di tempatnya, ia menatap bayi yang sedang di urus oleh seorang suster. Netra nya teralihkan lagi saat Rein kembali mengejan.
Dia membisikan kata-kata untuk menyemangati sang istri. "Terus Bu, kepala nya sudah kelihatan." dokter Iva yang ada di situ berucap sambil membantu Rein.
Nafas Rein tersengal, tenaga nya seperti terkuras habis setelah melahirkan buah hati pertama mereka. "Mas Davin..." ucap nya sambil mencengkram erat tangan Davin.
"Yang kuat sayang. Kamu pasti bisa." Balas Davin sambil mengecup kening Rein.
Bayi kedua lahir 5 menit setelah bayi pertama. Tenaga nya terkuras habis, namun masih ada buah hatinya yang harus ia keluar kan lagi.
"Bayi kedua, seorang laki-laki." ucap dokter Iva. Lalu menyerahkan Bayi mungil itu pada suster yang sudah siaga.
"Satu kali lagi ya. Mengejan satu kali lagi." ucap dokter Iva.
Rein menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya. Dengan instruksi dokter Iva, Rein lalu mengejan kembali. Tak kesulitan seperti sebelumnya, bayi ketiga terlahir 2 menit setelah bayi kedua.
"Bayi ketiga, Seorang perempuan." ucap dokter Iva. Ia mengangkat bayi itu lalu menunjukkan nya pada Davin dan Rein yang kini menangis haru.
"Selamat Pak Davin, dan Bu Rein. Kalian di karuniai 2 putra dan 1 putri." ucap dokter Iva mewakili yang lain nya.
***
Kini ruang inap Rein sudah sangat ramai. Keluarga Davin maupun Rein berkumpul untuk melihat tiga bayi mungil yang baru saja terlahir beberapa jam yang lalu.
"Kenapa mereka tidur terus?" tanya Ami yang sangat gemas dengan ketiga nya.
"Namanya juga bayi." balas Alex sambil menggeleng heran.
Abijar, kedua orang tua Davin serta Rein sedang duduk di sofa, setelah puas menggendong 3 bayi mungil itu. Kini giliran Alex, Ami serta Keyla yang menengok baby tripel.
"Dad nama mereka sudah di siapkan?" tanya Ami penasaran. Para orang tua yang mendengar itu langsung menatap Davin yang sedang bermanja-manja dengan Rein.
Davin mengangguk tanpa menatap Ami, membuat Ami menggerutu kesal. "Bun, liat Daddy tu di ajak ngomong nggak liat orang nya." adu nya pada Rein yang masih terbaring dengan wajah yang cukup fresh.
"Mas, itu di ajak ngomong loh." ujar Rein sambil mengelus rambut Davin.
__ADS_1
"Iya sudah Daddy siapkan namanya. Tapi nanti habis syukuran baru Daddy masih tau." balas Davin sambil melihat mereka semua, yang kini mengangguk mengerti.
"Nah gitu kek, dari tadi." gumam Ami. Giliran bunda nya yang nyuruh baru gerak.
"Dia buka mata." Keyla berseru senang tiba-tiba. Ami dan Alex lantas menengok pada keranjang bayi yang menampakan bayi sebelah kiri sedang membuka matanya.
"Wah, halo Dede bayi, aku kak Ami. Kakak kamu yang paling cantik." Ami berucap antusias dengan pd nya. Pasal nya sedari tadi baby tripel tertidur, dan baru saja membuka mata itu pun hanya 1 bayi saja yang membuka matanya.
"Hi ponakan aunty. Lucu banget." Keyla mengelus pipi merah itu dengan pelan.
"Mom, aku mau gendong." Ujar Keyla pada Ani dengan penuh harap. Ami juga sebenarnya ingin menggendong namun ukuran bayi nya terlalu kecil, jadi ia mengurungkan niatnya. Bagaimana jika saat ia menggendong bayi nya terjatuh. Ami menggeleng kan kepala takut.
Ani segera beranjak dari kumpulan orang tua. Ia melangkah menuju keranjang bayi yang tak jauh dari tempat duduk nya. Ia mengangkat bayi yang sedang membuka mata itu dengan perlahan lalu meletakkan nya di pangkuan Keyla.
"Ya gitu, pelan-pelan." Keyla tersenyum senang saat bayi mungil itu sudah ada di dekapan nya.
"Aa pengen juga." Ami merengek membuat Alex tertawa.
"Kasian nggak bisa gendong." ejek Alex pada ponakan nya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Para orang tua sudah berpamitan pulang dan besok akan kembali lagi. Ami pun demikian, ia izin pulang untuk mengambil peralatan mandi dan baju serta beberapa perlengkapan lain nya.
Rencana nya ia akan menginap di rumah sakit, membantu sang ayah mengurus tiga adik baru nya. Karena sementara Rein masih belum boleh banyak bergerak.
Davin sedang menatap tiga buah hati nya dengan bahagia. "Halo anak-anak Daddy, Akhir nya kita bertemu secara langsung." ucap nya dengan bahagia. Senyum tak lepas dari bibir nya.
"Terimakasih sudah lahir dengan selamat. Terimakasih sudah berjuang bersama bunda." Ucap nya sambil membelai pipi merah ketiga nya.
Ia mengecup kening kedua putra serta Putri nya lalu melangkah menuju Rein yang sedari tadi menatap nya.
Rein masih belum menyangka, ia sudah menjadi seorang ibu seutuhnya. Rasanya sangat sulit di Jabar kan.
"Makasih sayang, sudah menepati janji kamu." ucap nya. Kecupan singkat namun mendebarkan Rein rasakan.
Ia mengangguk sambil menatap Davin penuh cinta. "Aku sudah janji, jadi sepatutnya janji itu aku tepati." balas nya.
__ADS_1
Davin sekali lagi bersyukur, bisa memiliki Rein sebagai istri nya.